Cerita Sex : Liburan Plus


Pertama-tama perkenalkan saya Andy (nama samaran). Saat ini usia saya berjalan 18th, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
“Den, ini kamarnya.”
“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.

“Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu
“Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.
“Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”
“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”
“Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.
“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.

“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.
Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.

“Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.”
“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.
“Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?” tanyaku
“Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
“Ada apa den?” tanyanya polos.
“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.
“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.
“Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.
“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”
“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.
“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.
“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.” pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.
“Ah.., den andy ini bisa saja” katanya, sambil tersipu malu.
“Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.” Godaku lagi.
“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.”
Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.
“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.
“Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.” katanya polos.
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.
“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
“Jangan ah den, Bibi malu.”
“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.” Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.
“Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.
“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya “Merem-melek”.
“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.
“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.
“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
“Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.
“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.
Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
“Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, “Bi aku masukkan sekarang ya..”. ia hanya bisa mengangguk pelan.
aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.
“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.
“Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”
“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”
“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”
Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.
“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.
“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”
akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.

Cerita Sex : Mantan Murid


Sudah seminggu Sandi menjadi” suami”ku. Dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan malamku selama seminggu ini. Sandi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan.

Walaupun malam sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Sandi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat kuliah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikann bajuku lagi.

Malam itu sekitar jam setengah 11 Setelah menidurkan anakku yang paling bungsu, aku pergi kekamar mandi untuk berganti baju. Sandi meminta aku mengenakan pakaian yang biasa aku pergunakan ke sekolah. Setelah selesai berganti pakaian aku lantas keluar dan berdiri duduk di depan meja rias. Lalu berdandan seperti yang biasa aku lakukan jika ingin berangkat mengajar kesekolah.

Tak lama kudengar suara ketukan, hatiku langsung bersorak gembira tak sabar menanti permainan apa lagi yang akan dilakukan Sandi padaku.
“Masuk.. tidak dikunci,” panggilku dengan suara halus
Lalu Sandi masuk dengan menggunakan T-shirt ketat dan celana pendek berwarna p[utih.

“Malam ibu… Sudah siap..?” Godanya sambil medekatiku.
“Sudah sayang…” Jawabku sambil berdiri
Tapi Sandi menahan pundakku lalu memintaku untuk duduk kembali sembil menghadap kecermin meja rias. Lalu ia berbisik ketelingaku dengan suara yang halus.
“Bu.. Ibu mau tahu nggak dari mana biasanya saya mengintip ibu?”
“Memangnya lewat mana..?” Tanyaku sambil membalikkan setengah badan.

Dengan lembut ia menyentuh daguku dan mengarahkan wajahku kemeja rias. Lalu sambil mengecup leherku Sandi berucap.
“Dari sini bu..” Bisiknya.
Dari cermin aku melihat disela-sela kerah baju yang kukenakan agak terbuka sehingga samar-samar terlihat tali BHku yang berwarna hitam. Pantas jika sedang mengajar di depan kelas atau mengobrol dengan guru-guru pria disekolah, terkadang aku merasa pandangan mereka sedang menelanjangi aku. Rupanya pemandangan ini yang mereka saksikan saat itu.
Tapi toh mereka cuma bisa melihat, membayangkan dan ingin menyentuhnya pikirku. Lalu tangan kanan Sandi masuk kecelah itu dan mengelus pundakku. Sementara tangan kirinya pelan-pelan membuka kancing bajuku satu persatu. Setelah terbuka semua Sandi lalu membuka bajuku tanpa melepasnya. Lalu ia meraih kedua payudaraku yang masih tertutup BH.
“Inilah yang membuat saya selalu mengingat ibu sampai sekarang,” Bisiknya ditelingaku sambil meremas kedua susuku yang masih kencang ini.
Lalu tangan Sandi menggapai daguku dan segera menempelkan bibir hangatnya padaku dengan penuh kasih dan emosinya. Aku tidak tinggal diam dan segera menyambut sapuan lidah Sandi dan menyedotnya dengan keras air liur Sandi, kulilitkan lidahku menyambut lidah Sandi dengan penuh getaran birahi. Kemudian tangannya yang keras mengangkat tubuhku dan membaringkannya ditengah ranjang.
Ia lalu memandang tubuh depanku yang terbuka, dari cermin aku bisa melihat BH hitam yang transparan dengan “push up bra style”. Sehingga memberikan kesan payudaraku hampir tumpah meluap keluar lebih sepertiganya. Untuk lebih membuat Sandi lebih panas, aku lalu mengelus-elus payudaraku yang sebelah kiri yang masih dibalut bra, sementara tangan kiriku membelai pussy yang menyembul mendesak CDku, karena saat itu aku mengenakan celana “mini high cut style”.
Sandi tampak terpesona melihat tingkahku, lalu ia menghampiriku dan menyambar bibirku yang lembut dan hangat dan langsung melumatnya. Sementara tangan kanan Sandi mendarat disembulan payudara sebelah kananku yang segar, dielusnya lembut, diselusupkan tangannya dalam bra yang hanya 2/3 menutupi payudaraku dan dikeluarkannya buah dadaku. Ditekan dan dicarinya puting susuku, lalu Sandi memilinnya secara halus dan menariknya perlahan. Perlakuannya itu membuatku melepas ciuman sandi dan mendesah, mendesis, menghempaskan kepalaku kekiri dan kekanan.
Selepas tautan dengan bibir hangatku, Sandi lalu menyapu dagu dan leherku, sehingga aku meracau menerima dera kenikmatan itu.
“Saan… Saann… Kenapa kamu yang memberikan kenikmatan ini..”
Sandi lalu menghentikan kegiatan mulutnya. Tangannya segera membuka kaitan bra yang ada di depan, dengan sekali pijitan jari telunjuk dan ibu jari sebelah kanan Sandi, Segera dua buah gunung kembarku yang masih kencang dan terawat menyembul keluar menikmati kebebasan alam yang indah. Lalu Sandi menempelkan bibir hangatnya pada buah dadaku sebelah kanan, disapu dan dijilatnya sembulan daging segar itu. Secepat itu pula merambatlah lidahnya pada puting coklat muda keras, segar menentang ke atas. Sandi mengulum putingku dengan buas, sesekali digigit halus dan ditariknya dengan gigi.
Aku hanya bisa mengerang dan mengeluh, sambil mengangkat badanku seraya melepaskan baju dan rok kerjaku beserta bra warna hitam yang telah dibuka Sandi dan kulemparkan kekursi rias. Dengan giat penuh nafsu Sandi menyedot buah dadaku yang sebelah kiri, tangan kanannya meraba dan menjalar kebawah sampai dia menyentuh CDku dan berhenti digundukan nikmat yang penuh menentang segar ke atas. Lalu Sandi merabanya ke arah vertikal, dari atas kebawah. Melihat CDku yang sudah basah lembab, ia langsung menurukannya mendororng dengan kaki kiri dan langsung membuangnya sampai jatuh ke karpet.
Adapun tangan kanan itu segera mengelus dan memberikan sentuhan rangsangan pada memekku, yang dibagian atasnya ditumbuhi bulu halus terawat adapun dibagian belahan vagina dan dibagian bawahnya bersih dan mulus tiada berambut. Rangsangan Sandi semakin tajam dan hebat sehingga aku meracau.
“Saaan.. Sentuh ibu sayang, .. Saann buat.. Ibu terbaang.. Pleaase.”
Sandi segera membuka gundukan tebal vagina milikku lalu mulutnya segera menjulur kebawah dan lidahnya menjulur masuk untuk menyentuh lebih dalam lagi mencari kloritasku yang semakin membesar dan mengeras. Dia menekan dengan penuh nafsu dan lidahnya bergerak liar ke atas dan kebawah. Aku menggelinjang dan teriak tak tahan menahan orgasme yang akan semakin mendesak mencuat bagaikan merapi yang ingin memuntahkan isi buminya. Dengan terengah-engah kudorong pantatku naik, seraya tanganku memegang kepala Sandi dan menekannya kebawah sambil mengerang.
“Ssaann.. Aarghh..”
Aku tak kuasa menahannya lagi hingga menjerit saat menerima ledakan orgasme yang pertama, magma pun meluap menyemprot ke atas hidung Sandi yang mancung.
“Saan.. Ibu keluaa.. aar.. Sann..” Memekku berdenyut kencang dan mengejanglah tubuhku sambil tetap meracau.
“Saan.. Kamu jago sekali memainkan lidahmu dalam memekku sayang.. Cium ibu sayang.”
Sandi segera bangkit mendekap erat diatas dadaku yang dalam keadaan oleng menyambut getaran orgasme. Ia lalu mencium mulutku dengan kuatnya dan aku menyambutnya dengan tautan garang, kuserap lidah Sandi dalam rongga mulutku yang indah. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, Sandipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus, seraya memberikan kecupan hangat didahi, pipi dan mataku yang terpejam dengan penuh cinta. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.
Setelah merasa aku cukup beristirahat Sandi mulai menyentuh dan membelaiku lagi. Aku segera bangkit dan medorong belahan badan Sandi yang berada diatasku. Kudekatkan kepalaku kewajahnya lalu kucium dan kujilati pipinya, kemudian menjalar kekupingnya. Kumasukkan lidahku ke dalam lubang telinga Sandi, sehingga ia meronta menahan gairahnya. Jilatanku makin turun kebawah sampai keputing susu kiri Sandi yang berambut, Kubelai dada Sandi yang bidang berotot sedang tangan kananku memainkan puting yang sebelah kiri. Mengelinjang Sandi mendapat sentuhan yang menyengat dititik rawannya yang merambat gairahnya itu, sandipun mengerang dan mendesah.
Kegiatanku semakin memanas dengan menurunkan sapuan lidah sambil tanganku merambat keperut. Lalu kumainkan lubang pusar Sandi ditekan kebawah dfan kesamping terus kulepaskan dan kubelai perut bawah Sandi sampai akhirnya kekemaluan Sandi yang sudah membesar dan mengeras. Kuelus lembut dengan jemari lentikku batang kemaluan Sandi yang menentang ke atas, berwarna kemerahan kontras dengan kulit sandi yang putih kepalanya pun telah berbening air birahi.
Melihat keadaan yang sudah menggairahkan tersebut aku menjadi tak sabar dan segera kutempelkan bibir hangatku kekepala kontol Sandi dengan penuh gelor nafsu, kusapu kepala kontol dengan cermat, kuhisap lubang air seninya sehingga membuat Sandi memutar kepalanya kekiri dan kekanan, mendongkak-dongkakkan kepalanya menahan keikmatan yang sangat tiada tara, adapun tangannya menjambak kepalaku.
“Buuu.. Dera nikmat darimu tak tertahankan.. Kuingin memilikimu seutuhnya,” Sandi mengerang.
Aku tidak menjawabnya, hanya lirikan mataku sambil mengedipkannya satu ke arah Sandi yang sedang kelejotan. Sukmanya sedang terbang melayang kealam raya oleh hembusan cinta birahi yang tinggi. Adapun tanganku memijit dan mengocoknya dengan ritme yang pelan dan semakin cepat, sementara lidahku menjilati seluruh permukaan kepala kontol tersebut. Termasuk dibagian urat yang sensitif bagian atas sambil kupijat-pijat dengan penuh nafsu birahi.
Sadar akan keadaan Sandi yang semakin mendaki puncak kenikmatan dan akupun sendiri telah terangsang. Denyutan memekku telah mempengaruhi deburan darah tubuhku, kulepaskan kumulan kontol Sandi dan segera kuposisikan tubuhku diatas tubuh Sandi menghadap kekakinya. Dan kumasukkan kontol Sandi yang keras dan menengang ke dalam relung nikmatku. Segera kuputar memompanya naik turun sambil menekan dan memijat dengan otot vagina sekuat tenaga. Ritme gerakanpun kutambah sampai kecepatan maksimal.
Sandi berteriak, sementara aku pun terfokus menikmati dera kenikmatan gesekan kontol sandi yang menggesek G-spotku berulang kali sehingga menimbulkan dera kenikmatan yang indah sekali. Tangan Sandipun tak tinggal diam diremasnya pantatku yang bulat montok indah, dan dielus-elusnya anusku, sambil menikmati dera goyanganku pada kontolnya. Dan akhirnya kami berdua berteriak.
“Buu Dennook.. Aku tak kuat lagi.. Berikan kenikmatan lebih lagi bu.. Denyutan diujung kontolku sudah tak tertahankan”
“Ibu pandai… Ibu liaarr… Ibu membuatku melayang.. Aku mau keluarr” .
Lalu Sandi memintaku untuk memutar badan manghadap pada dirinya dan dibalikkannya tubuhku sehingga. Sekarang aku berada dibawah tubuhnya bersandarkan bantal tinggi, lalu Sandi menaikkan kedua kakiku kebahunya kemudian ia bersimpuh di depan memekku. Sambil mengayun dan memompa kontolnya dengan yang cepat dan kuat. Aku bisa melihat bagaimana wajah Sandi yang tak tahan lagi akan denyutan diujung kontol yang semakin mendesak seakan mau meledak.
“Buu… Pleaass.. See.. Aku akaan meleedaaakkh!”
“Tungguu Saan.. Orgasmeku juga mauu.. Datang ssayaang.. Kita sama-sama yaa..”
Akhirnya… Cret.. Cret.. Cret tak tertahankan lagi bendungan Sandi jebol memuntahkan spermanya di vaginaku. Secara bersamaan akupun mendengus dan meneriakkan erangan kenikmatan. Segera kusambar bibir sandi, kukulum dengan hangat dan kusodorkan lidahku ke dalam rongga mulut Sandi. Kudekap badan Sandi yang sama mengejang, basah badan Sandi dengan peluh menyatu dengan peluhku. Lalu ia terkulai didadaku sambil menikmati denyut vaginaku yang kencang menyambut orgasme yang nikmat yang selama ini kurindukan.
Lalu Sandi membelai rambutku dengan penuh kasih sayang kemudian mengecup keningku.
“Buu.. Thank you, i love you so much.. Terus berikan kenikmatan seperti ini untukku ya..” Bisiknya lembut.
Aku hanya mengangguk perlahan, setelah memberikan ciuman selamat tidur aku memeluknya dan langsung terlelap. Karena besok aku harus masuk kerja dan masih banyak lagi petualangan penuh kenikmatan yang akan kami lalui.

Cerita Dewasa Percintaan Yang Tak Sengaja


Nama gue Damar (nama samaran). Gue tuh udah kuliah semester 3 di … gak usah gue sebutlah PTN-nya, yg penting ada di Bandung. Gue tinggal masih bareng orang tua dan adek gue yg masih duduk di bangku SMP, Mirna namanya (jg nama samaran). Bonyok gue dua-duanya kerja. Jadi rumah sering tinggal adek gue dan gue aja, ama pembantu.

Pada waktu sore hari. di rumah sedang kosong; bonyok lagi pergi dan kebetulan pembantu jg lagi nggak ada. Adek gue lagi pergi. Gue nyewa VCD bokep xxx dan x2. Gue seneng banget, karena gak gangguen pas lagi nonton. Cerita x2 di VCD itu kebetulan bercerita tentang hubungan sex sedarah antara kakak dek. Gila banget deh adegannya. Gue pikir kok bisa ya.

Eh, gue berani gak ya ngelakuin itu ama adek gue yg masih SMP? tp khan adek gue masih polos banget, kalo di film ini mah udah jago and pro, pikir gue dalam hati. Lagi nonton plus mikir gimana caranya ngelakuin ama adek gue, eh, bel bunyi. Wah, teryata adek gue, si Mirna ama temennya dateng. Sial, mana filmnya belum selesai lagi. Langsung gue simpen aja tuh VCD, terus gue bukain pintu. Mirna ama temennya masuk. Eh, temennya manis jg lho.

“Dari mana lo?” tanya gue.
“Dari jalan-jalan donk. Emang kaya kakak, ngerem  mulu di rumah,” jawabnya sambil manyun.
“Gue jg sering jalan tau, emang elo doank. Cuman sekarang lagi males,” kata gue.
“Oh iya, kak. Kenalin nih temen gue, namanya Siska. temen sekelas gue,” katanya. akhirnya gue kenalan ama tuh anak.
Tiba-tiba si Mirna nanya,
“liat VCD Boyzone gue gak?”
“Tau’, cari aja di laci,” kata gue.
Eh, dia ngebuka tempat gue naro VCD xxx. Gue langsung gelagapan.

“Eh, bukan disitu…” kata gue panik.
“Kali aja ada kak,” katanya. Telat.
Belum sempet gue tahan dia udah ngeliat VCD xxx yg covernya lumayan hot itu, kalo yg x2 sih gak ada gambarnya.
“Idih… kak. Kok nonton film kaya gini?” katanya sambil mandang jijik ke VCD xxx itu.
Temennya sih cuma senyam-senyum aja.
“Enggak kok, gue tadi dititipin ama temen gue,” jawab gue bohong.
“Bohong banget. Ngapain jg kalo dititipin nyasar ampe di laci ini,” katanya.

“Kak, ini film jorok kan? mmmmm… kaya apa sih?” tanyanya lagi.
Gue ketawa aja dalam hati. Rada jijik, kok sekarang malah penasaran.
“Elo mau nonton jg?” tanya gue.
“Mmmmm…. jijik sih… tp… penasaran juga kak…,” katanya sambil malu-malu.
“Siska, elo mo nonton jg gak?” tanyanya ke temannya.
“Gue mah asyik aja. Lagian gue udah pernah kok nonton film begituan” jawab temannya.
“Gimana… jadi nggak? keburu mama ama papa pulang nih,” desakku.
“Ayo deh. Tp kalo gue jijik, dimatiin ya?” katanya.
“Enak aja lo, elo kabur aja ke kamar,” jawab gue.
Lalu VCD itu gue nyalain. Jreeeeng… dimulailah film xxx tersebut. Gue nontonnya sambil sesekali mandangin adek gue ama temennya. Si Siska sih keliatannya tenang nontonnya, udah expert kali ya? Kalo adek gue keliatan banget baru pertama kali nonton film kaya gituan. Dia keliatan takut-takut. Apalagi pas adegan penisnya cowo dikulum. Mana tuh penis gedenya minta ampun.
“Ih, jijik banget…” kata Mirna.
Pas adegan ML kayanya si Mirna udah gak tahan. Dia langsung kabur ke kamar.
“Yeee, malah kabur,” kata Siska.
“Elo masih mau nonton gak?” tanya gue ke si Siska.
“Ya, terusin aja,” jawabnya.
Wah, boleh jg nih anak. Kayanya, bisa nih gue main ama dia. Tp kalo dia marah gimana? pikir gue dalem hati. Ah, gak apa-apa kok. Gak sampe ML ini. Sambil nonton, gue duduknya ngedeket ama dia. Dia masih terus serius nonton. Lalu gue coba pegang tangannya. Pertama dia kaget tp dia nggak berusaha ngelepas tangannya dari tangan gue. Kesempatan besar, pikir gue . Gue elus aja lehernya. Dia malah memejamkan matanya. Kayanya dia menikmatin banget. Wow, tampangnya itu lho… manis!! Gue jadi pengan nekat.
Waktu dia masih merem, gue deketin bibir gue ke bibir dia. Akhirnya bersentuhanlah bibir kita. Karena mungkin emang udah jago, si Siska malah ngajakin french kiss. Lidah dia masuk ke mulut gue dan bermain-main di dalem mulut. Sial, jagoan dia daripada gue. Masa gue dikalahin ama anak SMP sih.
Sambil kita berfrench kiss, gue berusaha masukkin tangan gue ke balik bajunya. Nyari sebongkah buah dada imut. Ukuran toketnya gak begitu gede, tp kayanya sih seksi. Soalnya badan si Siska itu gak gede tp gak kurus, dan tubuhnya itu putih. Begitu ketemu toketnya, langsung gue pegang dan gue raba-raba. Tp masih terbungkus ama bra-nya.
“Baju lo gue buka ya?” tanya gue.
Dia ngangguk aja sambil mengangkat tangannya ke atas. Gue buka bajunya. Sekarang dia tinggal pake bra warna pink dan celana panjang yg masi h dipake. Shit!! kata gue dalem hati. Mulus banget! Gue buka aja bra-nya. payudaranya bagus, runcing dan putingnya berwarna pink. Langsung gue jilatin toketnya… dia mendesah… Gue jadi makin terangsang. Gue jadi pengan ngentotin dia. Tp gue belom pernah ML jadi gue gak berani.
Tp kalo sekitar dada aja sih gue lumayan tau. Gimana ya? Tiba-tiba pas gue lagi ngejilatin toketnya si Siska, adik gue keluar dari kamar. Kita sama-sama kaget. Dia kaget ngeliat apa yg kakak dan temennya perbuat. Gue dan Siska kaget pas ngeliat Mirna keluar dari kamar. Si Siska buru-buru pake bra dan bajunya lagi. Si Mirna langsung masuk ke kamarnya lagi. Kayanya dia shock ngeliat apa yg kita berdua lakuin. Si Siska langsung pamit mo pulang.
“Bilang ama Mirna ya…. sorry,” kata Siska.
“Gpapa kok,” jawab gue. Akhirnya dia pulang.
gue ketok kamarnya Mirna. Gue pengen ngejelasin. Eh, dianya diem aja. Masih kaget kali ya, pikir gue. Gue tidur aja, dan ternyata gue ketiduran ampe malem. Pas kebangun, gue gak bisa tidur lagi. Gue keluar kamar. Nonton tv ah, pikir gue. Pas sampe di depan TV ternyata adek gue lagi tidur di kursi depan TV. Pasti ketiduran lagi nih anak, kata gue dalam hati. Gara-gara ngeliat dia tidur dgn agak “terbuka” tiba-tiba gue jadi keinget ama film x2 yg belom selesai gue tonton, yg ceritanya tentang hubungan sex antara adek dan kakak, ditambah hasrat gue yg gak kesampaian pas sama Siska tadi.
Ketika adek gue ngegerakin kakinya membuat roknya tersingkap, dan terlihatlah CD-nya. Begitu ngeliat cd nya gue jadi semakin nafsu. Tp gue takut. Ini kan adek gue sendiri masa gue entotin sih. Tp dorongan nafsu semakin menggila. Ah, gue pelorotin aja cdnya. Eh, ntar kalo dia bangun gimana? ah, cuek aja. Begitu CD-nya turun semua, wow, bel ahan memeknya terlihat masih amat rapet dan di hiasi bulu-bulu halus yg baru tumbuh. Gue coba sentuh… hmmm, halus sekali. Gue sentuh garis memek-nya. Tiba-tiba dia menggumam. Gue jadi kaget. Gue ngerasa di ruang TV terlalu terbuka. Gue rapiin lagi pakaian adek gue, truss gue gendong ke kamarnya dia.
Sampe di kamar dia… it’s show time, pikir gue. Gue tidurin dia di kasurnya. Gue bukain bajunya. Ternyata dia gak pake bra. Wah, payah jg nih adek gue. Ntar kalo toketnya jadi turun gimana. Begitu bajunya kebuka, toket mungilnya menyembul. Ih, lucu bentuknya. Masih kecil toketnya tp lumayan ada. Gue coba isep putingnya… hmmm…. nikmat! Toket dan putingnya begitu lembut. Eh, tiba-tiba dia bangun!!
“Kak… ngapain lo!!” teriaknya sambil mendorong gue. Gue kaget banget.
“mmmm… mmm… nggak kok, gue cuman pengen nerusin tadi pas sama si Siska. Gak papa kan?” jawab gue ketakutan.
Gue berharap bonyok gue gak ngedenger teriakan adek gue yg agak keras tadi. Dia nangis.
“Sorry ya Mir. Gue salah, abis elo jg sih ngapain tidur di ruang TV dgn keadaan seperti itu. Gak pake bra lagi,” kata gue.
“Jangan bilang sama mama dan papa ya, please…,” kata gue.
Dia masih nangis. Akhirnya gue tinggalin dia. Aduh, gue takut ntar dia nga du.
Sejak saat itu gue kalo ketemu dia suka canggung. Kalo ngomong paling seadanya aja. Tp gue masih penasaran. Gue masih pengen nyoba lagi untuk ngegituin Mirna. Sampai pada suatu hari, adek gue lagi sendiri di kamar. Gue coba masuk.
“Mir, lagi ngapain elo,” gue nyoba untuk beramah tamah.
“Lagi dengerin kaset,” jawabnya.
“Yg waktu itu, elo masih marah ya….” tanya gue.
“….” dia diem aja.
“Sebenernya gue… gue… pengen nyoba lagi….” gila ya gue nekat banget. Dia kaget dan pas dia mo ngomong sesuatu langsung gue deketin mukanya dan langsung gue cium bibirnya.
“Mmhhpp… kakk…. mmmhph…” dia kaya mo ngomong sesuatu.
Tp akhirnya dia diem dan mengikuti permainan gue untuk ciuman. Sambil ciuman itu tangan gue mencoba meraba-raba toketnya dari luar. Pertama ngerasain toketnya diraba, dia menepis tangan gue. Tp gue terus berusaha sambil tetap berciuman.
Setelah beberapa menit berciuman sambil meraba-raba toket, gue mencoba membuka bajunya. Eh, kok dia langsung mau aja dibuka ya? Mungkin dia lagi merasakan kenikmatan yg amat sangat dan pertama kali dirasakannya. Begitu dibuka, langsung gue buka bra-nya. Gue jilatin putingnya dan sambil mengusap dan mneremas- remas toket yg satunya. Walaupun toket adek gue itu masih agak kecil, tp dapat memberikan sensasi yg tak kalah dgn toket yg gede. Ketika lagi di isep-isep, dia mendesah,
“Sshh… ssshhhh…. ahhh, enak, kak….” Setelah gue isepin, putingnya menjadi tegang dan agak keras.
Truss gue buka celana gue dan gue keluarin “adek” gue yg udah lumayan tegang. Pas dia ngeliat, dia agak kaget. Soalnya dulu kita pernah mandi bareng pas “punya” gue masih kecil. Sekarang kan udah gede donk. Gue tanya ama dia,
“berani untuk ngisep punya gue gak? ntar punya elo jg gue isepin deh, kita pake posisi 69”
“69… apa’an tuh?” tanyanya.
“Posisi di mana kita saling mengisap dan ngejilatin punyanya partner kita pada saat berhubungan.” jelas gue.
“Oooo…” Langsung gue ngebuka celana dia dan CDnya dia.
Kita langsung ngambil posisi 69. Gue buka belahan memeknya dan terlihatlah klentitnya seperti bentuk kacang di dalem memeknya itu. Ketika gue sentuh pake lidah, dia mengerang,
“Ahhhh… kakak nyentuh apanya sih kok enak banget….” tanyanya.
“Elo mestinya ngejilatin dan ngisep punya gue donk. Masa elo doank yg enak,” kata gue.
“Iya kak, abis takut dan geli sih…” jawabnya.
“Jangan bayangin yg bukan-bukan dong. Bayangin aja keenakan elo,” kata gue lagi.
Saat itu jg dia langsung menjilat punya gue. Dia ngejilatin kepala anu gue dgn perlahan. Uuhhh…. enak bener. Truss dia mulai ngejilatin seluruh dari batang gue. Lalu dia masukkin punya gue ke mulutnya dan mulai menghisapnya. Ooohhhh…. gila bener. Dia ternyata berbakat. Isepannya ngebuat gue jadi hampir keluar.
“Stop… eh, Mir, stop dulu,” kata gue.
“lho knapa?” tanya nya.
“Tahan dulu ntar gue keluar,” jawab gue.
“Lho emang kenapa kalo keluar?” tanyanya lagi.
“Ntar game over,” kata gue.
Ternyata adek gue emang belom ngerti masalah seks. Bener-bener polos. Akhirnya jelasin kenapa kalo cowo udah keluar gak bisa terus pemainannya. Akhirnya dia mulai mengerti. Posisi kita udah gak 69 lagi, jadi gue aja yg bekerja. Kemudian gue terusin ngisepin memeknya dan klentitnya. Dia terus menerus mendesah dang mengerang.
“Kak Damar… terus kak… disitu… iya disitu… oohhhhh…. ssshhhh….” Gue terus menghisap dan menjilatinya. Dia menjambak rambut gue. Sambil matanya merem melek.
Akhirnya gue udah dalam kondisi fit lagi (tadi kan kondisinya udah mo keluar). Gue tanya sama adek gue,
“Elo berani ML gak?”
“…” dia diem.
“Gue pengen ML, tp terserah elo… gue gak maksa,” kata gue.
“Sebenerya gue takut. Tp udah kepalang tanggung nih…. gue lagi on air,” kata dia.
“Ok… jadi elo mau ya?” tanya gue lagi.
“…” dia diem lagi.
“Ya udah deh, kayanya elo mau,” kata gue.
“Tp tahan sedikit. nanti agak sakit awalnya. Soalnya elo baru pertama kali,” kata gue.
“…” dia diem aja sambil menatap kosong ke langit-langit.
Gue buka kedua belah pahanya lebar-lebar. Keliatan bibir memeknya yg masih sempit itu. Gue arahin ke lobang memek nya. Begitu gue sentuhin pala anu gue ke memeknya, Mirna menarik nafas panjang, dan keliatan sedikit mengeluarkan air mata.
“Tahan ya Mir….” Langsung gue dorong anu gue masuk ke dalem memeknya.
Tp masih susah, soalnya masih sempit banget. Gue terus nyoba mendorong anu gue… dan… bleesss… Masuk jg pala anu gue. Mirna agak teriak,
“akhhh sakit kak….”
“Tahan ya Mir…” kata gue.
Gue terus mendorong agar masuk semua. Akhirnya masuk semua anu gue ke dalam selangkangan adek gue sendiri.
“Ahhh… kak… sakit kak… ahhhh.” Setelah masuk, langsung gue goyang maju mundur, keluar masuk memeknya.
“Ssshhh… sakittt kakk…. ahhh… enak… kak, terussss… goyang kakk…” Dia jadi mengerang tdk keruan.
Setelah beberapa menit dgn posisi itu, kita ganti dgn posisi dog style. Mirna gue suruh nungging dan gue masukkin ke memeknya lewat belakang. Setelah masuk, terus gue genjot. Tp dgn keadaan dog style itu ternyata Mirna langsung mengalami orgasme. Terasa sekali otot-otot di dalam memeknya itu seperti menarik anu gue untuk lebih masuk.
“Ahhhhh… ahhha… gue lemess banget… kak,” rintihnya dan dia jatuh telungkup.
Tp gue belom orgasme. Jadi gue terusin aja. Gue balik bad annya untuk tidur terlentang. Truss gue buka lagi belahan pahanya. Gue masukkin anu gue ke dalam memeknya. Padahal dia udah kecapaian.
“Kak, udah dong. Gue udah lemes…” pintanya.
“Sebentar lagi ya…” jawab gue.
Tp setelah beberapa menit gue genjot, eh, dianya seger lagi.
“kak, yg agak cepet lagi dong…” katanya. Gue percepat dorongan dan genjotan gue.
“Ya… kaya… gitu dong… sssshh… ahhh.. uhuuh,” desahannya makin maut aja.
Sambil ngegenjot, tangan gue meraba-raba dan meremas toketnya yg mungil itu. Tiba-tiba gue seakan mau meledak, ternyata gue mo orgasme.
“Ahhh, Mir gue mo keluar…. ahhh…” Ternyata saat yg bersamaan dia orgasme jg.
Anu gue sperti dipijat- pijat di dalem. Karena masih enak, gue ngeluarinnya di dalem memeknya. Ntar gue suruh minum pil KB aja supaya gak hamil, pikir gue dalam hati. Setelah orgasme bareng itu gue cium bibirnya sebentar. Setelah itu gue dan dia akhirnya ketiduran dan masih dalam keadaan bugil dan berkeringat di kamar gara-gara kecapaian.
Ketika bangun, gue denger dia lagi merintih sambil menangis.
“Kak, gimana nih. Punya gue berdarah banyak,” tangisnya.
Gue liat ternyata di kasurnya ada bercak darah yg cukup banyak. Dan memeknya agak sedikit melebar. Gue kaget ngeliatnya. Gimana nih jadinya?
“Kak, gue udah gak perawan lagi ya?” tanyanya.
“…” gue diem aja. Abis mo jawab apa.
Gila… gue udah merenggut keperawanan adek gue sendiri.
“Kak, punya gue gak apa-apakan?” tanyanya lagi.
“Berdarah begini wajar untuk pertama kali,” kata gue.
Tiba-tiba, gara-gara ngeliat dia gak pake CD dan memperlihatkan memeknya yg agak melebar itu ke gue, anu gue “On” lagi.
Gue elus-elus aja memek adek gue itu. Truss gue suruh dia tiduran lagi.
“Mo diapain lagi gue kak?” tanyanya.
“Nggak, gue pengen liat apa punya elo baik-baik aja,” kata gue sambil bohong, padahal gue pengen menikmati lagi.
Pas dia tiduran, gue buka belahan memeknya. Emang sih jadi lebih lebar dan masih ada sisa sedikit darah mengering. Gue cari klitorisnya, gue jilatin lagi.
“Kak, jangan dong. Masih perih nih,” larangnya.
Yaaa… kok dia udah gak mau lagi.
“Ya udah deh, kalo masih perih,” kata gue.
Gue bingung nih, gue masih pengen lagi, tp adek gue udah keburu gak mau. Sakit banget kali ya, pertama kali begituan. Ya udah deh, gue ajak mandi bareng aja siapa tau kalo udah seger nanti dia mau lagi.
“Kita mandi bareng aja yuk,” pinta gue.
“Ayo…” kata Mirna.
Kita mandi di kamar mandi adek gue. Gue idupin air shower yg anget. Wuihhh, nikmat banget pas kena air anget. Abis cape ML ama adek sen- diri, mandi air anget. Di bawah pancuran shower, gue pertama-tama ngambil posisi berada di belakangnya. Truss gue mulai nyabunin bela- kang tubuhnya. Setelah belakangnya selesai semua, masih dalam posisi gue di belakangnya, gue mulai nyabunin bagian depannya, mulai dari perut ke atas. Pas sampe bagian toketnya gue sabunin, dia mulai meng- gelinjang dan mendesah lagi. Gue ciumin bagian belakang lehernya sambil terus nyiumin leher adek gue itu. Puting adek gue, gue pilin- pilin pake ujung jempol dan ujung telunjuk.
Eh, pada waktu gue nyabunin toket imutnya itu tangan dia menyentuh dan mulai meraba-meraba tubuh gue dan berusaha mencari punya gue. Begitu tersentuh punya gue langsung digenggam dan dipijat-pijat. Tangan gue yg satu lagi mulai bergerilya ke daerah selangkangannya. Dgn bermodalkan sabun, gue mulai nyabunin bagian memek adek gue itu. Pertama, gue usap dari luar bibir memeknya, lalu jari gue mulai mencoba masuk mencari klitorisnya. Adek gue tiba-tiba ngomong lagi tp masih dalam keadaan kenikmatan karena masih gue ciumin lehernya dan putingnya gue pilin-pilin.
“Kak, sshhh… Jangan dulu donk. Sshttss… ahhh…” erangnya.
Ya udah, gue gosok-gosok aja dari luar. Ternyata belom lama setelah gue gosok-gosok itu ternyata adek gue orgasme.
“Aahhh… ah…” dia merintih keenakan dan dia langsung lemas.
Setelah dia orgasme itu, gue minta dia untuk memainkan anu gue pake tangannya. Dgn memakai sabun dia mengocok anu gue. Enak banget. Tangannya yg kecil itu menggenggam anu gue erat sekali. Akhirnya tak lama kemudian gue keluar jg. Selesai itu, kita langsung keluar kamar mandi. dan gue keluar dari kamarnya.
Setelah hari itu, gue agak sibuk dgn tugas-tugas kuliah gue sampe seminggu. Nah, pada suatu hari gue lagi lewat di depan kamar Mirna. Eh, kedengeran suara orang lagi mendesah-desah, tp agak samar. Wah, lagi ngapain nih anak. Gue penasaran, kalo gue ketok pasti ntar udahan. Gue lewat belakang aja, soalnya ada jendela yg “cukup” untuk ngeliat ke dalem kamarnya, walaupun harus manjat. Gue panjat dinding, truss gue liat lewat jendela. Ternyata… Gue kaget banget. Gue kirain paling dia lagi masturbasi, taunya si Mirna lagi di jilatin memeknya ama si Siska.
Masa adek gue lesbi sih. Gue masih gak abis pikir. Ya udah deh gue nikmatin aja deh. Gue liat si Siska masih pake rok seragam SMPnya, sedangkan dadanya udah kebuka dan toketnya yg runcing dan sexy itu kaya’nya makin sexy deh. Sedangkan si Mirna udah bugil. Kacau jg nih anak-anak smp. Pulang sekolah lang sung “maen”. Si Mirna masih terus mendesah, karena Siska menjilati memeknya dgn sangat nafsu. Tangannya si Siska jg meremas-remas toket imutnya Mirna, dan dia jg kadang kadang meremas toketnya sendiri.
“mmmppphhhhh…. Siska…. geliii banget. Aaahhh…. enak.. mmmhh..” terdengar sedikit desahannya Mirna.
Lagi asyik-asyiknya tiba-tiba gue inget ama janji ketemu temen gue untuk ngerjain tugas gue. Sial, kenapa gue bisa lupa ama tuh tugas. Ya udah, terpaksa gue tinggalin deh adegan lesbi ini.
Besok malemnya, pas si Mirna lagi nonton TV, gue ngomong ama dia.
“Ntar malem gue ngomong sesuatu ama elo. Jangan tidur dulu ya?” kata gue.
“Ngomong sekarang aja knapa?” jawabnya.
“Gue lagi ada tugas nih. Pokoknya tungguin ya!” kata gue lagi.
Setelah tugas gue selesai, gue langsung ke kamar adek gue. gue ketok…
“Mir, udah tidur belom?” panggil gue agak perlahan supaya gak ke- dengeran bonyok gue.
“Masuk aja kak, gak dikunci kok,” jawabnya.
“Hai, belom ngantuk kan?” kata gue.
“Belom kok. Ada apa sih kak? Kok kayanya serius banget,” kata dia.
“Mir, sorry. Kemaren gue… kemaren gue ngeliat elo,” gue diem.
Gue nggak enak ngomongnya, soalnya dia bisa marah karena gue intip.
“Ngeliat apa kak?” tanyanya penasaran.
“Nnggg… ngeliat elo ‘maen’ ama Siska kemaren di kamar elo,” kata gue.
Mirna langsung keliatan kaget. Dia diem dan keliatan tegang.
“Kenapa sih Mir, apa elo lesbi. Ups, sorry itu privasi elo sih. Gue nggak berhak nanya. Cuman gue penasaran aja,” kata gue.
Tiba-tiba dia ngeluarin air mata.
“Abis… abis kak Damar sibuk terus sih seminggu ini,” jawabnya sambil agak nangis.
“Mirna kan pengen lagi, kaya waktu itu. Abis enak…” jawabnya lagi.
“Kok gak bilang a ja ama gue?” kata gue.
“Abis Mirna malu. Malu minta ama kak Damar. Terus, Mirna curhat ke Siska. Eh, dia bilang,
‘mo nyoba ama dia gak?’” terangnya.
“Karena Mirna pengen banget, ya udah Mirna maen aja ama Siska. Tp kayanya masih enakan… masih enakan maen ama kak Damar,” kata dia langsung nunduk sambil masih agak nangis.
Gue sedih ngedengernya. Gue angkat mukanya supaya gak nunduk. Gue deketin mukanya perlahan, lalu gue deketin mulutnya dan gue cium bibirnya dgn perlahan supaya Mirna menikmatinya. Mirna langsung merespon dgn memainkan bibirnya di bibir gue. Lidah gue maen di dalem mulutnya. Tangan gue mulai membuka kancing piyamanya, lalu gue buka piyamanya sambil masih dalam keadaan berciuman.
Gue raba perlahan-lahan toketnya yg masih imut itu dan masih terbungkus bra. Gue berciuman ama adek gue itu cukup lama jg. Gue buka branya. Adek gue masih dalam posisi keadaan duduk, gue isep toketnya mulai dari putingnya yg masih agak baru t umbuh tp sexy itu dan terus gue jilatin memutari putingnya sampai ke seluruh permukaan toketnya.
Sedangkan toket yg satu lagi gue pilin-pilin putingnya. Gue mau ngasih servis terbaik ke ade gue. Abis kasian dia udah pengan banget seminggu ini. Gue buka celana piyamanya. Dia tinggal memakai CD saja. gue buka CDnya. Terlihatlah memek seorang anak SMP yg masih agak polos itu. Sudah mulai di tumbuhi rambut-rambut halus. Gue liat Memeknya itu mulai basah. Kayanya dia lagi benar-benar terangsang. Gue buka belahan memeknya. Gue jilatin sekitar clitorisnya. Dia bergoyang-goyang, menahan kenikmatan sambil agak menjambak rambut gue. Terasa asin ketika gue jilat cairan memeknya.
“Kak… terussss… kak… di situ…. enakkk… hhh…” desahnya agak keras.
“Ssstt… jangan keras-keras donk. Udah malem nih,” kata gue takut bonyok bangun.
Bisa berabe nih. Suara dia jadi berisik sekali. Setelah agak lama mempetting dia di sekitar vagin anya, gue langsung ngeluarin anu gue. Anu gue sih gak perlu pake pemanasan lagi. “Doi” udah tegang!
“Mir, gue masukkin sekarang ya?” kata gue.
Mirna langsung tegak lurus mendongak ke atas. Gue segera mengatur posisi di atas tubuhnya di antara pahanya. Gue buka pahanya lebar-lebar sehingga selangkangannya betul-betul terbuka. Kali ini gue bisa melihat dgn jelas ‘pintu’nya yg berupa celah dua bibir-bibir. Dgn dua tangan gue buka bibir memeknya itu dan dapat kulihat celahnya itu tampak penuh cairan licin. Gue dorongkan saja pinggulku sehingga anu gue pas di depan lubang kenikmatannya. Dgn satu tangan gue menggesek-gesekkan kepalanya sehingga membuka bibirnya dan menyebabkan kepalanya pas berada di depan celah lubangnya itu. Dgn satu sentakan perlahan aku dorongkan kepala anu gue mema- sukinya.
“Kak…. mmmpphhhhhh!” erangnya. Aku berdiam beberapa saat sampai lonjakan rasa nikmat tadi mereda perlahan-lahan.
Aku merasakan bah wa beberapa tusukan akan bisa mem- buatku keluar dan aku nggak ingin meninggalkan dia dgn ketdktun- tasan. Kan gue mo ngasih servis yg bagus. Gue tahan sebentar, sambil gue pandangin wajah lugu adek gue yg sedang merem. Setelah itu gue mulai menggenjotnya.
“mmmppphhhh… ssshhh… ahhh..” dia menggumam tdk jelas.
Gue mempercepat gerakan gue maju mundur.
“Kak… teruss kak….” dia terus mengerang.
Setelah gue agak negrasa gue mo keluar, gue keluarin anu gue dari memek adek. Untung ternyata gue belum sampai orgasme. Gue ganti gaya. Adek gue gue suruh tidur menyamping. Setelah itu gue angkat satu kakinya, dan gue masukkin lagi anu gue.
“Ahhh… lagi kak… teeruss…” katanya.
Gue goyang lagi. Ternyata dalam keadaan itu membuat dia dan jg gue orgasme.
“Kak… gue… mo… ke.. keluar nih… ahhhhhhhhhh…” dia mendesah panjang, tak lama dari orgasme dia, gue jg keluar dan gue ngeluarin sperma gue di dadanya.
“Mir, elo n ggak nyoba jilat sperma gue?” tanya gue.
“Geli ah,” jawabnya.
“Eh, coba deh…” Dia mengambil sperma gue dari dadanya dgn jarinya dan dia jilat.
“Mmm… asin. Tp kok enak ya?” jawabnya.
Dia malah ketagihan. Dia malah menjilati sperma gue yg tumpah di dadanya.
“Ok Mir, gue mo tidur. Tp kalo elo mau maen lagi, jangan sungkan. Bilang aja ama gue,” kata gue.
“Iya deh, kak. Makasih ya!” jawab Mirna.
gitu deh kisah hubungan gue ama adik gue Mirna dan sampe sekarang gue ama Mirna masih ngelakuin hubungan sex kakak-adik yg kita nikmati banget

