Cerita Sex: Akhirnya Kunikmati Saja Persetubuhan Ini


Sebut saja namaku Lena, anita berumur 30 tahun dengan wajah cantik dan kulit kuning langsat. Aku berLena bilang aku cantik sebab btidak sedikit lelaki tergila-gila padaku sewaktu tetap kuliah dulu. Mereka bilang aku mirip bintang film sinetron Bella Saphira alias Jihan Fahira.
Tapi saat ini aku tidak lagi lajang, sejak berakhir kuliah 5 tahun lalu, aku menikah dengan Mas Yudha, kakak kuliahku yang aku cintai. Saat ini kami nasib di kota M, dan Mas Yudha bekerja sebagai wartawan pada sebuah media cetak lokal di kota itu.

Kenasiban kami berlangsung mulus hingga tahun keempat pernikahan, mesikipun kami belum juga dikaruniai buah hati hasil perkawinan kami. Aku sendiri lebih tidak sedikit menghabiskan waktu di rumah, sambil menjaga kios serba ada yang setiap waktu terus berkembang pesat. Intinya, kami sama-sama bahagia mesikipun kadang merasa sepi juga tanpa hadirnya buah hati.

Tapi, sesuatu nyatanya terjadi diluar perdiksi kami berdua. Profesi Mas Yudha sebagai wartawan mengwajibkannya berhadapan dengan resiko yang rumit. Aku ingat betul saat itu suamiku berseteru dengan seorang pejabat yang permasalahan KKN nya dibongkar suamiku. Seminggu seusai berseteru, suamiku diLenaaya belasan orang tidak dikenal, berbagai saat seusai meninggalkan rumah.

Tak parah terbukti, tapi luka disekujur tubuh Mas Yudha nyatanya berpengaruh pada performa seksualnya. Ya, sejak pengLenaayaan itu, Mas Yudha rutin gagal meperbuat tugasnya sebagai suami. Tadinya kami pikir itu dampak shok yang dialami sebab pengLenaayaan, dan dokter yang menangLena Mas Yudha pun berpikiran seperti itu. Tapi telah hampir setahun berlalu, kondisi Mas Yudha tetap tidak berubah, malah bisa dibilang terus parah. Bahkan sekarang, Mas Yudha telah mulai enggan mencoba meperbuat tugasnya memberbagi keperluan biologis padaku.
“Aku takut kalian malah sedih sayang,” katanya dengan tatap sedih sebuahmalam.

Sebagai istri, meskipun tersiksa, aku mencoba untuk tetap setia dan bersi kukuh dengan kondisi itu. Meski terkadang muncul juga ketakutan kalau aku tidak bakalan punya anak hingga tua nanti. Lambat tapi pasti, akhirnya aku dan Mas Yudha bisa menepis semua ketakutan itu, dan mulai tenggelam dengan kesibukan kami masing-masing.

Untuk menghapus rasa sepi kami, aku dan Mas Yudha mempekerjakan empat orang pesuruh dirumah kami. Dua wLenata, Ijah berumur 22 tahun, dan Minah berumur 34 tahun, kupekerjakan sebagai pesuruh rumah tangga dan penjaga kios serba ada. Sedangkan dua lelaki, Maman berumur 40 tahun, dan Jaka berumur 19 tahun, kupekerjakan sebagai tukang kebun dan penjaga kios serba ada pula. Untuk mereka pula, kami membikin dua buah kamar lagi, dan suasana rumah tidak lagi sepi sejak mereka berempat turut tinggal di rumah kami sejak lima bulan lalu.

Malam itu entah apa yang ada dipikiran Mas Yudha. Yang pasti suamiku itu membawa belasan keping VCD porno dan mengajakku menikmati tontonan erotis itu bersama-sama. Waktu itu jam menunjuk angka 11.30 malam, dan kami berdua telah berbaring di ranjang kamar, sementara adegan porno dilayar TV telah mulai tayang.

Terkesan jelas bagaimana gadis Cina dalam VCD itu merintih dan mengerang ketika lidah lelaki cina pasangan mainnya menjilati bibir-bibir vaginanya, terkesan jelas juga bagaimana rintih kenikmatan keduanya ketika kelamin mereka bersatu dalam senggama. Tidak bisa kupungkiri, ajaran darahku cepat terpacu dan kehausanku bakal keperluan itu terus menjadi-jadi.
Mas Yudha tetap terdiam di sampingku, tetapi mendadak tangannya mulai merayap dan meraba tahap tubuh sensitifku.

“Sayang, mungkin aku nggak bisa memberimu kepuasan seperti itu. Tapi aku bakal berusaha membahagiakanmu,” katanya sambil mulai menciumi sekujur tubuhku.
Satu persatu pakaian kami terbuka hingga akhirnya kami sangatlah bugil.
Astaga, penis suamiku tetap saja layu meski adegan di TV telah membakar nafsu kami berdua. Sebagai istri aku berinisiatif mengulum dan menjilati penis Mas Yudha yang layu, tapi tidak juga ada perubahan hingga aku lelah sendiri.

Akhirnya Mas Yudha bangkit dan mengambil sesuatu dari balik lemari kami, penis karet dengan vibrator elektips. Alat itu baru dibelinya, sebab selagi ini aku rutin menolak memakai alat bantu seperti itu. Aku rutin berpikir apabila pakai alat itu sama saja aku meperbuatnya dengan orang lain, bukan dengan suamiku.
Tapi entahlah, malam itu aku sangatlah tidak kuasa menahan birahiku. Mungkin dampak tontonan porno yang kami nikmati bersama itu.
“Ohh Mass ngghhss,” aku mulai mendesis ketika Mas Yudha menyibak bibir vaginaku yang telah banjir dengan penis buatan itu.
Aku tidak lagi memperhatikan suamiku, dan mataku tertuju pada layar TV, sambil membayangkan akulah yang sedang disetubuhi pria di TV itu.
Vibrator penis karet yang telah sepenuhnya masuk keliang vaginaku dinasibkan Mas Yudha, getarannya mulai membikin menikmatan tersendiri di daerah klitorisku. Aku mengelinjang sambil merintih nikmat hingga akhirnya tiba pada puncak kenikmatan. Aku orgasme, orgasme semu oleh alat buatan pabrik. Malam itu aku bahagia, tetapi batinku menangis.
“Maafkan aku sayang,” hanya itu yang terucap dari bibir Mas Yudha.
“Nggak apa Mas, aku telah sangat puas kok,” balasku sambil mengecupnya.
Sejak menikmati getaran asyik dari vibrator penis karet malam itu, sepertinya ada yang berubah pada diriku. Aku menjadi sangat agresif dan rutin ingin meperbuat hubungan seksual dengan alat itu. Kadang kala, saat Mas Yudha sedang tidak dirumah, aku meperbuatnya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatanku. Aku tahu itu salah, tetapi aku tidak bisa menolak keinginanku yang rutin menggebu untuk terpenuhi, sementara aku juga ingin
tetap setia pada suamiku.
Siang itu pelanggan kios serba ada kami lumayan tidak sedikit yang datang. Maklum tanggal muda biasanya pelanggan kios yang rata-rata pegawai negeri membeli keperluan sehari-hari di kios kami. Aku dan Ijah sibuk melayLena pembeli, malah Minah yang sewajibnya bekerja didapur ikut menolong kami. Jarak kios dan rumah kami hanya berselat tembok, tembok itu pun ada pintu terutama yang menghubungkan kios dan rumah, jadi tidak susah mondar-mandir kios-rumah alias sebaliknya rumah-kios.
“Si Jaka kemana Jah? kok nggak kelihatan dari tadi?,” tanyaku pada Ijah sambil menghitung bayaran pelanggan.
“Nggak tahu tuh bu, tadi sih katanya mules, dirinya lagi mencret bu, sakit perut,” jawab Ijah.
“Sakit kok nggak bilang?, ya telah kalian jaga dulu kiosnya sama Minah ya, Bunda mau lihat Jaka,” seusai kios sepi, aku pun meninggalkan Ijah dan Minah untuk melihat Jaka.
Kamar pembantuku cocok di belakang kios, satu kamar Ijah dan Minah, satu lagi kamar Jaka dan Maman. Aku langsung menuju kamar Jaka, dan saat aku buka pintunya terkesan Jaka sedang terbaring dengan wajah pucat dan meringis-ringis sambil memegangi perutnya seperti menahan sakit.
“Kamu sakit Jaka?, ke Puskesmas saja ya mumpung tetap buka,” kataku terus masuk kedalam kamar pembantuku.
“Eh.. ibu.., nggak apa kok bu, cuma sakit perut biasa. Tadi juga telah minum obat diberi Ijah,” Jaka mengatakan sambil bangkit dan duduk diranjangnya.
Jaka merupakan pemuda sopan dari kampung yang sama dengan tiga pembantuku lainnya. Mereka kuambil dari kampungku juga, kebetulan keluarga kami telah saling mengetahui dikampung. Aku juga sebetulnya sama seperti mereka, orang kampung. Hanya saja aku agak beruntung kawin dengan Mas Yudha, anak orang kaya yang juga berprofesi matang.
Aku lalu duduk ditepi ranjang Jaka sambil mengusap dahinya.
“Mana yang sakit Jak?” tanyaku seraya mengusap perutnya.
“Telah baikan kok bu, cuma tetap lemas,” jawabnya.
Rasa peduliku pada Jaka mungkin sebuahkesalahan, soalnya begitu mengusap perut Jaka, aku justru menatap sebuahbagian di bawah perut Jaka. Sebuah benda yang tersembul dibalik celana karet komprangnya, astaga milik Jaka yang kusadari pasti tidak berpersoalan seperti milik suamiku. Aku jadi jengah dan luar biasa tanganku, lalu meninggalkan Jaka sendirian di kamarnya.
Malamnya, kurang lebih jam 09.00 seusai makan malam, aku kembali ke kamar para pesuruh untuk melihat kondisi Jaka. Terus terang aku sangat takut kalau pembantuku ada yang sakit, apalagi bagiku mereka telah seperti kerabat sendiri.
Tapi malam itu aku jadi kaget dan tersentak. Aku mendapati bukan Minah dan Ijah alias Jaka dan Maman yang sekamar. Tetapi Jaka sekamar dengan Ijah dan Maman dengan Minah. Rupanya, mereka keblinger dan melanggar aturan yang kutetapkan.
Hal itu aku tahu ketika dekat kamar Minah, aku mendengar suara rintih dan desah khas orang yang sedang bersetubuh. Ketika kuintip nyatanya Maman yang duda sedang menindih Minah yang janda. Aku lalu beralih menintip kamar Jaka lewat lubang jendela. Astaga, di kamar itu aku melihat Ijah telah setengah telanjang dan Jaka sedang mengulum buah dada Ijah. Aku hendak marah dan menghardik mereka, tetapi tidak tahu kenapa aku malah seperti terpaku dengan adegan yang kusaksikan itu.
“Iiihh gelii Jak.., nakal kalian ya,” ucapan genit Ijah terdengar jelas olehku saat Jaka mulai menjilati tahap perutnya.
“Geli dikit nggak apa kan, Kang Maman dan Bi Minah juga begitu kok caranya,” balas Jaka.
Keduanya pun mulai melepas pakaiannya hingga bugil. Sementara aku terus terpaku melihat adegan mereka dari balik lubang jendela. Jaka yang bertubuh kurus dan agak singkat rupanya mempunyai penis yang lumayan Ijah yang telah telanjang bulat berbaring diranjang dengan posisi kaki menjuntai kelantai, sedangkan Jaka mengambil posisi berdiri. Jaka kemudian membawa dua kaki Ijah jadi posisi Ijah mengangkang, lalu perlahan Jaka memasukan penisnya ke dalam vagina Ijah.
“Nghhss Jak.. ohh,” Ijah mulai mendesis dan mengerang ketika Jaka memompa tubuhnya.
Keduanya lalu tenggelam dalam nafsu birahi, sementara aku yang telah tidak kuat lagi segera berlari ke kamarku dan memuaskan diri dengan penis karet sialan itu.
Sampai akhirnya Mas Yudha pulang larut malam dan kembali memuaskanku dengan alat sialan itu lagi.
Sejak kejadian itu, aku terus tidak habis pikir dengan kelakuan para pembantuku itu.
Tapi lama-lama aku pikir wajar saja, sebab Maman terbukti duda dan Minah janda, lalu Jaka dan Ijah mungkin saja telah menjalin cinta sejak di kampung dulu.
Apalagi penglihatan terhadap mereka di rumahku tidak terlalu ketat. Tetapi tidak bisa kupungkiri juga, sejak melihat kejadian itu, aku terus merasakan haus untuk meperbuat seks. Apa boleh buat keinginan itu wajib kuredam dengan penis karet lagi, dan lagi.
Hari itu Mas Yudha pamit bakal liputan luar kota selagi tiga hari, dan tiga hari itu pula aku wajib kesepian di rumahku. Hari pertama berlangsung seperti biasa meski tanpa Mas Yudha. Tapi hari kedua sejak pagi aku merasa tidak lebih enak badan, jadi kios hanya dijaga para pembantuku.
“Bu.., kalau mau biar saya pijatin supaya enak badannya,” suara Ijah menawariku usai makan malam.
Malam itu sengaja kuajak empat pembantuku itu makan malam bersama di rumahku dan mereka juga leluasa nonton TV dirumah maapabilannya ini.
“Iya deh Jah, pijitin aku dikamar ya..,” ujarku sambil berlangsung menuju kamar.
Sementara Minah, Maman, dan Jaka tetap nonton TV diruang tengah. Hingga di kamarku, Ijah langsung memijiti seluruh badanku dari kaki hingga kepala. Pijitan Ijah terbukti enak hingga-sampai aku terlelap dan tidur.
Aku tidak tahu berapa lama aku sempat tertidur, tetapi saat bangun tubuhku rasanya telah segar kembali. Hanya saja, astaga, aku dalam kondisi terikat. Kedua tangan dan kakiku terbelit pada tiap aspek ranjang, dan mulutku tertutup erat plester lakban. Hanya mataku yang terbuka dan melihat kamar dalam kondisi terang, dan aku sendiri dalam kondisi bugil tanpa sehelai benang pun.
“Selamat malam nyonya sayang,” suara Maman tiba-tiba mengejutkanku.
Lelaki bertubuh gempal itu telah berdiri cocok di depanku di ranjang tahap kakiku. Matanya berbinar liar menatap kearah tubuhku yang terikat, terlentang, dan telanjang. Sialan, apa mau Maman ini, aku mau berteriak tapi mulutku tertutup lakban.
“Tenang saja nyonya, malam ini akulah yang bakal memuaskanmu. Tuankan sedang tidak ada,” Maman tetap berdiri di hadapanku sambil melepaskan pakaiannya sendiri.
Tubuh Maman tetap terkesan atletis di usia 40 tahun, dengan bidang dada dan otot perut kotak-kotak menandakan tenaga yang kuat, apalagi kulitnya yang agak hitam membikin kesan kuat jelas terkesan.
Maman saat ini tinggal pakai CD saja, dan perlahan bergerak kearahku yang terlentang diranjang. Aku tahu apa yang sebentar lagi bakal terjadi, Maman bakal menyetubuhiku, memperkosaku, tapi juga memberi kepuasan yang selam ini aku cari.
“Eemphh.. mmffhh,” aku berusaha bergerak bentrok ketika Maman mulai menyentuh tubuhku.
Tapi percuma, ikatan tali jemuran pada kaki dan tanganku sangat kuat, Maman akhirnya leluasa meraba-raba tubuhku.
“Tenang nyonya, sabar ya.., wah mulus sekali nyonya ini,” Maman terus meraba-raba dan mempermainkan jari kasarnya di sekujur tubuhku.
Aku hanya bisa pasrah ketika Maman mulai berLena menciumi puting susuku dan menghisap-isapnya. Kumis tebal dan mulut monyongnya seperti hendak melahaphabis susu ukuran 36B milikku. Aku pun tidak kuasa bentrok ketika jeri-jari kasar Maman menyentuh bibir-bibir vaginaku, dan kurasakan gelora birahiku mulaimenjalar ketika jari-jari itu mulai menelusup pada lubang bibir vaginaku dan memainkan, menekan-nekan klitorisku.
“Mmffhh..,” meski aku mulai menikmati sentuhan nakal Maman, tetapi aku wajib tunjukan kalau aku tidak suka diperperbuat begitu, setidaknya untuk mempertahankan martabatkusebagai maapabilannya.
Aku mulai bentrok lagi, tapi percuma. Saat ini Maman bukan hanya bermain jari,bibirnya mulai turun kearah perut dan terus keselangkanganku yang telah basah.Oh.., tidak, bibir Maman mulai menyentuh bibir vaginaku. Kumisnya yang tebal sengaja digesek pada klotorisku, membikin aku menggelinjang. Setiap gerakan perlawananku membikin Maman terus bernafsu menjilati vaginaku, dan faktor itu membikin kenikmatan yang tercipta terus tidak bisa kuelakan.
