Cerita Sex: Foto Bugil


Guru Biologi memberi kami tugas untuk meringkus kodok, mencari kepompong, meringkus kupu-kupu alias memotret 5 tipe kupu-kupu. Seusai bagi tugas, aku kebagian memotret kupu-kupu. Langsung saja kupinjam kamera om dan kebetulan om punya lensa yang keren yang bisa memperbesar semacam teropong.

Aku baru bisa memotret 2 tipe kupu-kupu. Itupun belum tahu hasilnya sebab filmnya belum di cuci cetak. Kawanku memberi saran untuk ke bukit sebab disana tidak sedikit tipe serangga dan mungkin ada kupu2 juga. Aku diantar ke bukit itu, namun kawanku tidak mau ikut-ikut naik bukit, capek katanya. Maka aku berkelana di bukit itu mencari kupu-kupu, sementara kawanku menantikan di warung.

Aku telah bisa lagi 2 kupu-kupu yang warnanya tidak sama, tinggal satu lagi. Di kejauhan kulihat ada dua sejoli berlangsung-jalan juga di bukit itu. Hmm romantic sekali. Aku gambar mereka memakai lensa close up. Cowoknya ganteng dan ceweknya cantik. Keduanya bertubuh atletis.

Aku meneruskan mencari kupu-kupu. Tidak juga bisa kupu-kupu ke 5, aku menonton 2 sejoli itu bermesraan, berciuman. Eh, tangannya meraba-raba dada perempuan, sedang yang perempuan meraba-raba celana laki-laki. Asyiik juga nih, nonton dulu. Kuarahkan kembali kamera untuk memotret mereka. Wah nyatanya mereka mulai mencopot kaos jadi bertelanjang dada. Makin seru nih..
Sebab agak tertutup pohon, aku mencari tempat yang bisa lebih jelas menonton mereka.

Terjadilah adegan berikutnya. Mereka bugil, saling mencium dada dan alat kelamin, lalu berhubungan sex. Mereka menikmati berhubungan sex di udara terbuka di bukit. Sementara aku semakin memotret adegan demi adegan. Lensa kamera om canggih juga, jadi aku bisa mengcloseup susu si cewek dan dengan jelas close up penis si cowok yang sedang menancap di memek cewek. Penisku ikut ngaceng menonton adegan itu.

Saat sedang asyik nonton dan memotret, lewatlah seekor kupu-kupu. Aku jadi ingat tugasku. Kelihatannya tidak sama dengan kupu2 sebelumnya, maka kuikuti kupu-kupu itu dan kucoba gambar. Dirinya bergerak semakin, dan baru saat sampaip di daun, dari jarak jauh aku langsung mengarahkan lensa kamera ke arahnya. Akhirnya aku bisa gambar dari lima ekor kupu-kupu.

Berakhir memotret kupu-kupu aku ingat lagi pasangan yang sedang mesum, tapi aku tidak menontonnya lagi, kelihatannya mereka telah berakhir. Aku kembali ke kawanku diwarung. Dari atas bukit aku sempat menonton sepasang kekasih itu naik kedalam mobil. Kupasang lagi kamera dan kugambar mobil itu, dan aku bisa nomor mobilnya.
Baca juga cerita sex terakhir di www.orisex.com

Sebab ada gambar-gambar mesum diantara gambar kupu-kupu, malam hari aku ke rumah kawan yang punya toko cuci cetak film. Kawanku bilang bahwa tokonya telah tutup, aku minta dispensasi sebab wajib dikumpulkan besok, dan supaya tidak merepotkan, biar aku kerjakan sendiri. Kawanku setuju dan dirinya hanya menolongku membuka toko dan menyalakan mesin cuci cetak. Aku sempat dikasih tahu tutorial cuci cetak, sangat praktis, tapi aku tanyakan untuk memastikan.
Lalu aku mencuci cetak dan tidak lupa ucapkan terimakasih sambil bayar ongkos.
Di kamar aku memperhatikan dengan kagum hasil gambar2ku, baik gambar kupu-kupu maupun gambar-gambar mesum. Aku tidak kenal yang laki-laki dan yang perempuan yang berbuat mesum itu. Supaya tidak ketahuan, aku menyimpan gambar2 mesum itu dalam koperku yang kukunci.
Sebab gambar kupu-kupuku yang dikualitas keren, aku tidak jarang diminta untuk menjadi juru gambar sekolah. Pasti saja aku sanggupi asal dipinjami kamera om. Sebulan kemudian, saat porseni antar sekolah, aku juga kebagian tugas memotret aktivitas sekolahku di porseni. Saat meliput pertandingan basket putri, aku menonton salah satu pemain lawan mirip dengan perempuan yang di gambar mesum.
Mumpung bawa kamera, segera aku gambar dia. Tanya punya tanya nyatanya namanya Tia salah satu tim basket putri dari SMA swasta populer di Padang,. Aku menyempatkan diri menyapa dan berkenalan dengannya dan sekali lagi mengambil gambar bersama tim SMA nya dan SMA ku. Salah satu gambar kukegunaaankan lensa untuk mengclosup wajah Tia.
Seusai aku cuci cetak, aku bandingkan gambar Tia dan gambar wanita yang ada di gambar mesumku. Menurutku orangnya sama. Waktu membagi2kan gambar terhadap pemain, khusus untuk Tia kusisipkan juga gambar muda-mudi, yang menurutku merupakan Tia, sewaktu sedang jalan berdua di bukit.
Kemarin hari kemudian saat pulang sekolah, kawanku mencariku dan memkabarhu ada cewek cakep menantikanku di dekat pintu psupaya sekolah. Aku kesana dan nyatanya Tia.
“Bisa ngobrol sebentar?”, tanyanya.
Aku mengikutinya. Dirinya mengajakku minum di kantin dekat sekolah.
“Kamu bisa gambar ini dari mana?”, tanyanya.
“Aku yang motret. Itu kalian ya?”, aku balik bertanya.
“Iya. Aku dan pacarku”, katanya. Ia meminum jusnya dan menatapku tajam, memperhatikan kedua mataku.
“Sekarang pacarnya dimana?”, aku belagak bloon.
“Masih kuliah di Surabaya. Gambar itu waktu kampusnya lagi libur”, Tia menjawab.
“Kamu motret kejadian berikutnya?”, tanyanya menyelidik.
“Iya”, jawabku. “Mati dah aku”, Tia menepuk jidatnya sendiri.
“Semakin kalian sebarin kemana2 ya?”, tanyanya agak geram.
“Nggak, nggak ada yang tahu”, jawabku
“Waktu cuci cetak kan pasti ada yang tahu”, katanya
“Aku cuci cetak sendiri di toko kawan”, aku mencoba menenangkannya.
“Semakin gambar2 itu dimana sekarang?”, dirinya agak lega tapi tetap khawatir
“Di koperku. Terkunci”, kataku
“Kalau gitu aku mau ambil,” katanya sambil berdiri.
Aku membawanya ke rumah om. Di rumah ada bibi yang hanya menyuci dan menyetipsa. Aku persilahkan Tia untuk menantikan dan bibi menjamu minuman. Lalu kubawa koperku ke ruang tamu dan kubuka didepannya dan kutunjukkan gambar2 mesum Tia dan pacarnya. Tia segera mengambil seluruh gambar, memasukkan ke tasnya dan beranjak pergi.
Besoknya Tia menantikanku lagi didepan gerbang. Kawan2 bersiul menggoda kami yang berlangsung menuju kantin.
“Minta klisenya biar tidak kalian cetak lagi”, katanya. Lalu kami kerumahku dan kuberbagi klisenya, mesikipun wajib kugunting2 sebab campur dengan gambar kupu-kupu.
2 bulan berlalu. Dirinya timbul lagi di gerbang sekolah dan minta aku bantu dirinya untuk buat gambar. Kami pulang meminjam kamera om dan seusai diizinkan aku kembali naik motor untuk mengikuti mobilnya. Tapi dirinya suruh aku jalan bersama naik mobilnya. Seusai membeli beberapa rol film kami melaju ke luar kota kearah Bukit tinggi di tepi danau. Menuju suatu  rumah yang katanya milik orang tua Tia dan dirinya minta tolong aku memasukkan koper dimobilnya ke dalam rumah. Isinya penuh dengan baju
“Terbuktinya kalian mau nginap disini?”, tanyaku
“Aku mau digambar pake baju-baju ini”, jawabnya.
Disana Tia minta di gambar dengan pemandangan alam danau dan kurang lebihnya. Lalu kami beristirahat di rumah itu sebentar.
“Nah kini gambarnya pake baju yang lain”, katanya, dan langsung ganti baju didepanku. Mesikipun proses ganti bajunya lumayan cepat, tapi aku sempat menonton tubuhnya atletisnya yang hanya tertutup bh dan celana dalam.
Lalu kami bergambar lagi, dan Tia ganti baju lagi dan berpoto lagi dan ganti baju lagi dan bergambar lagi. Setiap ganti baju aku menonton tubuh atletisnya. Aku menyempatkan memotretnya saat ganti baju. Bahkan diganti baju yang terakhir, Tia juga mengganti bh dan celana dalamnya sebab keringat. Aku juga sempat memotretnya saat bugil ganti baju, mesikipun dirinya membelakangiku.
Berakhir memotret kami makan dulu di lapau, lalu kembali ke rumah di pinggir danau.
“Kamu tadi motret aku waktu ganti baju ya?” tanyanya dan aku iyakan.
Tia bercerita mengenai gambar mesum dirinya dan pacarnya yang dulu kupotret. Gambar dan klisenya telah dibakar
Tapi dirinya kepikiran untuk digambar bugil yang keren, sebab gambar mesum yang jarak jauh itu agak goyang dan tidak fokus.
“Bagaimana menurut kamu?” ia memandangku.
“Terbuktinya di Padang ada tukang potret professional yang khusus gambar bugil. Setahuku di Eropa baru ada”, kataku.
Tia memandangku.
“Itu juga untuk ditampilkan di majalah porno. Kalau di Indonesia mah belum ada. Paling2 gambar pakai baju minim”, kataku lagi.
Tia memandangku tajam.
Sebab ditatap dengan tajam, aku menjadi kikuk,
“kenapa?” tanyaku.
“Kamu yang motret”, katanya. Apa? Tia minta aku motret dirinya bugil.
“Kamu bercanda”, kataku.
“Aku serius!”, katanya agak keras.
“Di kamar sini saja. Kasurnya keren, jendelanya menghadap danau”, katanya sambil mengajakku.
Aku mengikutinya. Dirinya memandangku lagi, Aku tidak bergerak.
“Ayo ambil kameranya”, katanya, Aku segera mengambil kamera, dan saat kembali kekamarnya.. Tia telah bugil. Aku berhenti dan terpana.
“Posenya bagaimana?”, dirinya duduk ditepi ranjang.
“Coba macam2 pose saja”, kataku asal2an sebab tidak punya pengalaman gambar nudis.
Akhirnya aku memotretnya dengan beberapa pose duduk dan berdiri di beberapa lokasi di dalam kamar dan rumah itu. Tubuhnya benar sintal, kenyal, padat dan perawakannya atletis. Kakiknya panjang, pundaknya agak lebar dan lehernya jenjang. Lalu Tia menuju ranjang dan tiduran dikasur. Aku memotretnya dan menyempatkan untuk close up susu dan memeknya. Susunya kecil dan bibir memeknya tidak tebal ditutupi bulu-bulu halus.
“Kayaknya susunya tidak lebih menantang”, kataku.
“Semakin gimana dong”, katanya. Aku menghampirinya dan memegang susunya. Tia menampik tanganku.
“Putingnya wajib tegang menantang. Ini mah lembek”, kataku.
Tia diam menatapku. Aku ulurkan lagi tanganku ke susunya dan didiamkannya. Akhirnya kumainkan dan kuplintir susu Tia jadi ia sedikit terangsang dan puting susunya mulai tegak menantang. Lalu kupotret kembali.
Saat memotret memeknya, kubilang juga bahwa memeknya tidak lebih menantang. Tia menolak. Mesikipun kubujuk dirinya tetap menolak.
“Oke deh, kami akhiri sesi gambarnya”, kataku. Lalu Tia berpakaian kembali.
Aku berangkat ketepi danau bermain air. Tidak lama Tia menyusul bermain air di danau. Aku menyiramnya dan dirinya balas menyiramku. Akhirnya kami sama2 basah kuyup. Saat kembali ke rumah, Tia berganti baju, sedangkan aku tidak mengangkat baju ganti.
Tia tertawa,
“Jemur dulu pakaianmu. Lumayan diangin2 bisa kering”
“Tapi aku tidak bawa baju ganti. Pinjam dulu bajumu”, kataku
“Enak saja. Bugil dong.”, Tia tertawa bahagia.
“Ayo bugil. Gantian aku yang lihat kalian bugil”, Tia semakin tertawa meledekku.
Akhirnya aku bugil dan menjemur pakaianku. Tia segera mengambil kamera dan memotretku sedang bugil. Tapi dirinya tampak kebingungan sebab tidak tahu tutorial memakai kamera canggih itu. Gantian aku yang tertawa. Dan mesikipun didesak, aku tidak mau memberi tahu.
“uuh.. semakin bagaimana supaya aku bisa gambar bugilmu”, Tia menggerutu.
“Asal dipotret bugil berdua dengan kamu, baru bisa”, kataku ngeledek. Tia memukulku, namun kemudian sambil menggerutu ia mencopoti seluruh pakaiannya.
“Aku telah bugil juga nih, semakin bagaimana?”, tanyanya semacam tidak sabar.
Kuambil tripod mini, lalu kuatur kamera untuk memotret otomatis dan kuarahkan ke Tia. Lalu aku berdiri menghampiri Tia dan ckrek kami bergambar bugil berdua.
“Wah hebat. Bagaimana kalau kami bikin gambar erotis”, dirinya bersemangat.
Akhirnya kami bergambar bugil berdua dengan beberapa pose. Kemudian aku memperkenalkan pose berhubungan seks dengan tutorial aku menempelkan selangkanganku ke selangkangannya tanpa memasukkan penisku ke memeknya. Tia setuju, dan mulailah kami bergambar seolah sedang meperbuat hubungan seks, namun penisku hanya menempel di memeknya.
Saat telah berakhir aku menonton tetap ada sisa tiga film.
“Tanggung dihabiskan saja”, kata Tia.
Namun kami bimbang sebab semua posisi telah dipotret.
“Begini saja, kalian terlentang lagi dan lihat kamera, kelak aku duduk dekat pantatmu” kataku, lalu kuletakkan kamera disebelah kepalanya jadi Tia semacam mendongak menonton kamera, namun dalam posisi terlentang. Aku kearah pinggulnya dan menempelkan penisku di memeknya mencoba posisi yang pas untuk dipotret.
“Nah kelak begini posisinya, kepalamu jangan lihat aku, tapi mendangak lihat kamera, oke?”. Tia setuju, lalu aku mulai memasang timer kamera dan segera kembali ke posisi.
Timer kusetel 20 detik jadi aku punya waktu untuk mengatur posisi. Kutempelkan lagi penis di memeknya. Kulihat memeknya telah basah tanda Tia telah lama terangsang. Lama aku bersi kukuh dalam posisi itu. Ketika timer telah hampir habis, iseng kudorong pantatku jadi penisku masuk ke memeknya.
“Haa?!”, Tia kaget dan ‘cpret..’, kamera dengan cara otomatis memotret.
“Hey, kalian keras kepala ya!!”, kata Tia marah. Tapi dirinya tidak segera mengeluarkan penisku dari memeknya.
Aku tersenyum nyengir,
“Masih ada 2 film lagi”, kataku
“Semakin kami pose apa lagi?!” tanya Tia
“Kamu tidur miring, lalu aku dari belakang”, kataku
“Semacam yang tadi lagi dong?!” katanya.
“Iya, tapi ada bedanya”, aku tersenyum.
Tia tetap berlagak judes, tapi diam dan mengikuti arahan gayaku. Dirinya tidur miring, kuatur kamera untuk memotretnya, hari ini kusetel 1 menit, lalu aku memposisikan diri dibelakang Tia. Satu kaki Tia diangkat sedikit jadi memeknya kelihatan, lalu ujung penisku menempel di memeknya.
Masih ada 50 detik lagi.
“Siap?”, kataku.
“Iya”, Tia menyahut.
Seusai Tia menjawab, maka kudorong pantatku jadi penisku masuk lagi ke memeknya.
“Ahh..”Tia kaget, tapi tidak bereaksi.
Menonton dirinya tidak bereaksi maka kuayun pantatku jadi penisku keluar lalu masuk lagi ke memeknya.
“Ahh” Tia mendesah lagi.
Akhirnya kuberanikan diri kuayun semakin menerus jadi penisku keluar masuk memeknya berulangkali.
“Ahh..ahh..ahh”, Tia juga berulangkali mendesah setiap penisku menusuk memeknya.
“Ah..ah..kok.. la..ma…ya.. ka..me..ra..nya..Ah”, Tia semakin mendesah.
“Cepret” kamera otomatis memotret.
“Su..dah tuh..”, kata Tia terengah.
Aku tidak peduli, dan semakin mengayun pantatku. Tia diam saja. Akhirnya kubalikkan tubuhnya sampai terlentang kembali, aku merayap diatasnya. Kuluruskan penisku dan kudesakkan kecelah memeknya. Tia mendekapku erat, sambil membalas menggoyang-goyangkan pinggulnya dan mengerang-ngerang.
Akhirnya kami meperbuat hubungan sex di rumah kecil pinggir danau itu. Kami mengulanginya 2 kali lagi sampai malam tiba. Berakhir 3 babak sex  itu, kami berkemas pulang. Kebetulan bajuku telah kering. Diperjalanan kurang lebih Bukittinggi, tidak lupa kami mampir di rumah makan untuk memulihkan energi.
Tia mengambil semua rol film dan minta aku menghubungi kawan di toko film. Untuk menjaga kerahasiaan, Tia minta proses cuci cetak diperbuat bersama. Kalau kawanku tidak memberi izin maka tidak butuh cuci cetak dan klise langsung dibakar. Aku setuju saja.
Untungnya kawanku mau mengerti dan memberi Tia dan aku peluang untuk mencetak sendiri di malam hari. Dirinya ambil semua gambar bugil dirinya, sedangkan gambar bugil kami berdua dan dua gambar seks kami diberbaginya padaku. Tia tidak mau menyimpan gambar seks itu takut ketahuan. Sedangkan gambarbugil dirinya bakal disimpan dengan cara rahasia, kalaupun ketahuan bakal bilang bahwa dipotret sendiri pake timer.
Dia minta pendapatku dua gambar bugil dirinya yang paling baik yang mana. Aku tunjuk gambar bugilnya yang tidur agak terlentang dikasur dan gambar bugil yang berdiri didekat jendela jadi memunculkan sedikit efek siluet. Lalu dirinya mencetak kedua gambar itu sekali lagi, dan diberbagi kepadaku.
“Aku bakal bakar klisenya. Jaga baik-baik semua gambar yang aku kasih buat kamu. I thrust you”, katanya sambil mencium pipiku.
“Oke” kataku. Dan aku tertawa2 kecil.
“Ada yang lucu?”, tanya Tia
“Iya, aku tetap merasa lucu menonton gambar kalian yang menunjukkan ekspresi wajah campuran antara kaget, sakit dan nikmat, waktu aku pertama kali iseng mencobloskan kontolku ke memekmu”, aku tersenyum.
Tia meninju pundakku,
“Awas ya!”, katanya sambil ikut tertawa. 
Share: