Cerita Sex: Aku Janji.. Kupuaskan Istrimu Kawan


Aku serta sahabatku ini tumbuh bersama, kami bersahabt sedari kecil, kenakalan kecil, belajar mabuk, menikahi pekerjaan, bahkan main cewek pun kami rutin bersama. Niko terbukti ganteng serta lumayan play boy. Yg aku tahu pasti, dirinya tergolong hiper. Two in one rutin menjadi menu harus kalo kami mampir ke jl Mayjen Sungkono Surabaya. Dirinya juga mempunyai tidak sedikit kawan mahasiswi yg siap pakai serta lucunya dirinya tidak jarang menawari aku bercinta dengan gadis mahasiswinya di depan hidungnya. Terkadang dirinya mengundang threesome. Aku sih ok ok saja, why not enak kok serta lagi ketika itu aku cuma karyawan swasta yg bergaji kecil ketika itu sedang Niko telah mempunyai usaha sendiri yg lumayan berhasil.

Sayang sekali di usia 35, sahabatku ini mengalami kecelakaan yg membikin dirinya terpaksa memakai kursi roda. Padahal dirinya baru dua tahun menikah serta dikaruniai satu anak laki laki yg lucu.
Momen ini benar benar membanting dirinya, untunglah Melani benar benar istri yg setia serta rutin memompakan semangat nasib supaya Niko tdk menyerah. Sebagai sahabat akupun tdk bosan bosannya menghibur supaya dirinya mau mencoba mengikuti terapi.
Seperti biasa di malam minggu aku main kerumahnya, daripada ngluyur nggak karuan, maklum setua ini aku tetap bujang.

Ron..elo tetap ingat jaman kami gila dulu. Minimal gue rutin ambil dua cewek. Hahahaha serta mereka rutin ampun ampun kalo gue ajak lembur. Niko tersenyum senyum sendiri. Aku memahami rupanya Niko terguncang sebab performa sex yg dibanggakan mendadak tercerabut dari dirinya.
Ron, gue harus hinggakan sesuatu ke elo, kenapa gue rutin bicara mengenai sex ke elo. Hhhhhhhh….gue kesian sama Melani….dia istri yg baik serta setia, namun gue tdk mungkin memaksa dirinya untuk terus menerus mengantarkan gue. Dirinya punya hak untuk bahagia. Serta lagi….hhhh serta lagi…. Niko terdiam lumayan lama.

Istipsu tetap muda, 25 tahun .gue nggak ingin dirinya kelak menyeleweng. Lebih baik kami berpisah baik baik, dirinya bisa memperoleh suami yg lebih baik. Matanya menerawang.
Namun Melani tetap bersikukuh tdk mau. Baginya menikah cuma sekali dalam nasibnya. Namun gue kuatir Ron…gue kuatir…sebab…hhhhh sebab….Melani nafsunya besar. Bisa kalian bayangkan alangkah tersiksanya dia. Kami dulu hampir setiap hari bercinta.
Niko terdiam lagi lama.

Kemarin dirinya bicara, mas aku nggak bakal menyeleweng, sebab cintaku telah absolut. Kalo kalian memaksa untuk berpisah, aku tdk bisa. Terbukti kalau bicara sex, sangat berat bagiku. Tp kami bisa mencoba pakai tangan kan mas. Mas bisa puasin pakai tangan mas, pake lidah juga tetap bisa….kita coba dulu mas…

Kami mencobanya Namun sebab lumpuhku, jari serta lidahku tdk bisa maksimal, serta dirinya tdk sanggup orgasme. Sempat juga pakai dildo. Itupun juga gagal. Ini lebih dikarenakan posisi tubuhku yg tdk mendukung. Akhirnya aku mengatakan bahwa bagaimana kalau kalian mencoba pakai cowok beneran. Kami bisa pakai gigolo, asal kalian bercinta di depanku jangan di belakangku. Aku bilang bahwa ini hanya murni untuk membahagiakan dirinya. Kalian tahu…istipsu hanya menangis, dalam hatinya sebetulnya dirinya mungkin mau tp entahlah… Niko telah tdk berloe gue lagi….
Hhh…sebetulnya aku mau minta tolong kamu…pertama kalian kawanku, telah seperti saudara sendiri, kalian belum menikah, kalian kini juga telah nggak segila dulu…mungkin udah berhenti ya ?….jadi aku minta tolong…bener bener minta tolong..puaskan istipsu… Kata Niko, suranya sedikit tercekat…
No..no..no no no no….nggak Rob..aku nggak mau…maaf aku gak bisa bantu seperti itu, Melani wanita baik baik, aku menontonnya seperti malaikat. Serta aku sungguh menghormatinya. Sorry aku pulang dulu Rob…tolong pembicaraan ini jangan diteruskan. Aku menghindar.
Melani merupakan wanita sempurna, cantik, hatinya lembut, setia ke suami, tdk neko neko, serta tubuhnya benar benar sempurna. Niko benar benar sinting kalo aku diminta meniduri istrinya…
3 minggu kemudian, pagi pagi aku mampir lagi ke rumahnya, aku pikir dirinya telah tdk mau menuturkan itu lagi, nyatanya aku salah. Hari ini dirinya memintaku sambil memohon, bahkan matanya berkaca kaca : Ron please, bantu aku, kalian tdk kasihan lihat istipsu ? kami telah sepakat kalau kalian serta dirinya tdk butuh ML. Mungkin memuaskan dengan tangan alias lidah ?
Aku sungguh tdk setuju dengan rencananya, tp menonton permintaannya hatiku trenyuh…: Ok Rob, aku coba bantu, tp aku butuh bicara dulu dengan Melani….
Bicaralah dengannya, dirinya ada di beranda belakang, bicaralah.. .Desak Niko.
Perlahan aku melangkah ke tahap belakang rumahnya yg besar, aku lihat Melani sedang menyirami bunga anggrek, sinar matahari pagi turut menyiram wajahnya yg lembut, kimononya yg berwarna merah kontras sekali dengan kulitnya yg putih bersih,..sungguh anggun… Mungkin Niko telah memberi tahunya sebab dirinya seperti menantikan kedatanganku.
Hai Mel…mana si kecil Ardi ? tetap tidur ya ? Tanyaku basa basi.
Hai mas..iyaaa..Ardi tetap bobo…tumben datang pagi begini…udah sarapan belum ? Melani tersenyum lembut. Wajahnya hanya ber make up tipis, begitu sempurna.
Mmmm. udah kok uummm, aku bantu potongin anggrek ? dulu aku suka bantu ibuku memelihara anggrek aahhh ini sepertinya kepanjangan Mel..coba deh dipotong lebih singkat lagi, supaya lebih cepat berbunga. Kataku sok serius.
Mas aku sangat mencintai mas Niko. Akupun tahu dirinya sungguh mencintaiku. Dirinya merupakan suami yg pertama serta terbaru…. Suaranya tercekat, wajahnya menunduk.Melani bicara langsung ke pokok masalah. Ini lebih baik, sebab terus lama disini aku terus canggung.
Aku sungguh berharap, mas Ronny tdk menganggapku wanita terjangkauan. Mas Niko bilang bahwa kalau menonton aku bahagia maka dirinya juga bahagia. Jadi kelak apa yg kami perbuat harus tetap dalam koridor saling menghormati ya mas… Saat ini matanya berkaca kaca.
Mel aku ikuti apa maumu, kalau kelak kalian minta berhenti , aku berhenti. No hurt feeling…jangan kuatir aku tersinggung, Kalian merupakan wanita yg paling aku hormati seusai ibuku. Aku… aku bakal memperperbuatmu dengan terhormat. Bisikku.
Perlahan Melani hebat tanganku menuju lantai 2, mungkin ini kamar tamu. Interior kamar sungguh enjoy, warna warna soft mendominasi, mulai dari warna bedcover, bantal serta gorden terkomposisi dengan baik, benar benar mendapat sentuhan wanita.
Ummmm.. bagaimana dengan Niko, dirinya sempat bilang kalo harus sepengetahuan dia.. Tanyaku kuatir, aku tdk mau dituduh mengkhianati sahabat sendiri.
Mas Niko kelak datang seusai dirinya rasa kami ada hubungan chemistry yg lebih jauh. Aku juga keberatan kalo mas menyentuhku di depan mas Niko terlalu terus terang. Aku tdk mau hatinya sakit. Serta ditahap awal ini aku sungguh berharap kami tdk terlalu jauh.
Mungkin aku belum terlalu siap…dan maaf kalo tiba tiba aku minta berhenti..mas ngerti kan perasaanku ? Melani mengatakan dengan wajah menunduk. Tangannya terkesan gemetar ketika perlahan lahan membuka bedcover. Aku hanya mengangguk tanpa bicara
Lalu Melani berlangsung menuju meja rias, membelakangiku, perlahan dilepas cincin kawin dijarinya, aku tdk bisa bercinta dengan orang lain dengan tetap memakai cincin ini katanya berbisik.
Maafkan aku Mel aku bakal meperperbuat kalian dengan baik.. bisikku dalam hati.
Perlahan dirinya berbalik menghadapku sambil membuka gaunnya, nyatanya dibalik kimononya, Melani hanya memakai lingerie warna pink, G string plus stocking putih berenda. Aku tdk mau sembarangan untuk mengawalinya. Ini aku pakai juga untuk menghormati mas Ronny Melani berlangsung perlahan ke arahku. AKu hanya bisa menahan nafas, dadaku sesak bergemuruh, rasanya susah untuk bernafas, rasanya aku tdk bakal bisa menyentuhnya, dirinya terlalu indah, Melani terlalu indah untukku .kakiku lemas.
Dengan perlahan Melani membuka kancing bajuku, sedikit mengelus dadaku yg berbulu, wajahnya tetap menunduk, tanganku menyentuh rambutnya lembut kemudian aku cium perlahan keningnya.. Dengan bertelanjang dada tanpa melepas celana panjangku, kutuntun Melani ketempat tidur. Aku peluk lembut, aku ciumi keningnya berulang kali. Turun ke pelipis, lama aku cium di situ. Aku harus membikinnya rileks….
Matanya yg indah tampak berkaca kaca. Hembusan nafasnya tetap memburu bergetar.
Aku mengerti Melani tetap belum siap…
Aku bisikkan kata kata lembut ketelinganya :
Mel… kalian santai saja, aku nggak bakal menyentuh yg nggak semestinya kok. Jangan kuatir, kami tdk terlalu jauh, ini hanya seperti perkenalan saja…ok ? Melani mengangguk sambil memejamkan matanya mencoba menghayati.
Kemudian bibirku menyentuh pipinya, harum Kenzo di lehernya, menuntunku ke arah sana. Lehernya sungguh indah, bibirku menyelusuri leher jenjangnya sambil sekilas menciumi belakang telinganya.
Oooohhhh….. mas..ahhhh Nafasnya dihembuskan panjang, rupanya tadi dirinya terlalu tegang. Aku tetap mencium tdk beranjak dari kurang lebihan pipi, kening, leher serta telinga. Sengaja tdk kucium bibirnya, takut membikin moodnya jadi hilang. Namun nyatanya Melani sendiri yg mencari bibirku, serta mencium lembut perlahan. Badanku merasa meremang.
Kemudian kami berpandangan dekat, matanya lekat menghunjam mataku, seperti mencari kepercayaan disitu. Ini merupakan titik kritis, berhenti alias lanjut….
Perlahan Melani memejamkan matanya, bibirnya sedikit terbuka, aku mengerti kalau ini semua bisa berlanjut lebih jauh. Kucium lama serta lembut bibirnya yg indah itu.
Perlahan bibirku turun ke leher sedikit ke bawah. Turun …turun ke belahan dadanya yg ranum. Wanginya sungguh memabukkan. Melani hanya melenguh pelan ehhhhh..mas.. .
Tanganku mulai mengelus pahanya aku gosok perlahan, tanganku berhenti ketika jemari Melani menyentuh tanganku. Ahh mungkin aku terlalu jauh..nyatanya jemari Melani menggosok permukaan lenganku. Kulanjutkan lagi gosokan tanganku ke pangkal pahanya.
Kusentuh missVnya yg hangat. Aku tdk membikin gerakan yg tiba tiba, semua harus mengalir lembut. Lumayan lama jemariku menyentuh bulu bulunya. Bibirnya terasa dingin, Melani telah mulai terangsang sambil tetap mencium lembut bibirnya, jemariku mulai menyentuh klitorisnya, begitu tersentuh, Melani langsung merintih nafasnya memburu :
Mas uffff..mas..fiiuhhh Cepat sekali vaginanya basah. Aku memahami, mungkin telah satu tahun Melani tdk disentuh Niko.
Bibirku perlahan mulai mencium dari belahan dada menuju bukit indahnya. Belum sempat kulihat toket seranum ini. Lidahku menari nari diujung putingnya yg merah muda. Aku sentuh dengan ujung lidah kemudian sedikit aku sedot lalu aku lepas lagi, begitu berulang ulang. Nikmat sekali. Aku lirik wajah Melani merah padam, nafasnya tersengal sengal
geliii…aaahhhh…geliii mas….jangan lama lama…geli…aduuuuhhh.
Sengaja aku teruskan jilatanku, dengan sedikit mengeluarkan erangan, supaya Melani mengerti kalo aku sendiri juga super terangsang. Eranganku dengan erangannya saat ini bersahut sahutan. Kepala Melani bolak balik tersadar mungkin sebab dirinya tdk tahan dengan gelinya. Jemariku bertambah cepat menggosok klitorisnya. Tiba tiba jemari Melani meremas rambutku serta kedua tangannyapun menekan kepalaku, jadi aku susah bernafas sebab terbenam di toketnya. Pinggul Melani terangkat tinggi sambil merintih panjang…:
masssssss…ahhhhh Melani Orgasme….
Pinggul kembali terhempas ke tempat tidur yg langsung terayun ayun, badannya melemas, tangannya lunglai ke bawah, sambil berkali kali menelan ludahnya Melani mulai menangis memalingkan wajahnya….
Aku ciumi lembut kepalanya, kucium air matanya di pipi, kemudian kucium tipis bibirnya.
Perlahan kepalaku turun ke leher, dada, perut, pusar serta berhenti di bulu bulu kemaluannya. Lidahku mulai menari di klitorisnya yg super basah. Melani hanya terdiam.
Aku tetap sibuk menjilati vaginanya yg wangi. Melani mulai recovery lagi jemari lentiknya meremas rambutku. Dagunya terangkat ke atas, nafasnya terputus putus memburu. Perlahan kuturunkan celanaku .bibirku kembali ke atas, mencium pusarnya, mengecup putingnya kemudian menyentuh bibirnya. Mataku beradu dengan matanya. Pandangan mataku bertanya, haruskah kuteruskan . Melani mengerti kalau batangku menempel kemaluannya. Perlahan kakinya melingkar ke pahaku..mata kami tetap berpandangan. Ku gesekkan batangku perlahan lahan, Melani sedikit merintih, bibirnya terbuka..
Kepala batangku mulai menekan, menekan sedikit masuk, masuk lagi perlahan, lalu kaki Melani menekan pinggulku jadi batangku lebih dalam masuk. Masuk seluruhnya..badanku meremang, batangku terasa hangat. Mata kami tetap beradu pandang…tiba tiba disudut matanya timbul air bening yg mengalir perlahan ke pipinya. Melani kembali menangis…
Kembali aku cium lembut bibirnya. Pinggulku tdk langsung aku gerakkan, supaya dirinya merasa enjoy dulu dengan batangku didalam. Lalu Perlahan aku mulai gerakkan pinggulku sedikit demi sedikit, pelan pelan…Melani merintih :
Mas… Gerakan lebih kupercepat…aku rasakan batangku masuk sepenuhnya kedalam vaginanya, Tempat tidur mulai berguncang, bunyi geritan logam tempat tidur mulai keras terdengar.
Tiba tiba Melani memelukku erat, bibirnya mendekat ke telingaku serta berbisik :
kok besar sekali mas….terima kasih…nikmat sekali mas…ooohhh nikmat.. Melani saat ini lebih agresif menciumku, lidahnya mulai berani masuk ke mulutku.
Tubuh kami berguling, saat ini dirinya diatasku. Otomatis batangku lebih menghunjam ke dalam, posisi ini favoritku sebab aku bisa sepenuhnya menonton kecantikannya, menonton lekuk tubuhnya, meremas dadanya serta pinggulnya lebih leluasa.
Gerakan tubuh Melani mulai liar, wajahnya tengadah keatas dengan mata terpejam. Gerakannya malah lebih cepat dari gerakanku. Tubuhnya mulai menggigil dipenuhi peluh yg mengucur deras di sela belahan toketnya, pemandangan ini membikin tubuhnya tampak sensual, kujilati semua peluhnya dengan nikmat. Melani mendekati puncak….sementara aku susah payah bersi kukuh supaya tdk ejakulasi.
aaaaa…..aaaaaaahhhh.. aahh ! Dirinya mulai tdk malu mengeluarkan rintihan serta erangan suaranya lebih keras, tiba tiba tubuhnya menghentak keras, lenguhannya memanjang kemudian tubuhnya lunglai roboh di tubuhku. Segera kupeluk erat serta kucium lembut keningnya. Aku lega….bahagia bisa memuaskannya..
Terima kasih mas….terima kasih…aku belum sempat merasa nikmat seperti ini, dua kali orgasme… Bisik Melani.
Aku bisa teruskan kalo kalian mau Mel….Bisikku sambil menciumi pelipisnya.
Terima kasih…may be next time…sekarang giliran mas Ronny…mas belum puas kan.?
Aku tersenyum serta kugelengkan kepalaku :
No…tdk butuh…itu tdk penting. Kalian bisa menikmati itu lebih penting. Kalau aku turut mencari kepuasan artinya aku tdk menghargai kamu. Semua ini untuk kalian Mel…hanya untuk kalian Dalam hati kumaki maki diriku, mengapa aku sok suci. Namun tidak bisa kumaafkan diriku kalau aku ikut menikmati peluang emas ini, Melani bersedia bercinta denganku artinya dirinya telah menghempaskan semua harga dirinya dihadapanku. Aku menghargai serta menghormatinya.
Mas…kamu baik sekali…sungguh kalian baiiiikk sekali. Melani memelukku erat lama sekali hingga aku terengah engah sebab kepalaku terbenam di belahan toketnya. Sebetulnya aku ingin meneruskan dengan melumat serta mengigit gigit putingnya, tp aku tdk mau merusak suasana.
Mengapa Niko tdk kemari, bukankah dirinya minta kami bercinta di depannya. Aku tdk mau dikatakan mengkhianati kawan…
Mas Niko mungkin telah menonton kami dari tadi, dirinya ada di ruangan dibalik kaca meja rias, itu kaca tembus pandang mas, Melani membahas ketika menonton mataku memandang pintu.
uummm mas gak bersih bersih badan ? aku bantu di kamar mandi yuk… sambil hebat tanganku.
Kami saling menggosok badan, aku remas lembut toketnya dari belakang serta mencium lembut punggungnya. Melani kembali merintih..tubuhnya berbalik kemudian melumat bibirku, benar benar agresif, tiba tiba Melani jongkok serta cepat menggenggam batangku sedetik kemudian mulutnya mengulum milikku yg makin mengeras penuh. Aku benar benar tdk menduga Melani meperbuat itu. Tindakannya membikin kakiku lumpuh.
Jangan Mel…jangan Mel…nanti aku keluar ahhh… Mel..telah..please… Rintihku.
Melani segera berdiri lagi lalu berbalik menghadap shower dinding. Aku mengerti dirinya ingin aku masuk dari belakang. Dengan guyuran air hangat, aku masukkan batangku cepat, aku telah tdk tahan, nafsuku telah memuncak, Melani pun mengerakkan tubuhnya mengimbangi tubuhku.
Aaahhh mas…aku …aku…ahhh.aku…. Tubuhnya kembali menggeliat serta mengejang, jemarinya kuat meremas tangkai shower, sementara aku benar benar tdk bisa menguasai diriku.
Spermaku yg tertahan dari tadi akhirnya mau tidak mau menyembur keluar, masuk jauh ke relung vaginanya… Sh(bip)t mengapa aku tdk bisa menahannya ? Melani kembali jongkok serta saat ini membersihkan lelehan spremaku dengan lidahnya. Aduh aku merasa geli sekali. Dirinya kocok kocok lagi supaya semua spermaku keluar. Kemudian mengakhirinya dengan sedotan panjang diujung batangku.
Ooohhhh Melani..kenapa aku harus ejakulasi…
Berakhir berbersih diri serta memakai baju, kami keluar kamar. Rupanya Niko telah menantikan di depan TV, dirinya tersenyum dari kejauhan. Ake merasa jengah, merasa tdk enak. Sementara Melani menunduk serta berlangsung ragu ke sebelah suaminya.
Dari kursi rodanya, Niko memeluk pinggang istrinya :
Terima kasih Ron, kalian sahabat yg baik. Aku telah menonton percintaan kalian tadi. Aku berharap kalian tdk keberatan untuk meneruskan nanti.
Aku hanya mengangguk pelan. Bisakah aku hanya bersi kukuh murni bercinta tanpa melibatkan perasaan ? Aku tdk yakin dengan diriku. Aku tdk yakin kelak tdk jatuh cinta terhadap Melani…dan aku yakin Melanipun mempunyai perasaan yg sama. Sorot matanya ketika bercinta tadi menunjukkan itu.
Share: