Cerita Sex: Kubelai Istri Muda Ku



Aku Fatma usiaku saat ini 30 tahun. Perawakanku terbilang kecil dengan tinggi 153 cm dan berat badanku 40kg. Aku boleh dikatakan sangat menjaga diri, bahkan aku selalu mengenakan busana muslimah dengan rapat setiap keluar rumah. Itulah sebabnya kulitku selalu kelihatan putih terawat meskipun aku tdk pernah melakukan perawatan diri ke salon kecantikan. Bahkan teman-temanku mengatakan kalau wajahku masih seperti anak kuliahan. Aku tinggal di dekat lingkungan pesantren di kota G.

saat aku menikah dengan seorang yg telah beristri, dan aku menjadi istri keduanya waktu itu. Suamiku ini sebenarnya baik dan mencintai aku. Dan aku pun mencintai dia. Akan tetapi kehidupan rumah tanggaku biasa-biasa saja. Hal itu terjadi mungkin karena pernikahanku sejak awal tdk atas izin istri pertamanya. Sehingga perjalanan rumah tanggaku banyak terjadi permasalahan dikarenakan hal itu.

Suamiku pun pada akhirnya dihadapkan pada pilihan yg sulit, sehingga tdk bisa berlaku adil kepada istri-istrinya. Bahkan buat diriku sangat jarang dia bisa bermalam bahkan hanya untuk satu malam saja. Pertemuanku dengan suami sangat terbatas hanya pada siang hari saja, meskipun itu aku anggap cukup untuk merajut kemesraan bersamanya. Akan tetapi lama kelamaan aku jadi sering merasa kesepian. Hal itu cukup lama berjalan, tapi aku tetap berusaha untuk sabar dan menerima semua ini sebagai sebuah takdir yg harus aku jalani.

Aku bertetangga dengan seorang wanita (sebut saja M) yg suaminya mempunyai bisnis di luar jawa. M kurang lebih sama seperti aku, dalam hal pemahaman agama dan berbusana. Awalnya kami sering bertemu dalam majelis pengajian di pesantren. Akhirnya kami berkenalan dan kami merasa ada kecocokan. Mengingat M ini juga ditinggal suaminya berbisnis di luar jawa, sehingga dia di rumah hanya bersama ketiga anaknya yg masih kecil. Itulah sebabnya aku sering bertandang ke rumahnya dan kami menjadi akrab. Dia baik sama aku, suka membantu dan menolong.

Sampai suatu saat terjadilah musibah gempa bumi yg mengerikan di kotaku. Musibah itu telah meluluhlantakkan hampir seluruh rumah dan bangunan di desaku, termasuk rumahku. Alhamdulillah aku selamat. Itulah awal dari persimpangan kisah hidupku. Setelah musibah itu aku ditawari untuk tinggal di rumah M yg meskipun sederhana namun selamat dari kerusakan parah dan masih layak ditempati. Setelah itu aku jalani hari-hariku di rumah keluarga ini. Selang beberapa hari setelah musibah itu suami M (sebut saja AH) pulang dan akhirnya menutup usahanya di luar jawa demi untuk bersama keluarganya yg sedang tertimpa musibah.

Aku menempati sebuah kamar yg sederhana. Tempat tidur tanpa dipan dan ruang kamar itu tanpa pintu. Hanya ditutup kain korden. Meski demikian, aku sangat bersyukur dalam kondisi sulit seperti ini ada tetangga yg benar2 tulus mau membantu. Aku menjadi akrab dengan mereka dan anak2nya. Setiap hari kami saling membantu membereskan rumah dan pekerjaan-pekerjaan rumah lainnya serta mengurus anak-anak AH.
2 minggu setelah musibah itu aku periksa ke bidan dan aku baru tahu kalau ternyata aku hamil 2 bulan. Pantas saja, akhir-akhir ini badanku sering terasa capek dan malas untuk beraktivitas seperti biasa. Aku sangat gembira dengan kehamilan pertamaku ini. Aku berharap semoga dengan kehamilanku ini bisa menambah perhatian suami terhadapku. Akupun menyampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku.
Hari-hari berlalu…..
Namun harapanku akan perhatian suamiku nampaknya harus aku pupus. Suamiku masih bersikap seperti biasanya. Dia masih lebih perhatian pada istri pertamanya, sedangkan untuk diriku tdk lebih sebatas kebutuhan-kebutuhan lahiriah yg dipenuhinya.
Akan tetapi aku sedikit terhibur dengan keberadaanku di keluarga AH ini. Lama kelamaan kami menjadi seperti keluarga yg cukup akrab.
Keakrabanku dengan AH dan keluarganya terkadang membuat batas diantara kami menjadi longgar. Terlebih lagi memang rumah keluarga AH ini tdk luas. Terkadang aku kepergok AH dalam kondisi aku tanpa jilbab. Aku merasa risih sebenarnya, tapi mau gimana lagi ?
Hari-hri berlalu sejalan dengan keberadaanku di tengah2 keluarga mereka…
Suamiku seminggu sekali menjenguk aku di rumah AH ini. Terkadang kami keluar berdua, dan sorenya aku dipulangkan ke rumah AH.
Keadaan seperti itu berlangsung kira2 sebulan.
Sampai suatu hari, AH menyatakan sesuatu kepadaku yg cukup membuat aku terkejut.
Yg intinya memberikan harapan padaku bahwa dia bersedia menikahi aku jika saja aku mau bepisah dg suamiku. Aku terkejut bukan main atas niatnya itu. Awalnya aku menolak secara halus. Tapi ketika dia mengatakan bahwa permasalahanku saat ini sudah dia konsultasikan dengan para Kyai (di pesantren), dan semua menyarankan dalam kondisi suamiku yg tdk bisa lagi berbuat adil maka lebih baik berpisah saja. Saat itu aku mulai gamang…. Antara ya dan tdk.
Kadang aku merasa ada benarnya pendapat AH itu, tapi aku juga takut jika harus berpisah dengan suamiku, dan menyandang predikat janda.
Aku, M dan AH terkadang mendiskusikan kondisiku saat itu. Dan dari sekian argumen yg kami ajukan, selalu berujung pada kesimpulan “lebih baik berpisah daripada terdholimi terus…”
Akan tetapi sampai sejauh itu, M belum tahu jika AH sudah mempunyai niat untuk menikahi aku nantinya. AH bilang kepadaku untuk sementara waktu menyimpan dulu hal itu sampai nanti dia sendiri yg akan menyampaikan ke M kalau waktunya tepat.
Dari seringnya kami bertukar pikiran, dan terkadang di situ ada saat saling curhat diantara kami, aku semakin merasa tentram. Sedikit demi sedikit tanpa aku sadari aku merasa mendapat sandaran baru. Sebuah sandaran yg bisa memberikan rasa tenang dan bisa menerima aku. Sementara itu sandaran lamaku aku rasakan mulai usang, dan menjadi hambar bahkan kadang menyakitkan.
Suatu malam ketika aku tertidur sangat lelap (mungkin karena kecapekan dan kondisi kehamilanku)…. Tiba2 aku merasakan ada sensasi hangat menjalar ke seluruh tubuhku….. Antara sadar dan tdk, aku merasa suamiku mendatangi aku…. Akupun menyambutnya dengan perasaan sangat bahagia, bagaikan orang yg telah lama tdk berjumpa dan memendam rindu yg sangat dalam…
Dia mulai mencumbuiku, dari ujung kaki….naik ke betis, lalu paha dan akhirnya ke bagian yg paling sensitive.. Dia cumbui bagian itu dg lembutnya, sampai akupun merasakan sensasi nikmat yg sangat.. Antara setengah sadar aku merespon semua itu dengan birahiku yg mulai memuncak…
Setelah itu aku rasakan dia melepas celana dalamku….akupun hanya pasrah…karena memang aku juga sudah sampai puncak birahi.. Dia mencumbui bagian itu sampai akhirnya dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan kenikmatan yg sangat.. Sampai ketika aku rasakan ada sesuatu yg mulai mendesak masuk ke kemaluanku, aku tersadar dan membuka mata….
Dan alangkah tekejutnya aku, karena ternyata yg berada di atas tubuhku adalah… AH..
Kaget, malu, marah dan apalah namanya berkecamuk jadi satu.. Dia langsung membekap mulutku, sambil setengah mengancam dan berbisik…”Jangan teriak..!”
Aku langsung sadar, kalau aku berada di rumah AH. Aku langsung sadar bahwa kenikmatan yg barusan aku rasakan ternyata bukan mimpi. Spontan aku teringat istri dan anak2nya…ingat keluarganya yg selama ini sudah baik padaku. Maka aku pun diam sejenak, aku mencoba berpikir harus bagaimana…. Yg pasti aku tdk ingin terjadi masalah dg keluarganya. Lalu aku mencoba meronta, akan tetapi tenaganya jauh lebih kuat dariku. Dia menindih dengan kuat sambil membekap mulutku…
Aku mencoba menutup kedua pahaku, tapi dengan posisi AH yg sudah menindih dan berada diantara kedua pahaku, aku mendapatkan kesulitan untuk itu. Kedua kaki AH mengunci kedua pahaku untuk terus terbuka.
Aku mencoba mendorong tubuhnya, akan tetapi tubuhku yg kecil nampaknya tdk memiliki cukup tenaga untuk mendorong tubuh AH yg tinggi dan berotot itu…
Tangan kanannya terus membekap mulutku dan tangan kirinya menekan tangan kananku. Tangan kiriku mencoba untuk meronta, tapi semua itu sia-sia. AH terlalu kuat tenaganya. Lama kelamaan aku lemas kehabisan tenaga…
Mungkin setelah dia rasa aku mulai lemah, dia mulai mengendorkan bekapannya.
Aku hanya bisa merintih memelas…”Abang…jangaaaann…”
“Jangaaann…” Aku terus memohon dengan memelas..
Akan tetapi rintihanku sia-sia, AH tetap mempertahankan posisi itu dan mulai membelai kepalaku dan mencoba mengecup bibirku… Dikulumnya bibirku, dan lidahnya berusaha menerobos masuk. Aku berusaha mengatupkan kedua bibirku dengan kuat. cerita sex
Perlahan-lahan tangan kirinya mulai meremas lembut payudaraku beberapa saat….
“Abang….tolong lepas….jangan abang….” Aku terus memohon dengan rintihan yg pelan nyaris tak terdengar.
Bagaimanapun juga aku khawatir kalo aku sampai membangunkan M, yg tentu akan memicu masalah yg lebih besar.
AH tdk juga bergeming, bahkan dia terus mempertahankan posisinya…
Setelah itu, aku rasakan kemaluannya mulai mencari-cari jalan untuk menerobos liang senggamaku. Aku tersentak dan berusaha menghindarinya. Akan tetapi dengan sisa-sisa tenagaku yg tdk seberapa, usahaku sia-sia. Akhirnya, dengan dua atau tiga kali dorongan dia menemukan liang itu dan mulai mendorong pelan kemaluannya masuk lebih dalam lagi dan lagi…
“Sakiiit abang….” Aku merasakan agak perih ketika kepala kemaluan AH mulai menerobos liang senggamaku.
Dia mendorong terus kemaluannya sampai akhirnya aku rasakan semua tenggelam dalam liang senggamaku. Aku menahan nafas, dan AH menahan posisi itu beberapa saat. Setelah dirasa aku agak tenang, AH meneruskan aksinya dengan gerakan-gerakan yg lembut dan pelan-pelan….sambil terus dibelainya kepalaku dan sesekali dikecupnya bibirku.
Kemaluannya terasa memenuhi seluruh ruang di liang senggamaku, berbeda rasanya dengan punya suamiku.. terasa lebih besar dan padat.. AH terus menariknya, dan mendorong dengan gerakan yg lembut dan teratur…. berulang-ulang….
Pada awalnya aku merasakan perih di liang senggamaku, barangkali karena keterkejutanku ketika aku tersadar membuat nafsuku spontan hilang. Akan tetapi dengan kejadian yg sudah berlangsung seperti itu lama-lama aku rasakan senggamaku mulai bisa menerimanya. Cairanku pelan-pelan mulai membasahi dinding-dindingnya dan otot-ototnyapun mulai merespon tanpa bisa aku tahan sedikitpun. Beberapa kali kepala kemaluan AH terasa menyentuh mulut rahimku.. uh, sedikit ngilu.. tapi nikmat.
Aku bingung, malu, takut, bercampur jadi satu dg sensasi aneh yg pelan-pelan mulai merasuki…
Sensasi aneh yg membuat aku bingung. Perlahan tapi pasti getar-getar rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh nadiku…
Entah syetan apa yg berperan, lama-lama secara reflek aku mulai mengimbanginya dengan gerakan-gerakan kecil pinggulku….
Aku tdk bisa lagi berpikir jernih …..
Yg ada waktu itu hanya rasa malu, bercampur bingung yg sudah tertutup rasa nikmat yg mulai menjalar.
Malu karena aku yg selama ini selalu menjaga diri dengan menutup rapat tubuhku, malam ini tubuhku nyaris telanjang di depan laki-laki yg bukan suamiku.
Bingung,…mengapa getar-getar nikmat itu bisa ikut menjalar dalam kejadian seperti ini??
AH mulai mempermainkan temponya, kadang dia percepat kemudian diperlambat….
Kadang dia benamkan dalam-dalam dan dia tahan sambil diputar-putarnya di dalam rongga senggamaku.
Sensasi yg aku rasakan pun semakin dahsyat….
Aku masih mencoba berpikir jernih bahwa pebuatan itu terlarang, akan tetapi gataran-getaran rasa nikmat itu seakan menepis semuanya…..
“Abang….aaaahhhhh….” Tiba-tiba AH mempercepat tempo permainannya beberapa saat dan itu membuat aku tersentak terbelalak mencoba menahan sesuatu yg mendesak kuat dari dalam…..
Akan tetapi tanpa bisa aku bendung, desakan-desakan itu semakin menguat dan…..
“Abang..bang….!! Aaaaccchhh……” Aku terbelalak, tanganku meremas kuat kepala AH dan kedua kakiku terangkat tinggi sambil pahaku menjepit kuat-kuat paha AH. Yaahh….sampailah aku pada orgasmeku….
Betapapun aku ingin menahannya, kenyataannya aku tdk mampu. Daguku mendongak dan lenguhan kecilku tdk bisa aku sembunyikan lagi…. Otot-otot senggamaku terasa berdenyut-denyut meremas batang kemaluan AH yg masih tertanam dalam-dalam.
AH tersenyum….entah apa arti senyumannya itu…
Sesaat kemudian aku terkulai lemas…
Mungkin karena dilihatnya aku mulai menikmati, dia semakin berani meneruskan aksinya…
AH memulai lagi mendorong dan menarik kemaluannya, kali ini langsung dengan tempo yg cepat…. Aku yg sudah lemas dibuatnya terengah-engah menahan serangannya. Dan dengan mata terpejam, aku ikut menyambut gerakannya dengan goyangan pinggulku. AH pun semakin liar menyetubuhiku. Sambil menggenjotku, tangan AH menjalar, meremas kedua payudaraku dengan gemas. Ditariknya penutup BH-ku ke atas, sehingga payudaraku pun kini terbebas sempurna dari kekangan, dan dengan liarnya kedua payudaraku ikut bergoyang ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah seirama dengan goyangan dan genjotan AH.
AH semakin bernapsu… sembari menggoyang tubuhku, puting merah muda payudaraku yg sudah berdiri dengan tegak dijepit-nya dengan jari-nya, dipilin dengan gemas. Mulutnya juga bergerak. Dikulum-nya kedua puting payudaraku, dipermainkannya dengan lidah yg kasar. Aku hanya bisa melenguh seperti anak sapi..
“ Uuuuuugggghhhhhh.. ugggghhhhhh..”
Kemudian ditariknya tubuhku hingga sejajar dengan tubuhnya, pahaku pun kemudian ditumpukannya di atas paha-nya. Dengan posisi duduk seperti ini, clitorisku pun bergesekan langsung dengan batang kemaluannya. Ah, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku utk menahan sensasi yg timbul.. nikmat sekali rasanya. Kupeluk kepala AH dengan kedua tanganku.. tanpa malu-malu kupagut bibirnya dengan bibirku. Lidah AH pun bergerak lincah.. menerobos masuk ke dalam mulutku, membelit lidahku dengan ganas.
Aku semakin terbang..
Bersamaan dengan itu, tangan AH juga bergerak lincah.. diremas-nya kedua payudaraku.. dan tak ketinggalan putingnya dipelintir dengan jari-jari-nya. Bibirnya bergerak perlahan.. menyusuri bagian belakang telinga..kemudian bergerak ke bawah menyusuri leherku yg jenjang.. dan tiba-tiba, bagian ular Cobra, gigi-nya mematuk dan mulutnya mencupang leherku dengan keras.
Aku hanya bisa menjerit lirih..
Tdk berselang lama, tangan AH memeluk tubuhku dengan erat.. puting payudaraku terasa bergesekan lembut dengan rambut di dada-nya.. uh, geli kurasakan.
Dirapatkannya kedua paha-nya.. bongkahan pantatku dipegang-nya dengan kedua tangan. Dibantunya pergerakan naik turunku di atas pahanya.. semakin cepat dan cepat.
Bibirnya kembali mencari bibirku.. lidah kami berdua kembali bertaut. Dan tiba-tiba dibenamkan kemaluannya dalam-dalam hingga ujung kepala-nya terasa mentok di ujung rahimku, dan kemudian menahannya sambil mengejan….
”Uuurrgg…aaacchhhh…, saaayyyaaaang…..” lenguhan panjangnya tepat di telingaku yg lebih pas menyerupai bisikan tanpa getaran pita suara.
Rupanya dia mendapatkan orgasmenya. Aku rasakan batang kemaluannya berdenyut-denyut di dalam liang senggamaku, dan terasa beberapa kali semburan hangat benihnya dalam rahimku…
Ya….rahim yg saat itu sudah berisi janin dari suamiku…
Malam itu AH menuntaskan hajatnya denganku…
Setelah selesai dia ke kamar mandi, lalu kembali ke kamarnya.. Aku termangu dan terkulai lemas di pembaringanku. Kulihat jam di hp-ku menunjukkan pukul 2.48.Setelah itu kesadaran dan akal sehatku mulai pulih…Aku menangis,… Aku merasa sangat bersalah…!Bersalah pada suamiku…. Bersalah pada M sahabatku…
Aku hanya bisa menangis dan terus menangis.. tak bisa tidur lagi sampe pagi.
Keesokan paginya AH sms ke hpku,
”Maaf ya, aku khilaf tadi malam. Awalnya aku takut, tapi waktu aku lihat Fatma juga menikmatinya, jadi kebablasan deh.”
“Iya, abang kok bisa gitu sih ? Jangan diulangi ya…” Jawabku.
Aku termangu sendiri, berpikir mengapa itu bisa terjadi ??
Mengapa terjadi padaku..??
Dan parahnya lagi, mengapa aku semalam bisa menikmatinya…??
Aku mulai berfikir, apakah ini karena sebenarnya dalam alam bawah sadarku aku merindukan kehangatan dari suami ?
Memang selama ini urusan tempat tidurku dengan suami lebih banyak terasa hambar. . Mungkin karena banyaknya persoalan yg terpendam dan menumpuk aku selalu hampir tdk pernah mencapai puncak. Apalagi setelah musibah gampa bumi, boleh dikatakan tdk pernah suamiku menyentuhku. Sehingga semalam ketika terjadi peristiwa itu aku hampir bisa dikatakan pasrah, tanpa perlawanan yg berarti. Bahkan barangkali alam bawah sadarku sebenarnya menginginkannya…
Ah…yg sudah terjadi biarlah berlalu, pikirku…
Aku hanya takut kalo kejadian tadi malam diketahui M, istrinya….
Mengingat M hanya tidur di kamar yg bersebelahan dengan kamarku…
Setelah malam itu hari-hari berlalu dan aku berusaha bersikap seperti tdk pernah terjadi apa-apa…
Aku tdk ingin M, istrinya tahu peristiwa malam itu…
Begitu juga kepada suamiku…. Aku simpan rapat2 peristiwa malam itu….
Waktu itu aku mulai berpikir, barangkali benar apa yg dikatakan para Kyai di Pesantren itu Barangkali memang sebaiknya aku berpisah dengan suamiku. Bukankah dia tdk bisa lagi berlaku adil padaku ? Bukankah aku juga punya hak yg sama dengan istri pertamanya ? Bukankah AH sudah membuka pintu harapan bagiku ? Dan berbagai pernyataan batinku memenuhi benakku sekedar untuk mencari pembenaran atas pemikiranku….
Dua minggu setelah peristiwa malam itu…..
Pagi-pagi AH pamit mau ikut gotong royong memperbaiki rumah warga yg rusak karena gempa. Memang waktu itu masih banyak rumah warga yg rusak dan kami di kampung itu menerapkan sistem gotong royong saling membantu untuk memperbaikinya. Meskipun bantuan dari masyarakat luar desa juga ada, akan tetapi kami selaku warga yg tinggal di desa itu merasa tdk bisa berpangku tangan.
Setelah AH pergi, M istrinya juga pamit mengantar anak-anaknya sekolah. Anaknya yg paling tua kelas 2 SD, kedua TK dan yg ketiga belum sekolah. Sarana sekolah menjadi prioritas perbaikan di desa kami, mengingat warga tdk bisa membiarkan anak-anak mereka berlama-lama tdk sekolah. Jarak sekolah dari rumah AH kurang lebih 15 menit dengan berjalan kaki. Jam 7.30 M berangkat dan biasanya pulang sampai rumah sekitar jam 11.30 karena M harus menunggu anaknya yg duduk di bangku TK.
Setelah M pergi maka aku mengerjakan tugas-tugas di rumah mencuci baju dan bersih-bersih. Itung-itung aku harus ikut meringankan pekerjaan M mengingat aku sudah banyak dibantu selama ini. Sangat tdk pantas rasanya kalau aku hanya berpangku tangan sementara mereka bekerja. Aku berusaha mengerjakan tugas-tugas itu dengan baik, dan siang itu kurang lebih jam 10 selesai sudah semua pekerjaan rumah. Badanku terasa capek dan aku segera beristirahat di kamar.
Baru saja aku membaringkan badan, tiba2 ada suara salam dan ketukan di pintu depan. Aku terkejut, karena itu suara AH. Aku segera mengenakan jilbab besarku dan belum sempurna aku mengenakannya aku dengar langkah kaki AH sudah memasuki rumah. Aku segera memberi tahu kalo M belum pulang. Maksudku supaya AH tdk masuk rumah karena aku sendirian. Sangat tdk enak kalo ada yg tahu, apalagi ini siang hari….
“Abang, M belum pulang. Abang jangan masuk…..!”
“Cuma mau ambil sekop kok,Dik…. Sebentar aja.”
Terdengar suara gaduh AH di belakang mencari-cari sekop. Aku masih tetap di balik tirai kamar, tdk berani keluar. Meski ada rasa khawatir, tapi jantungku mulai berdetak lebih kencang. Bayangan-bayangan itu mulai muncul lagi….
“Ah….enggak ! Jangan sampai !” pikirku.
“Adik, lihat sekop ga ya ? Kok ga ada di sini ?”
“Di belakang situ kayaknya…” jawabku
“Tolong bantu cari dong…keburu mau dipake nih…”
Dengan perasaan cemas dan jantung yg makin berdetak kencang aku keluar dan menunjukkan posisi sekop yg tertindih barang-barang lain.
“Yups…ini dia…. Makasih ya… Adik udah makan belum ? lhoh, kok keliatan pucat sih?”
“Adik sakit ya? Udah, istirahat. Kasian kan kandungannya…”
“Ga pa pa kok….” Jawabku.
Aku segera mengambil langkah untuk kembali masuk ke kamar melewati ruang tengah. Tiba-tiba tanpa kuduga AH mendekap perutku dari belakang. Dia lingkarkan tangan kanannya ke perut sambil sedikit ditariknya badanku, sehingga sekarang aku berada dalam dekapannya. Belum hilang rasa kagetku, dia langsung dongakkan wajahku dengan tangan kirinya sehingga wajahku menengadah dan berhadapan dengan wajahnya. Spontan dia kulum bibirku sambil tangan kanannya mulai meraba ke atas…..
“Jangan lagi Abang….Jangan…!” Aku memohon.
“Sebentar aja, Dik…” Jawabnya sambil terus mendekapku dengan kuat.
“Jangan….nanti M pulang lho… Akh..jangan….mmmhh…..”
Dia terus mengulum bibirku sambil mengelus payudaraku. Birahiku pun perlahan mulai bangkit.
Ya….sebuah rasa yg memang sudah agak lama tdk aku dapatkan. Dari semenjak gempa, perjumpaanku dengan suami sangatlah terbatas. Kalaupun berjumpa tdk pernah bisa ada ruang dan waktu untuk privasi.
Sehingga ketika siang ini aku mendapatkan perasaan itu maka terasa sulit juga untuk mengelak. Meskipun aku juga khawatir kalau M tiba2 datang. Akan tetapi aku merasa sedikit tenang, karena posisi ruang tengah ini tepat menghadap ke jalan dimana jika M pulang maka 100 meter sebelum sampai pintu pasti terlihat dari ruang ini, dan kami bisa segera menghindarkan diri dari penglihatan M. AH bisa segera keluar dari pintu belakang dan kembali bekerja bakti.
Aksi kami pun berlanjut…. AH semakin ganas mengulum bibir dan lidahku….sambil diremasnya payudaraku dengan lembut…
Aku hanya bisa menggelinjang dan mendesah…..
“aaahhh….mmm…..abang….”
Dalam posisi masih bediri berhadapan AH menarik bagian bawah jubahku. Rupanya dia mau menggarap bagian senggamaku. Aku memberikan jalan dengan agak melonggarkan kakiku….
Benar saja, jari-jemari tangannya mulai menelusup menembus celana dalamku. Dicarinya bagian clitorisku dan dielus-elus dengan lembutnya…
Clitorisku mulai terasa basah dan jari-jemarinya mulai terasa licin menelusuri permukaannya. Nafasku mulai memburu dan aku mulai memekikkecil…
”uuhh…aaaa…hhh..mmmhh….”ketika ujung jari telunjuk-nya menerobos masuk ke liang senggamaku..
Aku semakin menggelinjang dan aku jepit jari-jemarinya dengan pahaku…
“Dikkkk …..” bisik AH di telingaku….
AH memelorotkan celana dalamku, dan diapun membuka sedikit celananya sebatas turun ke lututnya. Aku sedikit diangkatnya, rupanya AH menginginkan posisi sambil berdiri.
Aku pasrah ketika kepala kemaluannya mulai menyeruak bibir senggamaku dari bawah dan menekannya ke atas…..Bleesss…. Seluruh batang kemaluannya langsung masuk ke senggamaku. senggamaku terasa penuh sesak dan kurasakan rahimku tertekan ke atas…dan clitorisku langsung tertekan pangkal kemaluannya yg berbulu lebat…
“Aaacchhhh……” Aku mendesah…
Seluruh batang kemaluannya tertanam di liang senggamaku. Kami berpelukan dalam posisi aku dalam gendongannya. AH tdk banyak bergerak rupanya dia faham kondisiku yg lagi hamil. Dia menekan dengan kuat pantatku dengan tangannya dan memutar-mutar batang kemaluannya. Seluruh dinding liang senggamakupun terasa diaduk aduk, serta merta clitorisku menerima gesekan-gesekan lembut dari pangkal kemaluannya dan itu menimbulkan rasa nikmat yg luar biasa….
Aku hanya terpejam menikmati permainan AH ini….
Hasratku naik dengan cepatnya, aku memeluk lehernya dengan kuat. Dan bibir kami pun beradu dengan beringas….lidah kami saling beradu untuk membelit dan akhirnya…..
“aaaaaaaaaaaa……mmmmmhh….abbaaaanng….” aku tak bisa membendung orgasmeku yg datang begitu cepatnya. Aku remas kepala AH dengan kuat untuk melepaskan energi yg besar itu.
Diputarnya tubuhku, sehingga posisi AH ada di belakang-ku. Didorongnya tubuhku mendekati tembok.. diposisikannya kedua tanganku menempel ke tembok. Diangkatnya kembali jubahku.. diposisikannya kembali kemaluannya di bongkahan pantatku.. ah aku terkejut…
Akupun sedikit berteriak..
“..jangan abang.. jangan dimasukkan ke lubang pantattttt..”
AH hanya tersenyum, dan hanya berkata..
“..nggaaaak, sayaaangg.. aku cuma peengiiiin dari belakang..”.
Dan dengan perlahan kepala kemaluannya menyeruak masuk ke bibir senggamaku. Uh, rasanya menakjubkan ketika titik G-spot di dalam liang kemaluanku tersodok kepala kemaluannya yg besar.
AH pun menggoyang kembali tubuhku..
Disingkapnya jubahku lebih ke atas.. tangannya kemudian meremas kedua payudaraku dari belakang. Meski masih tertutup BH, tapi rasa geli akibat remasan tangan AH cukup terasa di puting payudaraku yg sudah berdiri tegak..
Tdk berapa lama, desakan orgasme-ku yg kedua pun mulai muncul. Kupeluk dan kutarik leher AH ke arahku.. aku ingin sekali orgasme sambil mencium bibir AH. Rupanya AH tahu keinginanku.. bibir-nya pun segera mengulum bibirku, dan kemudian terasa ledakan orgasme-ku yg kedua. Aarggghhhhhhhhhhhhhhh..
Setelah itu dibaringkannya aku di sofa, dan AH melanjutkan aksinya dengan gerakan memompa dengan cepat.
Tak berselang lama AH mengejan….mendekap tubuhku merapat makin kuat…..
Dia memejamkan matanya sambil melenguh
“aaaaaccchhhhh………..” Dan kemudian liang senggamaku pun terasa mendapat kedutan-kedutan keras yg berlanjut dengan rasa banjir lahar panas mengguyur di dalamnya. Aaargggghhh.. aku pun mendapat orgasme yg ketiga.
Sesaat setelah itu, dia roboh ke sofa sambil nafasnya terengah-engah….
Batang kemaluannya terlepas dari senggamaku.
“Kamu luar biasa, Diiikkk…. hebat…”
Jam menunjukkan pukul 11.05…
Sudah dekat waktunya M pulang. Maka aku minta AH untuk segera keluar rumah sebelum M pulang.
Aku membersihkan sofa, barangkali ada sisa-sisa sperma AH yg tumpah. Setelah itu aku mandi membersihkan diri dan memulihkan kesegaranku.
Kurang lebih 2 bulan setelah itu aku benar-benar minta cerai dari suamiku, dan akhirnya kamipun bercerai. Tapi anehnya… aku tdk merasa terlalu berduka dengan perceraian itu. Waktu itu usia kandungankku 6 bulan. Berarti aku mempunyai masa idah selama kurang lebih 3 bulan sampai anakku lahir.
Suamiku memang orang yg bertanggung jawab. Sebulan setelah perceraianku, dia menyewakanku sebuah rumah (yg cukup sederhana karena baru direnovasi seadanya setelah gempa). Rumah itu cukup mungil dan berada di pinggir desa. Tepatnya agak terpisah dari desa dan berada di areal persawahan dan itu satu-satunya rumah di situ. Tetangga terdekat berjarak sekitar 100 meter dari rumah itu dan kurang lebih 300 meter dari rumah AH. Aku menempati rumah itu seorang diri.
Terkadang aku masih bertandang ke rumah M untuk sekedar silaturahim.
Suamiku pun seminggu sekali masih datang menjengukku sekedar menanyakan dan memenuhi kebutuhan sehari-hariku.
Suatu malam, nada sms di hp-ku berdering dan aku terkejut bangun karenanya.
Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 23.45. Ternyata dari AH…”Adik…belum tidur kan ??”
Aku tdk menjawabnya karena memang aku rasa sudah malam dan aku masih mengantuk. Akan tetapi tdk berselang lama, nada panggilan berdering dari hp-ku. AH misscall. Akhirnya dg agak malas aku jawab smsnya,
“Da pa sih ? Dah malam ni…”
Dia jawab lagi, “Jangan tidur dulu ya, 10 menit lagi aku datang…”
Deg…aku terperanjat….! Gila juga ni orang…
Tiba-tiba perasaanku campur aduk gak karuan….
Terbayang lagi peristiwa-peristiwa yg lalu….
Duh…Mau ngapain ini orang, pikirku. Dah malam gini……
“Eh…ngapain ?! Jangan gila ah….!” Jawabku
“Aku baru pulang dari Jakarta, ada oleh2 buat Adik nih… he he”
“Ga enak kalo aku bawa pulang, ntar ketauan M kan ?” Jawabnya.
Kurang lebih 15 menit berselang terdengar ketukan halus di pintu depanku. Aku segera mengenakan jilbab hitam besarku dan berjalan mendekati pintu dan mengintip dari balik tirai. Ternyata benar, AH yg datang. Nekat juga AH ini…
Begitu slot kunci aku buka, dia langsung nyelonong menerobos masuk rumah. Aku merasa gak enak dan khawatir kalau ada orang yg mengetahui kedatangan AH ke rumahku malam2 begini.
“Ada apa sih ? Gak enak kalo ada yg tahu…”
“Tenang…aku dah survei keadaan, aman. Tadi aku turun di ujung jalan dan jalan kaki ke sini…” Jawabnya.
Dia mengeluarkan bungkusan dari dalam tas dan memberikannya padaku. Setelah aku buka, ternyata 2 stel baju. Satu stel jubah hijau tua lengkap dengan jilbabnya dan satu lagi gaun tidur warna biru yg sangat cantik.
“Makasih yaaa…. Udah, sana pulang….” Aku tdk bisa menyembunyikan kegembiraankku…
“Kok langsung disuruh pulang…?! Abang pengen liat Adik pake dulu baju ini…”
Aku mencoba menolak karena memang sudah malam dan aku benar2 masih khawatir kalau ada orang yg tahu. Akan tetapi bukan AH namanya kalau mudah menyerah. Akhirnya aku turuti permintaannya. Aku ke kamar mandi dan berganti baju yg baru dibelikannya.
Keluar dari kamar mandi aku mengenakan baju jubah hijau dan jilbab besarnya. Terasa pas banget di badanku, seakan-akan baju ini memang dijahit untukku. Aku melihat sudah ada 2 gelas teh panas di meja. Rupanya selama aku di kamar mandi dia menyiapkan teh panas itu. Hmmm….dasar AH, pikirku…
AH izin untuk mandi, karena dari perjalanan jauh badannya terasa capek dan berkeringat. Akkupun mengizinkannya. Dia masuk ke kamar mandi sambil membawa air panas sisa membuat teh barusan.
Setelah selesai mandi AH keluar dengan mengenakan kaos yg bersih dan badannya terlihat segar.
Kami terlibat obrolan2 ringan sambil menikmati teh panas. Obrolan kami berkisar cerita AH yg baru merintis usaha baru di Jakarta sampai akhirnya ke kondisi kehamilanku yg waktu itu sudah memasuki usia 7 bulan. Dia sangat perhatian padaku dan banyak memberi saran ini itu untuk kesehatanku dan kandunganku.
Diam-diam aku semakin merasa nyaman dan senang dengan perhatiannya…
Tanpa aku sadari tiba-tiba tangan kanan AH sudah berada di kepalaku dan dibelainya jilbabku dengan lembut. Aku mencoba mengelak, tapi nampaknya AH membaca kepura-puraanku. Dielusnya dari atas ke bawah….dan sampai di tengkuk, dipijitnya dengan lembut dengan gerakan memutar ibu jarinya. Lama kelamaan akupun sangat menikmati pijatan demi pijatannya. Karena malam itu badanku memang terasa kaku dan capek sekali…
Akhirnya pijitannya turun ke lengan dan punggungku. Agak lama dia pijat bagian tersebut dan akupun semakin menikmatinya…
Entah berapa lama aksi itu berlangsung, tiba2 kurasakan hembusan hawa hangat di leherku. Ya,…AH mencium bagian belakang leherku dari balik jilbabku. Aku agak kaget, tapi pasrah. Mungkin karena suasana yg seperti itu membuat hasratku pelan-pelan bangkit. Rupanya AH faham akan hal itu…
Dia terus menciumi leherku dari belakang, dan akhirnya dibalikkannya tubuhku hingga kami berhadapan. Aksinyapun dilanjutkan dengan ciumannya di bibirku…
Dilumatnya bibirku dengan lembutnya, dan akupun meresponnya. Aku buka bibirku dan lidah kamipun beradu dengan beringasnya….
Untuk kesekian kalinya aku kehilangan akal sehatku. Tapi aku pikir sudah kepalang basah. Bukankah aku sudah dicerai dan AH pun sudah memberikan harapan untukku ?
Apalagi aku dalam kondisi hamil….
Jadi amanlah aku pikir…
Aksi kami pun berlanjut…
Sambil berciuman tangan AH menelusup di balik jilbab dan meraba-raba dadaku. Nafasku mulai memburu dan kuberanikan diri meraba selangkang AH. Terasa betapa kemaluannya sudah mengeras….besar dan panjang. AH membuka resleting celananya untuk memberi jalan padaku supaya lebih leluasa memegang kemaluannya.
“Deg….” Ternyata kemaluannya sangat besar dan keras terasa dalam genggamanku.
Aku tdk berani melihat, akan tetapi aku rasakan ada cukup sisa panjang kemaluannya yg tersembul dari genggamanku.
Terdengar AH berbisik..
“adik.. tolong dikocok..”.
Selama aku menikah, belum pernah sekalipun aku memegang kemaluan suamiku.. apalagi kemudian mengocoknya. Dengan rasa takut, perlahan-lahan, aku kocok batang kemaluan AH.. mulut kami pun kembali saling beradu.
Tak berapa lama, kurasakan batang kemaluan AH semakin membesar dan mengeras. Akhirnya kuberanikan diri untuk melirik kemaluan AH. Ahhhhhh.. tak kunyana tak kusangka, kepala kemaluan AH sangat besar.. dan terlihat berkilap karena cairan mazi sudah mulai keluar dari celah di kepala kemaluannya.
Kembali terdengar AH berbisik..
“adik.. tolong dicium..”
Aku kaget setengah mati mendengar permintaannya, dan kujawab
“..maaf, bang.. aku belum pernah.. aku takut…”
AH pun menjawab..
“ya sekarang dicoba..”
Pundakku pun ditekan kedua tangan AH yg kekar ke bawah.. kakiku pun bertumpu pada kedua lututku.. posisi kepalaku menjadi sejajar dengan kemaluan AH. Dan untuk pertama kali-nya dalam hidupku, aku melihat kemaluan seorang pria dewasa yg sedang terangsang. Bentuknya aneh.. urat-uratnya terlihat jelas bagaikan akar yg mengelilingi batang pohon.. rambut kemaluannya terlihat ikal dan cukup tebal. Dan ternyata lebih aneh lagi pada saat kucium bau-nya.. tapi entah kenapa, tiba-tiba aku semakin terangsang dengan kondisi itu.. kurasakan ada sedikit cairan yg menetes keluar dari liang senggamaku..
Dengan hati berdebar karena takut.. kucoba mendekatkan diri ke kepala kemaluan AH. Perlahan-lahan kujilat dengan ujung lidahku.. kemudian aku menengadah ke atas.. kulihat muka AH, matanya terpejam menikmati sentuhan ujung lidahku.. aku menjadi semakin bersemangat.. kujilat kembali kepala kemaluannya.. berulang-ulang seperti anak kecil yg sedang menikmati permen lolipop.. ujung lidahku pun bergerak menyelusuri batang kemaluannya.. ke bawah dan terus ke bawah hingga pangkal-nya. Kemudian kubalik arah-nya, kususuri dari pangkal hingga kepala.. berulang-ulang.
Mulut AH pun melenguh..
Tiba-tiba, pada saat mulutku menjilat kepala kemaluan untuk yg kesekian kali, kedua tangan AH yg kekar memegang kepalaku.. dan ditariknya kepalaku ke depan.. masuklah kepala kemaluan AH ke dalam mulutku.. Akupun tersedak.. hueeekkksss… hampir muntah rasanya.
Akupun marah.. “..abang.. kenapa dimasukkan ke mulutku..?
AH menjawab.. “..aku sudah nggak tahan, dikkk.. tolong hisap…. tolong..”
Aku segera bangkit berdiri.. aku marah sekali.. kurapikan jubah yg kukenakan.. dan duduk di sofa membelakangi AH.
Melihat aku marah, AH memeluku dari belakang.. dan berbisik di telingaku.. “..maafkan abang yahhhhh.. kamu jangan marah.. abang janji nggak akan mengulangi lagi..”.
Diremasnya kedua payudaraku dengan lembut.. berulang-ulang.. mulutnya pun menjilati bagian belakang telingaku. Meski masih tertutup jilbab, tapi perbuatan AH di belakang telingaku membuat bulu kudukku meremang.. dan membuat menggelinjang menahan geli.
Mendapat perlakuakn seperti itu, aku-pun luluh.. kusambut mulut AH yg ada disampingku telingaku dengan ciuman yg ganas.. lidah kamipun saling memagut satu dengan yg lain..
Kami terlibat dalam percumbuan yg cukup dahsyat, masing-masing dari kami saling merangsang dengan hebatnya. Aku sudah tdk peduli lagi apa yg akan terjadi selanjutnya, saat AH mengangkat tubuhku ke dalam kamar.
Dibaringkannya tubuhku di kasur dan kami melanjutkan percumbuan kami. Dia semakin berani, disibakkannya jilbab besar yg aku pakai dan ciumannya kini mulai turun ke leher dan daerah payudara. Akupun semakin menggelinjang gak karuan…
AH pun makin menggila, dibukanya kancing jubah yg aku kenakan sekaligus celana dalamku. Dan untuk pertama kali-nya, aku telanjang bulat di depan AH. Entah setan mana lagi yg meracuniku sampai rasa maluku malam itu benar2 hilang. Yg ada hanya hasrat yg memuncak dalam birahi. Aku selalu menantikan aksi selanjutnya dari AH….
Mulutnya kembali mengulum mulutku.. kemudian bergerak ke bawah, menelusuri leher-ku yg jenjang.. turun dan terus turun.. dan secara perlahan dikecup-nya pangkal payudara-ku yg putih.
Tiba-tiba aku tersentak dan menjerit lirih, ketika kecupan lembut AH berubah menjadi cupangan dan gigitan yg terasa menyakitkan.
“.. ah, abang.. jangan digigit.. sakit..”.
AH hanya tersenyum dan menjawab “.. maaf sayang.. aku gemas dengan payudaramu..”
Lidahnya bergerak lincah.. puting payudaraku dipermainkannya.. bergantian kiri dan kanan.. berulang-ulang entah berapa kali. Dan kembali aku tersentak dan hanya bisa menjerit lirih, ketika mendadak puting payudaraku dihisap AH dengan keras.
“..abaaaaanngggg.. uuuggghhhh..” Di tengah nafsu yg melanda, sulit sekali aku membedakan antara sakit dan nikmat akibat hisapan itu.
Bosan bermain-main dengan dadaku, AH pun mulai mencumbui bagian bawahku. Lidahnya mulai menjilati rambut kemaluanku.
Dengan suara gemetar karena menahan nafsu, terdengar AH berbisik
“..Aadiik.. rambut kemaluanmu bagus.. rapiiii.. abang juga kangen dengan baunya.. harum..”.
Aku hanya tersenyum malu, dan kedua tanganku pun meremas rambut kepala AH dengan gemas. Duh, sudah tdk sabar rasanya merasakan clitorisku di oral oleh AH.
Tdk berapa lama keinginanku pun terkabul, clitoriskumulai diisap-isap dan dijilat-jilatnya. Aku menggelinjang sangat hebat sampai pantatku terangkat-angkat tdk karuan….lenguhan-lenguhan kecilku menambah panasnya ranjangku malam itu….
”hhh….ssshhh… aaachh…. abang… aaahh…mmmm….”
Dia bertahan beberapa saat di permainan itu sampai akhirnya aku setengah berteriak,…”Aaaaccchhh…..abaaanggg….aaaaaaahhhhhh” Aku remas rambutnya dan kakiku menjepit kuat lehernya. Yah….aku orgasme….
Suatu kenikmatan yg aku jadi merindukannya…..
Setelah beberapa saat aku terkulai lemas….
AH menciumi wajah dan bibirku sambil tersenyum puas….
”Iiihhhh nikmat banget ya….??? Sampe gitu-gitunya….” selorohnya menggoda.
Aku hanya terpejam…..terpejam sambil tersenyum puas….
Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yg telanjang bulat. Bagaimanapun juga masih ada rasa malu ketika aku tahu AH melihat tubuhku tanpa busana seperti ini.
Beberapa saat setelah itu sambil aku masih terbaring berselimut AH kembali mengurut kakiku. Rupanya dia memahami kondisiku malam itu. Badanku yg memang terasa letih makin lemas rasanya ketika harus meledakkan energi orgasme yg cukup dahsyat barusan.
Dia mulai memijit jari-jemari kakiku, kemudian telapak kaki. Dipijatnya dengan lembut bagian itu sampai aku benar-benar merasa cukup. Kemudian pijatannya mulai naik ke betis dan di kanan kiri tulang keringku, sampai ke lutut. Setelah dirasa cukup, mulai telapak tanganku dipijatnya merata sampai ke bahu. Benar-benar relaksasi yg bisa mengendorkan seluruh syaraf dan otot tubuhku. Aku sangat menikmati pijatannya, sampai akhirnya (barangkali) aku tertidur….
Tiba-tiba aku merasakan birahiku merambat naik lagi… Aku tersadar… Ternyata AH mulai merangsangku lagi. Kali ini dia langsung ke clitorisku. Pelan tapi pasti hasratku mulai memuncak lagi. Aku mulai melenguh dan pantatku terangkat-angkat…
Digosoknya clitorisku yg sudah licin dengan jarinya, dan sesekali dimasukkannya jarinya ke senggamaku dengan gerakan keluar masuk. Aku terbelalak, nafasku mulai memburu lagi dan tanganku mencari-cari kepalanya. Aku tarik kepalanya dan refleks kami bercumbu lagi dengan hebatnya. Lidahnya menyapu langit-langit mulutku dan itu membuat aku semakin beringas seakan mau menelan lidahnya bulat-bulat.
Setelah dia rasa aku cukup pemanasan, dia membuka kakiku dan memasang posisi siap beraksi… “Gantian ya Dik, abang belum dapat tadi….” bisiknya di telingaku.
Aku hanya terpejam….
“Hati-hati lho, perutku udah besar…” bisikku
“Tenang sayang, aku tahu caranya kok…nikmati saja ya.. coba kamu naik di atasku, sayang….”
Akupun menuruti kemauannya. Aku segera naik ke atas tubuh AH. AH mengelus pantatku sesaat, sebelum aku rasakan kemaluannya mulai menyeruak bibir senggamaku. Mendesak masuk, pelan tapi pasti…
Agak susah masuknya, barangkali dengan posisi itu liang senggamaku menjadi lebih rapat. Dia terus mendorong dengan mantap sampai akhirnya seluruh batang kemaluannya tertanam di liangku.
Aku terbelalak….
AH mulai meremas kedua payudaraku.. dimainkannya kedua putingku dengan ujung jari-nya. Akupun mengimbangi dengan gerakan naik turun.. kurasakan clitorisku menggesek rambut kemaluannya.. uh geli dan nikmat.
Aku rasakan gesekan-gesekan kemaluan besarnya di dalam liang senggamaku mengaduk-aduk G-spotnya. Aku mulai mendesah dan melenguh lagi dan pasrah dalam kenikmatan yg semakin lama semakin memuncak….
Tak selang lama, AH melenguh panjang,…”Uuuuuuggghhhh…..diiikkkkk….” Rupanya dia sudah orgasme duluan. Ditariknya pantatku kuat-kuat dan dibenamkan seluruh batang kemaluannya dalam-dalam. Aku rasakan semburan benihnya amat banyak di dalam rongga senggamaku, sampai aku merasakan ada sebagian yg keluar mengalir turun di pahaku. Setelah itu disuruhnya aku berbaring dan kembali kami berpelukan dengan kuatnya melepaskan energi yg cukup besar itu.
Setelah nafasnya agak teratur, AH kembali memulai permainannya. Sekarang posisi aku terlentang di bawah dan AH menopang badannya di atasku. Ia mulai memasukkan dan memainkan lagi kemaluannya di dalam senggamaku. Luar biasa, tahan lama juga rupanya…
Dia menopang badannya dengan kedua tangan, sehingga perutku aman dari tekanan berat tubuhnya. Dia permainkan kemaluannya di dalam liang senggamaku, diputar-putar dan ditarik keluar masuk perlahan-lahan….kadang agak dipercepat. Terdengar bunyi “crot-crot…” berulang-ulang karena beradunya kelamin kami yg sudah sangat basah.
Dalam gerakan-gerakan dan gesekan antar kelamin yg penuh birahi itu tak lama kemudian aku mendapatkan lagi puncak orgasmeku…. Orgasme yg kedua, yg aku rasakan jauh lebih dahsyat dari orgasmeku yg pertama tadi..
Aku mengejan dan terbelalak,
“Uuuuaaaacchhh….. abaanggg… aku sudah mau keluar..”
AH membalas,
“.. tahan sebentar ya.. aku juga sudah mau keluar.. kita bareng-bareng yah..”
Dipercepatnya gerakan keluar masuk batang kemaluannya.. cepat, cepat, cepat dan semakin cepat.. hingga akhirnya aku berteriakkk….
“..aaaaahhhhhh……..akh…akhhhh.. ……”
Seluruh otot di tubuhku serasa melepaskan beban yg sangat berat… Aku peluk erat kepala AH dan kakiku menjepit kuat pinggangnya untuk kedua kalinya malam itu. Dan AH pun menyusul berteriak..
“..aaaaahhhhhhhhhh..”. Dibenamkannya kemaluannya dalam-dalam di liang senggamaku.. terasa cairan panas memenuhi rahimku.
Tubuhnya menggelepar hebat di atas tubuhku.. tuntas sudah.
Nafas kami memburu beradu dengan nafasnya.
Ciuman kami beradu dengan kuatnya seakan tak mau kami lepaskan. Kami sama-sama terengah-engah malam itu, bermandikan keringat.
Setelah itu,AH memeluk tubuhku dengan lembut dari arah belakang.. lengannya yg kekar melingkar di leherku.. dan kepalaku pun akhirnya disandarkannya di dadanya yg bidang. Dikecup-nya keningku, kedua mataku, kedua pipiku,ujung hidung-ku.. dan mulutku. Kupejamkan mataku.. damai sekali aku rasakan waktu itu, rasanya aku sudah memiliki suami yg benar-benar bisa membuatku bahagia. Kami pun akhirnya tertidur pulas..
Sampai waktu terdengar adzan subuh kami terbangun, dan ternyata posisi kami masih belum berubah.. tubuhku masih ada di dalam pelukan tangannya.
Hari-hari selanjutnya kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri di rumah itu.. dan aku pun akhirnya berani melakukan oral sex ke AH. Bahkan, AH sengaja membawakan VCD porno untuk mengajariku bagaimana melakukan oral sex.. sampai akhirnya kami berdua sering melakukan oral sex secara bersamaan..
Kedatangan AH ke rumahku selalu malam hari, kadang langsung pulang dan terkadang tidur sampai pagi. Jika sampai pagi biasanya AH pas dalam perjalanan pulang dari luar kota.
Pernah suatu saat kami melakukannya di kawasan wisata di kota kami. Dengan alasan kepada istrinya ada urusan bisnis di Jakarta. Kami menginap selama 3 hari di kawasan pegunungan itu. Dengan penampilanku yg seperti ini, tdk ada orang yg curiga apalagi aku dalam kondisi hamil yg mulai besar. Orang pasti mengira kami pasangan suami istri….
Sebenarnya aku sadar bahwa aku telah melakukan dosa besar. Akan tetapi aku selalu tdk mampu menolak rayuan AH dan aku selalu terjerumus lagi….dan lagi….
Sampailah hari kelahiran anakku pada bulan Desember 2006. Aku diantar suamiku ke rumah sakit untuk persalinan. Dia menunggui dan mendampingi aku sampai anaknya benar2 lahir.
Setelah kelahiran anakku maka berakhirlah masa iddahku, yg berarti aku benar-benar sudah lepas dari ikatan suamiku. Tdk berselang lama AH benar-benar menikahi aku setelah mendapat persetujuan dari M istrinya.
Akan tetapi ternyata pernikahannku dengan AH tdk bertahan lama, karena aku baru tahu sifat aslinya setelah aku menikah dengannya.
Memang dalam hal ranjang dia sangat memuaskan, akan tetapi tabiat aslinya yg amat kasar ternyata baru muncul setelah menikah. Seringkali hanya karena permasalahan kecil aku harus menerima pukulan darinya. Belum lagi caci maki yg sering keluar kari mulutnya. Selama 3 bulan aku menikah dengannya akhirnya aku tdk kuat dengan perlakuannya. Dan kembali aku minta cerai darinya….
Akhirnya aku berpisah dengan AH dalam kondisi aku hamil 1 bulan.
Sekarang anakku dari AH sudah berumur 3 tahun dan aku masih hidup menjanda bersama kedua anakku.

Cerita Sex: Aku Jadi Pelampiasan Nafsu Tante



Kejadian ini terjadi ketika aku masih duduk di bangku 3 SMP, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu sudah mau ngerasain yg enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yg namanya Tante Widya (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.

Tante Widya ini rumahnya dekat dengan rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante Widya ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante Widya inilah yg bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yg cepet-cepet).

Biasanya Tante Widya kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yg bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirik-lirik. Tante Widya ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.

Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yg pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Widya ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih).

Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante Widya malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yg satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yg namanya paha sama celana dalem tuh Tante.

Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Widya pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung.
Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yg serem-serem, pas waktu itu Tante Widya mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Widya di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.
Lalu Tante Widya menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Widya, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Widyan ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Ran temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Widya sambil mulai berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yg berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Widya kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante Widya boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Widya.
“Heh kenapa kamu Ran kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Widya.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yg enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih?”, tanya Tante Widya.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek?” tanyaku.
Tante Widya cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat Ran? Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Widya.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah memeknya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yg namanya memek. Tante Widya membiarkanku memegang-megang memeknya.
“Sudah yah Ran nanti enggak enak sama ibu-ibu yg lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.
Lalu Tante Widya menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yg lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.
“Ran, kamu enggak ikut?” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Widya, kamu mau kan tolong jagain si Ranu nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yg mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante Widya.
“Iya deh Kak aku jagain si Ranu tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Widya.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Widya berdua saja di villa, Tante Widya baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Ran? kok lemes gitu?” tanya Tante Widya sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yg di rasa” kataku.
Tante Widya begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yg sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yg mana Ran atas apa yg bawah?” kelakar Tante Widya padaku. Aku pun bingung, “Memangya kepala yg bawah ada Tante? kan kepala kita hanya satu?” jawabku polos.
“Itu tuh yg itu yg kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Widya sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Widya, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Ranu saja yg ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Widya sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
“Ran mau enggak pusingnya hilang? Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Widya.
Lalu di genggamnya batang k0ntolku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga k0ntolku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayg karena baru pertama kali merasakan yg seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang memek Tante Widya yg masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante Widya hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Widya.
Aku bingung campur heran melihat k0ntolku dikulum dalam mulut Tante Widya karena Tante Widya tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas memek Tante Widya yg kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Widyapun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Widya, Tante Widya pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan memek Tante Widya berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Widya lembab dan agak basah.
“Enak kan Ran, pusingnya pasti hilang kan?” kata Tante Widya.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Ran?”
“Enggak Tante”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang memek Tante Widya.
“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Ranu megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Widya. Tante Widya pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Widya basah entah kenapa.
“Tante kencing yah?” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Ran sampai-sampai celana dalam Tante basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Widya dan mengelap memeknya dengan handukku. Lalu Tante Widya duduk di sampingku
“Ran pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang memek Tante Widya dengan tangan yg agak gemetar, Tante Widya hanya ketawa kecil.
“Ran, kenapa? Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Widya. Dia mulai memegang k0ntolku lagi, “Ran Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante?”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Widya.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan?”
“Tapi Ranu enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yg ajarin kamu yah” kata Tante Widya padaku.
Mulailah tangannya mengelus k0ntolku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus memek Tante Widya yg di tumbuhi bulu halus.
“Ran jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante Ranu enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Ran”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Widya di atas dan tanpa pikir panjang Tante Widya pun mulai mengulum k0ntolku.
“Achh.. hgghhghh.. Tante”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium memek Tante Widya tdk berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya memek Tante Widya seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati memek Tante Widya sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Widya dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Widya pun masih asyik mengulum k0ntolku yg masih layu kemudian Tante Widya menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yg penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Ran” kata Tante Widya.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Widya pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan k0ntolku pun mulai bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yg begitu dahsyat. Tante Widya pun langsung menjilati k0ntolku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Tante Widya mengeras, Tante Widya menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok k0ntolku, tanganku pun meremas payudara Tante Widya. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati memek Tante Widya, langsung Tante Widya kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati memek Tante Widya seperti menjilati es krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Ran enak banget terus Ran, yg itu isep jilatin Ran” kata Tante Widya sambil menunjuk sesuatu yg menonjol di atas bibir memeknya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yg keluar dari memek Tante Widya tanpa sengaja tertelan olehku.
“Ran masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya?”
Tante Widya pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas k0ntolku dan langsung menancapkannya ke dalam memeknya. Tante Widya naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Widya pun mengejang hebat.
“Ran Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Widya.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yg hangat mengalir dari dalam memek Tante Widya. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan memek Tante Widya mungurut-urut k0ntolku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante Widya sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante Widya tdk mencabut k0ntolku dan membiarkanya di dalam memeknya.
“Ran nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Widya padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Widyapun langsung mengocok k0ntolku dengan memeknya dengan posisi yg seperti tadi.
“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yg seperti tadi lagi.
“Tante Ranu kayanya mau kencing niih”
Tante Widya pun langsung bangun dan mengulum k0ntolku yg masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yg ke 2 kalinya dan seperti yg pertama Tante Widya pun menelannya dan menghisap ujung kepala k0ntolku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yg alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Widya menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante Widya yg hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Widya, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Widya di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante Widya. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante Widya, tepat jam 4:30 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Ran kamu sudah baikan?” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Ranu sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Widya.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Widya.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Widya yg semobil denganku. Mami yg menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante Widya.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Widya bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Widya. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante Widya sudah dikarunia 2 orang anak yg cantik. Baru kuketahui bahwa suami Tante Widya ternyata menagalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Widya.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante Widya bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yg lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Widya yg nasibnya sama seperti Tante Widya, mempunyai suami yg ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.

Cerita Sex: Gadis Cantik Seksi Dan Perhatian


Aku, Johan, adalah seorang supir dari boss pemilik berbagai perusahaan real estate di Jakarta. Malam itu, Pak Alvin boss ku, mengizinkan aku membawa kendaraannya pulang karena hujan yg cukup deras dari sore dan hari sudah semakin larut. Ditambah aku memang orang kepercayaan Pak Alvin.

Selesai ku antarkan Pak Alvin yg setengah mabuk karena bersenang-senang di klub malam, ku pacu kendaraan dengan kecepatan sedang menuju tol dari arah Pondok Indah. Waktu sudah menunjukan pukul 02:30 pagi, jalan begitu sepi karena malam dan hujan yg tak kunjung berhenti.

“Besok Jakarta pasti banjir nih, hujan seharian gini…” gumamku dalam hati.
Sekitar 100 meter setelah melewati Pondok Indah Plaza, aku melihat sebuah sedan menepi dengan kap mesin yg terbuka.

Aku pun tanpa pikir panjang segera berhenti di belakang mobil tersebut, berniat untuk membantu.
“Mana mungkin ada orang jahat pura-pura minta tolong jam segini ditengah hujan deras, dengan mobil yg lebih mahal dari mobil yg ku bawa malah…” Pikirku dalam hati.

Segera ku ambil payung di bagian belakang mobil, dan menghampiri si pemilik mobil yg sedang berdiri sambil memegangi payung di depan kap mobil tersebut.

“Kenapa mobilnya, pak? Ada yg bisa saya bantu?” Tanyaku ramah sambil mengerenyitkan dahi, cahaya yg redup dan hujan yg cukup deras, membuatku kesulitan melihat si pemilik mobil yg sedikit tertutup payung.
“Ini, Mas. Mogok, gak tau kenapa…” Jawabnya pelan.
Aku pun kaget karena ternyata ia seorang perempuan, dari suaranya terdengar belum terlalu tua. Mungkin sekitar 30 tahunan.
“Oh, maaf mbak gak liat, kirain cowok, hehehe…” Balasku untuk memecah kekakuan.
“Coba sebentar saya liat, kebetulan saya ngerti mesin kok…”
Wanita tersebut memersilahkan aku untuk menangani mobilnya. Aku pun sibuk memerhatikan dan mencari tahu masalah sampai mobil tersebut tdk mau menyala.
“Kenapa tdk telepon asuransi atau tukang derek aja, mbak?” Kataku sambil tetap berfokus pada mesin mobilnya.
“Maunya sih gitu, tapi handphone saya mati semua, Mas. Batrenya abis…” Jawabnya memelas. Suaranya sudah parau, sepertinya ia baru saja menangis.
“Kalau saya cek sih, gak ada masalah apa-apa, mbak. Saya bingung juga kalau liatnya ditempat gelap dan hujan deras gini…” Jelasku singkat.
“Saya pinjamkan handphone untuk menelpon asuransi atau tukang derek saja ya, mbak. Bagaimana?” Tawarku padanya.
Ia hanya mengangguk pelan.
“Makasih ya, Mas…” Ujarnya saat ku berlalu menuju mobil untuk mengambil handphone ku.
“Ini Mbak…” Kataku sambil menyerahkan handphone bututku yg bahkan tdk memiliki kamera tersebut.
Wanita tersebut meraih ponselku dan mengambil sepucuk kartu nama dari dompetnya. Aku sedikit menjauhkan diri saat ia sedang menelpon setelah aku tutup kembali kap mesinnya.
Tdk lama kemudian,
“Ini mass… Terima kasih banyak ya. Aku sudah menelpon tukang derek supaya mobilku bisa diangkut ke bengkel…”
“Iya, mbak sama-sama. Mbak mau pulang kemana emangnya?”
“Ke Pondok Labu, Mas…” Jawabnya singkat.
Awalnya aku ingin menawarkan diri untuk mengantarnya pulang, tapi langsung ku urungkan niat tersebut karena yakin ia akan menolak, mungkin ia takut akan ku perkosa.
“Saya temani disini ya mbak sampai tukang dereknya datang. Daripada sendirian, kalau ada orang jahat, bisa repot…” Tawarku.
“Gak usah repot-repot, mas. Sudah dipinjamkan handphone saja sudah cukup kok.”
“Gapapa kok, mbak. Saya juga bawa mobil, tau lah rasanya gimana kayak mbak gini.” Balasku tenang.
“Ini, ini KTP saya, kalau-kalau mbak takut saya berbuat jahat, paling gak mbak tau identitas saya…” Ujarku sambil menyodorkan KTP dari dalam dompetku.
Ia pun tersenyum,
“Tdk perlu, mas. Saya tau kok mas orang baik dan tdk ada niat jahat.”
“Ya sudah kalau begitu saya temani ya.”
Wanita tersebut pun mengangguk.
“Mbak lebih baik duduk di dalam mobil, daripada kebasahan kena hujan gini…” Saranku padanya.
“Saya temani disini saja.”
“Ya enggak dong, mas. Masa saya di mobil, mas di luar.”
“Kalau begitu, tunggu di mobil saya saja mbak. Biar saya hidupkan mesinnya, jadi ada AC dan lampunya. Bagaimana?”
Ia pun menyetujui ideku.
Kami berdua pun masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi depan, dan aku duduk disampingnya di kursi pengemudi. Setelah lampu dalam mobil ku hidupkan, barulah ku bisa melihat dengan jelas wanita cantik yg sedang duduk disebelahku ini.
Tubuhnya cukup proporsional, dengan rambut hitam panjang sepunggung, celana jeans hitam ketat dan kaos putih yg ditutupi jaket coklat terlihat serasi dengan wajah manisnya. Hidung mancung, kulit putih dan bibir tipisnya menambah kecantikannya, apalagi saat ia sedang tersenyum.
“Mbak siapa namanya?” Tanyaku.
“Nikita, mas. Kalau mas?”
“Aku Johan, mbak…”
“Gak usah pake mbak, Niki aja mas..”
“Jangan pakai mas juga kalau gitu, Johan saja…”
Ia pun tertawa kecil mendengar jawabanku.
“Kamu seperti habis menangis, kenapa Nik?” Tanyaku.
Niki terdiam sambil memandangi kaca depan mobil.
“Maaf kalau aku lancang, hanya bertanya…” Tambahku khawatir ia tersinggung dengan pertanyaanku barusan.
“Enggak kok, Jo. Aku capek aja, lagi banyak masalah, pas mau pulang eh mobil malah mogok. Bikin perasaan makin gak karuan…” Jelasnya.
“Banyak bersabar kalau gitu, mungkin emang lagi banyak cobaannya. Siapa tau besok malah banyak rejekinya.” Hiburku seadanya. Niki pun sedikit tersenyum.
Obrolan pun mengalir, tanpa diminta Niki pun menceritakan masalah yg sedang dihadapinya. Orang tuanya sedang dalam proses bercerai, pacarnya pergi meninggalkannya karena ia terlalu sibuk bekerja dan mengurus masalah ke dua orang tuanya. Niki sendiri seorang karyawan di perusahaan tambang yg kantornya terletak di bilangan Pondok Indah. Lulusan universitas jurusan hukum.
Tdk terasa, hampir satu jam kami ngobrol kesana kemari, sampai akhirnya mobil derek datang. Niki pun segera mengisi formulir yg diberikan, lalu masuk kembali ke dalam mobilku.
“Terima kasih banyak ya Jo sudah membantu…” Ucapnya begitu masuk ke dalam mobilku.
“Iya sama-sama, Nik. Aku antar ke rumah ya, gimana?”
“Kamu emang pulang kemana? Jangan deh, takut ngerepotin…”
“Enggak kok, kebetulan rumah ku di Cinere. Jadi searah kan sama rumahmu?”
“Oh ya? Iya deh kalau gitu, sekali lagi makasih ya. Udah ditolongin pinjem handphone, sekarang ditolongin sampe dianterin…”
“Udah, tenang aja…” Balasku.
Hari sudah semakin pagi, hujan sudah selesai berganti kabut tipis yg menutupi jalan. Tdk sampai setengah jam perjalanan, kami sudah mendekati tujuan.
“Rumah kamu dimana, Nik?” Tanyaku.
Niki pun menunjukan arah ke rumahnya. Aku dengan teliti menyetir, selain karena mata yg sudah letih juga rasa kantuk yg semakin datang.
Tdk terlalu sulit mencari rumahnya karena terletak di pinggir jalan. Rumah besar yg mewah tersebut terlihat gelap tanpa cahaya sama sekali di dalamnya.
“Sepi banget, kamu tinggal sendiri?”
“Iya, sudah lama aku tinggal sendiri di sini. Orang tuaku tinggal di rumah yg di Kelapa Gading. Itu pun gak tau masih serumah atau udah pisah…” Jawabnya sedikit kesal.
Aku pun tdk berani untuk banyak bertanya.
Setelah pintu gerbang yg bisa dibuka otomatis dengan remote dari dalam tas Niki terbuka, mobilku pun ku masukan lalu parkir di depan pintu masuk rumahnya.
Rumah bergaya minimalis, dua lantai dengan cat berwarna putih terlihat suram tanpa penghuni, kebun kecil di depannya pun kurang terawat karena banyak tanaman yg mati dan layu.
“Akhirnya sampai…” Ucapku sambil menarik rem mobilku.
“Iya nih. Jo, udah hampir pagi. Kamu gak mau tidur dulu aja di rumahku? Besok pagi baru pulang. Daripada kenapa-kenapa di jalan karena ngantuk…” Tanya Niki.
“Enggak apa apa kok, udah biasa banget nyetir jam segini, namanya juga supir hehehe…” jawabku santai.
Padahal dalam hati ingin sekali aku numpang tidur di rumahnya. Sayangnya aku merasa tdk enak hati untuk menerima tawarannya.
Namun berbeda dengan Niki, ia memaksa diriku untuk menginap.
“Anggap aja aku bayar utang budi karena kamu sudah membantu aku….” Begitu kata-katanya untuk membujukku.
Aku pun luluh dan menerima tawarannya.
Niki memersilahkan aku masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa canggung masuk ke rumah wanita muda cantik yg baru ku kenal beberapa jam yg lalu di pinggir jalan. Namun Niki terlihat santai dengan kehadiranku.
Niki pun menawarkan beberapa pakaian dan celana pendek untuk ku gunakan tidur, beberapa milik Ayahnya yg ukurannya tdk jauh berbeda denganku. Niki juga mengantarkanku ke kamar tamu yg bisa kugunakan untuk beristirahat sampai matahari terbit beberapa jam lagi.
Segera saja ku baringkan tubuhku yg aktif dari pagi kemarin. Pukul 4 pagi, ku lihat di jam dinding yg ada di atas jendela kamar. Ku coba memejamkan mataku.
Belum sempat terlelap, pintuku diketuk pelan.
Aku pun bangkit dari kasur, menuju pintu dan membukanya. Niki berdiri di depan kamarku, mengenakan piyama tipis dengan rambut yg terikat.
“Aku gak bisa tidur…” Ucapnya manja.
“Yah, terus gimana? Mau aku temenin dulu?” Tanyaku setengah mengantuk.
Niki mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam kamarku tanpa ku minta. Ya memang ini rumahnya, namun aku semakin canggung harus bagaimana bila ia masuk ke kamarku tanpa diminta.
Niki pun duduk di pinggir kasurku sambil melihatku yg berjalan mendekat. Ia pun memberikan isyarat dengan lambaian tangan agar aku mendekat.
“Kenapa Nik?” Tanyaku yg masih berdiri di hadapannya.
“Aku mau kasih sesuatu…” Dengan cepat Niki menarik turun celanaku. Aku kaget bukan kepalang.
Tangan Niki langsung meraih k0ntolku, dan memasukannya ke dalam mulut.
Rasa kantuk ku pun hilang, ingin ku tolak perlakuan Niki namun aku terlanjur menikmatinya. Aku hanya bisa merintih keenakan saat lidah Niki menyapu batang k0ntolku dan memaksa k0ntolku untuk berdiri tegak.
“Ahhh Nikkk, kamu ini ahhhh…” Rintihku sambil meremas rambutnya.
Hisapan Niki di k0ntolku semakin kuat.
Lahap sekali Niki menikmati k0ntolku. Tdk ada sedikitpun bagian yg terlewat dari hisapan dan jilatan lidahnya. Memberikan sensasi kenikmatan tersendiri bagiku yg sudah lama tdk menyentuh wanita ini.
Setelah beberapa menit, Niki melepaskan k0ntolku dan berdiri menghadapku. Tanpa basa basi segera ku lumat bibir tipisnya yg sudah menggodaku dari awal bertemu. Lidah kami saling berpagutan, dera nafas Niki semakin berat saat tanganku menelusup masuk ke dalam pakaiannya, berusaha mencari dan meremas payudaranya yg lembut dan kenyal.
“Uhhh, Johan….” Desisnya saat ku arahkan kecupanku ke lehernya.
Ku jilati tiap senti kulitnya yg putih dan halus tersebut. Tubuhnya bergetar,
keringat mulai keluar meski udara begitu dingin karena hujan dan pendingin ruangan. Tangannya bergantian meremas rambut dan mencengkram punggungku.
Ku dorong tubuh Niki agar terbaring di kasur. Ku tarik celana panjangnya sehingga terlihat celana dalamnya yg berwarna hitam. Kakinya begitu jenjang dan indah, suka sekali aku menatapnya berlama-lama.
Ku usapkan tanganku dari betis hingga ke pahanya, mengirimkan rasa geli ke seluruh tubuhnya yg semakin menegang. Rintihan-rintihan kecil menghidupkan kamar yg biasanya sepi tersebut.
Perlahan ku tarik celana dalam Niki, kali ini terpampang jelas memek cantik dengan bulu kemaluan yg dicukur rapih dibagian atasnya. Bibir memeknya sudah merekah basah, klitorisnya sedikit menyumbul keluar, tanda ia sudah tdk sabar untuk dinikmati olehku.
Ku dekatkan kepalaku ke arah memeknya. Dengan kedua jari, ku buka bibir memeknya dan ku sapu lembut dengan lidahku. Niki menggelinjang, tangannya menarik seprei, rintihannya berubah menjadi teriakan menahan hasrat yg begitu menggairahkan.
“Arrrgghhhh, Johannnn! Terus Jonnn!”
Aku pun tdk memedulikan teriakannya. Rumahnya yg besar, hujan deras yg kembali turun, sudah pasti tdk akan ada tetangga yg mendengar teriakan nikmat Niki. Hal itu justru semakin meningkatkan gairahku untuk menyetubuhinya.
Kali ini ku masukan kedua jariku, perlahan ku mainkan lubang kenikmatan Niki. Tentu saja ia semakin menggelinjang dan menikmati perlakuanku. Niki pun tdk bisa menahan lagi, ia orgasme dan mengeluarkan cairan kenikmatan dari dalam memeknya.
“Argghh ohhhhhhh, Johannn aku keluarrrrr…..” Teriaknya sambil menarik rambutku.
Ku biarkan cairannya yg berwarna putih bening mengalir keluar dari dalam memeknya, lalu ku hisap dan ku jilat habis, hanya menyisakan kenikmatan disekujur tubuh Niki.
Aku pun bangkit dan mendekap tubuhnya yg hangat. Niki mengulurkan tangannya ke dalam saku piyamanya. Ternyata Niki menyiapkan kondom untuk pertempurannya denganku. Tdk bisa kulihat jelas kondom berwarna hitam tersebut karena lampu kamar yg mati, hanya diterangi temaram lampu meja berwarna kuning.
“Sini, kupakein dulu…” Pinta Niki, aku pun menggeser pinggulku agar k0ntolku mendekat ke arahnya.
Niki memasangkan kondom di k0ntolku, lalu ia mengubah posisi diatasku. Digenggamnya lembut k0ntolku yg sudah tegang dari awal hisapan mulutnya tadi, diarahkannya ke lubang memeknya yg masih merekah merah.
Aku hanya bisa menyaksikan sambil berusaha membuka kancing piyama Niki satu persatu, lalu ku buka bra berwarna hitam yg menutupi payudaranya. Samar terlihat putingnya berwarna pink yg menegang kencang dan membesar.
Ku remas pelan payudaranya saat k0ntolku merengsek masuk ke dalam memek Niki. Terasa hangat, licin dan kuat menghisap k0ntolku. Begitu k0ntolku masuk seluruhnya, Niki mendiamkannya sesaat agar memeknya terbiasa. K0ntolku memang terbilang besar dan panjang, Niki pun merintih kecil saat mendapatkan itu di dalam memeknya untuk pertama kali.
Selang beberapa detik, Niki menggerakan pinggulnya ke depan dan belakang. Tangannya mencengkram perutku, kepalanya mengadah ke atas dengan mulut terbuka lebar seakan udara tak mampu mengisi otaknya yg saat ini sedang diburu nafsu birahi.
“Arrrgghhhh, enak banget sih kontol kamu, Jo. Suka bangetttt….” Desis Niki ditengah goyangan pinggulnya.
Aku yg sibuk meremas payudaranya hanya bisa tersenyum sambil memilin kecil putingnya.
Niki pun merubah goyangan pinggulnya, kali ini naik turun dengan frekuensi yg tdk terlalu cepat. Setiap hentakan yg mengantarkan k0ntolku ke ujung memeknya, menambah volume suara Niki yg sedang dirundung nafsu.
“Arghhh, arghhhh ssssshhhhhhhh…..” Rintih Niki.
Aku yg puas meremas payudara Niki, memindahkan tanganku untuk meremas pantatnya yg kencang. Ku bantu mengangkat pantatnya agar genjotannya semakin cepat. Niki mengerang kencang saat mencapai puncak kenikmatan yg kedua kalinya.
“Arrrghh, Johannnnn aku keluarrrr jooooo!!!”
Crot crot crot. Memek Niki terasa menjepit k0ntolku semakin kuat. Niki ambruk diatas tubuhku. Aku pun mendekapnya dengan penuh kelembutan.
Perlahan aku bangkit masih dengan mendekap Niki. Ku rubah posisi agar aku yg diatas tanpa mencabut k0ntolku dari dalam memeknya.
Ku genjot lagi memek Niki yg hangat, dengan tanganku yg meremas payudaranya gemas.
“Aarrgggh, Jonn. Kamu kuat banget sihhh….”
“Kamu juga kenapa enak banget sih?” balasku sambil mengusap perut dan pinggangnya.
Niki memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri.
Hampir lima menit aku berada di posisi tersebut. Niki mencapai klimaks untuk yg ketiga kalinya. Sedangkan aku? Aku pun bingung kenapa k0ntolku ini begitu kuat menggarap memek Niki. Mungkin karena kemolekan tubuhnya yg membuatku bersemangat, atau kondom yg diberikan Niki mengandung cairan pelumas yg membuatku bisa kuat bertahan selama ini? Aku tdk tahu, dan tdk ingin memikirkannya, saat ini aku hanya ingin membuat Niki lemas tak berdaya karena nikmat yg aku berikan. cerita sex
Aku memberikan sedikit waktu untuk Niki mengumpulkan nafas dan tenaganya setelah orgasmenya yg ketiga tersebut. Ku perhatikan sejenak wanita yg terbaring tanpa busana dibawah tubuhku ini. Entah mimpi apa aku semalam bisa menikmatinya, bahkan aku belum pernah memiliki pacar secantik Niki. Ia sendiri wanita cantik, pintar dan kaya raya yg selevel dengan putri bossku. Bisa dibilang, ia termasuk wanita yg awalnya aku kira tdk akan pernah bisa aku tiduri.
Aku meminta Niki untuk berdiri, ku tarik tangannya perlahan, mengarahkannya ke luar kamar. Aku menuju sofa di ruang TV rumahnya. Sofa empuk berbalut kulit coklat dengan ukuran yg cukup besar untuk permainan liar kita berdua.
Aku duduk dan mengisyaratkan Niki untuk duduk di atasku. Kali ini posisinya memunggungi diriku. Aku begitu menyukai posisi tersebut karena bisa dengan leluasa meremas pantatnya dan menyaksikan bagaimana k0ntolku terlahap memeknya dengan rakus.
Dengan tenaga yg tersisa, Niki menggenjot k0ntolku sekali lagi. Tubuhnya terlihat sangat indah saat menyatu dengan tubuhku. Ringkuhan tubuh Niki saat menahan kenikmatan membuatku gairahku tak kunjung padam.
“Johannnn, enak bangetttt. Kamu kok kuat bangettt… Ohhh ssshhhhh gak keluar keluar sshhhhhh dari tadiiii…” Racau Niki.
Aku pun membiarkan Niki mempermainkan k0ntolku di dalam memeknya. Terasa kedutan kencang di dalam memeknya yg menambah kenikmatan di k0ntolku.
“Urrghhh, Jonnn….” Desis Niki.
Semakin lama, k0ntolku terasa semakin sesak karena dorongan sperma yg sudah tdk sabar untuk keluar bebas. Ku pegangi pantat Niki dan ku kendalikan genjotannya agar semakin cepat.
Hisapan kuat memeknya membuatku tak kuasa menahan lebih lama.
“Aku mau keluar, Nikkk….” Ucapku berbisik pelan.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian k0ntolku memuntahkan sperma berkali-kali. Membuatku lemas tak berdaya saat itu juga.
“Arrggghhh, Nikkk!!!” Teriakku saat orgasme sambil menarik tubuhnya dan meremas payudaranya.
Rupanya Niki pun orgasme, empat kali ia mencapai puncak, ku yakin sudah tak berdaya lagi tubuhnya.
Niki pun menjatuhkan dirinya ke sampingku. Ku lihat kondom yg menancap di k0ntolku sedikit menggembung karena banyaknya sperma yg keluar. Dengan perlahan ku tarik kondom agar tdk ada cairan kenikmatanku yg tumpah.
“Kamu gila…” Bisik Niki.
Kepalanya menghadap ke jendela, matanya terpejam, namun kata-kata tersebut tdk bisa ia tahan untuk tdk diutarakan.
“Baru kali ini aku main selama ini, dan seenak ini. Ganti ganti gaya pula. OK banget lah kamu…” Puji Niki lagi.
Aku hanya menoleh sebentar dan tersenyum.
Ku angkat tubuh Niki yg lemas tak berdaya itu ke kamar ku lagi. Ku baringkan dan ku selimuti, lalu aku ikut berbaring di sampingnya.
Hari sudah terang karena matahari yg terjaga dari tidur lelapnya. Kali ini giliran kami beristirahat sambil menikmati sisa sisa kenikmatan duniawi yg baru saja kami dapatkan bertubi-tubi.
Ku dekap tubuh Niki, ku kecup lehernya dari belakang. Kami pun terlelap.