Akhirnya gerakan pinggulku terus seirama dengan jilatan kasan lidah dan kumis Maman.
“Gimana nyonya? Enak nggak?,” tanya Maman sambil menatapku.
Aku pasti saja melotot kepadanya. Tetapi Maman nampaknya telah mengerti ciri wLenata dilanda birahi, sebab meski mataku melotot marah, vaginaku yang telah basah tidak bisa menyembunyikan ciri nafsuku. Maman melanjutkan aktifitasnya menjilati vaginaku. Desakan-desakan bibir Maman pada tahap vital milikku membikin rasa nikmat tersendiri menjalar dan mengumpul pada tahap vagina, pinggul, pantat, hingga ujung kaki dan ujun rambutku. Mamang terus teratur menjilati klitorisku, hingga akhirnya aku tidak bisa membendung desakan dari dalam vaginaku.
“Mmmffhhpp..,” hari ini aku jebol, aku orgasme dengan perlakuan Maman itu.
Mamanmenghentikan jilatannya, dan menatap wajahku, ia tahu aku telah hingga puncak pertama. Maman berdiri lagi dan menanggalkan CD kusam miliknya. Kini
dihadapanku berdiri seorang lelaki dengan penis yang normal dan ereksi total, faktor yang telah setahun lebih tidak sempat kulihat. Penis milik pembantuku itu siap menghujLena vaginaku dengan kepuasan.
“Nyonya.., telah kepalang basah. Saya tahu nyonya juga bahagia kok, buktinya hingga keluar airnya. Jangan berteriak ya nyah,” ucap Maman sambil melepas plester lakban dari mulut.
Kiniplester telah terlepas dan mulutku leluasa bersuara, tapi aku tidak mengatakan-kataapalagi berteriak. Tubuhku lemas dan tiap jengkalnya merasa rindu sentuhan Maman seperti tadi.
“Ohh..,uhh.. adduuhh..,” hanya itu yang keluar dari mulutku ketika Maman kembali menjilati vaginaku.
Tangan Maman yang cekatan meremas-remas susuku, pinggulku, dan belahan pantatku diremas gemas. Terus terang saat itu aku telah tidak sabar menantikan hujaman penis Maman yang tegar ke vaginaku, aku rindu disetubuhi lelaki, bukan sekedar vibrator sialan itu.
Maman beralih posisi mengambil posisi berlutut cocok di selangkanganku. Dipegangnya penisnya dan diarahkan ke vaginaku yang telah sangatlah kuyup. Maman menggesek-gesekkan penisnya dipermukaan vaginaku, oh.., aku sangatlah tidak sabar menantikan senjata Maman itu.
“Uhh Man.. ampunhh.. aku nyerah.. mmffhh,” aku akhirnya mengucapkan itu dengan mata terpejam.
Kupikir mau menolak pun percuma sebab posisiku susah, lagipula aku ingin supaya dosa itu segera berlalu dan berakhir. Ucapanku membikin angin segar bagi Maman, sebelum menyetubuhiku penuh, Maman membuka ikatan tali di kaki dan tanganku.
“Ayo sayang, kini aku puaskan kalian cantik,” celoteh Maman sambil kembali menindih tubuh bebasku.
Dalam posisi itu Maman tetap terus memancing nafsuku yang telah sangat puncak, penisnya hanya digesek ujungnya saja pada vaginaku membikin aku yang mengejar dengan pinggul naik turun. Seusai tidak sanggup menahan nafsu yang sama, Maman akhirnya menghujamkan utuh penisnya kedalam vaginaku.
“Ouhhggff..ah Kang Maman..,” bibirku mulai menceracau saat Maman memompakan penisnya maju mundur dalam vaginaku.
Tangan dan kakiku yang telah lepas dari ikatan bukannya mendorong tubuh Maman menjauh dariku, tetapi justru memeluk dan meremas remas dada kekar Maman. Penis Maman terasa memenuhi liang senggamaku dan menciptakan rasa nikmat yang selagi ini tidak lagi kurasakan dari Mas Yudha.
“Ohh nyonya, uennaakk sekali vaginamu nyahh.. oh,” Maman menggenjot tubuhku dengan irama yang cepat dan tetap, dan aku mengimbangi gerakan Maman. Saat ini aku total melayLena keperluan seks Maman sekaligus meraih keperluan seksku.
Sampai menit kedua puluh permainan kami, aku merasakan seluruh sarafku mengumpul disatu titik antara bibir vagina dengan klitorisku. Lalu berbagai detik kemudian seluruh otot pada tahap itu terasa mengejang.
“Auuhhff..mmffhh, enghh.. ohh,” kurasakan kontraksi yang sangat sensasional pada vaginaku.
“Iyyaahh.. nyaahh.. ohh nyaahh,” Maman menggeram luar biasa dengan tubuh kejang diatas tubuhku, kurasakan semburan spermanya masuk hingga kedinding rahimku.
Maman rebah diatas tubuhku. Keringat kami bercampur baur dan kedutan-kedutan lembut kelamin kami tetap terasa sesekali, hingga akhirnya Maman rebah disisi kananku.
Ya Tuhan, aku telah menodai kepercayaan Mas Yudha. Aku menitikan air mata usai meraih kepuasanku dari Maman.
“Maafkan saya nyonya, saya khilaf waktu lihat nyonya tidur dan pintu tidak ditutup,” Maman membuka bicara.
Dari situ aku tahu, sehabis dipijat Ijah, aku tertidur dan Ijah tidak menutup pintu kamarku. Seusai larut saat Ijah, Minah dan Jaka tidur, Maman hendak menguncikan pintu rumah tetapi batal sebab melihat posisi tidurku dengan daster tersingkap. Maman jadi khilaf dan berniat memperkosaku.
“Kalau saya mau dipecat, saya hanya minta uang saku untuk pulang kampung nyah, saya nggak minta apa-apa lagi,” tutur Maman mengiba.
“Kamu nggak salah Man, aku yang salah aku juga khilaf. Ya telah kalian pindah kamar sana dan jangan bilang siapa-siapa ya, anggap saja tadi itu hadiah dariku buat kamu,” kataku sambil menyuruh Maman berangkat dari kamarku.
Hari ketiga saat Mas Yudha liputan luar kota, aku jadi termenung sendiri dalam kamar sejak pagi. Urusan kios aku percayakan sepenuhnya pada pembantuku, sementara aku hanya memikirkan kejadian malam kemarin dengan Maman. Kupikir aku diperkosa dan diinjak-injak harga diriku, tapi kupikir lagi aku pun menikmatinya, malah wajib berterima kasih pada Maman yang telah mengobati rinduku selagi ini untuk bersenggama dengan lelaki sebetulnya.
Sejak kejadian dengan Maman itu, aku seperti menemukan kenasiban baru. Apabila aku perlu kepuasan seperti itu aku bakal terbuktigil Maman melayLenaku. Pasti saja semua tanpa sepengetahuan Mas Yudha, suamiku tercinta.
Tiga bulan sejak kerap meperbuat hubungan gelap dengan Maman, tukang kebunku, aku merasa irama nasibku menjadi normal. Meski aku sadar telah menodai kepercayaan Mas Yudha suamiku, tapi aku juga kan wanita normal yang perlu kepuasan yang tidak mungkin kudapat dari Mas Yudha lagi.
Sore itu hujan turun di kota M, sementara aku, Ijah, dan Jaka tetap melayani pelanggan kios serba ada milikku. Mas Yudha belum pulang, biasanya pulang larut malam, Minah sibuk masak di dapur, dan Maman terakhir tadi kulihat membersihkan taman dibelakang rumahku.
“Aduh.. Jah, lanjutin dulu ya kerjaannya, saya mau lihat Minah di dapur. Tadi lupa bapak minta buatin telur asin,” aku mendadak ingat Mas Yudha memesan telur payau kesukaannya untuk makan malam.
Kutinggalkan Ijah dan Jaka melayani pelanggan kiosku, dan aku berlari kecil melewati pintu pembatas kios-rumah menuju dapurku.
“Minn.. Minaahh..,” hingga di dapur Minah yang kucari telah tidak ada, hanya ada sayur lodeh yang mendidih diatas kompor nyala.
“Astaga Minah kok ceroboh sih.., kemana lagi si Minah uhh,” segera kuangkat panci berisi lodeh, kompor kupadamkan dan selanjutnya mencari Minah.
Tadinya kupikir Minah lagi pipis alias buang air besar di WC belakang, jadi aku melangkah kesana. Tapi belum hingga ke WC pesuruh itu, aku dengar suara rintihan khas orang sedang bersenggama. Ups.., langkah kuhentikan di tepi letukan tembok, kusaksikan pemandangan yang membikin darahku berdesir.
Maman sedang asyik menggenjot pantatnya dengan penis besar yang tertancap di vagina Minah, Maman berdiri, sedangkan Minah nungging berpegang pada psupaya kayu di taman belakang rumahku. Mereka tampak buru-buru dan tidak telanjang, daster Minah diangkat naik dan CDnya diturunkan sebatas lutut, dan celana Maman merosot sebatas lutut pula, tapi baju mereka tetap terpasang. Meski hujan lumayan deras mereka tidak basah sebab di taman belakang rumahku Mas Yudha sengaja membikin tempat duduk teduh untuk menghabiskan apabila ada waktu santai kami.
“Ohh Kaang.. enak.. aahhsst,” Minah menjerit tertahan, orgasme hingga pinggulnya bergetar hebat.
“Ouhh iyaahh Minnhh.. ssiip,” tubuh Maman pun mengejang menyusul orgasme Minah, pasti sperma Maman tidak sedikit menyiram vagina Minah, pikirku.
Sialan, rupanya mereka curi peluang sebab hujan deras. Ehm, mungkin enak juga ya bersenggama saat hujan deras. Sebelum mereka merapikan pakaiannya, aku langsung kembali ke dapur dan duduk di kursi dapur.
“Ehh, Bunda kok disini?, ehh anu Bu.., saya habis pipis.., tapi sayurnya nggak hangus kan Bu?,” Minah gugup melihatku ada di dapur.
“Iya.. iya, tapi lain kali jangan ceroboh dong, untung saya ke dapur. Kalau nggak kan bisa kebakaran rumah ini,” kataku pada Minah, Minah manggut-manggut.
Malamnya, hujan tetap lebat. Tiba tiba telepon berdering.
“Halo sayang, maaf ya.. aku nggak bisa pulang. Nginep di kantor ada kerjaan tambahan yang wajib kelar malam ini,” begitu inti bicara Mas Yudha saat telepon kuangkat.
Aneh, wajibnya sebagai istri aku sedih suami nggak pulang. Tapi kok aku malah bahagia ya? Malah pikiranku ingin segera menemui Maman dan melampiaskan kerinduanku pada penisnya yang hitam besar itu.
Jam 10 malam, aku sengaja mengenakan daster tipis tanpa CD dan bra, menikmati agenda hiburan TV di ruang tengah rumahku, sejuk segar rasanya. Hujan tetap lebat.
“Permisi Bu, mau ikutan nonton,” suara Jaka membikinku sedikit terkejut.
“Eh.. kalian Jak, si Ijah mana?,” aku duduk diatas sofa, Jaka ambil duduk di lantai semeter di depanku.
“Anu Bu, telah tidur, kecapean mungkin. Semua telah tidur, saya aja belum ngantuk Bu”
“Wah.., padahal saya mau dipijitin, cape juga nih, pegel,” aku memijit-mijit sendiri kakiku, tubuhku merunduk.
Jaka memperhatikanku tidak berkedip, dasterku terkuak dalam posisi itu, buah dadaku pasti terkesan Jaka.
“Kamu bisa mijitin Jak?,” pertanyaanku membikin Jaka kaget, tapi tetap menatapku.
“Ah Ibu, saya nggak berani Bu, kelak dikira usil,” Jaka malu, pemuda itu terbukti rutin pemalu, tapi aku tahu selagi ini dirinya tidak jarang curi pandang menikmati indah tubuhku.
“Kok gitu? kalau bisa tolong saya dipijitin ya Jak. Disini aja disofa biar kalian nggak dibilang usil,” aku rebah dengan posisi menelungkup. Jaka
ragu-ragu tapi kemudian mendekatiku. Sofa ruang tengah agak lebar ukurannya, jadi Jaka kusuruh duduk di tepi sofa dan memijitku.
“Permisi loh Bu,” Jaka mulai memijiti betisku, tangannya dingin membikin pijitannya terasa asyik di betisku.
“Hmmh, enak juga tanganmu ya Jak, belajar mijit dimana sih,”
“Nggakkok Bu, cuma biasa mijitin Kang Maman aja kalau dirinya cape,”
“Agak naik dong Jak, pahanya agak pegel,” perintahku disambut Jaka semangat.
Paha dan betisku dipijit naik turun, kanan kiri. Hujan terus lebat diluar, pijitan Jaka mulai asyik kurasakan. Kadang tangannya terasa mengelus dan membelai betis dan pahaku, bukan lagi memijit. Tapi kubiarkan saja aksinya itu, kunikmati saja tangan nakalnya itu.
“Badannya mau dipijit juga Bu?,”
“Iya dong Jak, kini punggungku pijitin gih,” Jaka memijit punggungku tetap terkendala daster, tapi Jaka tahu, aku tidak pakai bra sebab tali bra tidak ada di punggungku.
“Sebentar Jak, biar gampang kalian mijit,” aku bangun dan menurunkan dasterku sebatas dada, menutupi susuku saja, lalu rebah lagi tengkurap. Saat ini tangan Jaka memijit punggungku dan menyentuh langsung kulit mulusku, kadang tangannya mengambil peluang ke segi tubuh menyentuh samping pangkal susuku.
“Ohh di situ Jak, pegel tuh, ouhh asshh.. enak Jak,” suaraku sengaja mendesis, nampaknya Jaka telah dibuai nafsu. Pijitannya telah berubah elusan dan remasan dipunggungku, saat ini malah turun ke pinggang, menyentuh pantatku, aku yakin Jaka pun tahu aku tidak pakai CD.
“Jak?,”
“Ehh.. saya Bu,” suara Jaka agak serak menahan nafsunya.
“Pijitin terus hingga saya tidur ya. Kalau saya ketiduran kelak kalian kunci pintu belakang kalau telah nonton TV ya, biar saya tidur disini,” aku sengaja bicara sambil terpejam, Jaka mengiraku telah ngantuk benar.
Berbagai menit seusai itu aku sengaja tidak bersuara lagi dengan mata terpejam seperti tidur. Jaka tetap mijitin aku, tapi kini sepenuhnya hanya meremas dan meraba-raba tubuhku. Sekejap aku balikkan badan dan tetap pura-pura tertidur, posisiku jadi menghadap atas, daster tahap depanku turun hingga separuh susuku nampak jelas. Jaka kaget, kulihat dari sela mata pejamku, ia berhenti mijit tapi tetap duduk di segi sofa dan memandangi tubuhku. Aku tahu Jaka tersangsang dengan posisi tubuhku yang menantang.
Sebentar saja Jaka mematung, seusai itu kurasakan tangannya mengelus-elus pangkal susuku yang tersibak. Pelan-pelan sekali, dirinya takut aku bangun tuh. Seusai yakin aku tidur Jaka lebih berani menyibak dasterku lebih terbuka hingga susuku leluasa tidak terkendala.
“Ohh.. cantik sekali kalian Bu..,” Jaka berbisik sendiri sambil mengelus-elus susuku.
“Ahhss Mas Yud..,” aku pura-pura ngigau.
“Iya sayang.. ini Mas Yudha,” Jaka konyol menjawab ngigauku, pasti ia mulai berpikir ini peluang emas.
Benar saja dugaanku, seusai igauan itu didengar, Jaka tidak ragu lagi melancarkan serangannya. Tangannya yang kasar mulai meremas-remas susuku, bibirnya juga ikut terjun mencium dan menjilati puting susuku.
“Ouuhh Mass.., ngghh.. gelii Mas aahhff..,” tetap pura pura tidur aku merangkul tubuh kurus Jaka, ia terus semangat menciumi susuku. Saat ini tangan Jaka telah merayap ke bawah, pahaku diusap-usapnya.
Vaginaku mulai membasah, sentuhan jemari Jaka telah berani nakal membelai-belai bibir vaginaku. Udara dingin dan suara hujan membikin nafsuku melambung, Jaka pun kian girang menikmati tubuh mulus maapabilannya ini. Tiba-tiba Jaka menghentikan aktifitasnya, kulirik dari sela mataku, Jaka mempreteli pakaiannya sendiri hingga bugil. Wah meski bertubuh singkat dan kurus, tapi penis Jaka lumayan juga, lebih panjang dari punya Maman meski pun lebih langsing.
Aku tetap pura-pura tidur, Jaka membawa dasterku dan leluasa melototi vaginaku yang terbukti tidak ber CD. Dielus lagi vaginaku dengan jemarinya, sambil dirinya naikn ke sofa tempatku berbaring.
“Duhhss, Mass.. Yud, cepeetaan dong.. Lenaaaa nggak tahaan.. aahhmmpp,” belum berakhir ceracauku, Jaka telah menyumpal bibirku dengan mulutnya.
Disedotnya seluruh bibirku dengan nafsu, dan penisnya yang tegang mulai hanyut dalam vaginaku. Bleess.. jleepp.., Jaka mulai menggoyangku dengan sangat nafsunya.
“Eiihh.. huuss.. eenaakk sekallii Lena memekmu enaak..,” Jaka terus menggenjotku.
“Aahh.. ohh..,” aku mulai merasa nikmat yang sama menjalari tubuhku, pinggulku kubuat seirama kocokan penis Jaka.
Tapi rupanya gerakanku itu salah, sebab membikin nafsu Jaka tidak terkendali. Baru lima menit gerakan pinggul kuperbuat, tubuh Jaka telah mengejang kaku diatas tubuhku.
“Ahh.. uueennaakk.. sayaang,” crot.. crot.. Jaka orgasme sebab nafsu yang sangat tinggi dampak goyangan dan suara erotisku. Terang saja aku sedih, aku belum lagi apa-apa, lantas aku bangkit dan membuka mata melotot.
“Jaka.., apa-apaan kalian ini hah..,” sergahku pura-pura marah.
Belum sempat aku lanjutkan kata-kataku, Jaka mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya di lantai.
“Jangan berteriak Bu,” pisau tajam itu ditodongkan ke arahku, aku takut.
“Sekarang diam, dan Bunda wajib nungging.. ayo nungging. Disini Bu ceppaat,” teriak Jaka sambil menunjuk segi sofa.
Hujan tetap lebat, aku terpaksa nungging dengan dua tangan menekan pinggir Sofa, Jaka berdiri cocok dibelakangku.
“Nah.., bakal kubuat Bunda lebih enak dari yang tadi. Anggap saja aku suamimu Bu,” Jaka membelai-belai bokongku, lalu jongkok cocok di belahan bokongku.
Tangannya menyibak bongkahan bokongku jadi vaginaku jelas terkesan olehnya, seusai itu, astaga, Jaka mulai menjilati vaginaku.
“Ahh.. sstt Jakk.. aouhh gelii Jak,” aku tidak bisa lagi berpura-pura, jilatan Jaka dalam posisiku nungging begitu terasa nikmat sekali.
Mendengar desahku Jaka makin berani, saat ini pisau ditangannya telah dilepas dan ia kembali menjilati vitalku itu. Lumayan lama Jaka menciumi dan menjilati vaginaku, hingga kurasa sesuatu mulai mengumpul di paha, pantat dan bibir vaginaku itu. Aku hampir orgasme ketika Jaka menghentikan jilatannya. Tadinya aku mau marah lagi sebab orgasmeku batal, tapi seusai jilatan itu lepas, nyatanya penis Jaka telah kembali tegang dan langsung menusuk ke liang nikmatku.
“Ahh, enaak ya Buu,” Jaka menggenjot tubuhku dari belakang, maju mundur.
Aku terbuai, posisiku hampir kalah, kedutan kecil mulai tercipta di dinding vaginaku. Jaka mempercepat goyangnya, hingga sepuluh menit kemudian aku terus merasa mau jebol. Posisi nunggingku telah utuh, tangan tidak lagi menyangga tubuh. Saat ini aku seperti tiarap di Sofa dengan kaki berlutut di lantai, Jaka ikut jongkok, aku mirip betina yang sedang di setubuhi jantannya.
“Ouughh.. Jakk.., akuu.. ammpuun..,” pertahananku jebol, kurasakan semua sendiku ngilu, dan kedutan di dinding vaginaku menjepit-jepit penis Jaka yang tetap aktif.
Tapi tidak lama berselang, Jaka pun hingga puncaknya, dan tegang kaku di atas punggungku.
“Ahh Nyah.. ohh,” Jaka tetap menidihku, dan posisi kami tetap seperti pasangan jantan dan betina yang sedang senggama.
Kurasakan kedutan kelamin kami berpadu hingga akhirnya hilang perlahan, aku ngantuk dan terpejam, aku tertidur pulas dibuai kenikmatan dari penis pembantuku. Paginya aku tersadar saat Minah menggoyang-goyang bahuku.
“Nyah bangun Nyah.., kok Nyonya telanjang di luar begini sih?,” suara Minah bercampur heran melihatku dalam kondisi bugil tertidur di sofa tengah.
“Ehh Min, oh.. aku ketiduran semalam nih,” aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku sambil pakai daster kembali, Jaka telah tidak ada entah di mana dia.
Siangnya aku baru tahu dari Ijah kalau Jaka kabur. Dirinya cuma bilang ke Ijah kalau dirinya punya persoalan sama preman di pasar tempat aku membeli barang dagangan untuk kios milikku. Aku tahu Jaka takut kejadian malam tadi hingga terdengar Mas Yudha, ia pikir ia telah memperkosaku. Kasihan juga Jaka, sewajibnya aku jujur kalau aku pun ingin begituan, lagipula aku juga yang memancing birahinya.
Tapi begitulah, aku juga gengsi sebagai maapabilan relah disetubuhi pembantu. Belum lagi berakhir memikirkan Jaka yang kabur, sorenya Maman dan Minah menemuiku. Mas Yudha pulang cepat sore itu, dan mereka berdua, Maman dan Minah berkata dengan kami di ruang tamu.
“Anu Pak Yudha, kami salah pak.., anu pak,” Maman gagap.
“Ada apa Pak Maman bicara saja,” dorong Mas Yudha.
Tadinya aku yang gugup jangan-jangan Maman mau bongkar rahasia seks kami selagi ini, tapi seusai itu aku lega.
“Kami mau pulang kampung pak, si Minah hamil, kami wajib nikah,” kesaksian Maman membikinku agak terkejut sekaligus sedih, apalagi Jaka telah berangkat juga.
Terbayang olehku hari-hari yang bakalan sepi di saat gairah seksku sedang tinggi-tingginya akhir-akhir ini.
Singkatnya sore itu Mas Yudha mengijinkan mereka pulang kampung sekaligus bayar pesangon kerja mereka. Sejak saat itu di rumah hanya ada aku, Ijah dan Mas Yudha yang rutin pulang larut malam. Meski dua pesuruh lelaki itu telah tiada tapi kenangan bersama mereka rutin kukenang, terutama saat aku birahi sendiri dalam sepi, bersama penis Mas Yudha yang tidak bisa berdiri lagi.
Sejak kepergian Jaka, Maman dan Minah, tiga pembantuku, aku jadi kesepian dan hanya Ijah satu-satunya kawan setiaku dirumah. Tapi kulalui saja kenasiban itu dengan sibukan diri mengurus kios kami, pasti saja dibantu Ijah.
Siang itu tidak seperti biasanya Mas Yudha pulang ke rumah, tapi ia tidak sendiri. Bersama Mas Yudha turun dari mobil seorang lelaki bertampang bule.
“Lena.., kenalkan ini Ray, kawan kameraman TV Australia,” kata Mas Yudha menunjuk lelaki di sampingnya, kami pun bersalaman.
Seusai kubuatkan minuman dingin dan duduk bertiga diruang tamu, Mas Yudha mulai menceritakan siapa Ray. Ray merupakan pria asal Australia berumur 28 tahun yang telah tiga tahun ini tinggal di Jakarta. Ray bekerja di sebuah stasiun TV Australia sebagai kameramen untuk reporter yang ada di Jakarta. Kebetulan Ray telah seminggu ini ada di kota M untuk meliput sebuah event internasional yang diselenggarakan di kota M.
“Ray bakal menginap disini kemarin hari, pingin lihat-lihat kota M, kasihan kalau wajib nginap di hotel. Toh aku juga sempat liputan bareng dirinya di Jakarta,” Mas Yudha membahas.
Singkatnya untuk kemarin hari Ray menginap di rumah kami di Kota M. Sore itu, hari ketiga Ray menginap di rumah kami. Ijah tetap sibuk ngurus pelanggan kios, sedangkan Mas Yudha baru saja berangkat ke redaksinya. Ray bertubuh sangat atletis, tingginya mencapai 187 cm dengan postur yang ideal.
Apalagi wajahnya yang mirip Antonio Banderas itu pasti membikin semua wanita tergila-gila padanya. Ray berolahraga ringan di taman belakang rumahku. Memakai kaos ketat dan celana singkat ketat pula, lekuk tubuh atletis Ray makin mempesona dihiasi titik titik keringat yang membasahi.
“Istirahat dulu Ray.., ini kubuatkan es limon untukmu,” aku meletakkan segelas es limon dimeja dan mengambil duduk di kursi taman. Ray menatapku dan tersenyum, lalu menghampiriku duduk bersama.
“Kamu baik sekali Lena.., pasti Yudha bahagia punya istri sepertimu,” Ray memujiku tulus.
“Makasih Ray, kalian ini ada saja,”
“Aku juga punya istri, dan rindu juga sebab dirinya di Australia,” Ray bercerita.
Rupanya selagi tiga tahun di Jakarta, Ray hanya sesekali pulang ke Australia, alias istrinya yang ke Jakarta.
“Kamu bisa tahan ya Ray,” aku keceplosan menanyakan itu, kesalahanku terbukti.
“Tahan apa Lena?,”
“Eh.. Maksudku tahan nggak ketemu istri,” aku tertunduk malu.
“Kalau maksudmu itu aku sih tahan, tapi kalau persoalan seks.. Aku menghabiskan waktu olahraga saja,” katanya.
Kami pun terlibat dialog seputar rumah tangga kami. Entah kenapa akhirnya kisahku bersama Mas Yudha kuceritakan pula, bagaimana kecelakaan itu, bagaimana Mas Yudha telah tidak sanggup menjalani tugasnya sebagai suami, dan bagaimana hingga saat ini kami tidak kunjung punya anak.
Malam mulai merayap, kami telah berakhir makan malam tapi Mas Yudha belum juga pulang. Hingga akhirnya jam 9 malam Mas Yudha mengirim SMS yang intinya ia nggak bisa pulang sebab ada kabar yang wajib dikejar dan ditunggu hingga malam. Ray telah masuk ke kamar tidur yang kami siapkan untuknya, sedangkan aku telah berbaring di kamar tidurku, dan siap untuk tidur.
Malam itu akhirnya Mas Yudha pulang juga, dan langsung berbaring disampingku. Seperti biasa kalau mau melampiaskan nafsunya, Mas Yudha mulai menciumiku. Aku membiarkan saja ketika suamiku melepaskan CD yang kupakai, Bra yang kukenakan pun ditanggalkan menyisakan daster merah muda yang tetap melekat ditubuhku.
“Ahhmm.. Mas,” aku bersuara manja tetap terpejam.
Mas Yudha terus aktif menciumiku. Dasterku dibuka tahap atas dan susuku mulai diisap-isap putingnya, sementara tangannya mulai aktif menjelajahi tahap bawahku.
Sentuhan dan isapan Mas Yudha sangatlah lain malam ini, membikin birahiku seketika melonjak naik. Apalagi ketika bibirnya mulai turun dan menciumi tahap vitalku, aku hingga basah kuyup dibangun kenikmatan. Tiba-tiba Mas Yudha merubah posisiku, dibuatnya aku menghadap kekanan dengan posisi membelakangi tubuhnya. Ia kemudian menjilati sekujur punggungku seusai luar biasa turun daster yang kupakai. Tangannya kemudian menyibak daster bawahku jadi dasterku terkumpul diperut. Dari belakang, kurasakan tangan Mas Yudha menyerang vaginaku, bibir mungil bawahku dibelai dengan jari-jarinya, kadang jari tengah disisip dan digesekkan cocok dibelahan vaginaku.
“Ouhh..,” aku merintih kenikmatan saat jari tengah Mas Yudha mulai mengocok vaginaku dari belakang. Sepuluh menit kocokan jari itu kurasakan, aku telah melayang dan nyaris hingga puncak. Tapi mendadak jari itu berhenti dan dicabut dari liang senggamaku yang telah monyong-monyong kenikmatan.
“Kok berhenti mas..,” aku tetap terpejam dan membelakangi Mas Yudha Mas Yudha diam dan kembali mencumbuiku, tapi tetap tidak bersuara.
Masih dengan tubuh mebelakangi Mas Yudha, aku mencoba meraih tahap celana suamiku. Tapi, astaga, punya Mas Yudha nyatanya bangun malam ini, tegak dan terasa keras.
Sebab bimbang campur penasaran, kupicingkan mata dan segera berbalik kebelakang.
“Haahh, Raaayyyyy.., apa-apaan ini?” aku sangat terkejut sebab nyatanya yang sedang mencumbuiku nyatanya Ray, bukan Mas Yudha. Ray juga terkejut, mungkin tidak mengira kalau aku bakal bangun. Tiba-tiba tangan kekar Ray membekap mulutku dan ia pun segera menindih tubuhku.
“Ayo Lenaa, please.. Tolong aku, ini telah tanggung.., jangan melawan kalau tidak mau kukasari,” Ray sedikit mengancamku.
Keadaan terbukti telah tanggung, aku dan Ray telah sama bernafsunya. Tapi aku wajib melawan, aku tidak boleh begitu saja pasrah, aku gengsi dan malu dong. Tetapi aku tidak berkutik ditindih berat tubuh Ray.
“Jangan Ray.., aku takut Yudha tahu,” pintaku, meski sebetulnya aku pun ingin menikmati cumbuan itu lagi.
“Hsstt.., Lena.. Tolong aku. Oke aku tidak bakal masukan penisku ke vaginamu, tapi tolong bantu aku hingga aku puas ya..,” Ray merengek.
Ray aktif lagi mencumbuiku. Telah kepalang tanggung pikirku, jadi akupun pasrah terbawa cumbuan Ray. Dengan posisi menindihku, Ray membuka celananya dan menempelkan penis panjangnya yang telah tegap di vaginaku. Menepati janjinya, penis itu tidak dimasukan dalam liang vaginaku, tetapi hanya digesekkan saja dipermukaan vaginaku. Lima menit berlalu rupanya pertahananku hampir bobol. Meski tidak masuk keliang nikmatku, tetapi gesekan penis Ray ditambah bobot tubuhnya diatas tubuhku membikin vaginaku menerima rangsangan yang lumayan pada tahap klitorisnya.
“Emmhh.. Rayyyy..,” akhirnya erangan nikmatku keluar juga.
Saat itu kurasakan klitorisku mulai membesar dan denyutan kecil mulai terasa mengitarinya, aku hampir orgasme.
“Lena..,” Ray terbuktigilku dan menghentikan aktifitasnya. Seusai itu kurasa Ray memindahkan posisi penisnya jadi ujung penisnya cocok berada dibelahan bibir vaginaku yang telah basah kuyup.
Ray saat ini lebih berani, penis itu ditekan masuk ke vaginaku yang terbukti telah resah menantikan. Akhirnya aku dan Ray bersenggama, ya Ray jadi pejantanku malam itu. Kuakui mungkin Ray merupakan pria pertama yang memberi kepuasan begitu dasyat padaku. Sore hingga malam itu, kami perbuat aktifitas seks hingga empat kali. Empat kali itu pula aku merasa puncak yang sangat fantastis.
Tetapi kenangan bersama Ray tinggal kenangan saat esok paginya Ray wajib kembali ke Jakarta. Aku Lena, kembali kesepian. Terima kasih Ray, untuk kenangan satu malam yang sangat berkesan.
Seminggu ini rumahku tidak jarang bisa telepon gelap yang intinya mengancam Mas Yudha suamiku, lantaran kabar yang dibangun Mas Yudha memojokan salah satu kepentingan pejabat di kota M. Malah akhir-akhir yang ikut mengancam mengaku-ngaku dari aparat keamanan juga.
“Mas.., kami pindah rumah sementara yuk. Aku kok jadi takut diteror terus,” pintaku pada Mas Yudha malam itu. Kami telah berbaring di kamar sebab terbukti jam telah menunjuk angka 10 malam.
“Heemm, kenapa sayang? Aku janji nggak bakal ada apa-apa,” Mas Yudha menjawab sambil memeluk tubuhku.
Mas Yudha kemudian membahas padaku mengenai kabar yang dibuatnya itu. Katanya persoalan dengan pejabat itu telah berakhir dua hari lalu, damai. Tapi aku tetap saja trauma dengan kejadian pertama yang berdampak fatal hingga penganiayaan yang membikin penis Mas Yudha mati total itu.
“Tapi Mas..,”
“Telah sayang.., kalian nggak usah takut. Itu resiko kerja namanya,” katanya lagi.
Pembicaraan kami akhirnya berhenti, dan kami berdua terlelap tidur. Seharian tadi terbukti aku sangat capek mengurus kios hanya dibantu Ijah, dan Mas Yudha pun kelihatan letih seharian bekerja.
“Sayang.., bangun sayang..,” suara Mas Yudha membangunkan aku tengah malam.
“Tuh dengar.. Sepertinya ada yang masuk ke rumah,” kata Mas Yudha saat aku membuka mataku. Benar saja, di ruang tamu rumah kami terdengar tidak sedikit langkah kaki dan suara berisik. Mas Yudha segera bangkit dan membuka pintu kamar.
Braakk!! pintu kamar terbuka sebelum dibuka Mas Yudha, daun pintu yang terdorong kencang malah membentur wajah Mas Yudha hingga ia terpental ke lantai.
“Jangan berteriak..!!,” empat lelaki bersenjata api dan senjata tajam mendesak masuk ke kamar tidur kami sambil mengancam dan menodongkan senjata mereka. Aku sungguh takut malam itu, apalagi kulihat Mas Yudha pingsan dampak benturan pintu.
“Ha.. Ha.. Ha, kini kalian bakal rasakan pembalasan bos kami ya..! Hei kalian pelacur, ayo kesini,” lelaki yang bertubuh terbesar terbuktigilku kasar dan luar biasa tubuhku turun dari kasur.
“Sssiapa kalian.., apa salah kami?” aku mengiba.
Muka mereka tertutup stoking mirip perampok, kupikir kami terbukti sedang dirampok.
Tapi seusai mereka membahas bahwa kedatangannya merupakan untuk menghajar Mas Yudha sebab kabar pejabat itu, aku baru sadar, kami sedang dalam bahaya. Astaga, mereka juga rupanya telah meringkus Ijah, dan dibawa dan kekamar kami.
“Nyaahh, toloong Nyah..” Ijah dipegang erat dua lelaki lainnya, sementara yang dua mulai mengikat tubuh Mas Yudha ke sebuah kursi di kamar. Singkatnya malam itu kami bertiga diikat kaki dan tangan, tapi aku dan Ijah dibiarkan terbelit di kasur sedangkan Mas Yudha diikat dalam posisi duduk menghadap kami di kursi.
“Hai kopral.. Ambil air, biar nih wartawan sok jago sadar,” kata lelaki yang terbesar terhadap yang lain.
“Oke komandan, segera laksanakan,” dua lelaki langsung mengambil air, begitu kembali seember air langsung diguyur ke Mas Yudha.
“Hhhaahh.. Siapa kalian bangsaat..,” Mas Yudha menghardik mereka ketika sadar.
Tapi posisi yang terbelit membikin Mas Yudha tidak bisa berbuat tidak sedikit, apalagi seusai itu mulut Mas Yudha ditutup lakban. Mereka juga menutup mulutku dan Ijah dengan lakban pula.
“Heii arogan, kalian pikir bos kami begitu saja memaafkanmu dengan damai dua hari lalu? Tadinya kami ditugaskan gorok lehermu. Tapi.. (Lelaki itu memandang aku dan Ijah) Tidak. Kami bakal lebih kejam dari itu.. Lihat saja bagaimana sebentar lagi kontol-kontol kami mengoyak-koyak pesuruh dan istrimu yang cantik dan mulus itu,” tangannya menuju arahku dan Ijah.
Seusai mengatakan bakal memperkosa aku dan Ijah, keempat orang itu lalu saling bagi. Yang terbesar dan satu lagi yang agak tambun meraihku dan mengikatku kembali dalam posisi terlentang. Tangan dan kakiku diikat diujung-ujung ranjang. Sedangkan dua lelaki lain, yang jangkung dan yang botak meraih Ijah dan mengikatnya seperti posisiku dilantai kamar.
“Hmmpp..,” Mas Yudha hanya bisa bersuara tersumbat dengan mata melotot ketika keempat lelaki itu membugili aku dan Ijah. Mata keempat lelaki itu memandangi tubuh polos kami berdua.
Aku sangat takut malam itu, sungguh aku takut. Kupikir aku dan Ijah bakal jadi korban perkosaan brutal, terus terang aku jijik sekali melihat tampang mereka malam itu. Tapi dugaanku meleset. Si jangkung mendekat ke arah Ijah, sedangkan tiga lelaki lainnya duduk melihat dikursi dekat Mas Yudha berada.
“Tenang sayang.. Kalian pasti asyiik kubuat,” jangkung mulai meraba-raba Ijah. Aku bisa melihat semuanya sebab posisi Ijah tidak terlalu jauh dari dipan tempat aku diikat.
Bibir si jangkung langsung mengisap isap susu Ijah.
“Ehgghh.. Mmmppffhh,” ijah bersuara keras tersumbat, tapi nadanya protes.
Jangkung terus beraksi, malah hisapan dan rabaannya mulai turun dan akhirnya bermuara di vagina Ijah yang jelas terkesan sebab diikat mengangkang. Awalnya Ijah terus mengeluarkan suara keras bernada protes. Tapi berbagai menit kemudian Ijah sepi, yang ada justru Ijah mendesis-desis menahan birahi.
“Mmmpphhff.. Eengghh..,” tubuh ijah mengelinjang menahan geli saat lidah jangkung menyapu klitorisnya.
“Ha.. Ha.. Kenapa sayang.. Hah? Mulai enak ya,” jangkung mengejek Ijah sambil melucuti pakaiannya sendiri hingga bugil juga.
Kini jangkung siap menyetubuhi pesuruh kami itu. Penisnya yang lumayan besar telah diletakkan persis dipintu masuk vagina Ijah. Ijah telah birahi dengan mata sayu memandang jangkung, nafasnya pun terkesan memburu dari dadanya yang turun naik.
Bleess.. Pleess.. Jlebb.. penis jangkung hanyut total di vagina Ijah.
“Ngghh..,” Ijah menggelinjang menerima penis jangkung.
“Ouhh eennakk sekali tempikmu sayang,” jangkung nyerocos sambil menggenjot Ijah.
Tiga lelaki dikursi nyatanya telah mengeluarkan penis mereka dari balik celana sambil mengocoknya dengan tangan sendiri. Sementara Mas Yudha kulihat pun terpana dengan adegan jangkung dan Ijah.
“Aaahh.. Ommhh ammpuhhnn omhh.. Engghh,” Ijah mendadak mengeluarkan desis kenikmatan waktu jangkung membetot lakban di mulutnya.
“Ha.. Ha tuh kan akhirnya ennaak, makanya jangan ngelawan yah..,” jangkung bangga terus nggenjot Ijah. Saat itu terus terang aku mulai membayangkan alangkah sebentar lagi aku pun bakal merasakan kenikmatan seperti Ijah, dientot lelaki asing.
“Iyaahh Oom terusinn.., aku telah lama nggakk ginian,” Ijah menceracau.
“Ohh sayanghh, omhh nggak tahaann aahhggkk,” si jangkung rupanya over nafsu. Ijah belum apa-apa jangkung telah kejang diatas tubuh ijah.
“Wah.. Payah lo kopral,” si botak menghardik.
“Ayo sana biar Om botak yang berakhirkan sayang,” botak mendekat tubuh Ijah yang pasrah, jangkung lunglai disamping Ijah.
“Ohh.. Omhh botak.. Cepethhaann puasiinn Ijahh..,” Ijah rupanya telah dilanda birahi yang sangat.
Matanya merem melek dan pinggulnya bergoyang erotis meminta penis si botak segera masuk. Botak segera menindih tubuh Ijah seusai ia melucuti pakaiannya sendiri. Penisnya yang gemuk singkat mendesak masuk ke vagina Ijah yang telah becek kena sperma jangkung.
“Duhh omhh.. Ennakhh Ijhaah omhhpff..,” bibir Ijah langsung dikulum sambil tubuh botak menggenjotnya kuat. Mereka bermain imbang, desahan dan gerakan tubuh mereka mulai mempengaruhi dua lelaki lain dan Mas Yudha yang terus melotot ke arah Ijah dan botak.
“Mpfhh.. Huhh sayanghh.. Enak sekali vaginamu sayanghh..,”
“Iyaahh omhh.., Ijaahh keluuaarrhh.. Ouhhgg omnhh nnaakkhh omhh..,” tubuh Ijah kaku dengan tangan memeluk keras tubuh botak.
“Ahhggkk.. Ayoo saynggh.. Omhh jugaa nihh,” Botak pun orgasme. Botak berbaring diatas tubuh Ijah tanpa mencabut penisnya, Ijah malah bahagia dan memeluk botak sambil menciumi pipinya.
Lelaki berbadan gemuk bangkit dari kursi dan melucuti pakaiannya. Penisnya yang tegang mengacung acung, dan ia bergerak ke arahku.
“Hei brengsek.. Lihat ya sebentar lagi istrimu ini bakal merengek juga seperti pembantumu itu.. Ha.. Ha,” ia menghardik Mas Yudha. Mas Yudha terkesan pasrah, sementara aku sendiri bimbang wajib bagaimana dalam posisi terikat, terlentang, dan telanjang seperti itu.
Tanpa dikomando si gemuk langsung saja menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku. Aku berusaha bentrok tapi percuma, aku terikat. Kutatap Mas Yudha meneteskan airmata saat itu. Aku mau marah pada si gemuk, tapi posisiku susah. Apalagi terus terang aku pun mulai dijalari birahiku. Kenyataan wajib terjadi, aku istri yang telah berbulan bulan ini tidak sempat menikmati permainan seks suamiku, pasti tidak bisa menahan rangsangan yang sedang terjadi pada tubuhku.
“Mhhppmm,” aku merintih saat lidah si gemuk mulai menjilati bibir vaginaku.
“Woowww.. Mulus sekali pelacur yang satu ini.., gimana sayanghh marah ya? tapi kok vaginanya telah banjir,” si gemuk mengejekku, aku terpejam tidak sanggup memandang Mas Yudha.
“Hmmpp,” Mas Yudha bersuara, tetapi si tubuh besar langsung menggamparnya.
Situasi telah susah, lidah si gemuk terus liar dan membikin kenikmatan tersendiri padaku.
“Ehmmhh,” aku merintih tidak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah si gemuk divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan gemuk itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu supaya penis si gemuk mengoyak vaginaku yang telah gatal.
Tapi rupanya si gemuk sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya telah masuk kemenit lima belas menerjang vaginaku. Aku telah bergerak tidak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tidak juga gemuk menyetubuhiku.
“Mhhppff.. Engghh..,” aku tidak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membikin pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Mas Yudha yang terus menatapku, tapi apa daya, maafkan aku Mas, aku tidak berdaya.
“Haa.. Haa, keluar juga airmu sayanghh. Tapi biar yang puaskan kau lagi si jendral ya. Aku bakal lanjutkan dengan Ijah,” gemuk meninggalkanku dan menuju Ijah.
Disingkirkan tubuh botak yang tetap lemas diatas tubuh Ijah, lalu gemuk menyetubuhi Ijah. Astaga, Ijah rupanya birahi lagi saat aku dikerjai lidah gemuk tadi, jadi saat gemuk membenamkan penisnya ke vagina Ijah, dirinya malah menggebu gebu menerima. Aku sungguh iri dengan Ijah yang telah klimaks pakai penis tapi dikasih lagi sama si gemuk. Huh apa aku tidak lebih sexy, pikirku.
Belum habis pikir, mendadak kurasa tubuhku ada yang meraba-raba lagi. Rupanya si tubuh besar yang dipanggil jenderal itu telah telanjang dan telah berada disisiku sambil menciumiku. Ciumannya sungguh lembut tidak seperti gemuk yang agak kasar dan terburu-buru.
“Aku bakal memberimu kepuasan sayanghh, kalian cantik bidadariku,” tidak kusangka Jenderal membisikan kalimat itu ke telingaku, pasti Mas Yudha tidak mendengar sebab bisikannya sangat pelan. Entahlah apa yang terjadi, yang jelas mendapat bisikan penuh kasih begitu gairahku naik lagi. Jenderal lalu membuka lakban dibibirku dan ikatan ditanganku, sedangkan kakiku tetap terbelit diujung dipan bawah.
Kini tanganku sebetulnya leluasa tapi kenapa aku tidak melawan? Aku sengaja memukul dada bidang Jenderal hanya untuk menjaga perasaan Mas Yudha, dan Jenderal yang tahu maksudku kembali meringkus tanganku dan disekapnya dengan posisi menindihku.
Saat itu kelamin kami telah berjumpa meski penis Jenderal yang tegak belum dimasukan ke vaginaku.
“Jangann.. Kumohonn jangann..,” aku merintih antara penolakan sebab ada suamiku, dan andalan supaya Jenderal segera menyetubuhiku sebab birahiku telah tinggi dan menggebu.
“Tenang sayang. Aku telah tahu semua file rumah tanggamu dan si brengsek itu. Aku tahu kalau Yudha suamimu tidak lagi sanggup melayani keperluan sexmu,”
Aku tersentak mendengar ucapan jenderal, lalu aku memandang Mas Yudha, Mas Yudha tampak pasrah memandang tubuh istrinya yang sesaat lagi bakal menyatu dengan tubuh lelaki lain. Jenderal kemudian mencium dan mengulum bibirku berbagai lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dirinya berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.
“Mhhppff.., aahh.. Enghh..,” aku merintih nikmat tidak peduli lagi Mas Yudha menatap kami, saat penis besar Jenderal mendesak masuk keliang nikmatku.
“Ouhh.., telah kusangka vaginamu tetap rapat sayanghh.., nikmati permainan kami ya manis,” jenderal berbisik lagi membikinku terus melayang dipuji puji.
Penis Jenderal keluar masuk dengan cara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.
“Hmm.., puaasshhkan aku sayangghh..,” tidak sadar aku membalas bisikan Jenderal itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.
“Chhaantikhh kalian sayanghh.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”
“Aohh.. Iyaahh sayanghh.. Akhuu milikmuh saat ini..,”
Kuakui permainan lelaki yang dipanggil rekannya sebagai jenderal terbukti luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh jenderal terus cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku telah tidak bisa membohongi Mas Yudha kalau aku terbukti birahi saat itu.
Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak jenderal menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku. Ia lalu membuka ikatan di kedua kakiku.
“Ayo sayang kami berdiri,” jenderal luar biasa tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku ke arah kursi Mas Yudha.
Posisiku jadi cocok berhadapan wajah dengan Mas Yudha suamiku, dan jenderal dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku malu sekali saat itu, aku wajib sekuat tenaga menyembunyikan wajah terangsangku dihadapan Mas Yudha, tapi dilain segi kenikmatan yang sangat dari penis jenderal menghujam di vaginaku dari belakang.
“Ahh.. Ouhh.. Maaffkhaann akuhh mass..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis jenderal masuk ke menit ke sepuluh dalam posisi nungging itu.
“Ayohh sayang.. Lepas lakban suamimu,” jenderal memerintahku, dan kubuka lakban dimulut Mas Yudha. Aneh Mas Yudha tidak lagi marah, ia terkesan sangat pasrah.
“Masshh,” kulumat bibir Mas Yudha dan Mas Yudha mengangguk lalu membalas lumatan bibirku.
Jenderal terus keras mengocokku dari belakang, aku terus tidak terkendali kurasakan kenikmatan telah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagain pantat, paha, vagina dan klitorisku.
“Ahh sayyanngghh.. Ohh.. Mmffhhpp..,” aku tidak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis jenderal.
Bibir Mas Yudha kembali kuhisap kuat.
Belum habis orgasme yang kurasakan, Jenderal luar biasa tubuhku dari belakang dan menggendongku. Posisiku seperti anak kecil yang dibopong bapaknya yang bertubuh besar dari belakang.
“Ayo manisss.. Ini lebih nikmat sayanngg.., kini merengeklah sepuasmu honneyy,” dalam posisi itu penis jenderal tetap mengocokku tangannya membawa tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.
“Akhhss.. Sahhyaangghh..,” aku tuntas telah, orgasmeku sempurna ditangan jenderal.
“Oghhkk.. Terima maniku sayanghh,” jenderal orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku.
Lalu jenderal menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan
seperti pasangan kekasih.
“Terima kasih sayang.., kalau saja kau istipsu aku pasti bahagia,” jenderal kembali melumat bibirku. Aku membalasnya dan dalam hatiku pun menjawab
seandainya juga kau suamiku jenderal.
Aku tidak peduli lagi malam itu, aku pun lemas dibuai nikmat hingga akhirnya tertidur lelap.
“Sayang.. Bangun sayang,” suara Mas Yudha membangunkanku.
Nyatanya hari telah pagi, dan empat lelaki itu telah tidak ada lagi. Aku tetap telanjang dan hanya terbungkus selimut, Ijah tetap tertidur telanjang juga dilantai. Sedangkan Mas Yudha terkesan lusuh.
“Oh.. Mas, maafkan aku semalam Mas.. Aku sewajibnya melawan,” kupeluk suamiku, aku takut kehilangan Mas Yudha.
“Nggak sayang, aku yang salah.., Wajibnya aku bisa melindungimu,” Mas Yudha memelukku erat.
Sejak kejadian itu, kami pindah rumah di wilayah yang agak jauh dari kota M, tempat Mas Yudha bekerja, tapi tetap satu provinsi dengan kota M.
Share: