Musimbokep : ABG 17 Tahun Di Perkosa Mbah Dukun


Mbah Sukro merupakan dukun sakti yang tinggal di desa pedalaman di lereng gunung di pulau Jawa. Usianya diatas 60 tahun. Badannya kurus, tetapi tetap sehat. Ia merupakan dukun sakti yang menguasai dunia perdukunan jadi tidak ada yang berani melawannya.

Ia tergolong dukun yang kaya raya sebab ia tidak segan-segan mematok harga tinggi bagi para kliennya. Uang bukanlah pantangan baginya. Yang menjadi pantangan saat ia belajar ilmu saktinya merupakan ia sama sekali tidak boleh berhubungan intim dengan wanita. Jika melanggarnya, maka kesaktiannya bakal hilang seharian hingga matahari terbenam hari berikutnya.

Oleh sebab tidak sedikit dukun-dukun saingannya yang iri bakal kesaktiannya, pasti merupakan faktor yang riskan jika kesaktiannya hilang meski hanya sehari. Jika saat itu ada dukun iseng yang menyantetnya, ia sama sekali tidak ada pertahanan diri. Untuk menghindari faktor itu, telah bertahun-tahun ia tidak sempat berhubungan intim dengan wanita tergolong kedua istrinya. Dengan demikian ia bakal rutin menjadi orang sakti yang tidak terkalahkan.
Salah satu klien mutlak Mbak Sukro merupakan Pak Wijaya, seorang pengusaha yang akhir-akhir ini namanya terus membumbung tinggi. Sejak ditangani oleh Mbah Sukro, hampir seluruh bisnisnya rutin lancar.

Tetapi pada sebuahketika, dua kali berturut-turut ia kalah tender. Oleh sebab itu ia berangkat ke desa Mbah Sukro untuk berkonsultasi dengannya. Berdasarkan ‘penglihatan’ Mbah Sukro, nyatanya ia dijegal oleh salah satu pesaingnya yang memakai jasa dukun sakti dari luar pulau.

Dan pengaruh negatif dari dukun tersebut rupanya telah memasuki dalam rumah Pak Wijaya, jadi faktor itu mempengaruhi kemampuannce dirinya maupun orang lain yang tinggal dengan cara tetap di dalam rumah tersebut.
Untuk menanggulanginya, menurut Mbah Sukro, wajib dipasang jimat menurut delapan arah mata angin di dalam area rumah Pak Wijaya. Jimat itu wajib dipasang sehari satu setiap jam 4 pagi dengan disembahyangi sepanjang hari hingga matahari terbenam.

Untuk kebutuhan itu, maka Pak Wijaya mengundang Mbah Sukro untuk datang dan menginap di rumahnya selagi 8 hari untuk memasang ke-delapan jimat itu. Oleh sebab tugas ini lumayan berat dan sangat menguras tenaga, Pak Wijaya berjanji bakal memberi imbalan yang sangat besar dan ia memberi uang muka sebesar 50% di depan.

Selain memasang jimat, Pak Wijaya juga meminta Mbah Sukro untuk membimbing putrinya, A-mei yang tetap SMU dan baru berumur 17 tahun. Sebab akhir-akhir ini ia merasakan putrinya telah berani melawannya apalagi tanpa sepengetahuannya telah berpacaran dengan kawan sekelasnya. Bisa jadi faktor ini dikarenakan pengaruh negatif di dalam rumah itu, pikirnya.

Sehingga saat ini Mbah Sukro tinggal di rumah Pak Wijaya selagi delapan malam. Pagi, siang, dan sore hari dipakai untuk memasang dan menyembahyangi jimat. Sementara malamnya ia meluangkan waktu berbagai jam untuk membimbing olah pernapasan bagi A-mei untuk menghapus pengaruh negatif dari dalam dirinya.

Dan faktor itu diperbuat berdua di dalam kamar A-mei. Pak Wijaya membolehkan faktor itu sebab ia tahu pasti bakal pantangan Mbah Sukro menyentuh wanita. Jadi keamanan diri putrinya bakal tetap terjamin.
Sementara itu, proses pemasangan jimat itu berjalan lancar hingga hari terbaru.

Sehingga saat ini lengkaplah telah seluruh persyaratan jimat sebagai pelindung rumahnya beserta seisinya yang bakal sanggup bersi kukuh selagi bertahun-tahun.
Petang itu sehabis matahari terbenam…
Mbah Sukro berbicara terhadap Pak Wijaya kalau seluruh jimatnya telah terpasang dengan rapi.

Sehingga ia minta agar sisa pembayarannya bisa segera dilunasi. Tetapi rupanya tersedia kesalahpahaman diantara keduanya. Sebab Pak Wijaya berpendapat sisa pembayarannya bakal dilunasi dalam waktu dua bulan yaitu seusai pemberitahuan keputusan pemenang tender proyek berikutnya. Faktor itu untuk membuktikan bahwa jimat yang dipasang terbukti telah sangatlah bekerja.
Sementara Mbah Sukro berpendapat bahwa sisa pembayaran wajib dilunasi begitu pemasangan jimat telah beres. Mendengar pendapat Pak Wijaya, ia merasa ditipu oleh kliennya itu. Padahal ia telah mencurahkan seluruh energinya untuk membikin jimat itu sangatlah bekerja.

Oleh sebab ia merupakan orang desa yang tidak biasanya beradu mulut dan mungkin ditambah sebab Pak Wijaya merupakan salah satu klien besar, maka akhirnya dengan terpaksa ia mengalah. Tetapi di dalam hati ia merasa sakit hati. Dan diam-diam ia berniat membalas dendam terhadap kliennya itu. Ia tidak mungkin mengabolisi jimat yang telah dipasang oleh dirinya sendiri itu. Oleh sebab itu ia bakal mengambil sisa bayarannya itu dengan caranya sendiri sekaligus membalas dendam, dengan memakai A-mei, puterinya. Pasti bukanlah faktor susah baginya untuk membikin A-mei takluk kepadanya.

Sebab Mbah Sukro akhirnya setuju dengan pendiriannya, maka Pak Wijaya sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya. Jadi Mbah Sukro bisa meperbuat menurut apa maunya dengan bebasnya.
Sementara bagi A-mei sendiri, yang di hari pertama mula-mula merasa aneh disuruh Papanya belajar pernapasan, tetapi seusai meperbuatnya ia merasakan kegunaaan dari pernapasan yang diajarkan oleh Mbah Sukro. Oleh sebab itu ia mau meneruskan setiap hari hingga hari itu, hari kedelapan.
Malam itu ketika proses pengajaran normal telah beres, mereka berbincang-bincang,

“Nyatanya pernapasan begini ada kegunaaannya juga ya Mbah. A-mei kini jadi lebih tenang dibanding sebelumnya.”
“Terbukti betul, Nik. Tapi sebetulnya ada tutorial lain yang bisa membikin pikiran jadi lebih enjoy lagi.”
“Gimana caranya Mbah?”
“Prinsipnya kalian wajib menghapus prasangka kurang baik di dalam pikiranmu hingga kalian tidak merasakan adanya ancaman bahaya dari luar. Dengan begitu maka pikiran otomatis bakal menjadi tenang.”
“Wah susah sekali itu Mbah, gimana caranya menghapus prasangka kurang baik di dalam pikiran sebab datangnya tiba-tiba?”
“Ya wajib latihan Nik. Tetapi latihannya tidak mudah dan tidak tepat untuk gadis muda seusia kamu. Sebab itu, lupakan sajalah.”
“Lho kok begitu, Mbah? Khan Mbah sendiri yang bilang kalau pikiran yang tenang dan enjoy itu keren buat semua orang nggak peduli usia.”
“Sebab untuk latihan ini, kalian wajib menghapus semua prasangka kurang baik. Dan faktor itu tidak mungkin sebab saat ini pun tanpa disadari kalian telah punya prasangka kurang baik terhadap Mbah.”
“Ah, aku sama sekali nggak punya pikiran kurang baik kok terhadap Mbah.”
“Ah, masa? Kalau begitu, coba kini berani nggak kalian buka seluruh baju kalian di depan Mbah.”
“Ah, Mbah yang benar aja!” protes A-mei sambil matanya melirik ke arah pintu keluar.

“Nah, itulah. Kini kalian punya pikiran takut khan terhadap Mbah? Sebetulnya kenapa kini kalian memakai pakaian? Sebab kalian malu dilihat telanjang bulat oleh Mbah. Padahal kalau pikiranmu tulus, kalian tidak bakal memiliki pikiran semacam itu.”
“Tapi kenapa wajib hingga buka baju segala, Mbah?”
“Sebab itu merupakan tutorial latihan yang paling praktis dan efisien untuk menghapus perasaan malu dan waswas yang timbul. Tapi telahlah, lupakan saja. Makanya tadi Mbah bilang kalau latihan ini tidak tepat untuk anak gadis apalagi yang tetap muda semacam kamu.”
“Ooh, jadi begitu toh. Terus kalau A-mei mau coba sedikit dan sebentar aja, gimana Mbah?” tanya A-mei penasaran.
“Ini bukan untuk coba-coba. Kalau kalian pengin latihan, kalian wajib betul-betul manut (nurut) dengan Mbah tanpa prasangka apa-apa. Kalau tidak, mending tidak usah.”
Seusai berbagai saat terdiam, akhirnya…
“OK deh, aku mau jalanin Mbah. Asalkan Mbah betul-betul tidak punya maksud jahat.”
“Tidak bisa semacam itu. Kalian wajib 100% percaya sama Mbah dulu baru bisa latihan.”
“Hmmm. OK, OK, aku percaya sama Mbah. Dengan tutorial Mbah ngomong semacam ini, aku percaya Mbah nggak punya tujuan jahat. Apalagi khan, hihihi, Mbah juga telah tua,” katanya sambil tersenyum geli sendiri.

(Dalam hati Mbah Sukro memaki, sialan bocah ini. Rupanya ia meragukan kemampuanku. Rasain kau nanti, batinnya).
“Jadi kalian sangatlah mau latihan dan ini merupakan kemauanmu sendiri ya?”
“Iya, Mbah. Aku mau coba latihan ini. Beneran!”
“Baiklah, kini coba kalian berlatih napas semacam biasa tanpa butuh memejamkam mata,” kata Mbah Sukro sambil berjalan mengelilingi A-mei.

A-mei saat itu mengenakan baju kaus biru tua dengan krah dan celana singkat yang ukurannya sedikit diatas paha. Ia merupakan seorang gadis yang cantik. Rambutnya panjangnya sebahu. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Usianya tetap belia, baru 17 tahun, tetapi tubuhnya telah tumbuh menjadi tubuh seorang gadis dewasa. Baju biru yang dikenakannya itu nampak menonjol di bagian dadanya. Pertanda payudaranya telah tumbuh. Seandainya bukan Mbah Sukro yang punya pantangan, cowok mana pun pasti bakal tergiur kecantikan dan ke-sexy-annya.
“Omong2, kalian telah punya pacar, Nik?”
“Telah Mbah.”
“Kamu telah sempat ngapain saja dengan dia?”
“Maksud Mbah?”
“Maksudnya, sejauh mana hubungan kalian dengan dia? Apakah kalian sempat tidur dengan dia?”
“Idih, Mbah. Ya nggak dong. Kok Mbah jadi nanya yang nggak-nggak sih?”
“Mbah sengaja nanya hal-hal semacam ini, untuk pemanasan latihan kamu. Untuk itu sejak kini kalian nggak boleh punya pikiran jelek, mengerti?
“OK, Mbah. Aku mengerti.”
“Jadi, kalian sempat ngapain aja dengan dia?”
“Cuman ciuman dan peluk-pelukan aja Mbah. Sambil saling pegang-pegang juga,” kata A-mei dan mukanya bersemu kemerahan.

“Kalo pipimu kemerahan gitu, kalian jadi makin cantik saja, Nik. Cuman gitu aja? Jadi kalian tetap perawan?”
“Iya Mbah.”
“Keren, keren. Lalu apakah dirinya sempat ngeliat kalian nggak pake baju?”
“Iiih, Mbah. Ya nggak dong”, katanya sementara mukanya makin merah.
“Ingat, kalian wajib membuang pikiran kotor kamu.
“Baik, Mbah.”
“Keren. Kini apakah kalian siap untuk memasuki bagian latihan yang lebih tinggi?”
“Siap Mbah.”
“Keren. Kalo begitu kini ayo coba kalian buka baju kaus kamu.”
Tanpa protes A-mei segera melepas dua kancing baju kausnya sendiri. Lalu dicopotnya baju yang dikenakannya dan dibuang ke lantai.

Nampak kulit tubuh putih A-mei dengan gundukan kecil di dada yang tertutup oleh bra hijau muda.
“Wah, Nik, tubuhmu betul-betul putih mulus,” kata Mbah Sukro sambil matanya tidak lepas memandangi A-mei. Baru pertama hari ini ia menonton tubuh gadis yang seputih ini. Apalagi telah lama sekali sejak terbaru kali ia menonton tubuh perempuan yang telanjang.

“Sekarang coba kalian lepas penutup dada kamu. Mbah pengin lihat semacam apa isinya.”
Dengan patuh A-mei membuka branya jadi saat ini ia berdiri di hadapan Mbah Sukro dengan dadanya telanjang. Nampak payudaranya yang kecil tapi indah dan putingnya berwarna kemerahan.
“Wow! Dadamu indah sekali. Kalian sungguh beruntung.”
“Sekarang coba lepas rokmu, Nik,” perintah Mbah Sukro yang dengan patuh dipenuhi oleh A-mei. Dilepasnya rok yang melekat di tubuhnya jadi saat ini ia hanya memakai celana dalam saja.

“Waduuh, mulusnya tubuh kalian Nik. Betul-betul pemandangan yang indah,” kata Mbah Sukro kagum sambil memandangi pahanya dan payudaranya. Jadi mau tidak mau A-mei jadi makin memerah mukanya. Tetapi sebab ia memutuskan untuk latihan, maka ia berusaha menahan perasaan malunya.
“Bagaimana perasaan kalian sekarang, Nik? Kalian malu telanjang di depan Mbah?”
“Se-sebetulnya malu sekali Mbah.”
“Nah, itulah. Terbukti kalau kalian tetap butuh latihan lebih lanjut lagi. Sebetulnya kalian nggak butuh malu. Soalnya tubuh kalian indah sekali kok Nik. Jadi kini berani nggak kalian betul-betul telanjang bulat disini?” kata Mbah Sukro.
A-mei nampak ragu.

“Masa butuh hingga semuanya, Mbah?”
“Kalau kalian pengin latihannya sempurna ya wajib. Apalagi terbukti kini kalian tetap belum sukses menghapus perasaan malu. Mumpung Mbah tetap disini. Hari ini merupakan hari terbaru Mbah disini. Besok kalau kalian pengin latihan telah tidak bisa lagi. Masa kalian mau latihan semacam ini dengan sembarang orang?”
“Hmmmh, OK, kalo gitu A-mei nurut aja deh.”
Dan tidak lama kemudian segera dilepasnya cd yang dipakainya dengan sukarela.
Kini ia betul-betul telanjang bulat tanpa selembar benang pun di hadapan Mbah Sukro.
Mbah Sukro nampak memandangi tubuh telanjang A-mei dari atas ke bawah.

“Wow. Ckckck. Suiit, suiiit. Hebat, hebat. Sangatlah aduhai indahnya tubuhmu, Nik.” Mbah Sukro jadi ngaceng juga menonton A-mei yang telanjang bulat. Hmm, sayang sekali aku tidak bisa menikmati tubuhmu, batinnya. Tetapi tidak apalah, yang penting aku telah memberi pelajaran terhadap Wijaya, papamu yang penipu itu. Biar tahu rasa kau sekarang, puterimu yang tetap perawan sukses kutipu mentah-mentah. Lumayan aku bisa cuci mata ngeliat anak gadismu telanjang bulat. Sungguh ini merupakan pembalasan yang setimpal.

Tetapi rupanya ia tidak ingin berhenti hingga disitu saja. Dalam hati ia berpikir, biarlah kupinjam dulu anak gadismu untuk kumain-mainin bentar, pikirnya.
“Cowok kalian sempat lihat susu kamu?”
“Pernah mbah.”
“Tadi katanya belum pernah. Awas kalo kalian bohong ya?”
“Bukan gitu Mbah. Maksudku tadi aku belum sempat telanjang bulat seluruh badan gini dengan dia.”
“OK, nggak apa-apa. Lalu reaksi dirinya gimana waktu ngeliat susu kamu?”
“Dia suka Mbah…dia sempat megang-megang juga. Katanya dadaku keren.”
“Oh ya? Dirinya megangnya gimana? Apa begini?” tanya Mbah Sukro sambil kedua tangannya menempel ke kedua payudara A-mei.

“Iih, Mbah. Jangan Mbah,” kata A-mei sambil dengan cara refleks bergerak mundur.
“Lho, kenapa. Ayo jawab. Ingat kalian tidak boleh punya pikiran kotor. Mengerti?, kata Mbah Sukro sementara kedua tangannya tetap menempel ke dada A-mei.
“Me-mengerti Mbah.”
“Jadi gimana caranya memegang susu kamu? Apakah begini?”, katanya sambil tangannya dilepaskan dari dada A-mei sebentar lalu diremasnya kedua payudara A-mei.

“Atau begini?” kata Mbah Sukro, sambil kedua bunda jarinya meraba-raba dan menggerak-gerakkan kedua putingnya.
“Ya..ya..ya semuanya Mbah,” kata A-mei tertunduk malu.
“Huahahaha. Wah, cowok kalian terbukti beruntung dan pintar cari pacar.”
“Lalu kalian suka digituin sama cowok kamu?”
“Suka Mbah.”
“Sama semacam sekarang, kalian juga suka Mbah begini-in?” katanya sambil meraba-rabai seluruh bagian payudara A-mei.
“Ehmm… suka Mbah.”
“Keren. Itu wajar sebab itu tandanya kalian gadis yang telah dewasa.”
Ia memperhatikan dan merasakan kedua puting A-mei saat ini terus mengeras dan menonjol dibanding pertama kali telanjang. Mungkin sebab suhu kamar yang agak sejuk alias mungkin sebab tegang dengan suasana itu.

“Umurmu berapa sih Nik?”
“Tujuh belas tahun. Aku baru ulang tahun 4 bulan lalu.”
“Jadi terbukti kalian telah jadi gadis dewasa. Kalian ibarat bunga yang baru mekar dan harum semerbak yang telah siap dihisap madunya, Nik. Kalian telah siap untuk kawin, Nik.”
“Iiih. Aku khan baru umur 17 tahun. Tetap lama untuk married, Mbah.”
“Ah, nggak betul itu. Istri pertama Mbah waktu menikah sama Mbah dulu juga seumuran kamu, Nik, 17 tahun juga..”
“Oh ya? Kapan itu Mbah?”
“Wah, itu telah lama sekali. Dulu waktu dirinya tetap muda dan cantik. Kini istri Mbah telah tidak muda lagi, telah 40 tahun lebih. Tapi meskipun dulu waktu dirinya tetap muda juga nggak bisa ngalahin kamu, Nik. Kalian jauh lebih cantik dan lebih putih dari dia. Ya terbukti beda lah, gadis desa dibandingkan dengan anak gadis pengusaha kaya di kota besar. Tapi jeleknya orang kota itu suka kawin telat. Padahal itu tidak keren untuk hormon tubuh. Khususnya cewek. Apalagi kawin itu sebetulnya enak lho.”
“Terbukti enaknya apa sih Mbah?”
“Enaknya apa, itu mesti dirasakan sendiri baru tahu, Nik. Dan untuk orang kota yang kawin telat semacam kalian gini, butuh ada persiapan lahir batin dari sekarang. Agar nantinya tidak kagok dan bisa memtersanjungkan suami sejak malam pertama perkawinan.”
“Persiapannya apa aja sih Mbah?”
“Persiapannya semacam apa susah diungkapkan dengan perkataan. 

Lebih jelas kalau diperbuat langsung. Mbah bisa ngajarin kalian sekarang. Asalkan pikiran kalian tenang dan ikhlas sebab ini semua demi memtersanjungkan suami kalian kelak. Gimana, mau nggak?”
“Ehhm, tapi aku nggak tahu mesti gimana, Mbah?”
“Nggak usah kuatir, Nik. Kalian manut aja sama Mbah, kelak khan kalian jadi bisa sendiri,” katanya sambil penuh nafsu memandangi sekujur tubuh A-mei yang telanjang,” Yuk, kini kalian lanjutkan latihan ini dulu, seusai itu kalian Mbah ajari yang itu,” katanya.

Sebetulnya awalnya Mbah Sukro hanya ingin membalas dendam dengan mempermainkan A-mei dengan tutorial menyuruhnya telanjang bulat di depannya saja. Tetapi saat ini seusai menonton cewek ini telanjang bulat dan begitu penurut begini, Mbah Sukro jadi bernafsu ingin menikmati tubuh perawannya. Apalagi telah lama sekali sejak terbaru kali ia menikmati seorang wanita, itupun juga dengan kedua istrinya yang telah tidak muda lagi. Saat ini di depan matanya ada seorang gadis perawan yang bersikap sangat kooperatif terhadapnya. Ditambah lagi ia tidak sempat menikmati gadis kota semacam A-mei gini. Sekaligus ini merupakan pembalasan yang telak terhadap papanya. Tetapi yang menjadi kendalanya merupakan ia tidak mungkin melanggar pantangannya sendiri. Sebab salah-salah taruhannya merupakan nyawanya.

Ah, sungguh bego kau ini, batin Mbah Sukro. Kenapa mesti takut kehilangan kesaktianmu barang sehari? Bukankah kau ada di dalam rumah yang telah dilindungi oleh jimat yang kaupasang sendiri? Biarpun kesaktianmu hilang, asalkan kau tidak keluar rumah hingga matahari terbenam besok, semuanya bakal baik-baik saja. Dan kau bisa meninggalkan rumah ini seusai matahari terbenam.

Sekaligus faktor ini membuktikan bahwa jika tidak ada serangan yang sanggup tentang dirinya, faktor itu menandakan kalau jimat yang dipasangnya betul-betul bekerja. Hehehe, rasain kau, Wijaya. Salahmu sendiri kalian meragukan jimatku. Saat ini anak gadismu yang bakal kupake untuk membuktikan apakah jimat itu betul-betul bekerja. Lumayan juga bisa menikmati anak perawanmu yang manis ini.

Seusai teringat bakal kesaktian jimatnya sekaligus tutorial untuk membalas perlakuan kliennya itu, saat ini nafsu birahinya jadi sangatlah tidak terbendung lagi, yang wajib dilampiaskan saat itu juga.
“Waduuh, mulusnya kalian Nik. Hingga-sampai kalian bikin Mbah jadi ngaceng. Apalagi baru hari ini Mbah lihat Nonik semacam kalian gini telanjang. Betul-betul putih dan merangsang.

“Nah gitu, keren. Pikiran kalian tetap tenang ya,” kata Mbah Sukro mengelilingi A-mei memandangi sekujur tubuh telanjangnya dalam jarak dekat. Saat berada di belakang A-mei, kedua tangannya meraba-raba punggungnya yang putih mulus dari atas hingga ke bawah dan diremas-remasnya pantat A-mei yang bulat sexy itu.
“Hmm, kulitmu halus dan mulus banget, Nik.”
Lalu tangannya beralih ke depan, saat ini meraba-rabai payudara A-mei.

“Waah, susumu betul-betul kenyal Nik. Dan putih mulus. Lihat tuh, Iiiih, puting kalian segar banget dan menonjol gini,” komentar Mbah Sukro dan kedua telunjuknya digesekkan di kedua puting A-mei.
“Aduuh. Jangan gitu Mbah. Geli,” kata A-mei sambil tubuhnya menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Mbah Sukro.
“Aah, masa cuma diginiin aja kok geli. Tapi gimana rasanya, Nik? Enak khan?”
“Nggak mau ah Mbah, kalo gini,” kata A-mei. Tetapi “protesnya” cuman di mulut saja sebab ia membiarkan Mbah Sukro jari jemari dukun tua itu meraba-raba dadanya. Kelihatan kalau sebetulnya ia menikmati permainan itu.

“Nah, kini kami lanjutkan latihan tingkat berikutnya sekaligus Mbah ajarin kalian gimana caranya memtersanjungkan suamimu kelak. Ingat, ini semua demi kebaikan kalian sendiri. Mengerti?”
“Mengerti, Mbah.”
“Keren. Nah, kini Mbah juga melepas semua baju Mbah jadi kami sama-sama bugil.”
Mbah Sukro melepas baju hitamnya jadi nampak dadanya yang hitam telanjang. Kulitnya telah berkeriput. Kemudian ia membuka sarungnya. Nampak tonjolan di balik celana dalamnya.
“Agar kalian tidak penasaran, ini Mbah tunjukkan kontol pria dewasa milik Mbah yang bisa memuaskan anak gadis semacam kamu, Nik.”
Tanpa malu-malu lagi, bandot tua umur 60 tahun itu melepas celana dalamnya di depan A-mei, gadis belia berumur 17 tahun. Saat ini Mbah Sukro juga telah telanjang bulat. Nampak kulit tubuhnya yang hitam legam dan keriput. Sungguh kontras tidak sama dengan A-mei yang putih mulus dan segar. Tetapi A-mei tersipu malu dibuatnya, sebab meski telah berumur 60-an dan kulitnya telah keriput, tetapi kontol Mbah Sukro tetap sanggup ngaceng dengan tegaknya. Apalagi ukurannya tergolong besar dibandingkan dengan tubuhnya yang kurus, khususnya kepalanya yang disunat jadi nampak makin besar.

“Nah, lihat, kontol Mbah kini jadi ngaceng gara-gara ngeliat gadis muda belia telanjang bulat. Sebab Mbah jadi terangsang sebab kemulusan tubuhmu, A-mei, dan juga sebab kecantikan wajahmu, keindahan susumu, kulitmu yang putih halus, pahamu, rambut kemaluanmu, dan daya tarik seksualmu dengan cara keseluruhan yang membikin orang laki normal jadi ingin menikmati dirimu. Apalagi Mbah sebelumnya nggak sempat mencicipi nonik-nonik semacam kalian gini. Jadi, beginilah suamimu nanti, juga bakal terangsang terhadap kalian sama semacam Mbah sekarang. Dan untuk itu kalian wajib bisa melayani suamimu dengan sebaik mungkin, bikin dirinya puas. Dengan begitu, kalian juga bakal memperoleh kepuasan yang menarik. Nah, agar nantinya kalian tidak canggung dengan suami kamu, mari kini kalian latihan dulu dengan Mbah.”
Lalu didekapnya A-mei dan diciumi wajahnya dengan penuh nafsu. Dijelajahi wajah gadis belia nan cantik itu dengan bibirnya. Dilumatnya bibir A-mei dengan ganas. Diciuminya lehernya sambil tangannya meraba-raba payudara A-mei dan meremas-remasnya. Kontolnya yang hitam dan berdiri tegak itu menempel di tubuh putih A-mei.

A-mei didorongnya ke arah tempat tidurnya lalu ditidurkannya ia dengan telentang di atas kasur. Ia sengaja membuka kaki A-mei lebar-lebar agar ia bisa menonton dengan jelas vagina A-mei yang tetap perawan itu. Vaginanya berwarna kemerahan. Sementara diatasnya nampak rambut-rambut kemaluannya yang halus tumbuh di atas kulitnya yang putih. Klitorisnya nampak mencuat di bagian atas liang vaginanya.

Digarapnya gadis belia yang tetap perawan itu oleh si bandot tua. Diciuminya kedua payudara A-mei. Mukanya dibenamkan ke dua bukit kembar itu. Mulutnya aktif menjilati seluruh bagian payudara perawan itu. Khususnya kedua putingnya yang diemut dan dikenyot-kenyot di dalam mulutnya. A-mei merasakan kedua putingnya bergantian dikenyot-kenyot di dalam mulut Mbah Sukro yang hangat. Apalagi suhu ruangan yang ber-AC awalnya membikinnya agak kedinginan. Saat ini kecupan-kecupan hangat Mbah Sukro sanggup menghangatkan tubuhnya khususnya dadanya.

Meskipun usianya telah kepala enam, tetapi rupanya Mbah Sukro tahu bagaimana caranya membikin panas seorang dara perawan belasan tahun. Terbukti A-mei sangat menikmati permainan lidah dan kenyotan Mbah Sukro diatas payudaranya. Apalagi Sukronya yang lebat menggelitik payudaranya yang membikinnya makin terangsang. Tanpa sadar, ia mendesah-desah dibuatnya.
“Ehhhmm, ehhmmm, ooohhh, oooohhhhh.”
Suara desahannya itu bercampur dengan suara kecupan Mbah Sukro yang asyik menciumi payudara A-mei.
Mbah Sukro menyuruh A-mei berbalik telungkup. Rambutnya yang sebahu menempel di punggungnya yang putih mulus. Pantatnya nampak sexy menonjol. Segera diciuminya sekujur punggung dan pantat A-mei yang putih. Kembali Sukronya menggelitik sekujur punggung A-mei.

Lalu diraba-raba kedua pantat A-mei dan diremas-remasnya pantat nan sexy itu. Didudukinya punggung A-mei dan kontolnya yang hitam ditempelkan di punggung A-mei yang putih. Nampak kontras perbedaan warnanya. Digesek-gesekkan batang kontolnya berikut kedua pelirnya di sekujur punggung putih A-mei. Bagaikan kuas hitam yang menyapu seluruh bagian kanvas putih. Sementara kontol Mbah Sukro telah mulai basah sebab cairan pre-cum. Jadi di berbagai tempat, punggung A-mei menjadi sedikit basah terkena gesekannya.

Digesek-gesekkan batang kontolnya ke pantat A-mei. Lalu dijepitnya diantara kedua pantat A-mei dan digesek-gesekkannya. Jadi ujung kontol Mbah Sukro jadi terus basah yang membikin pantat A-mei menjadi ikutan basah.
Seusai puas bermain-main di punggungnya, kembali A-mei ditelentangkan. Kedua kaki A-mei dibukanya lebar-lebar. Lalu kepalanya menyusup diantara kedua paha mulus A-mei. Dijilatinya vagina perawan A-mei yang kemerahan itu. Dan seusai itu diemut-emut dan dihisap-hisap vagina perawan itu. Lidahnya nampak begitu lincah menari-nari di kurang lebih wilayah terlarang milik dara muda itu. Jadi tanpa dicegah lagi vaginanya menjadi basah dibuatnya, membikin A-mei mendesah-desah sebab kenikmatan yang dirasakannya itu.

“Nah, kini coba kalian genggam dengan tangan kamu, Nik”, kata Mbah Sukro menyuruh A-mei memegang batang kontolnya. Yang segera diperbuatnya tanpa protes.
“Keren, nah kini coba kalian kocok pelan-pelan.”
“Ya, keren begitu. Perbuat terus, jangan berhenti dulu,” kata Mbah Sukro menikmati kontol hitamnya dikocok oleh tangan halus milik gadis putih mulus itu. Sementara kedua tangannya memegang-megang payudara cewek itu. Kedua putingnya nampak makin mengeras dan memanjang. Jadi membikin Mbah Sukro meraba-raba puting segar kemerahan milik dara perawan itu dengan kedua bunda jarinya yang hitam. Nampak ia sangat bernafsu sekali dengan kedua payudara A-mei hingga-sampai ia menciuminya dengan liar. Dijulurkannya lidahnya kesana kemari di dada dara ini. Khususnya di kedua putingnya sebab ia tahu bahwa bagian ini merupakan bagian sensitif buat cewek ini.

Lalu ditelentangkannya A-mei dan ditindihnya dara yang putih mulus itu dengan tubuhnya yang hitam dan kulitnya telah keriput. Diciuminya bibir dan leher dara itu dengan penuh nafsu. Dadanya yang hitam dan keriputan menempel di payudara cewek muda itu. Meski usianya telah tua, tetapi ia nampak tetap perkasa saja. Batang kontolnya tetap mengeras dengan gagahnya menempel di dekat vagina cewek itu.

Seusai puas menciumi A-mei, saat ini saatnya ia menikmati ‘hadiah utamanya’. Ia membuka kedua paha A-mei lebar-lebar. Sementara batang kontolnya yang hitam dan berurat itu menegang dengan keras. Didekatkannya kepala penisnya yang membesar itu ke depan liang vagina perawan itu, yang saat itu nampak pasrah dan tanpa perlawanan sama sekali. Lalu segera didorongnya tubuhnya ke depan, dan, ugh dinding vagina perawan itu rupanya sanggup menahan daya laju benda tumpul itu.
Mbah Sukro mencobanya lagi dengan lebih bertenaga, dan akhirnya,
“Cleeeep”,
kepala penisnya akhirnya sukses masuk ke dalam tubuh dara yang saat ini telah menjadi tidak perawan lagi itu.
“Aaahhhhhh”, seketika A-mei menjerit sebab rasa nyeri saat kepala penis Mbah Sukro masuk ke dalam tubuhnya.
Lalu didorongnya tubuhnya jadi seluruh penisnya hanyut masuk ke dalam tubuh gadis yang saat ini pastinya telah bukan gadis lagi itu.
“AAAhhhhhh,” A-mei kembali menjerit merasakan perih di vaginanya.

Tetapi Mbah Sukro tidak mempedulikan jeritan gadis itu. Pikirannya telah dipenuhi nafsu ingin menikmati tubuh gadis muda itu selagi dan semaksimal mungkin. Segera dimaju-mundurkan penisnya di dalam tubuh gadis itu, menikmati rapatnya gesekan vaginanya.

“Ahhhh, aaahhhh, aaahhhhhh, aaahhhhhh,” A-mei mendesah-desah dibuatnya. Rasa nyeri dan perih yang mula-mula dirasakannya saat ini menjadi bercampur dengan rasa enak yang tidak terbayangkan sebelumnya. Rasa perih-perih enak itu membikinnya tidak mempedulikan apa-apa lagi dan tanpa bisa dicegah lagi membikinnya mendesah-desah dan merintih-rintih tidak keruan. Ia tidak mempedulikan lagi bahwa pria yang menikmati tubuhnya itu telah uzur dan keriputan. Sementara rasa perih dan nyeri itu bertahap hilang, jadi saat ini hanya tinggal rasa enaknya saja. Membikinnya makin lupa diri bakal tata krama sebagai seorang gadis muda yang wajib menjaga kehormatan dirinya.

Sementara Mbah Sukro makin semangat menyetubuhi cewek muda putri kliennya itu. Kapan lagi aku bisa menikmati tubuh cewek muda cantik dan sexy kayak gini, pikirnya. Dan tetap perawan lagi. Di desa tidak ada cewek yang kayak gini. Biarlah kesaktianku hilang sehari tidak persoalan. Meski telah tua, tapi ia tetap kuat untuk mengocok gadis muda itu. Penisnya dengan gagahnya mengobrak-abrik vagina cewek itu. Membikin A-mei sangatlah tidak berkutik dan hanya bisa mendesah-desah menikmati apa yang diperbuat pria tua itu terhadap dirinya.

Mbah Sukro terus menyetubuhi A-mei dengan menindihnya. Sementara kontolnya terus mengocok-ngocok vagina gadis itu, mulutnya asyik mengulum dan menghisap-hisap payudara cewek itu. Mbah Sukro yang biasa mengemut rokok kretek saat ini mendapat rejeki nomplok bisa mengemut susunya A-mei.
Nampak kontras sekali pemandangan itu. Tubuh pria kurus yang hitam dan keriput itu menindih tubuh gadis muda yang putih mulus. Dan kontolnya yang hitam menembusi ke dalam tubuh gadis itu.

Lalu Mbah Sukro menyetubuhi A-mei dalam posisi doggy style. Meski tua-tua begitu, dengan gayanya semacam koboi ia sanggup juga ‘menunggang’ dan menggoyang-goyang tubuh A-mei yang lagi-lagi hanya bisa menjerit-jerit dan mendesah-desah keenakan. Kedua payudaranya bergoyang-goyang dibuatnya. Direngkuhnya payudara gadis itu dengan kedua tangannya dan diremas-remasnya sambil terus menggoyang tubuh gadis muda itu. Sementara itu, digenjotnya terus A-mei dengan kontolnya.

Ia mengganti posisi. Ditaruhnya kedua kaki A-mei di pundaknya, lalu dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dan dikocoknya. Dipandanginya kedua payudara A-mei yang bergerak-gerak mengikuti gerakan penisnya itu. Akhirnya A-mei tidak tahan lagi dan ia memperoleh orgasmenya. Itulah orgasmenya yang pertama gara-gara disetubuhi oleh seorang laki-laki.

Seusai mengenal A-mei baru mengalami orgasme, Mbah Sukro merasa bangga juga. Bangga sebab bisa menikmati kemulusan dan keperawanannya dan bangga bisa membikin gadis muda 17 tahun mengalami orgasme. Tidak lama seusai itu, akhirnya ia mengalam ejakulasi juga dengan menumpahkan seluruh spermanya di dalam vagina A-mei.

Seusai seluruh spermanya habis, ia mencabut batang kontolnya yang baru saja mengambil korbannya dengan memerawani A-mei, gadis belia itu. Ia tersenyum saat menonton ada bercak darah di kurang lebih vagina A-mei. Bangga juga ia bisa merenggut keperawanan gadis muda semacam A-mei ini sekaligus membikinnya orgasme.
“Waah, gila nyatanya kalian betul-betul tetap perawan ya, Nik. Nggak menyesal Mbah ngasih pelajaran ke gadis cantik dan sexy semacam kamu.

“Nah, kini kalian telah tahu khan gimana caranya memuaskan suamimu kelak. Dan kini kalian telah mengerti gimana rasanya enaknya kawin.”
“Iya Mbah. A-mei nggak nyangka kalo rasanya begini enak.”
“Sekarang seusai “pelajaran” beres, kalian boleh pake bajumu lagi. Kelak masuk angin. Kini Mbah mau tidur dulu ya. Sebab “pelajaran ini”, kini Mbah jadi capek sekali.”
“Iya Mbah, A-mei juga capek sekali. OK, sampe ketemu besok pagi Mbah.”
“Baik. Selamat malam.”
Malam itu Mbah Sukro kehilangan kesaktiannya dan dengan cara fisik cape sekali. Tetapi ia merasa aman sebab terlindungi oleh jimatnya. Sementara hatinya puas. Sebab akhirnya ia sukses mengambil “sisa bayarannya” dengan memerawani dan menikmati kehangatan A-mei di ranjang sekaligus membalas sakit hatinya terhadap Pak Wijaya. Sementara A-mei pun juga tidur dengan puas sebab ia merasa mendapat “pendidikan” yang berharga dari Mbah Sukro sekaligus merasakan kenikmatan yang tidak sempat dirasakan sebelumnya. Sementara Pak Wijaya yang telah tertidur pulas sama sekali tidak tahu bakal momen yang terjadi malam itu.
Keesokan harinya, semacam yang direncanakan sebelumnya, seusai seharian istirahat total, Mbah Sukro meninggalkan rumah itu seusai matahari terbenam. Ia tiba di rumahnya saat hari menjelang subuh.

Sejak meninggalkan rumah itu, ia merasakan bagian ulu hatinya agak nyeri. Tetapi ia tidak terlalu menggubrisnya. Tapi betapa kagetnya saat keesokan harinya, rasa nyeri itu bukannya hilang malah makin bertambah. Dan malamnya, ulu hatinya bagaikan ditusuk-tusuk. Sungguh ia tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, sebab kesaktiannya sebetulnya telah pulih. Apakah saat ini telah ada dukun lain yang lebih sakti yang menjahili dirinya? Ia sibuk memikirkan siapa orang yang berani menjahili dirinya. Sementara itu rasa sakitnya terus menjadi-jadi. Hingga akhirnya ia sangatlah tidak tahan lagi.

Dan kemarin hari kemudian, ada berita heboh, yaitu Mbah Sukro, dukun sakti yang tiada tandingannya, yang disegani kawan maupun lawan, dengan tidak disangka-sangka meninggal dunia tanpa diketahui dengan cara pasti penyebabnya. Faktor ini sungguh mengejutkan khususnya bagi dukun-dukun yang selagi ini menjadi lawannya. Sebab susungguhnya tidak ada seorang pun yang berani menjahilinya.

Lalu apa penyebab kematiannya? Nyatanya kematiannya bukan dikarenakan oleh para pesaingnya. Ia lupa bahwa ia telah mengaktifkan jimat pelindung yang bakal menyerang balik siapa pun yang mengganggu penghuni rumah itu. Dengan menipu gadis polos semacam A-mei apalagi hingga melangkah terlalu jauh dengan merenggut kegadisannya, ia telah dengan cara fatal mengganggu penghuni rumah itu. Jadi jimatnya saat ini bekerja menyerang dirinya sendiri. Oleh sebab pikirannya melulu terfokus untuk menangkal kemungkinan serangan dari pihak luar dan sombongsi dirinya yang merasa sebagai orang sakti tiada tandingan dan ditambah pikirannya yang dipenuhi nafsu birahi, malam itu ia sama sekali melupakan kemungkinan serangan balik dari jimat yang dipasangnya sendiri.

Tetapi semuanya telah telat. Ia tidak bisa menangkal serangan jimat itu sebab sumber kekuatannya berasal dari dirinya. Terus ia mengerahkan tenaganya untuk menahan serangan, terus kuat serangan jimat itu terhadap dirinya. Sementara, seusai disembahyangi selagi 8 hari, kekuatan jimat itu tidak bisa dibatalkan sebelum kekuatannya bakal menurun dengan sendirinya seusai berbagai tahun.

Jadi saat ini terbuktilah kalau jimat yang dipasang di rumah itu sangatlah ampuh. Tetapi ironisnya, justru pemasangnyalah yang menjadi korban pertama dan satu-satunya dari jimat tersebut.
Demikianlah hidup Mbah Sukro yang beres tragis. Orang sakti yang tidak terkalahkan dan tidak ada orang lain yang sanggup mengalahkannya, pada akhirnya jatuh sebab kesalahan dirinya sendiri dan meninggal sebab kesaktiannya sendiri. Dan itulah akhir lembaran hidupnya.

Sementara, ini merupakan awal lembaran kehidupan baru bagi A-mei. Ia sama sekali tidak terpengaruh alias tahu menahu bakal dunia gaib yang terjadi di kurang lebih dirinya. Tapi yang jelas, kejadian malam itu sungguh telah merubah kehidupannya. Dari semula gadis yang polos dan lugu, saat ini ia menjadi sangat haus untuk memperoleh pengalaman baru yang sangat menggelorakan hati itu, lagi, lagi, dan lagi.

Musim Bokep : Panti Pijat Pemuas Syahwat


Aku bukan ingin menyaingi Mas Boedoet, Si Peliput Pijat yang telah malang melintang di dunia perpijatan itu. Dirinya terbukti “profesional”, sedangkan Aku cuma peselingkuh amatiran yang ingin pelayanan seks tidak hanya di rumah. Aku juga bukan orang kaya seperti Mas Boed yang dengan mudah mengeluarkan ratusan dollar untuk pelayanan pijat komplet.

Sex Panti Pijat | Aku hanya punya lembaran “Sokarno Hatta”, bukan George Washington! Tapi massage service yang Aku bisakan tadi malam (fresh from the oven, you know) sangatlah memuaskan jadi Aku butuh bagikan terhadap Anda. Cocoknya pelayanan “pijat plus plus” empat babak yang rada unik. Awalnya, info minim yang Aku bisakan dari seorang kawan yang tinggal di Jakarta mengenai massage service (lebih cocok dibilang sex service, sebetulnya) di sebuahtempat di Bandung (busyet, dirinya yang tinggal di Jakarta malah lebih tahu dari Aku, dasar Aku tetap hijau!)
“Namanya ‘xxx Message’, di jalan Otista, berseberangan dengan Pasar Baru, tarifnya seratusan sejam,” katanya.
“Keren engga cewe-cewenya?” tanyaku.
“Loe tahu kan selera gue? Pokoknya engga nyesel.” Dengan agak ragu (masa sih seratusan cewenya yahut?) akhirnya Aku meluncur juga ke sana.
Tak susah menemukan tempat ini.

Hanya jangan ke sana siang alias sore, macetnya minta ampun. Waktu yang ideal kurang lebih jam 7 malam, lalu lintas telah lancar serta belum tidak sedikit pelanggan lain jadi kami leluasa memilih “pemijat”. Dari depan tempat ini terbukti tidak menyolok, hanya pintu kaca yang terbuka sebelah. Dengan style yakin –sembari deg-degan– Aku langsung masuk, juga supaya tidak pernah ada yang mengetahuii di pinggir jalan raya ini. Di ruangan yang remang itu ada satu stel sofa yang diduduki 4-5 cewe yang berpakaian serba minim. Sejenak Aku menyapu pandangan, setengan bingung. Tapi hanya beberap detik. Salah satu dari mereka langsung bangkit dari duduknya begitu menontonku.
“Mau pijat Mas, Ayo!” Putih, berwajah mandarin, tingginya sedang,
“massa depan” (double “s” lho, istilahku untuk buah dada) besar dengan belahan yang terbuka jelas,
“massa belakang” yang menonjol ke belakang, rok supermini memamerkan sepasang paha putihnya yang juga… besar.
Hasil evaluasiku: cewe ini serba menonjol serta serba besar.
“Ayo Mas, lihat-lihat ke belakang,” ajaknya lagi ketika Aku tetap terpaku.

Digandengnya tanganku, dibawa melalui pintu kaca lagi di belakang ruangan itu. Kami melalui lorong lumayan panjang yang di kanan-kirinya tersedia pintu-pintu kamar semakin kebelakang. Pantat besarnya megal-megol seirama langkah kakinya. Hingga di ujung lorong, dirinya berhenti di depan jendela kaca nako.
“Silakan pilih,” katanya sambil menutup kaca nako itu.
Rupanya jendela ini tempat mengintip ke ruangan besar di baliknya. Kaca nako yang dilapisi “glass film” gelap memungkinkan Aku menonton leluasa ke ruangan besar itu tanpa dilihat penghuninya. Wow! Kawanku tidak berbohong. Di ruangan besar itu tidak sedikit berisi sofa serta diatasnya “tergeletak” belasan “ayam” yang sungguh membikinku menelan ludah berbagai kali. Tidak sedikit mereka duduk-duduk sambil nonton TV. Ada yang lagi ngobrol, ada yang berdiri di depan cermin mematut sertadanannya. Umumnya, model pakaian yang dikenakannya minim terbuka di dada serta paha. Bahkan cewe yang persis lurus pandanganku duduk acuh celdam putihnya “kemana-mana”.

Hanya berbagai saat di situ mataku telah menebar ke seluruh ruangan. Hasilnya, bingung! Semuanya menggiurkan. “Yang mana, Mas?” tanya pengawalku Si Serba Besar ini.
“Entar deh …”
“Si Anu pijitnya enak, Si Itu servicenya jago, Si Ini mainnya yahut ….” katanya berpromosi.
Aku tidak begitu mendengar ocehannya, lagi asyik meneliti satu persatu cewe-cewe itu buat menetapkan opsi tubuh yang pas dengan idolaku. Pijit, service, main?
“Servicenya apa aja?” akhirnya aku nanya ke Si Besar, tapi mataku tetap ke ruangan.
“Apa aja, terserah Mas aja. Di dalam kelak baru tahu,” katanya sok berteka-teki.
Pakaian yang mereka kenakan, terbuka dada serta paha, menolongku untuk lebih cepat menentukan opsi. Akhirnya Aku menetapkan 3 orang paling baik untuk di observasi lebih teliti. Yang bergaun coklat tua itu… hmmm… Wajahnya cantik, kulit bersih, paha mulus. Sayangnya, buah dadanya tidak begitu “menjanapabilan”.
Bukannya kecil sih, tetap punya belahan. Hanya Aku ingat pesan kawanku tadi.
“Pilih yang berdada besar,” katanya.
“Kenapa?”
“Gak usah tidak sedikit tanya, cobain aja.” Untungnya, seleraku terbukti dada yang berisi.

Yang bargaun hitam lebih seksi, body-nya menggitar, face-nya biasa-biasa aja. Dadanya? Hanya dirinya satu-satunya yang pake gaun menutupi dada tapi membuka kedua bahunya. Lumayan menonjol bulat, tapi jangan-jangan itu hanya model bra-nya. Bagiku, indikasi dada montok merupakan punya “belahan” alias tidak. Si gaun hitam ini belahannya tertutup. Yang ketiga, bergaun crem berbunga kecil, agaknya yang paling ideal. Tubuh lumayan tinggi, pinggang ramping paha bersih panjang, dadanya… wow! Dengan gaun model “kemben” (menutup separoh dada horisontal), buah dadanya seakan “tumpah”.

Kualitas plusnya lagi: berambut panjang lurus sepinggang. Tapi Aku tidak segera menyebut nomornya untuk dipesan. Aku tetap menebar pandangan lagi jangan-jangan ada yang lebih keren terlewat dari penelitianku.
“Sama saya aja Mas, kelak ‘dibody’ sebelum main, mau karaoke juga boleh,” kata pengawalku tiba-tiba.
Aku jadi berminat sama omongannya.
“Dibody?”
“Iya, body massage.” Body massage, karaoke, serta
“main”. Ehemmmm …!
“Semakin?”
“Pokoknya Mas ditanggung puas.
” Iya puas, tapi
“You aren’t my type” kataku, dalam hati pasti saja. Kamu mustinya “menjalankan diet ketat” supaya pinggangmu berbentuk.
“Kalo mereka service-nya sama gak?” tanyaku.
“Tergantung orangnya sih Mas.” Aku sejenak ragu.

Sama dirinya macam pelayanannya telah jelas, tapi tubuhnya tidak masuk seleraku. Pilih Si “Dada tumpah” pas dengan selera, tapi bentuk pelayanannya belum jelas. Aku kembali menebar pandangan. Rasanya Aku tidak menemukan “calon” lain sebaik Si Dada montok. Tapi Aku memperoleh info lain. Di pojok agak atas tertempel karton di dinding dengan tulisan:
“Mulai 1 Juli Rp. 150.000 sejam”.
“Pilih yang di dalam juga silakan, gak pa-pa,” katanya.
Kudengar ada sedikit nada sedihnya (Tolong Mas Wiro, pilih yang mana nih?)
“Kok gak ada tamu lain, sih?” tanyaku sekedar menetralkan.
“Baru jam 7 tetap sepi, entar malem rame,” jelasnya.
Tak ada pesaing begini memberiku kebebasan untuk berpikir sebelum memutuskan. Kamu jangan coba menimbang-nimbang begini kalau lagi ramai, bisa-bisa opsi Kamu disambar tamu lain. Akhirnya keputusanku bulat, pilih Si Kemben. Keputusan yang agak spekulatif sebetulnya. Tidak apalah, ini kan kedatangan pertama, hitung-hitung “belajar”. Kusebutkan nomornya pada si Besar ini.
“Yeeen, tamu,” teriaknya.

Si Rambut panjang bangkit serta menuju pintu. Ehem, aku tidak salah pilih. Dengan cara keseluruhan bentuk badannya oke. Tutorial jalannya mirip peragawati di catwalk, jadi sepasang buahnya berguncang berirama.
“Yeni,” katanya begitu dirinya timbul di pintu menyodorkan tangan.
Aku tambah yakin, dadanya sangatlah “menjanapabilan”. Yeni membimbingku menuju lorong. Tanganku langsung merangkul bahunya, bak sepasang pengantin yang menuju kamar bulan madu. Begitu Yeni menutup pintu kamar serta menguncinya, Aku menyerbu memeluknya. Mulutku langsung menuju belahan buah dadanya. Menciumi serta menggigit pelan.
“Eh… bentar dong Mas,” elaknya ramah.
Aku tidak peduli. Kupelorotkan kemben serta branya, bulatan buah dada kanannya langsung nongol. Bulat indah, tidak ada tanda-tanda turun mesikipun telah pasti tidak jarang dijamah orang. Kusemakinkan ciumanku di dadanya, hingga kemudian Aku “menyusu”.
“Mas ini gak sabaran ya?” Tidak ada nada marah, tetap ramah.
Pelukan kuperkuat, tangan kiriku turun meremas pantatnya.
“Sabar ya Mas…” katanya melepas pelukan.
Aku melepas tubuhnya.
“Pijit dulu aja,” sambungnya.
“Udah itu?”
“Mas maunya apa?” tantangnya.
“Maunya service yang memuaskan.” ”
Yang memuaskan yang gimana?”
“Body massage, karaoke, serta main,” serangku, meniru servis Si Besar tadi.

“Boleh. Buka baju dulu dong,” perintahnya.
“Bukain,” Aku balik memerintah.
“Hi… manja,” tapi tangannya bergerak membuka kancing kemejaku, lalu singletku, kemudian ikat pinggangku.
“Ih, udah keras,” katanya menggenggam penisku dari luar sebelum memelorotkan celanaku.
Yeni berhenti ketika tinggal celdamku saja.
“Buka semua dong,” pintaku.
“Gak ah, takut. Hi hi… Udah, mas tiduran deh, entar Yeni pijat dulu.” Aku merebahkan tubuhku ke kasur, terlentang.
Tanpa malu-malu Yeni melepas gaun serta kemudian bra-nya. Buah dadanya terbukti bulat serta besar. Mungkin terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang tinggi serta langsing. Aku memantau dadanya sambil tegang. Buah dada kanannya nyaris sempurna, bulat, besar, dengan puting coklat yang kecil. Tapi tidak simetris, buah kirinya agak turun, tidak bulat benar (Mas Wiro, umumnya buah dada terbukti tidak simetris ya, kanan kiri beda. Jawab ya?). Lalu menyambar handuk serta ke kamar mandi.
“Yeni mandi dulu ya Mas.”
“Ya, cepet ya.” Keluar dari kamar mandi Yeni berbalut handuk.
Yeni membuang handuknya, hanya berceldam.
“Telungkup dong Mas.” Aku membalik tubuhku.

Yeni menduduki pantatku. Penisku yang tegang terjepit, menjelaskan minyak ke punggungku, lalu mulai mengurut. Tutorial mengurutnya tidak lebih menekan, tidak seenak pemijat profesional pasti saja. “Kamu dari mana Yen?” “Cirebon, Mas.” Berakhir di pinggang serta punggungku, Yeni lalu melepas celdamku sambil bilang maaf. Sopan banget. Aku berbalik. Pandangan Yeni sekilas ke penisku yang mengacung tegang.
“Hi hi… udah tegang.”
“Kamu lepas juga dong.”
“Okey,” dengan tenang Yeni melepas satu-satunya kain penutup tubuhnya itu.
Jembut lebatnya menutupi seluruh permukaan kewanitaannya.
“Balik lagi, dong.” Pantatku dipijat, lalu pahaku. Diurut dari belakang lutut ke atas.
Sampai di pangkal pahaku, entah sengaja alias tidak, jempol tangannya menyentuh-nyentuh biji pelirku.
“Punggungnya lagi dong Yen.” Yeni menduduki pantatku lagi, bulu-bulu kelaminnya terasa banget mengelusi pantatku.
Terbukti inilah maksudku dengan meminta pijat di punggung.
“Katanya body massage…” tagihku.
“Entar dong Mas.”
“Dah, kini terlentang.” Yeni menumpahkan minyak ke dada, perut, serta penisku.
Lalu… hup! Dirinya “berselancar” di atas tubuhku.
“Sreeng”. Aku bergidik, gemetar sebab nikmat.

Kedua buah dadanya diusap-usapkan (dengan tekanan) ke dadaku. Lalu turun ke perutku. Ini sih bukan body massage, cocoknya “breast massage”. Buah dadanya yang mengkilat berlumuran minyak tidak jarang menggelincir di tubuhku. Tiga kali berurutan dada serta perutku “dipijat” buah dadanya, lalu… inilah yang membikinku berdesir kencang. Yeni menumpahkan minyak di telapak tangannya lalu mengoleskan di kedua buah dadanya. Buah itu makin mengkilat, serta putingnya tegang! Lalu, bergantian kiri kanan, buah dadanya memijati kelaminku, mak! Tidak itu saja. Diletakkannya batang penisku di belahan dadanya, lalu di”uyek”.
Yeni menggoyang tubuh atasnya bak penari salsa. Inilah sebabnya mengapa kawanku menyarankan supaya Aku memilih yang berdada besar. Sepasang daging kenyal memijati penisku, rasanya bagaikan terbang. Terbayang, kan, kalau dada model “papan setipsaan”, bukannya nikmat malah pegel. Aku wajib sekuat tenaga manahan diri untuk tidak ejakulasi. Apalagi nampaknya Yeni mengkonsentrasikan tekanan dadanya ke penisku. Untung saja baru kemarin Aku “keluar”. Kalau tidak, mungkin Aku telah menyiram maniku ke dada Yeni.

Kadang Aku menghentikan gerakan liarnya, sekedar mengambil nafas panjang. Lalu memerintahkan menggoyang lagi ketika Aku sejenak “turun tensi”.
“Mau keluar ya?” komentarnya.
Yeni menuruti komandoku. Oohh… cukuplah stimulasi ini, supaya Aku bisa menikmati “service” Yeni lainnya. Aku sukses menahan diri. Yeni bangkit.
“Yuk, cuci dulu Mas,” Yeni menghapus minyak di dada, perut serta penisku dengan sabun.

Lalu dirinya membersihkan tubuhnya sendiri. Ini memberiku peluang untuk mengerem nafsuku yang tadi hampir meledak. Aku menurut saja ketika Yeni megelap tubuhku dengan handuk, lalu merebahkan tubuhku terlentang. Mulailah servis ketiga… Diciuminya perutku, semakin turun ke pahaku, kanan serta kiri hingga ke dengkul. Naik lagi menciumi pelirku, bahkan mengemotnya, satu persatu bergiliran bijiku masuk ke mulutnya. Giliran lidahnya menjilati batang penisku, dari pangkal ke ujung. Disini dirinya memasukkan “kepala” penisku ke mulutnya. Hanya sebentar, dilepas lagi serta mulai menjilati dari pangkalnya lagi.
Begitulah berulang-ulang hingga akhirnya dirinya meperbuat blow job seperti adegan oral sex di film biru. Kembali Aku wajib “berjuang” untuk tidak meledak. Lagi-lagi Aku wajib menyetopnya ketika kurasakan Aku hampir muncrat. Tahap keempat, dimulai.
“Pake kondom ya Mas.” Maksudku juga begitu.

Aku tidak mau ambil resiko bermain seks dengan perempuan sewaan begini tanpa pengaman.
“Tolong ambilin di saku celanaku.”
“Saya bawa kok Mas.” Dengan terampil dirinya memasangkan kondom di penisku.
Berpengalaman dirinya rupanya.
“Mas tergolong kuat, lho.” Ah, ini sih basa-basi standar seorang profesional.
“Ah, bisa aja kamu.”
“Bener lho, biasanya baru dibody aja udah keluar.” Aku mencegah Yeni yang mulai menaiki tubuhku.
Aku tidak lebih suka dengan posisi di bawah. Membatasi gerakanku. Yeni terlentang serta membuka kakinya lebar-lebar. Sambil mengulumi putingnya Aku masuk. Belum pernah Aku menggoyang, Yeni duluan memutar pantatnya. Yah, posisi “missionarist” tidak butuh diceritakan prosesnya kan? Kamu telah tahu. Kecuali, berbagai kali Aku terpaksa menyuruh Yeni diam, supaya Aku bisa memompa sambil merasakan sensasi gesekan penisku pada dinding-dinding vagina Yeni.

Oh ya, ada lagi yang butuh Aku ceritakan. Ketika Aku mengambil “pause” dari gerakan memompa, dengan trampilnya Yeni memainkan tahap dalam vaginanya berdenyut-denyut teratur menyedoti penisku. Rasanya Bung! Susah digambarkan. Seperti “kompensasi” dari celahnya yang tidak begitu erat menggenggam penisku. Maklum, tidak jarang “digunakan”. Bahkan hingga Aku “berakhir” serta rebah lemas menindih tubuhnya, Yeni tetap memainkan denyutan vaginanya! Aku tidak rugii keputusanku untuk memilih Yeni dibanding Si Serba Menonjol tadi.
“Semua cewe di sana tadi service-nya terbukti begini ya?” tanyaku membuka kebisuan.
Aku tetap menindih tubuhnya, penisku tetap di dalam.

“Engga tahu dong, Mas. Cobain aja,” Ada nada tidak lebih bahagia yang tersirat.
“Bukan begitu, cuman pengin tahu aja.”
“Eh, bener kok Mas, Saya engga ada apa-apa. Tamu kan berhak memilih.”
“Mas tidak jarang ngeseks ya,” kata Yeni ketika dirinya melepas kondom serta “mengecek” isinya.
“Keluarnya dikit,” sambungnya.
Tahu aja loe.
“Jangan kapok ya, Mas.”
“Engga dong,” Serangkaian servis yang disuguhkan Yeni terbukti memuaskanku.
“Tidak jarang-tidak jarang ke sini ya,” Lagi-lagi ucapan basa-basi yang standar.
“Iya dong, Kalau ada peluang lagi saya ke sini serta pilih kamu lagi.”
“Ah engga usah basa-basi, pasti Mas pengin coba yang lain kan?’ Lagi-lagi, tahu aja loe!

Cerita Sex : Pelajaran Bercinta


Aku Sony, berusia 23 tahun. Ini cerita tentang pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku. Aku sekarang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Malang. Di Malang aku tinggal dengan tanteku. Tanteku orangnya tetap muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah tentang diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.

Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru hingga di depan pintu kamar, samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan kawannya di telpon. Aku orangnya terbukti suka jahil, kucoba menguping dari balik pintu yang terbukti sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu. Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan kabar itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Seusai berakhir telpon, tante kaget menontonku telah masuk ke kamarnya.
“Lho Son, Kalian udah pulang rupanya. Kalian ada butuh ama Tante, ya..?” katanya.
Aku langsung saja to the point, “Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?” kataku.
“Boleh aja keponakanku sayang, Kalian mau nanya apa..?” sambungnya sambil menyubit pipiku.

“Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon.”
“Aduhh.. Kalian nakal ya Son, awas kelak Aku bilangin ama Mami Kalian lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa. Terus apa yang mau Kalian tanyakan, ayo bilang..!” katanya agak jengkel.
“Sony tadi dengar Tante ama kawan Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?” kataku pelan.
“Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son.”
“Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama kawan Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony. Kelak Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini.” kataku agak mengancam.

“Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku.” katanya agak memohon.
“Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony.” kataku bahagia.
“Terus Kalian mau apa kalau Tante ngadain pesta..?” katanya penasaran.
“Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu..”
“Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!” katanya tambah penasaran.
“Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?”
Aduh tante melotot lagi sambil mengatakan, “Udah, ah, Kalian ini kayak orang tidak lebih kerjaan aja.”
Terus kurayu lagi, “Yaa.. Tante.. ya.. please..!”
“Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kalian ngaco dech. Lagian khan Kalian tetap kecil.” katanya agak kesal.
“Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!”
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terkesanlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.

Tante kaget sekali menonton ulahku lalu, “Wowww.., Sony sayang.., punya Kalian besar dan panjang sekali. Punya Kalian lebih besar dari Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?” katanya dengan genit.
“Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante wajib ngijinin Sony ikut pesta nanti..!” kataku agak mengancam.
“Ya dech, Sony kelak boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah sempat ngeseks belom..?” tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum sempat meperbuat seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini, cium sana, cium sini sih aku sempat meperbuatnya.
“Mau nggak Tante ajarin..?” katanya dengan genit.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.
“Kenapa Kalian terkejut..? Tante hanya memegang paha Kalian aja kok..!”
Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dirinya mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.

Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dirinya masukkan lidahnya ke dalam mulutku, tanpa kusadari aku mengulum lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik berciuman, tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dirinya meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani. Kumasuki tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.
“Aaahh..” dirinya mulai mendesah.

Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tidak berkedip sedetik pun. Aku tidak mau melepaskan pemandangan yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam transparan, jadi payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah kecoklatan samar terkesan. CD-nya nyatanya berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu. Lalu dirinya melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu semacam loncat keluar dan mulai berayun-ayun, membikinku tambah tegang saja. Kemudian dirinya melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu luar biasa, agak kecoklatan warnanya. Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.
“Tante buka baju Kalian yaa.., Son..?” katanya genit.

Aku hanya mengangguk. Seusai aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar. Batang kejantananku yang telah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dirinya mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya. Dirinya naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Kemudian dirinya naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya, seusai itu dirinya berpindah ke celah anusku yang juga dicium dan dijilatinya. Selain itu, nyatanya dirinya memasukkan jari tengahnya ke celah anusku. Ohh.., nikmatnya. Lalu dirinya mulai mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.
“Aaahh..!” aku mengerang kenikmatan.

Kemudian dirinya memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dirinya hisap penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku. Dirinya gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku tetap di dalam mulutnya. Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan tetap terus dirinya tekan. Tetap dirinya tekan terus hingga bibirnya menyentuh badanku. Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat tahap bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan, suatu  rasa yang tidak sempat kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Seusai berbagai lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku telah mau mengeluarkan cairan.
Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam celah pantatku, kubilang sama tante, “Tante.., Aku mau keluar, ohh..!”
Dia keluarkan penisku dan bilang, “Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm..”
Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dirinya memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi. Seusai berbagai kali keluar masuk, kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya. Terasa tengorokannya mengecil dan jari di celah pantatku lebih ditekan ke dalam lagi hingga semuanya masuk. Aku sangatlah merasakan nikmat yang susah dikatakan.

Perlahan-lahan dirinya mengeluarkan batang penisku sambil mengatakan, “Punya Kalian enak Son.., Tante suka,” katanya, “Sekarang giliran Kalian yaahh..!” pintanya.
Kemudian dirinya berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya lebar-lebar. Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan telah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina dengan cara langsung. Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.
“Jangan malu-malu..!” katanya.

Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dirinya mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.
“Kamu jilat dong..!” pintanya.
Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang telah merah itu.
“Mmmhh.., enak juga..” kupikir.
Aku terus bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku mengejang.
Desahannya terus keras, “Aaahh.., aahh..!”
Lalu muncratlah air maninya dari celah senggamanya tidak sedikit sekali. Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.
Kemudian dirinya bilang, “Ohh.., God.. bener-bener luar biasa Kalian Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!”

Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang telah terbuka agak lebar. Nampaknya dirinya tetap terbayang-bayang atas momen tadi dan belum sadar atas apa yang kuperbuat sekarang padanya. Begitu tante sadar, batang kejantananku telah menempel di bibir kemaluannya.
“Tante, Sony udah nggak tahan nich..!” kataku memohon.
Dia mengangguk lemas, lalu, “Ohh..!” dirinya hanya dapat menjerit tertahan.

Lalu selanjutnya aku tidak tahu bagaimana tutorial memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya. Celahnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan mengajar senjataku ke liang kenikmatannya.
“Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kalian gede buanget sih..!” katanya sambil tersenyum.

Lalu dengan perlahan dirinya menolongku memasukkan penisku ke dalam celah kemaluannya. Belum hingga setengah tahap yang masuk, dirinya telah menjerit kesakitan.
“Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!” tangan kirinya tetap menggenggam batang kemaluanku, menahan laju masuknya supaya tidak terlalu keras.

Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membikin penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.
Aku luar biasa tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.
“Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh..” kembali tante mengerang dan meronta.

Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tidak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dirinya berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menantikan dirinya tenang dulu lalu, “Lho kok berhenti, ayo goyang lagi donk Son..,” dirinya telah dapat tersenyum sekarang.
Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam liang kenikmatannya. Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.

Lama juga kami bersi kukuh di posisi semacam itu. Kulihat dirinya hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat, tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tidak karuan dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh..” goyangan pinggulnya sekarang telah tidak beraturan, “Kamu tetap lama nggak, Son..? Kami keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!”
Tidak menjawab, aku terus mempercepat goyanganku.
“Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!” dirinya mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Aku terus bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga bakal keluar tidak lama lagi.
Dan akhirnya, “Ahh.., sshh.. ohh..!” kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.
Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.
“Kamu hebat..! Telah lama Tante nggak sempat klimaks.., oohh..!” katanya girang.
“Ohh.., Sony cape.., Tante!” kataku sambil tersenyum kelelahan.

Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman. Aku telah tidak ingat jam berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan lap basah tapi hangat. Nyatanya tante yang membersihkan batang kejantananku dan dirinya telah terkesan bersih lagi. Seusai berakhir membersihkan penisku, dirinya langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih tepat dibandingkan waktu aku berdiri.

Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dirinya bilang, “Son, sekarang Kalian kerjain Tante dari belakang ya..!”
Dia kemudian membelakangiku, pantat dan vaginanya terkesan merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku telah tidak ada. Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan celah pantatnya. Tercium aroma sabun di kedua celahnya dan sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya, ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terkesan cairan menetes dari celah kepala kejantananku. Kuarahkan batang kemaluanku ke celah vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua. Suara becek terdengar dari batang kejantananku dan vaginanya, dan lumayan lama aku memompanya dengan posisi ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar. Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, kemaluannya terkesan sangat merah dan basah.
“Ayo masukin lagi sekarang, Son..!” pintanya tidak sabar.
Aku dengan bahagia hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini, kumasuk-keluarkan batang kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.

Sambil memelukku dan sambil berciuman, dirinya bilang, “Son, Tante mo keluar nich..!”
Kemudian kurasakan celah senggamanya diperkecil dan memijat batang keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme. Aku tetap dapat juga keluar, mesikipun tadi telah keluar dua kali. Dan yang hari ini sama enaknya.
Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. 

Kepala tante di dadaku dan tangannya memainkan penisku yang tetap basah oleh sperma dan cairan vaginanya. Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Aroma sperma dan vaginanya menempel di wajahku. Dirinya tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya, kuraba-raba vaginanya yang tetap tidak sedikit sisa spermaku dan seluruh telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia. Pelan-pelan kutaruh di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dirinya tidak mengeluh tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.
Seusai jari dan tanganku bersih, dirinya mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.
Berakhir dengan kerjaannya, dirinya bilang, “Son, sekarang giliran Kalian yaahh..!”

Wow, tidak disangka aku wajib menjilat spermaku sendiri. Sebab tidak punya opsi, aku mulai menjilati cairan di wajahnya, dimulai dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku. Tidak disangka kalau aku dapat juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.
Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit. Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.