Musim Bokep : Perkosa ABG Sexy


Perkenalkan namaku Anton , aku merupakan seorang pegawai disalah satu perusahaan swasta di Jakarta, Umurku kurang lebih 34 tahun. AKu kost di daerah Slipi, letak kamarku kebetulan bersebelahan dengan kamar seorang gadis SMA yang manis dan menggemasakan. Dirinya bernama Amel, Amel ini mempunyai tubuh yang mungil, putih dan mulus tanpa ada lecet sedikitpun. Di dalam kamar kostku tersedia berbagai celah angin Fentilasi, teptnya lubng Fentilasi itu menghubungkan antara kamarku dengan kamar Amel. Semula celah Fentilasi itu telah kututup dengan kertas, berfungsi supaya tidak ada debu alias nyamuk yang masuk, berhubung Amel kost di sebelah kamarku, maka kertas itu aku lepas, jadi aku bisa dengan jelas menonton apa yang terjadi pada kamar Amel itu. Hhe . Kali aja aku bisa mendapat pemandangan indah dari kamar Amel.

Awal mula cerita Sexku ini berwal dari Keisenganganku ketika aku berada di kamar kos. Pada sebuahmalam aku mendengar suara pintu di sebelah kamarku dibuka, lalu aku semacam biasanya naik ke atas meja untuk mengintip. Nyatanya Amel itu baru pulang dari sekolah, tapi yang membikin saya heran kenapa hingga larut malam begini dirinya pulang dari sekolah (tanyaku dalam hati ). Ketika itu Amel sedang menaruh tas, Kemudian dirinya mencopot sepatunya. Kemudian setelh itu Amel beranjak mengambil segelas air putih dan meminumnya. Seusai berakhir minum dirinya duduk di kursi, tiba-tiba ketika di duduk, Amel membawa kakinya menghadap pada celah angin tempat aku mengintip.

Ketika itu Amel sama sekali tidak bisa menonton ke arahku sebab lampu kamarku telah kumatikan, maka dari itu aku bisa dengan leluasa menonton ke dalam kamarnya. Tetap pada posisi kakinya yang diangkat di atas kursi, aku bisa menonton jelas celana dalamnya yang berwarna hitam dengan gundukan kecil di tengahnya. Ketika menonton itu dengn Otomatis , tiba- tiba penisku yang berada dalam celanaku mulai ereksi. Mataku mulai melotot menonton keindahan yang tiada duanya itu, apalagi ketika Amel bangkit dari kursi dan mulai melepaskan baju dan rok sekolahnya, saat ini terkesanlh Amel yang hanya menggunakan BH dan celana dalam saja. nomor jitu

Dalam posisinya yang memkai BH dan CD dirinya bercermin sebentar memperhatikan tubuhnya yang ramping dan putih mulus itu. Seusai bercermin tangan Amel mulai meluncur pada payudaranya yang nyatanya tetap kecil tapi kencang. Kemudian mulai diusap payudaranya dengan lembut, dipuntir-puntirnya dengan pelan puting susunya sambil memejamkan mata, rupanya dirinya mulai merasakan nikmat, disusul dengan tangan satunya yang meluncur ke arah celana dalamnya, mulai digosoknya dengan perlahan Vagina Amel dengan jari-jarinya itu. Dirinya memainkan jari-jari divaginany yang tetap tertutup celna dlam itu lumayan lama.

Ketika menonton itu tubuhkupun mulai bergetar, sedangkan penisku telah sangat tegang sekali. Tidak lama kulihat Amel mulai melepaskan celana dalamnya. Astaga… nyatanya sangat indah sekali Vagina Amel, terkesan sangat bersih dan belum ada bulunya sama sekali. Beranjaklah Amel naik ke tempat tidur dengan posisi menelungkup dan di mulai menggoyangkan pantatnya layaknya semacam sedang bersetubuh. Amel menggoyang pantatnya ke kiri, kanan, naik dan turun, rupanya dirinya sedang mencari kenikmatan yang ingin sekali dirinya rasakan, tapi hingga lama Amel bergoyang rupanya kenikmatan itu belum dicapainya, Lalu dirinya bangkit dan menuju kursi dan ditempelkannya vaginanya pada ujung kursi sambil digoyang dan ditekan maju mundur dengan desahan-desahan kecilnya.

Akupun merasa kasihan menonton Amel yang sedang terangsang berat itu, suara nafasnya yang ditahan mengfotokan dirinya sedang berusaha meraih dan mencari kenikmatannya. Kemudian Amel beranjak mengambil sebuah timun kecil, seusai mendpatkan Timun itu, dibasahilah dengan ludahnya lalu pelan-pelan Timun itu dimasukan ke celah vaginanya, begitu Timun itu masuk kurang lebih satu alias dua centi matanya mulai merem-melek dan erangan nafasnya makin memburu,
“ Ssss….Ahh… ouhhh… ahhh… ” desah adel yang mulai merasakan nikmat,
Lalu dicopotnya Timun itu dari vaginanya, kini jari tengahnya mulai juga dicolokkan ke dalam vaginanya. Pertama, jari itu masuk hingga sebatas kukunya kemudian dirinya dorong lagi jarinya untuk masuk lebih dalam lagi, dirinya melenguh,
“ Ouhhh… Ssss… ahhhh… ” desah adel lagi,

Aku merasa heran dengan Adel, jari tengahnya dicabut lagi dari vaginanya, tidak lebih nikmat rupanya, lalu dirinya menonton sekelilingnya untuk mencari sesuatu, aku yang menyaksikan semua itu betul-betul telah tidak tahan lagi. Penisku telah sangat mengeras dan tegang menarik, lalu kubuka celana dalamku dan kini penisku leluasa bangun lebih gagah, lebih besar lagi ereksinya Menonton vagina si Amelyang sedang terangsang itu. Lalu aku mengintip lagi dan kini Amel rupanya sedang menempelkan vaginanya yang bahenol itu pada ujung meja belajarnya. Saat ini gerakannya maju mundur sambil menekannya dengan kuat, lama dirinya berbuat semacam itu.., dan tiba-tiba dirinya melenguh,
“ Ssss… Ahh… ahh… ahhh…. ”, rupanya dirinya telah mencapai kenikmatannya,
Singkat cerit seusai berakhir, dirinya lalu berbaring di tempat tidurnya dengan nafas yang tersengal- sengal. Saat ini posisinya cocok berada di depan pandanganku. Kulihat vaginanya yang berubah warna menjadi agak kemerah-merahan sebab digesek semakin dengan ujung kursi dan meja. Terkesan jelas vaginanya yang menggembung kecil ibarat kue apem yang ingin rasanya kutelan, kulumat habis, dan tanpa terasa tanganku mulai menekan biji penisku dan kukocok penisku yang sedang dalam posisi menegang. Kuambil sedikit Hand Body lalu kuoleskan pada kepala penisku, lalu kukocok semakin, kukocok naik turun dengan lumayan lama. Sebab aku telah sangat Horny sekali, Tidak lama muli kurasakan denyutan-denyutan pada Batang Penisku, tidak lama kemudian ….

“ Ahhhh… Ouhhhh… Ssss… Ahhhh… Crottt… Crottt… Crottt… ” desh pelanku, dan keluarlah air maniku menyembur kencang ke tembok sambil mataku tetap menatap pada vagina Amelyang tetap telentang di tempat tidurnya.
Nikmat sekali rasanya onani sambil menyaksikan Amelyang tetap berbaring telanjang bulat. Kuintip lagi pada celah angin, dan rupanya dirinya ketiduran, mungkin capai dan lelah. Esok harinya aku bangun kesiangan, lalu aku mandi dan buru-buru pergi ke kantor. Di kantor semacam biasa tidak sedikit kerjaan menumpuk dan rasanya hingga jam sembilan malam aku baru berakhir. Meja kuselesaikan, komputer kumatikan dan aku pulang naik taksi dan kurang lebih jam sepuluh aku hingga ke tempat kostku. Seusai makan malam tadi di jalanan, aku tetap membuka kulkas dan meminum bir dingin yang tinggal dua botol.

Aku duduk dan menyalakan TV, ku-stel volumenya lumayan pelan. Aku terbukti orang yang tidak suka berisik, dalam bicarapun aku bahagia suara yang pelan, kalau ada wanita di kantorku yang bersuara keras, aku langsung menghindar, aku tidak suka. Agenda TV rupanya tidak ada yang keren, lalu kuingat kamar sebelahku ada Amel yang tadi malam telah kusaksikan segalanya yang membikin aku sangat ingin mempunyainya. Mulailah aku naik ke tempat biasa dan mulai lagi mengintip ke kamar sebelah. Amelyang cantik itu kulihat tengah tidur di kasurnya, kulihat nafasnya yang teratur naik turun menandakan bahwa dirinya sedang betul-betul tidur pulas.
Ketika menonton Amel yang tertidur pulas, tiba-tiba nafsu jahilku timbul, dan segera kuganti celana panjangku dengan celana singkat dan dalam celana singkat itu aku tidak menggunakan celana dalam lagi, aku telah nekat, kamar kostku kutinggalkan dan aku pura- pura duduk di luar kamar sambil menghisap sebatang rokok. Seusai kulihat situasinya aman dan tidak ada lagi orang, nyatanya pintunya tidak di kunci, mungkin dirinya lupa alias juga terbukti telah ngantuk sekali, jadi dirinya tidak memikirkan lagi mengenai kunci pintunya. Dengan pelan dan hati-hati aku mulai masuk ke kamarnya dan pintu langsung kukunci pelan dari dalam.

Lalu kuhampiri tempat tidurnya, kemudian aku duduk di tempat tidurnya memandangi wajah Amel yang mungil itu, Astaga… Amel menggunakan daster yang tipis, daster yang tembus pandang jadi celana dalamnya yang kini berwarna Merah sangat jelas terbayang di hadapanku. Menonton itu penisku langsung tegang sempurna jadi keluar dari celana pendekku. Kulihat wajahnya, matanya, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang mancung agak sedikit menekuk tanda bahwa gadis ini mempunyai nafsu besar dalam seks, itu terbukti rahasia lelaki bagi yang tahu. Ingin rasanya aku langsung menubruk dan mejebloskan penisku ke dalam vaginanya, tapi aku tidak mau ceroboh semacam itu. Seusai aku yakin bahwa Amelsangatlah telah pulas, pelan-pelan kubuka tali dasternya, dan terbukalah, lalu aku sampirkan ke samping. Saat ini kulihat pahanya yang putih kecil dan padat itu.

Sungguh sebuahpemandangan yang sangat menakjubkan, apalagi celana dalamnya yang mini membikin gundukan kecil ibarat gunung merapi yang tetap ditutupi oleh awan membikin penisku mengejat- ngejat dan mengangguk- ngangguk. Pelan-pelan tanganku kutempelkan pada vaginanya yang tetap tertutup itu, aku diam sebentar takut kalau kalau Amelbangun, aku bisa kena malu, tapi rupanya Amelsangatlah tertidur pulas, lalu aku mulai menyibak celana dalamnya dan Menonton vaginanya yang mungil, lucu, menggembung, ibarat kue apem yang ujungnya ditempeli sebuah kacang. Sangatlah aku merinding dan gemetar menonton itu. Saat ini mulailah kumainkan jariku pada pinggiran vaginanya, kuputar semakin, kugesek pelan, sekali-sekali kumasukkan jariku pada celah kecil yang betul-betul indah, bulunyapun tetap tipis dan lembut. Penisku rasanya makin ereksi berat,
“ Ssss… ahhhh… “aku mendesah lembut.,
Betapa indahnya kau Amel, alangkah kuingin mempunyaimu, aku menyayangimu, cintaku langsung hanya untukmu. Oh, aku terperanjat sebentar ketika Amel bergerak, rupanya dirinya menggerakkan tangannya sebentar tanpa sadar, sebab aku mendengar nafasnya yang teratur berarti dirinya sedang tidur pulas. Lalu dengan nekatnya kuturunkan celana dalamnya perlahan tanpa bunyi, pelan, pelan, dan lepaslah celana dalam dari tempatnya, kemudian kulepas dari kakinya jadi saat ini Amelsangatlah telanjang bulat. Menarik, indah sekali bentuknya, dari kaki hingga wajahnya kutatap tidak berkedip. Payudaranya yang tetap berupa puting itu sangat indah sekali. Sangat menarik, pelan-pelan kutempelkan wajahku pada vaginanya yang merekah bak bunga mawar, kuhirup bau wanginya yang khas.

Aku sangatlah telah tidak tahan, lalu lidahku kumainkan di kurang lebih vaginanya. Aku terbukti populer sebagai si pandai lidah, sebab setiap wanita yang telah sempat kena lidahku alias jilatanku tentu bakal ketagihan, aku terbukti jago memainkan lidah, maka aku praktekan pada vagina si Amel ini. Lereng gunung vaginanya kusapu dengan lidahku, kuayun lidahku pada pinggiran lalu sekali-kali sengaja kusenggol klitorisnya yang indah itu. Kemudian gua kecil itu kucolok lembut dengan lidahku yang sengaja kuulur panjang, aku usap semakin, aku colok semakin, kujelajahi gua indahnya jadi lama- kelamaan gua itu mulai basah, lembab dan berair. Nikmat sekali air itu, bau yang khas membikinku mabuk kepayang, penisku telah tidak sabar lagi, tapi aku tetap takut kalau kalau Amelterbangun bisa runyam nanti, tapi desakan kuat pada penisku telah sangat besar sekali.

Nafasku sangatlah tidak karuan, tapi kulihat Amelmasih tetap saja pulas tidurnya.-Akupun lebih bersemangat lagi, kini semua performa lidahku kupraktekan saat ini juga, menarik terbukti, vagina yang mungil, vagina yang indah, vagina yang telah basah. Rasanya semacam telah siap menanti tibanya senjataku yang telah bentrok untuk menerobos gua indah misterius yang ditumbuhi rumput tipis milik Melda, tetapi kutahan sebentar, sebab lidahku dan jilatanku tetap asyik bermain di sana, tetap memberbagi kenikmatan yang sangat menarik bagi Amel.
Tapi sayang sekali Amel tertidur pulas, andai kata Amel bisa merasakan dalam keadaan sadar tentu sangat menarik kenikmatan yang sedang dirasakannya itu, tapi mesikipun Amel saat ini sedang tertidur pulas dengan cara psycho seks yang berlangsung dengan cara alamiah dan biologis, nikmat yang amat sangat itu tentu terbawa dalam mimpinya, itu pasti. Mesikipun dirinya tertidur pulas nafasnya yang mulai tersengal dan tidak teratur dan vaginanya yang telah basah, itu menandakan hal psycho tersebut telah bekerja dengan baik. Jadi nikmat yang menarik itu tetap bisa dirasakan seperempatnya dari keseluruhannya kalau di saat sadar.

Akhirnya Sebab kupikir telah lumayan rasanya lidahku bermain di vaginanya, maka pelan-pelan penisku yang terbukti telah minta semakin sejak tadi kuoles-oleskan dulu sesaat pada ujung vaginanya, lalu pada clitorisnya yang mulai memerah sebab nafsu, rasa basah dan hangat pada vaginanya membikin penisku bergerak sendiri otomatis semacam mencari-cari celah gua dari titik nikmat yang ada di vaginanya. Dan ketika penisku dirasa telah lumayan bermain di daerah istimewanya, maka dengan hati-hati tetapi tentu penisku kumasukan perlahan-lahan ke dalam vaginanya.., pelan, pelan dan,

“ Zleebbb… slupppp… Ahhhh… ”, masuklah kepala penisku yang gundul telah tidak kelihatan sebab batas di kepala penisku telah masuk ke dalam vagina Amelyang hangat nikmat itu.
Lalu kuperhatikan sebentar wajahnya, Masih!, dia, Amel tetap pulas saja, hanya sesaat saja kadang nafasnya agak sedikit tersendat,
“ Eghhh… Ssss… Ahhhh…. Sss… Ouhhh… ”, desahnya mulai terdengar semacam orang ngigau,
Kemudian kucabut lagi penisku sedikit dan kumasukkan lagi agak lebih dalam kira-kira hampir setengahnya, Ohhh… alangkah nikmatnya, alangkah enak dan alangkah kesetnya celahmu Vaginamu sayang ( ujar dalam hatiku ).Gerakanku kuhentikan sebentar, kutatap lagi wajahnya yang betul-betul cantik yang mencerminkan sumber seks yang menarik dari wajah mata dan hidungnya yang agak menekuk sedikit, Sungguh alangkah sempurnanya tubuhmu Amel. Apapun yang terjadi aku bakal bertanggung jawab untuk semuanya ini. Aku sangat menyayangimu. Lalu kembali kutekan agak dalam lagi penisku supaya bisa masuk lebih jauh lagi ke dalam vaginanya,
“ Zlebbb… Sss… Ahhh.. ouhhh… ” desah nimatku,

Sungguh menarik, sungguh nikmat sekali vaginanya, belum sempat selagi ini ada wanita yang mempunyai vagina seenak dan segurih milik Amel ini. Ketika kumasukan penisku lebih dalam lagi, kulihat Amelagak tersentak sedikit, mungkin dalam mimpinya dirinya merasakan kaget dan nikmat juga yang menarik dan nikmat yang amat sangat ketika senjataku betul-betul masuk, lagi-lagi dirinya mengerang, erangan nikmat, erangan sorga yang aku yakin sekali bahwa Amel tentu merasakannya mesikipun dirasa dalam tidurnya. Akupun demikian, ketika penisku telah masuk semua ke dalam vaginanya, kutekan lagi hingga terbenam habis, lalu kuangkat lagi dan kubenamkan lagi sambil kugoyangkan perlahan ke kanan kiri dan ke atas dan bawah, gemetar badanku merasakan nikmat yang sesungguhnya yang diberbagi oleh vagina Amel ini.

Aneh sangat menarik, vaginanya sangat menggigit lembut, menghisap pelan dan lembut dan meremas senjataku dengan lembut dan kasih sayang. Sangatlah vagina yang menarik. Oh… Amel, tidak bakal kutinggalkan kamu. Lalu dengan lebih semangat lagi aku mendayung dengan kecepatan yang taktis sambil membikin goyangan dan gerakan yang terbukti telah kuciptakan sebagai resep untuk memuaskan Amel ini. Akhirnya senjataku kubenamkan habis ke dasar vaginanya yang lembut, habis kutekan penisku dalam- dalam. Aakh, sumur Amelterbukti bukan main, mesikipun celah vaginanya itu kecil tetapi aneh bisa menampung senjata meriam milikku yang kurasa lumayan besar dan panjang, belum lagi dengan urat-urat yang tumbuh di kurang lebih batang penisku ini, vagina yang menarik. Lama-kelamaan, ketika penisku sangatlah kuhunjamkan habis dalam- dalam pada vaginanya, aku mulai merasakan semacam rasa nikmat yang menarik, yang bakal muncrat dari batang kemaluanku,

“ Sss… Ahhh… Ouhhh…” desah nikmatku,
Kemudian mulai kupercepat gerakanku pinggulku naik turun dengan Full Power, tidk lama kemudian ….
“ Crottt… Crottt… Crottt… Ssss… Aaaaaaahhhh…. “ akhirnya tersemburlah air maniku membnjiri vagina Amel yang sempit dan nikmat itu,
Terkulai lemaslah aku seusai menikmti Vagin amel yang nikmat itu. Kemudian segera kucabut penisku itu, sebab aku takut apabila Amel terbangun. Dan seusai berakhir, aku segera merapikan lagi. Celana dalamnya kupakaikan lagi, begitu juga dengan dasternya juga aku kenakan lagi padanya. Sebelum kutinggalkan, aku kecup dulu keningnya sebagai tanda sayang dariku, sayang yang betul-betul muncul dari diriku, dan akhirnya pelan-pelan kamarnya kutinggalkan dan pintunya kututup lagi. Aku masuk lagi ke kamarku, berbaring di tempat tidurku, sambil menerawang, aku menghayati permainan tadi. Oh, sungguh sebuahkenikmatan yang tiada taranya.
Kemudian seusai itu akupun tertidur dengan pulasnya.

Singkat cerita keesokan harinya semacam biasa aku bangun pagi, mandi dan siap-siap pergi ke kantor. Ketika aku ingin berngkat kekantor tiba-tiba aku menonton amel yang tersenyum kepadaku. Tanpa bicara apapun kemudian dirinya pergi begitu saja. Entah apa maksud dari senyuman Amel itu. Dengan senyuman Amel itu aku sempat berfikir apakah dirinya semalam tahu kalau aku menyetubuhinya ( ucapku dalam hati ), tapi itu tidak kufikirkan terlalu lama, misalkan dirinya tahupun aku tidak persoalan, sebab aku telah siap dengan segala resikonya.

Musim Bokep : Liburan Plus


Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebetulnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, serta kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, serta sangat terawat mesikipun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku pergi dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Seusai saling tanya-menanya berita, aku pun diantarkan ke kamar oleh pesuruh tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tidak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, serta usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membikinku tidak berkedip saat mengikutinya dari belakang merupakan bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berlangsung, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Seusai hingga dikamar aku tertegun sejenak, memantau apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
“Den, ini kamarnya.”
“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
“Den, kelak kalau ada butuh apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.

“Eh, tunggu Bi, Bibi dapat mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.
“Kalau sekedar mijit sih dapat den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”
“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”
“Wah peluang nih, aku dapat merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.

“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya dapat diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, tentu enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
“Bi, dari tadi aku nggak menonton om susilo serta Dik rico sih.”
“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan kini pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.
“Oo.., sehingga tante sendirian dong Bi?” tanyaku
“Iya den, kadang Bibi juga kasihan menonton nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
“Ada apa den?” tanyanya polos.
“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.
“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.

“Anu den, suami Bibi telah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku mengatakan.
“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”
“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.
“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.

“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi tetap keliatan cantik kok.” pujiku, sambil memantau wajahnya yang bersemu merah.
“Ah.., den andy ini dapat saja” katanya, sambil tersipu malu.
“Eh bener loh Bi, Bibi tetap cantik, udah gitu seksi lagi, tentu Bibi rajin memelihara tubuh.” Godaku lagi.
“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji semakin.”
Lalu aku bangkit, serta duduk berhadapan dengan dia.
“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, telah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini tetap indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Dengan cara reflek dirinya langsung menutupinya, serta menundukkan wajahnya.
“Aden ini dapat saja, orang ini telah kendur kok dibilang keren.” katanya polos.
Semacam mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.

“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi tetap inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
“Jangan ah den, Bibi malu.”
“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, serta ngaca.” Lalu aku mulai menolong membuka baju kebaya yang dikenakannya, semacamnya ia pasrah saja. Seusai baju kebaya nya lepas, serta ia hanya menggunakan Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.

“Jangan den, Bibi malu kelak nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.
“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, serta wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal serta padat berisi, menonton itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tidak menyia-nyiakan peluang emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya dapat mendesah serta matanya “Merem-melek”.

“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”
Aku tidak menggubris pertanyaannya malahan aku menambah seranganku. Saat ini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, serta Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil luar biasa jarik yang digunakannya.
“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku serta ciumanku semakin turun keperutnya, serta dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang digunakannya, aku terdiam sesaat seraya memantau gundukan yang ada dibawah perutnya itu.

“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
“Mmhh.. ohh.. Bi semakin, kulum penisku Bi.., tidak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, serta rasanya ada yang bakal keluar di ujung penisku.
“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang serta tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, saat ini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum telah tidak sabar, ia menekan kepalaku supaya mulai menjilati memeknya serta sluurpp.. memek Bi Sum kujilati hingga kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, serta gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tidak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
“Ohh.. den.. teruuss den jilat semakins.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat semacam cacing kepanasan.

“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang luar biasa serta serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum tetap menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, serta dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang telah sangat horny langsung mengatakan, “Bi aku masukkan kini ya..”. ia hanya dapat mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang telah sangat becek. Bless.. separuh penisku hanyut kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun hanyut kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny serta kupercepat sodokkanku di memeknya.
“Oh.. Bii memek kalian sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”
“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”
“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”
Lalu berbagai detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut luar biasa serta, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.
“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”
akhirnya kita tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dirinya mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pesuruh tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali bakal saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang pastinya lebih menghebohkan, sebab tante saya ini orang yang hipersex, sehingga nafsunya sangat besar, serta meledak-ledak.

Musim Bokep : Terjebak Ngesex Karena Kunci Tertinggal


Namaku Hendriansyah, biasa dipanggil Hendri. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Pariwisata sambil bekerja di suatu  hotel bintang lima di Denpasar, Bali. Kisah yang aku ceritakan ini merupakan kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku tetap duduk di kelas II SMA, di kota Jember, Jawa Timur.

Saat itu aku tinggal di suatu  gang di pusat kota Jember. Di depan rumahku tinggalah seorang wanita, Nia Ramawati namanya, tapi ia biasa dipanggil Ninik. Usianya saat itu kurang lebih 24 tahun, sebab itu aku rutin terbuktigilnya Mbak Ninik. Ia bekerja sebagai kasir pada suatu  departemen store di kotaku. Ia lumayan cantik, apabila dilihat mirip bintang sinetron Sarah Vi, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang sebahu. Tetapi yang paling membikinku betah menontonnya merupakan buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

Keindahan tubuh Mbak Ninik tampak terus aduhai saat aku menonton pantatnya. Hari ini aku tidak dapat berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu. Bahkan apabila Mbak Ninik memintaku mencium pantatnya bakal kuperbuat. Satu faktor lagi yang membikinku betah menontonnya merupakan bibirnya yang merah. Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Pasti bakal sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

Setiap pagi saat menyapu teras rumahnya, Mbak Ninik rutin memakai kaos tanpa lengan serta hanya mengenakan celana pendek. Apabila ia sedang menunduk, tidak jarang kali aku menonton bayangan celana dalamnya berbentuk sisi tiga. Saat itu penisku langsung berdiri dibuatnya. Apalagi apabila saat menunduk tidak terkesan bayangan celana dalamnya, aku rutin berpikir, wah pasti ia tidak memakai celana dalam. Kemudian aku membayangkan bagaimana ya tubuh Mbak Ninik apabila sedang bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang rutin timbul dalam pikiranku setiap pagi, serta rutin penisku berdiri dibuatnya. Bahkan aku berjanji dalam hati apabila keinginanku terkabul, aku bakal menciumi seluruh tahap tubuh Mbak Ninik. Khususnya tahap pantat, buah dada serta vaginanya, bakal kujilati hingga puas.

Malam itu, aku berangkat ke rumah Ferri, latihan musik untuk pementasan di sekolah. Kebetulan orang tua serta saudaraku berangkat ke luar kota. Jadi aku sendirian di rumah. Kunci kubawa serta kumasukkan saku jaket. Sebab latihan hingga malam aku keletihan serta tertidur, jadi terlupa saat jaketku digunakan Baron, kawanku yang main drum. Aku baru menyadari saat telah hingga di teras rumah.

"Waduh kunci terbawa Baron," ucapku dalam hati. Padahal rumah Baron lumayan jauh juga. Apalagi telah larut malam, jadi untuk kembali serta numpang tidur di rumah Ferri pasti tidak sopan. Terpaksa aku tidur di teras rumah, ya itung-itung sambil jaga malam.
"Lho tetap di luar Hen.."
Aku tertegun mendengar sapaan itu, nyatanya Mbak Ninik baru pulang.
"Eh iya.. Mbak Ninik juga baru pulang," ucapku membalas sapaannya.
"Iya, tadi seusai pulang kerja, aku mampir ke rumah kawan yang ulang tahun," jawabnya.
"Kok kalian tidur di luar Hen."
"Anu.. kuncinya terbawa kawan, jadi ya nggak dapat masuk," jawabku.
Sebenarnya aku berharap supaya Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya. Selanjutnya Mbak Ninik membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesusahaan. Sebab seusai dipaksa-paksa pintunya tetap tidak mau terbuka. Menonton faktor itu aku segera menghampiri serta memperkenalkan bantuan.

"Kenapa Mbak, pintunya macet.."
"Iya, terbukti sejak kemarin pintunya agak rusak, aku lupa terbuktigil tukang untuk memperbaikinya." jawab Mbak Ninik.
"Kamu dapat membukanya, Hen." lanjutnya.
"Coba Mbak, saya bantu." jawabku, sambil mengambil obeng serta tang dari motorku.
Aku mulai bergaya, ya sedikit-sedikit aku juga punya bakat Mc Gayver. Tetapi yang membikinku sangat bersemangat merupakan andalan supaya Mbak Ninik memberiku tumpangan tidur di rumahnya.

"Kletek.. kletek…" akhirnya pintu terbuka. Aku pun lega.
"Wah pinter juga kalian Hen, belajar dari mana."
"Ah, nggak kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver," ucapku bercanda.
"Terima kasih ya Hen," ujar Mbak Ninik sambil masuk rumah.
Aku agak sedih, nyatanya ia tidak menawariku tidur di rumahnya. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Tetapi berbagai saat kemudian. Mbak Ninik keluar serta menghampiriku.
"Tidur di luar tidak dingin. Kalau mau, tidur di rumahku saja Hen," kata Mbak Ninik.
"Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja, telah biasa kok, "jawabku basa-basi.
"Nanti sakit lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo."
Akhirnya aku masuk juga, sebab itulah yang kuinginkan.

"Mbak, saya tidur di kursi saja."
Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa yang tersedia di ruang tamu.
"Ini bantal serta selimutnya Hen."
Aku tersentak kaget menonton Mbak Ninik datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku membuka pakaianku serta hanya memakai celena pendek.
"Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju," ujarku.
"Oh nggak pa-pa Hen, telanjang juga nggak pa-pa."
"Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa," ujarku menggoda.
"Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau tidak lebih hangat ada di kamarku," kata Mbak Ninik sambil masuk kamar.

Aku tertegun juga saat menerima bantal serta selimutnya, sebab Mbak Ninik hanya memakai pakaian tidur yang tipis jadi dengan cara samar aku dapat menonton seluruh tubuh Mbak Ninik. Apalagi ia tidak mengenakan apa-apa lagi di dalam pakaian tidur tipis itu. Aku juga teringat ucapannya kalau selimut yang lebih hangat ada di kamarnya. Langsung aku menghampiri kamar Mbak Ninik. Nyatanya pintunya tidak ditutup serta sedikit terbuka. Lampunya juga tetap menyala, jadi aku dapat menonton Mbak Ninik tidur serta pakaiannya sedikit terbuka. Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

"Tidak lebih hangat selimutnya Hen," kata Mbak Ninik.
"Iya Mbak, mana selimut yang hangat," jawabku memberanikan diri.
"Ini di sini," kata Mbak Ninik sambil menunjuk tempat tidurnya.
Aku berlagak bimbang serta heran. Tetapi aku mengerti Mbak Ninik ingin aku tidur bersamanya. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. Faktor itu membikin penisku mulai berdiri. Terlebih saat menonton tubuh Mbak Ninik yang tertutup kain tipis itu.

"Telah jangan bengong, ayo sini naik," kata Mbak Ninik.
"Eit, katanya tadi mau telanjang, kok tetap pakai celana pendek, buka dong kan asyik," kata Mbak Ninik saat aku hendak naik ranjangnya.
Hari ini aku sangatlah kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya serta membuka celana singkat berikut cekana dalamku. Saat itu penisku telah berdiri.
"Ouww, punyamu telah berdiri Hen, kedinginan ya, ingin yang hangat," katanya.
"Mbak nggak adil dong kalau hanya aku yang bugil, Mbak juga dong," kataku.
"OK Hen, kalian mau membukakan pakaianku."
Kembali aku kaget dibuatnya, aku sangatlah tidak mengira Mbak Ninik berbicara faktor itu. Ia berdiri di hadapanku yang telah bugil dengan penis berdiri. Aku terbukti baru hari ini tidur bersama wanita, jadi saat membayangkan tubuh Mbak Ninik penisku telah berdiri.

"Ayo bukalah bajuku," kata Mbak Ninik.
Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku sangatlah menyaksikan pemandangan indah yang belum sempat kualami. Apabila menonton wanita bugil di film sih telah tidak jarang, tapi menonton langsung baru hari ini.

Seusai Mbak Ninik sangatlah bugil, tanganku segera meperbuat pekerjaannya. Aku langsung meremas-remas buah dada Mbak Ninik yang putih serta mulus. Tidak cuma itu, aku juga mengulumnya. Puting susunya kuhisap dalam-dalam. Mbak Ninik rupanya keasyikan dengan hisapanku. Semua itu tetap diperbuat dengan posisi berdiri.

"Oh, Hen nikmat sekali rasanya.."
Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Ninik. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Ninik. Pantat yang padat serta sintal itu begitu asyik diremas-remas. Seusai puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Ninik yang merah.

"Hen, kalian pakar juga meperbuatnya, telah tidak jarang ya," katanya.
"Ah ini baru pertama kali Mbak, aku meperbuat semacam yang kulihat di film blue," jawabku.
Aku terus menciumi tiap tahap tubun Mbak Ninik. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi celah vagina Mbak Ninik. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin tidak jarang dicukur. Aku mencium serta menjilatinya. Tanganku juga tetap meremas-remas pantat Mbak Ninik. Jadi dengan posisi itu aku memeluk seluruh tahap bawah tubuh Mbak Ninik.

"Naik ranjang yuk," ujar Mbak Ninik.
Aku langsung menggendongnya serta merebahkan di ranjang. Mbak Ninik tidur dengan terlentang serta paha terbuka. Tubuhnya terbukti indah dengan buah dada yang menantang serta bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vagina Mbak Ninik. Vagina itu berwarna kemerahan serta mengeluarkan aroma harum. Mungkin Mbak Ninik rajin memelihara vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya serta Mbak Ninik menggeliat keasyikan hingga pahanya sedikit menutup. Aku terjepit diantara paha mulus itu terasa hangat serta nikmat.

"Masih belum puas menjilatinya Hen."
"Iya Mbak, punyamu sungguh asyik dinikmati."
"Ganti yang lebih nikmat dong."
Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Ninik yang agak menutup. Kuraba sebentar bulu yang menutupi vaginanya. Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Ninik.

"Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah.."
"Terus Hen, masukkan hingga habis.. ah.. ah.."
Aku terus memasukkan penisku hingga habis. Nyatanya penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Ninik. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun serta maju mundur.
"Mbak Ninik.. Nikmaat.. oh.. nikmaattt seekaliii.. ah.."
Terus lama gerakan maju mundurku terus hebat. Itu membikin Mbak Ninik terus menggeliat keasyikan.
"Oh.. ah.. nikmaatt.. Hen.. terus.. ah.. ah.. ah.."

Seusai berbagai saat meperbuat maju mundur, Mbak Ninik memintaku hebat penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Hari ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terkesan berdiri semacam patung. Kini Mbak Ninik memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya kuluman Mbak Ninik. Hangat sekali rasanya, mulutnya semacam vagina yang ada lidahnya. Seusai puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga cocok di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, jadi penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

"Oh.. Mbak Ninik.. nikmaaatt sekali.. hangat serta oh.."
Sambil merasakan kenikmatan itu, sesekali aku meremas-remas buah dada Mbak Ninik. Apabila ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Ninik.
"Oh Hen punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah.."
"Punyamu juga nikmaaat Mbaak.. ah.. oh.. ah…"
Mbak Ninik rupanya terus keasyikan, gerakan turun naiknya terus kencang. Aku merasakan vagina Mbak Ninik mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Ninik disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku semacam dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat serta nikmat.

"Mbak Ninik.. Mbaaakk.. Niiikmaaattt.."
"Eh.. ahh.. ooohh.. Hen.. asyiiikkk.. ahh.. ennakk.. nikmaaatt.."
Seusai dengan gerakan turun naik, Mbak Ninik melepas penisku. Ia ingin berganti posisi lagi. Hari ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagaikan dua bantal yang empuk dengan celah nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke celah duburnya. Aku tidak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Ninik saat ini menjadi barang yang sangat nikmat serta wajib kunikmati.

"Hen, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih," kata Mbak Ninik.
Kelihatannya ia telah tidak sabar menerima hunjaman penisku.
"Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan," jawabku.
Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya serta kuarahkan penisku cocok di celah vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas vagina Mbak Ninik. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur serta makin lama makin keras.

"Oh.. Aah.. Hen.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaaatt Hen.. terus.. lebih keras Hen…"
"Mbak Ninik.. enak sekaliii.. niiikmaaatt sekaaliii.."
Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Ninik membasahi penisku. Cairan itu membikin vagina Mbak Ninik bertambah licin. Jadi aku terus keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Ninik berkelonjotan, ia memejamkan mata menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Rupanya ia telah orgasme. Aku juga merasakan faktor yang sama.

"Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi.."
Kutarik penisku keluar dari celah duburnya serta dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Ninik yang tetap menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali tetap mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Ninik.
"Oh, Mbak Ninik.. Mbaak.. nikmat sekali deh.. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat.."
"Kamu juga Hen, penismu hebat.. hangat serta nikmat.."

Kami berpelukan di ranjang itu, tidak terasa telah satu jam lebih kita menikmati permainan itu. Selanjutnya sebab lelah kita tertidur pulas. Esok harinya kita tersadar serta tetap berpelukan. Saat itu jam telah pukul 09:30 pagi.

"Kamu nggak sekolah Hen," tanya Mbak Ninik.
"Telah telat, Mbak Ninik tidak bekerja."
"Aku masuk sore, jadi dapat bangun agak siang.."
Kemudian Mbak Ninik berangkat ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kita mandi berdua serta saat mandi kembali kita meperbuat permainan nikmat itu. Mesikipun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Ninik tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku berangkat ke rumah Baron serta mengambil kunci rumahku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak dapat melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku meperbuat permainan nikmat dengan seorang wanita.

Kini saat aku kuliah serta bekerja di Denpasar, aku tetap tidak jarang mengingat saat itu. Apabila kebetulan pulang ke Jember, aku rutin mampir ke rumah Mbak Ninik serta kembali menikmati permainan nikmat. Untung kini ia telah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Ninik, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah kawan SMA. Sekali lagi ini merupakan kisah nyata serta sangatlah terjadi.

Musim Bokep : Ayahku tega memperkosaku


Perkenalkan nama saya merupakan Sela ( nama samaran), sebagai seorang gadis, saya mempunyai postur tubuh yang lumayan proposional. Saya mempunyai tinggi badan 171 cm dengan berat 58 kg. Kata orang-orang dikurang lebih, tidak sedikit yang bilang kalau saya bohay, sexy serta serta menggairahkan. Ditambah lagi payudara saya juga lumayan besar, faktor itu memang dari ukuran Bra saya yang ukuranya 34 C.

Di usia saya yag ke 26 tahun ini, dapat dibilang saya telah menjadi seorang wanita yang lumayan matang. Tetapi hingga saat ini saya belum tertarik untuk married. Oh iya, saya saat ini bekerja di sebuah perusahaan milik Ayah saya sendiri yang letaknya Jakarta. Kira-kira aku bekerja diperusahaan ayah saya kurang lebih dua tahun, serta posisi saya saat itu merupakan sebagai general manager.

Disini saya bakal meneritakan mengenai skandal sex saya dengan ayah kandung saya sendiri. Berawal dari 6 tahun yang lalu, ketika saat itu saya tetap semester 3, serta semuanya ini terjadi sebab kenasiban keluarga saya yang dapat dibilang berantakan. Ayah saya merupakan seorang pengusaha yang berhasil, dirinya mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang property serta perusahaanya lumayan populer di Indonesia.

Ayah saya merupakan jenis orang yang gila kerja, tetapi Ayah saya juga gila wanita, dengan apa yang dimiliki-nya Ayah saya mempunyai tidak sedikit sekali wanita simpanan.
Bunda saya merupakan seorang anak buah partai besar yang rutin sibuk dengan kegiatan sosial-nya. Tidak jarang sekali saya memergoki Ibu sedang asyik bermesra’an di ponselnya dengan Pria lain

Ketika itu tanpa sengaa saya sempat membaca sms di ponsel Bunda, yang sat itu tertulis kata-kata mesum dari pria-pria simpanan-nya. Sebab menonton kelakuan Ibu tidak benar, say-pun mulai menyelidiki pria-pria simpanan Ibu itu. Seusai aku menyelidikinya nyatanya pri-pria simpanan Ibu merupakan seorang gigolo yang umurnya setara dengan saya .

Saat itu hatiku-pun merasa sedih pada kedua orang tua saya , serta hatiku mengatakan, “ mengapa kenasiban keluarga saya sangat berantakan”. Pendek cerita pada sebuahmalam, ketika saya tertidur lelap didalam kamar, tiba-tiba saya merasakan ada yang menggerayangi tubuh saya . Pada awalnya saya merasa semacam ada binatang yang merayap dari ujung rambut hingga ujung kaki saya .

Tetapi seusai kurasa-rasakan, yang awalnya aku kira merupakan serangga, tiba-tiba geranyangan itu berhenti di kurang lebih selangkanganku. Saat itu keadaan saya antara sadar serta tidak sadar. Hingga pada akhirnya saya -pun membuka mata saya , serta seusai terbuka mata, saya kaget seklai dengan apa yang sedang saya lihat. Saat itu saya menonton nyatanya Ayah yang saat itu telah telanjang bulat sedang mengelus-elus celana dalam saya serta tangan kanannya sedang mengocok Torpedo (Penis)nya sendiri. Seketika itu juga saya berteriak serta mengatakan,

“ Ayah !!! apa yang Ayah lakukan padaku, ayah telah gila ya, anak sendiri mau di sikat ? ”, ujar saya menegur Ayah.

“ Kalian tenang aja Sayang, serta kalian jangan berteriak kelak malah semua orang bangun... ”, ujar Ayahku.

Saat itu sambil saya memselesaikan dasterku yang telah berantakan, saat itu Ayah saya tetap terus mengocok Torpedo (Penis)nya yang besar serta berurat itu. Lalu Ayah mengatakan lagi,

“ Ayo puaskan Ayah Sayang... telah lama Ayah menonton pertumbuhan tubuh kalian hari demi hari terus sexy saja... ”, ujar Ayah saya .

Mendengar ucapan Ayah, saat itu saya -pun syok berat. Aku tidak menyangka Ayahku hingga hati ingin menikmati tubuh anak kandungnya sendiri. Saat itu saya -pun dengan cara reflek juga mulai melirik ke arah Torpedo (Penis) Ayah yang menurutku sangat besar sekali. Aku membandingkan Torpedo (Penis) ayah dengan para pacarku, sungguh Torpedo (Penis) Ayah jauh lebih besar serta panjang dibandingkan mereka.

Terus terang saya juga belum sempat merasakan apa yang namanya ML, hubungan saya dengan pacarku selagi ini, paling jauh merupakan sekedar pegang-pegang alat kelamin saja serta kurang dari itu. Sebab saya sangat tsaya t untuk melakukan hal-hal yang saya anggap tabu , maklum usia saya tetap 19 tahun waktu itu. Ketika itu lalu Ayah mulai melanjutkan untuk meraba-raba saya lagi,

“ Ayo Sayang jangan takut, buka daster kalian dong… !!! ”, pinta Ayah .

“ Nggak Yah, Sela nggak mau… sewajibnya Ayah tidak berbuat semacam ini. Aku-kan anak kandung Ayah sendiri. Ingat Yah aku ini darah daging Ayah... !!!”, ujar saya berusaha menyadarkan Ayah saya .

Saat itu aku-pun mencium aroma minuman keras dari mulut Ayah, aroma alkohol begitu kencangnya jadi rasanya kamarku di penuhi aroma itu. Saat itu saya -pun tahu kalau Ayah saya sedang mabuk berat serta dipenuhi oleh nafsu birahi yang tidak terbendung lagi.

“ Ayah kan dapat melakukannya dengan Ibu alias wanita-wanita lain yang dapat Ayah membayar ” , ujar saya .

“ Ah… Ibu kalian telah tidak perduli dengan Ayah, serta Ayah juga sodah bosan dengan wanita-wanita bayaran itu, Ayah malam ini ingin menikmati tubuh kalian Sayang... ”, jawab Ayah.

Antara bimbang serta marah (tetapi dalam hatiku kagum menonton Torpedo (Penis) sebesar itu) saya -pun tidak tahu wajib berbuat apa... saya -pun mengatakan

“ kelak kalau ketahuan Ibu alias orang lain bagaimana ? ”, ucapku.

“ Bodo amat lah, Ayah tidak perduli dengan mereka semua... ”, ujar Ayah.

Sambil tangan nya yang kekar itu hebat tubuhku, Ayah mulai mencium bibirku dengan nafsu yang telah membakarnya, dirobeknya daster ku hingga tubuhku hanya dibalut BH serta celana dalam saja. Saya pun tidak kuasa melawan tenaga Ayah saya yang begitu besar, mesikipun saya telah mencoba, tetapi sia saja, Ayah saya malahan tambah liar sebab menontonku meronta-ronta.

Saya -pun hanya dapat pasrah serta menangis saat Ayah hebat bra serta celana dalam saya, hingga kini tubuhku sangatlah telanjang bulat. Ayah-pun mulai menjilat jilat puting payudara saya, sambil tangannya memainkan vagina saya . Dari yang tadinya saya meronta ronta, kini sedikit demi sedikit saya mulai menikmati permainan Ayah.

“ Ssssss... Aghhhhh... terus yah, enak Yah… Ouhhhhh... ”, desahku.

Saya -pun mulai di kuasai oleh birahi perlahan menjalari tubuhku. Sementara Ayah dengan rakusnya mulai menjilati liang senggama, serta sesekali menghisap-hisap clitoris saya . Sebab faktor itu terasa nikmat tangan saya -pun mulai mencari-cari torpedo Ayah. Seusai menemukanya, tangan saya mulai mengocok dengan cara perlahan untuk mengimbangi serangan Ayah saat itu.

Sebab ukuran Torpedo (Penis) Ayah big size, hingga-sampai tangan saya tidak mencakup untuk menggenggam torpedo Ayah,

“ Iya Sayang, terusin kocokan kamu… Ouhhhhh... “, kata Ayah.

Pada akhirnya Ayah-pun mengakhiri jilatan-jilatannya serta kaki saya -pun mulai ditariknya. Seusai itu dengan posisi berjongkok Ayah-pun memegang batang Torpedo (Penis)nya, lalu mengarahkan Torpedo (Penis)nya ke liang senggama saya . Sebelum Ayah memasukan kejantanan-nya aku mengatakan,

“ Ayah, kalau kelak Sela bunting bagaimana Yah ???... ”, ujar saya .

“ Udah kalian nggak usah khawatir, kelak kalau hingga bunting kami gugurin aja Sayang yaaa... ”, ujar ayah dengan santainya.

“ Iya Yah, tapi pelan-pelan ya Ayah masukin titit (Penis)nya, soalnya Sela belum bernah ML sebelumnya... ”, ujar saya .

“ Iya Sayang, ini juga pelan-pelan kog Sayang... ”, ujar ayah.


Kemudian Ayah-pun mulai menempelkan Torpedo (Penis)nya di bibir liang senggama saya , serta,

“ Aghhhh… Aowww... sakit Yah... ”, rintih saya kesakitan.

“ Tahan dulu ya Sayang, sakitnya cuma sebentar kok Sayang, abis itu tentu enak banget deh... ”, ujar Ayah menenangkan saya .

Lalu Ayah-pun mencoba memasukan lagi kejantanan-nya, serta…

“ Zlebbbbbbb…”, masuklah semua batang kejantanan Ayah didalam liang senggama saya . Seketika itu aku berteriak,

“Aowwww... sa… sa… sakit sekali Ayah…. Hu… huhu… huhuhu…”, teriak kesakitan saya .

Teriakan saya saat itukencang sekali, sebab sangat sakit saya tidak perduli ketika itu ada yang mendengar alias tidak. Ayah-pun mulai menggenjot liang senggama saya . Lama-kelamaan saya -pun tidak merasakan sakit lagi, saat ini yang saya rasakan hanya kenikmatan yang tiada tara serta saya merasa Torpedo (Penis) Ayah memenuhi seluruh rongga rahim saya .

Saya -pun mulai mengikuti ritme goyangan Ayah dengan tutorial mulai menggoyangkan pantat ku ke kiri serta ke kanan,

“ Ssss… Aghhhhh… Enak sekali Yah, Ouhhhh… Yeahhh… ”, desahku.

“ Ssss… Aghhhh… Iya Sayang, terus goyangin pantat kalian Sayang... Oughhhh… ”, ujar ayah sembari terus menyodok Liang senggama saya .

Saat itu mulut Ayah mengkulum puting susuku, serta sesekali beliau menjambak rambutku. Sebab perbutanya itu, saya -pun terus panas serta terbakar oleh birahi yang berapi-api itu. Hingga-sampai saat itu saya lupa apabila Pria yang sedang bersetubuh dengan saya merupakan Ayah kandung saya . Lalu,

“ Ayah, Sela pingin di atas nih, boleh yaaa... ”, pintaku pada Ayah.

“ Iya Sayang, pokoknya Ayah nurut aja deh…”, jawab Ayah sembari menghentikan aksinya lalu berbaring di samping saya .

Saya -pun mulai menaiki tubuh Ayah saya yang telah basah oleh keringat kami berdua. Serta saya mulai mengarahkan torpedo Ayah ke liang senggama saya ,

“ Zlebbbbbbbb... ouhhhh... Sssss… Aghhhhhhh… ”, desah saya .

Pada akhirnya seluruh Torpedo (Penis) Ayah terbenam ke dalam liang senggama yang tetap rapat itu. Lama-kelamaan saya telah tidak merasakan sakit lagi, tidak semacam tadi ketika pertama kali Ayah tadi menusukkan Torpedo (Penis)nya dalam Liang senggama saya . Lalu Saya -pun mulai naik turun serta bergoyang ke kiri serta ke kanan, sembari kedua payudara saya diremas oleh Ayah.

Saat itu aksi goangan maut saya -pun terus tidak beraturan serta bibirku meracau hebat. Hingga pada akhirnya ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari dalam liang senggama saya ,

“ Ayah, Aghhhhhh... Sela udah nggak kuat lagi nih... Ouhhhh… Yeahhh… ”, ujar saya mulai tidak tahan.

Sambung saya lagi,

“ Sela udah basah banget ni Yah, Ouhhhh… Sela mau keluar nih… Ssss… Aghhhhh ”, ujar saya mulai tidak tahan lagi.

Ketika itu Ayah terus gencar saja menghujam Liang senggama saya dengan Torpedo-nya. Permainan Sex kami terus cepat serta makin cepat lagi,

“ Tahan dulu Sayang, kami keluaran sama-sama ya Sayang... sebentar lagi Ayah juga mau keluar nih… Ssss… Ouhhhh… !!! ”, Pinta Ayah.

Saat itu saya tidak menjawab Ayah, tetapi saya hanya menggangguk pertanda saya mengiyakan permintaan Ayah tercinta saya ,

“ Aghhhhh... Aghhhhh... Ouhhhh… yeahhh... ”, desah saya .

“ Ayoo Sayang, Ayah mau keluar nih, Ouhhhhh…”, ujar ayah menuju puncaknya.

Dan tidak lama kemudian,

“ Crottt... Crottt... Crottt... Crottt… ”.

“ Sela juga mau keluar nih Yah… Ssss… Aghhhhh… ”, ujar menuju klimaks saya .

Tidak lama seusai itu saya -pun memperoleh Klimaksku dengan nikmatnya,

“ Syurrr... Syurrr... Syurrr...... Ouhhhhhhhh... Yeahhhhhh… ”.

Ayah langsung membalikkan tubuhku serta menekan Torpedo (Penis)nya sambil mendekap tubuhku sekuat tenaga, begitu pun saya membalas memeluk tubuh Ayah, hingga saya merasa melayang di awang-awang. Tidak terasa telah 35 menit berlalu, waktu telah menunjukkan pukul 3 lewat 10 menit, kami bertempur dengan hebatnya, jadi ranjangku pun basah oleh peluh kami.

“Ayah tidak menyaangka kalian dapat sehebat ini Sayang... ”, kata Ayah.

“ Makasih Ayah, tapi tadi ayah udah jahat sama Sela, masak sela tadi mau diperkosa Ayah... ”, ucapku mengeluh.

“ Iya Sayang, Maafin Ayah yaaaa... ”, ujar maaf Ayah.

“ Iya Ayah, Sela Maafin. Tapi ada syaratnya Yah, Ayah wajib janji, kalau Sela mau apa aja ayah wajib turutin apa yang Sela minta... ”, ujar saya .

“ Iya-iya… Ayah janji deh, pokoknya apa yang Sela minta bakalan Ayah beliin deh Sayang... ”, ujar ayah.

“ Makasih ya Ayah Sayang… emuaachhh…”, ucpku sembari mengecup bibir ayah.

Selasainya sedikit perbincangan kami seusai berhubungan sex, kemudian Ayah-pun mengecup kening, lalu beranjak keluar dari kamar saya . Setalah itu saya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan siraman air hangat yang membikin saya sangat relaxs. Semenjak kejadian itu saya serta Ayah rutin mengulangi lakukanan ini kapan saja serta dimana saja selagi ada peluang.

Terkadang kami melakukan di hotel, rumah, mobil, bahkan dapat jadi kami melakukan di ruang kerja Ayah ataupun di ruang kerja saya. Kami-pun hingga saat ini tetap tetap melakukan hubungan skandal sex, serta hingga kali ini, skandal sex sedarah ini tidak ada seorang-pun yang mengenal lakukanan kami ini tergolong Bunda.Mungkin Ibu sibuk dengan para gigolo-gigolo-nya.

Tapi aku merasa bahwa Ibu telah tahu, tapi walaupu Ibu tahu, dirinya tidak mau ambil pusing dengan skandal sex sedarah kami. Entah hingga kapan aib ini bakal kami jalani, semoga kami segera diberi kesadaran untuk berhenti melakuka skandal sex terlarang ini. Berakhir.

Musim Bokep : Ngentot Adik Ipar Di Samping Istriku


Usiaku telah hampir mencapai tiga puluh lima, ya… kurang lebih 3 tahunan lagi lah. Aku tinggal bersama mertuaku yang telah lama ditinggal mati suaminya dampak penyakit yang dideritanya. Dari itu istipsu berharap aku tinggal di rumah supaya kami tetap berkumpul sebagai keluarga tidak terpisah. Di rumah itu kami tinggal 7 orang, ironisnya hanya aku serta anak laki-lakiku yang berusia 1 tahun berjenis kelamin cowok di rumah tersebut, lainnya cewek.

Jadi… begini nih ceritanya. Awal September lalu aku tidak berkerja lagi sebab mengundurkan diri. Hari-hari kuhabiskan di rumah bersama anakku, maklumlah ketika aku bekerja jarang sekali aku dekat dengan anakku tersebut. Hari demi hari kulalui tanpa ada ketakutan untuk stok keperluan bakal bakal habis, aku cuek saja bahkan aku terus terbuai dengan kemalasanku.

Pagi kurang lebih pukul 9 wib, baru aku tersadar dari tidur. Kulihat anak serta istipsu tidak ada disamping, ah… mungkin lagi di beranda cetusku dalam hati. Saat aku mau turun dari tempat tidur terdengar suara jeritan tangis anakku menuju arah pintu. seketika itu pula pintu kamar terbuka dengan tergesanya. Oh… nyatanya dirinya bersama tantenya Rosa yang tidak lain merupakan adik iparku, rupanya anakku tersebut lagi pipis dicelana. Rosa mengganti celana anakku, “Kemana mamanya, Sa…?” tanyaku. “Lagi ke pasar Bang” jawabnya “Emang gak diberi tau, ya?” timpalnya lagi. Aku menonton Rosa pagi itu agak salah tingkah, sebentar dirinya meihat kearah bawah selimut serta kemudian salah memakaikan celana anakku. “Kenapa kamu?” tanyaku heran “hmm Anu bang…” sambil menonton kembali ke bawah.

“Oh… maaf ya, Sa?” terkejut aku, rupanya selimut yang kupakai tidur telah melorot setengah pahaku tanpa kusadari, aku lagi bugil. Hmmm… tadi malam abis tempur sama sang istri sampai aku kelelahan serta lupa memakai celana hehehe….
Anehnya, Rosa hanya tersenyum, bukan tersenyum malu, malah beliau menyindir “Abis tempur ya, Bang. Mau dong…” Katanya tanpa ragu “Haaa…” Kontan aja aku terkejut mendengar pernyataan itu. Malah saat ini aku sehingga salah tingkah serta berkeringat dingin serta bergegas ke toilet kamarku.

Dua hari seusai mengingat pernyataan Rosa kemarin pagi, aku tidak habis pikir kenapa dirinya bisa mengatakan semacam itu. Setahu aku tuh anak paling sopan tidak tidak sedikit bicara serta jarang berteman. Ah… masa bego lah, kalau ada peluang semacam itu lagi aku tidak bakal menyia-nyiakannya. Gimana gak aku sia-siakan, Tuh anak memiliki badan yang sangat seksi, Kulit sawo matang, rambut lurus panjang. Bukannya sok bangga, dirinya persis kayak artis serta artis sinetron Titi kamal. Kembali peristiwa yang kutunggu-tunggu datang, ketika itu rumah kami lagi sepi-sepinya. Istri, anak serta mertuaku berangkat arisan ke tempat keluarga almahrum mertua laki sedangkan iparku satu lagi pas kuliah. Hanya aku serta Rosa di rumah. Sewaktu itu aku ke kamar mandi belakang untuk urusan “saluran air”, aku berpapasan dengan Rosa yang baru beres mandi. Wow, dirinya hanya memakai handuk menutupi buah dada serta separuh pahanya. Dirinya tersenyum akupun tersenyum, semacam mengisyaratkan sesuatu.

Selagi aku menyalurkan hajat tiba-tiba pintu kamar mandi ada yang menggedor.
“Siapa?” tanyaku
“Duhhhh… kan cuma kami berdua di rumah ini, bang” jawabnya.
“Oh iya, ada apa, Sa…?” tanyaku lagi
“Bang, lampu di kamar aku mati tuh”
“Cepatan dong!!”
“Oo… iya, bentar ya” balasku sambil mengkancingkan celana serta bergegas ke kamar Rosa.

Aku mengangkat kursi plastik untuk pijakan supaya aku bisa meraih lampu yang dimaksud.
“Sa, kalian pegangin nih kursi ya?” perintahku “OK, bang” balasnya.
“Kok kalian belum pake baju?” tanyaku heran.
“Abisnya agak gelap, bang?”
“ooo…!?”
Aku berusaha meraih lampu di atasku. Tiba-tiba saja entah bagaimana kursi plastik yang ku injak oleng ke arah Rosa. Serta… braaak aku jatuh ke ranjang, aku menghimpit Rosa..
“Ou…ou…” apa yang terjadi. Handuk yang menutupi tahap atas tubuhnya terbuka.
“Maaf, Sa”
“Gak apa-apa bang”
Anehnya Rosa tidak segera menutup handuk tersebut aku tetap berada diatas tubuhnya, malahan dirinya tersenyum kepadaku. Menonton faktor semacam itu, aku yakin dirinya merespon. Kontan aja barangku tegang.

Kami saling bertatap muka, entah energi apa mengalir ditubuh kami,
dengan berani kucium bibirnya, Rosa hanya terdiam serta tidak membalas.
“Kok kalian diam?”
“Ehmm… malu, Bang”
Aku tahu dirinya belum sempat meperbuat faktor ini. Terus aku melumat bibirnya yang tipis berbelah itu. Lama-kelamaan ia membalas juga, sampai bibir kami saling berpagutan. Kulancarkan serangan demi serangan, dengan bimbinganku Rosa mulai terkesan bisa meladeni gempuranku. payudara miliknya saat ini menjadi jajalanku, kujilati, kuhisap malah kupelintir dikit.
“Ouhh… sakit, Bang. Tapi enak kok”
“Sa… tubuh kalian keren sekali, sayang… ouhmmm” Sembari aku melanjutkan kebagian perut, pusar serta saat ini hampir dekat daerah kemaluannya. Rosa tidak melarang aku bertindak semacam itu, malah ia terus gemas menjambak rambutku, sakit emang, tapi aku diam saja.

Sungguh indah serta harum memeknya Rosa, maklum ia baru saja beres mandi. Bulu terawat dengan potongan tipis. Saat ini aku menjulurkan lidahku memasuki liang vaginanya, ku hisap sekuatnya sangkin geramnya aku.
“Adauuu…. sakiiit” pasti saja ia melonjak kesakitan.
“Oh, maaf Sa”
“Jangan semacam itu dong” merintih ia
“Ayo lanjutin lagi” pintanya
“Tapi, giliran aku kini yang nyerang” aturnya kemudian
Tubuhku saat ini terlentang pasrah. Rosa langsung saja menyerang daerah sensitifku, menjilatinya, menghisap serta mengocok dengan mulutnya.

“Ohhh… Sa, enak kali sayang, ah…?” kalau yang ini entah ia pelajari
dari mana, masa bodo ahh…!!
“Duh, gede amat barang mu, Bang”
“Ohhh….”
“Bang, Rosa telah tidak tahan, nih… masukin punya mu, ya Bang”
“Terserah kalian sayang, akang juga tidak tahan” Rosa saat ini mengambil posisi duduk di atas cocok agak ke bawah perut ku. Ia mulai memegang kemaluanku serta mengarahkannya ke celah vaginanya. semula agak susah, tapi seusai ia melumat serta membasahinya kembali baru agak sedikit gampang masuknya.
“Ouuu…ahhhhh….” … seluruh kemaluanku hanyut di dalam goa kenikmatan milik Rosa.

“Awwwh, Baaaang….. akhhhhh” Rosa mulai memompa dengan menopang dadaku. Selain memompa saat ini ia mulai dengan gerakan maju mundur sambil meremas-remas payu daranya.
Hal tersebut menjadi perhatianku, aku tidak mau dirinya menikmatinya sendiri. Sambil bergoyang aku mengambil posisi duduk, mukaku telah menghadap payudaranya.Rosa terus histeris seusai kujilati kembali gunung indahnya.
“Akhhhh… aku telah tidak tahan, bang. Mau keluar nih.
Awwwhhh??”
“Jangan dulu Sa, tahan ya bentar” hanya sekali balik saat ini aku telah berada diatas tubuh Rosa genjotan demi genjotan kulesakkan ke memeknya. Rosa terjerit-jerit kesakitan sambil menekan pantatku dengan kedua tumit kakinya, seolah tidak lebih dalam lagi kulesakkan.

“Ampuuuun…… ahhhh… trus, Bang”
“Baaang… goyangnya cepatin lagi, ahhhh… dah mau keluar nih”
Rosa selain merintih tapi saat ini telah hebat rambut serta meremas tubuhku.
“Oughhhhh… akang juga mau keluar, Zzhaa” kugoyang semangkin cepat, cepat serta sangat cepat sampai jeritku serta jerit Rosa membahana di ruang kamar.
Erangan panjang kami telah mulai menampakan akhir pertandingan ini.
” ouughhhhh…. ouhhhhhh”
“Enak, Baaaangg….”
“Iya sayang…. ehmmmmmm” kutumpahkan spermaku seluruhnya ke dalam vagina Rosa serta seusai itu ku sodorkan kontol ke mulutnya, kuminta ia supaya membersihkannya.
“mmmmmmuaaachhhhh…” dikecupnya punyaku seusai dibersihkannya serta itu pertanda permainan ini beres, kamipun tertidur lemas.
Peluang demi peluang kami perbuat, baik dirumah, kamar mandi, di hotel bahkan ketika sambil menggendongku anakku, ketika itu di ruang tamu. Dimanapu Rosa siap serta dimanapun aku siap.