Cerita Dewasa Ngesex Wanita Asia Idamanku


Hi, nama saya Thomas, Saya seorang expat (bule) yg telah lama tinggal di Jakarta, dan saya ingin bertanya kepada anda: Pernahkah anda memiliki fantasi seksual terhadap seorang perempun? Perempuan itu dapat menjadi siapa saja! Bisa jadi guru anda di sekolah dulu, dosen di universitas, teman kerja, bos atau bawahan bahkan mungkin pembantu di rumah anda! Yg jelas perempuan itu pasti memiliki sesuatu yg membikin nafas anda sesak setiap kali mengingatnya.

Well, saya punya! dan percaya atau tdk, sy adalah salah satu laki-laki yang beruntung diantara jutaan laki-laki yg lain, mengapa? Karena anda akan menemukan bahwa segala impian dan fantasi seksual saya akan menjadi kenyataan.

Dari dulu saya memang selalu menyukai wanita Asia, mungkin salah satu alasan mengapa saya mau ditugaskan oleh kantor saya di Jakarta, tempat yg tadinya saya tdk pernah tahu eksistensinya, tempat yg tadinya saya tdk tahu akan ada wanita seperti Rani.

Hmmh, Rani oh Rani.. Dia memang tdk memiliki buah dada sebesar Pamela Anderson, tp buah dadanya yg sedikit lebih besar dari kepalan tanganku selalu terbayang di dalam blouse kerjanya ditutupi bra hitam tepat di bawah leher panjang dan bahu indah warna kuning langsat khas wanita Asia.

Rani memang tdk memiliki postur tubuh seindah Cindy Crawford, tetp pinggangnya yg kecil selalu menemani pinggul indah bak apel dan hmm.. pantatnya yg ranum selalu terbayang! Tak ketinggalan kaki kecilnya yg panjang bak peragawati menopang pahanya yg putih bersih ditutupi rok mininya yg sexy! Takkan habis hasratku menginginkan dirinya! Terbayang selalu diriku di atas tubuhnya yg ramping putih meremas buah dadanya! Menarik turun rok mininya! Dan memasukan alat kejantananku kedalam kemaluannya! Memompanya dgn cepat! Dan lebih cepat! Dan..

“Thomas?”
“Oh.. Hi! Ran..” dgn gelagapan aku menjawab sapaan Rani yg entah telah berapa lama berada di hadapanku yg sedang melamun sambil minum sendirian di Hard Rock Cafe ini. He he he, malunya aku!
“Thomas, kamu lagi ngapain di sini?” Sekali lagi dia menyapaku.
“Ran! Ngga sangka ketemu kamu di sini”, jawabku cepat menutupi kagetku.
Rani menjawab dgn senyuman sambil berkata:
“Aku sih emang sering ke sini! Seneng deh bisa ketemu kamu, hihi.. kamu sendirian kan? Aku join kamu yah? yah?”
Sebelum sempat aku menjawab, Rani telah menarik bangku dan duduk di sampingku, dan aku berpikir
“Ya Tuhan betapa anehnya ini..” Lalu selanjutnya kita berdua telah asyik berbicara ngalor-ngidul.
Tak kusangka Rani ternyata kuat minum. Pembicaraan kami diwarnai oleh pesanan baru yg selalu datang mengganti gelas cocktailnya yg mulai kosong
Sementara konsentrasiku untuk minum telah luluh-lantak dihancurkan sepasang bahu indah ditemani leher panjang di atas belahan dada putih milik Rani, sang fantasi seksualku yg tiba-tiba datang menghampiri! Rani malam ini memang lebih sexy dari biasanya ditutupi gaun sackdressnya yg berwarna merah menyala. Dan kuberpikir lagi,
“Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?” Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 3 pagi.
Dari cara Rani berbicara dan raut mukanya, kutahu bergelas-gelas cocktail yg Dia minum telah memberikan hasil sesuai yg diinginkannya. Rani mabok. Tdk ada hal lain yg dapat kulakukan selain meminta kunci mobilnya dan memaksa untuk mengantarnya sampai di rumah. Rani tdk melawan dan dgn pasrah masuk ke dalam mobil di kursi penumpang depan.
Kumulai mengendarai mobilnya sampai tiba-tiba Rani berkata,
“Thom! Aku nggak bisa pulang lagi mabok kaya beginih.. Ke rumah kamu aja yahh.. aku tidur rumah kamu dulu boleh kan Thom?” Aku berpikir
“Terima kasih Tuhanku!”
Setibanya di apartemenku, kubimbing dia ke kamar tidurku, Rani langsung duduk di tempat tidur. Tersenyum aku sambil mencopot sepatunya, kuberpikir
“Ya Tuhan betapa indah dan sexynya sepasang kaki putih laksana kapas ini.. dan mmmppphhhh..” Tiba-tiba terdengar bisikan yg berkata,
“Jangan Thomas! Dia mabok! Kamu nggak boleh mempergunakan kesempatan! Itu tdk gentleman!” Lalu,
“Man! lihat betapa sexynya pundak si Rani, lehernya.. pahanya.. Ohh” Dan,
“Thomas! Kamu bukan orang seperti itu!” Lalu,
“Ingat Thomas! Kapan lagi kamu punya kesempatan seperti ini, jangan bodoh!”
“Sial!!” dalam hatiku.
Ada seorang wanita cantik dan seksi, idamanku, fantasy seksualku, duduk di tempat tidurku dan aku malah bingung harus gimana.
“Sial! Sial! Sial!” Ketika aku sedang sibuk sendiri dgn pikiranku, tiba-tiba,
“Thomashh.. sini Thomas.. Hhh” rintih Rani.
Tanpa berpikir dua kali aku mendekat seperti anak buah dipanggil majikan dan berkata,
“I.. Iya Ran.. Ada yg kamu mau? Air putih mungkin?”
“Aku mau kamuhh, Thomas sayangggggg..” Rani menjawab.
“Deg deg!” tak kuasa kutahan degup jantungku yg semakin menderu-deru.
Belum sempat kuberpikir lebih lanjut, kulihat jari-jari mungil Rani telah berada di ikat pinggangku bersamaan dgn tangan putih berbulu halusnya.
“Aku ingin kamu Thomas.. ” Sekali lagi Rani membuka bibirnya yg basah dan ranum memerah,
“Iya Thomashh.. malam ini!” Rani meneruskan desahannya.
“Tp.. Ran..” belum sempat kuhabis berucap, tiba-tiba jari-jari mungil tadi dgn perlahan membuka ikat pinggangku dan dgn bantuan lengan yg indah berbulu halus tadi menarik turun celana blue jeansku dgn mudah tanpa perlawanan dariku.
“Ohh Rani.. Aku tak tahu ini benar dilakukan atau..” jawabku.
“Ssstttt.. Aku selalu ingin tahu bagaimana rasanya dgn orang putih sepertimu Thomas.. ” Rani memotong, dan mulai menarik turun celana dalamku.
“Hmmh, memang Punyanya bule sepertimu lebih besar dari pada orang kita.” Rani dgn genit memandangi alat kemaluanku yg memang sudah mulai mengeras.
“Ran..” Aku yg merasa harus mengatakan sesuatu. Kembali dipotong olehnya sambil berkata,
“Kamu harus tau kehebatan cewek Indonesia Thommmmm.. mmhh,” sambil berkata demikian Rani mendekatkan wajah cantiknya ke jantananku dan sambil mengedip-ngedipkan bulu matanya yg panjang dan lentik .
Rani mulai mengecupnya,
“Mmmuuah.. cup.. cup..” Bibirnya yg merah ranum mulai menjelajahi kepala kejantananku yg mulai mengeras dan terus mengeras.
“Aku belum pernah dgn barang segede gini.. hihi,” godanya genit dan kali ini menjulurkan lidahnya ke batang kemaluanku dari bawah kembali ke atas menyentuh kepala kejantananku lagi.
“Mmmhh,” godanya lagi.
“Shh.. hh,” aku cuma bisa mendesis, tak terbayang betapa terangsangnya aku oleh kejadian ini! Dan,
“Emmhh,” Rani memasukkan setengah alat kejantananku kedalam mulutnya yg mungil, dan kepalanya mulai bergerak naik turun secara perlahan.
“Ughhooghh.. Rani! yeah!” Aku merintih menahan rasa nikmat dari mulut Rani yg basah dan hangat.
Rani sejenak menarik keluar kejantananku dari mulutnya dan berkata,
“mmmpphhh.. Enak nggak sayang?” Lalu kembali melumat dan menghisap kejantananku kali ini dgn ritme yg lebih cepat, “mmmppphhhh.. mm..mm..”
“Arrgghh!! Rani! Oh Rani..” Aku mulai mengerang agak keras karena merasakan lidah halus Rani bergerak-gerak di dalam mulutnya yg hangat sementara kepala Rani terus bergerak naik turun bertambah cepat.
“Ouuggghhhhhhh!!” Kali ini aku tdk dapat menahan hasrat yg meluap-luap di dalam diriku.
Kutarik turun gaun sackdress yg dipakainya sehingga terlihat punggung putih mulus berbulu halus sedikit tertutup oleh rambutnya yg panjang dan hitam lebat. Rani tdk memakai bra. Kemudian kuteruskan lagi menarik turun sampai terlihat celana dalam putih tipis berenda yg membalut pantat putih kemerah-merahan yg ranum.
Lalu kujulurkan tanganku yg panjang mencoba meraih liang kewanitaan yg tersembunyi di bawah pantat ranum putih miliknya. Dan tersentuh olehku daging halus sedikit berbulu yg telah basah oleh cairan lubrikasi tanda siap untuk bercinta!
“Ohh Rani.. hh kamu sudah basah,” ku bertutur terbata-bata.
“Hmm.. hmm..” Kata-kataku dijawab Rani dgn hisapan yg lebih cepat dan liar terasa cepat melumat seluruh batang kejantananku.
“Ghhaahh.. Rani!!” Aku kembali mengerang dan mulai menggerak-gerakkan jari-jariku di bagian apa saja dari liang kemaluannya yg dapat kuraih! Trus dan trus kujulurkan jariku sampai menyentuh klitorisnya.
“mmmmppphhhh!” Kali ini terasa reaksi dari Rani karena Ia mengerang keras sambil membalas dgn mempercepat hisapan dan lumatannya ke batang kejantananku.
“mmmmpphhhhh!! hmm,” aku tdk mau kalah dan kembali membalas dgn menggetarkan secara cepat sekali jariku di atas klitorisnya!
“Ouuuhhhhh.. ohhoohh,” tak tahan Rani mengeluarkan kejantananku dari dalam mulutnya, merintih dan mulai menggenggam batang kejantananku dan mengocok cepat naik turun.
“Uhh.. mmmpphhhh.. ooohhh.. yeahh!!” Berdua kami mengerang, merintih, menikmati sentuhan masing-masing sampai akhirnya Rani tiba-tiba mendekatkan mukanya kepadaku.
Rani mulai menciumi dan melumat bibirku dgn bibirnya yg merah basah. Kubalas ciumannya sambil kupeluk dan kuelus punggung mulus dan rambutnya yg tergerai di belakang.
“mmmppphhhhh..” Sambil berciuman, Rani merentangkan kedua kaki mulus jenjangnya dan naik keatas ku.
“Sekarang Thomaasss.. hh.. hh.. ambillah aku sekaranghh..” Rani berkata dgn nafas memburu sambil menatap lekat wajahku dgn paras cantiknya.
Dgn penuh nafsu kutarik turun celana dalamnya dan kupegang batang kejantananku dgn tangan kanan, jg selangkangan Rani dgn tangan kiri. Lalu mulai memasukkan dgn perlahan kepala kejantananku kedalam liang kemaluannya yg merah menyala basah ditumbuhi rambut-rambut hitam halus indah di atasnya.
“Hoohh.. sshh,” Rani mendongak ke atas sambil memejamkan matanya dan mendesis merasakan kenikmatan penetrasi kepala kejantananku di lubang memeknya yg lalu kusambut dgn memasukkan batang kejantananku lebih dalam lagi. “Zlleeebbbb!”
“Uhh.. yeah!! Thomashh!”
“Ohh Raniiiiii..” sambil kuangkat badan Rani sedikit dan kulepas lagi sehingga naik turun di atas badanku.
“Ouurgghh.. ahh..” Kali ini Rani mengerang semakin keras dgn raut wajah sedikit meringis sambil berkata lagi, “Terus Thomashh.. gerakin lagi lebih cepat shh.. mmmpppphhhh.. yeahh..”
Terus terang tdk mudah bagiku untuk bergerak cepat memompa Rani naik turun di dalam jepitan kewanitaannya yg sempit dan hangat seolah ingin menyedot seluruh kejantananku masuk ke dalam.
“Ohh.. mm.. mmmppphhhh.. shh.. yeahh..” Rani tanpa henti-hentinya merintih, mengerang dan menggeram mesra seiring kunaikkannya kecepatan tubuhnya yg mulai basah berkeringat naik turun di atasku sambil kubenamkan terus lebih dalam kejantananku ke dalam liang kemaluannya yg semakin hangat terasa meremas-remas dan memijat-mijat kejantananku.
“Ohh Rani .. ohh kamu suka sayanghh?” Aku bertanya di sela-sela rintihan, buruan nafas dan erangan kita berdua.
“Hhh.. Cepat lagi sayanghh.. mmhh. cepat lagihh!” Rintih Rani semakin bersemangat dan mulai menggerak-gerakan pinggul mulus sexynya dgn gerakan erotis kekiri dan kekanan yg membuat liang kemaluannya semakin sempit hangat membara, menyedot dan memuntahkan kuat kejantananku keluar masuk semakin cepat dan keras.
”Arrgghhhhh!! Yeaaaahhhhh!” Geramku sambil membalas dgn menggenjotkan pantatku ke atas untuk membantu kejantananku menghunjam dan menusuk lebih dalam lagi.
“Mppphhhhhh.. oohh. oooohhh.. ahh.. ohh.. uuhh.. uhh.. uhh..urrgghhaa!” Jerit Rani menyambut genjotan hebat yg kuberikan kepadanya tanpa henti sehingga terlihat wajah cantik Rani memejamkan kedua matanya lalu meringis hebat sambil menggigit bibir bawah yg merah basah.
“Mmmhh!!” dan membuka mulutnya lagi
“Uuucccccchhhhhhhh!!” Terasa seluruh tubuhnya menggelinjang, bergetar hebat menuju puncak kenikmatan dan orgasme berulangkali yg kuberikan kepadanya tanpa ampun.
Terasa sakit genggaman jari-jemarinya yg mungil sedikit mencakar dan menggengam keras di kedua pundakku diikuti dgn seluruh tubuhnya menegang dgn seketika. Akhirnya,
“Serr!” Terasa cairan hangat mengguyur batang kejantananku yg sedang memompa keras di dalam liang kemaluannya. Yah! Puncak orgasme. Rani telah mencapainya.
“Uuuccchhhhh.. hoh.. hh.. hh.. hoh.. hohh.. hh,” terengah-engah nafas Rani memburu.
Seluruh tubuhnya yg putih indah telah habis basah kuyup oleh keringatnya, tdk ketinggalan rambutnya yg jg tdk kalah basah. Terasa tegang tubuhnya berkurang. Genggamannya melemas, dan tubuhnya jatuh lemah lunglai di atas tubuhku yg jg telah basah kuyup diguyur keringat.
“Oooooohh..hh..hh.. mmmppphhhhhh kamu emang hebat Thomas.. aku belum pernah merasa sepuas ini oleh lelaki sebelumnya..” Tutur Rani.
Saya kira tdk perlu saya ceritakan lagi apa yg terjadi seterusnya, karena cerita ini bukan mengenai diriku, melainkan mengenai fantasi seksualku, di mana saya berharap andapun akan mengalami hal yg serupa dgn fantasi seksual anda.

Cerita Sex: Anus Istriku di Pakai Lelaki Lain



Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia. Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan pulang sudah larut malam.

Erni tidak bekerja, dia hanya mengurus rumah, jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan teman- temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum pergi. Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya.

Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitaukan pada sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini. Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar. Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu depan, sengaja aku tak mengeluarkan suara untuk mengejutkannya.

Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa pakaian barunya. Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor saja. Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka, kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain.

istriku dalam posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang anusnya.. “Oh *******, lebih keras lagi dong!” perintah istriku. “Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?” “Oh ya Bud, kamu tahu itu!” Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan pemandangan mengejutkan ini.

Istriku, yang aku bersedia mati untuknya, sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku. Dan sekarang dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada lelaki ini agar memberinya lebih lagi.
Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan keseluruhan peristiwa ini. Serasa hancur hatiku saat lelaki itu menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil istriku dengan sebutan ‘jalang’, dan memaksakan batang penisnya masuk ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut.
Istriku memohon agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan pinggang lelaki ini. Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan. Kami tidak pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini.
“Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!” Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jerit an memohon lagi. Aku harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka, tapi aku tak bisa.
Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku, mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik keluar batang penisnya dari lubang anus istriku. Istriku memutar tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu.
Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya. “Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku.” Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu.
Seperti seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini. Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada bongkahan pantat istriku.
Menekan tubuhnya agar merapat saat mereka berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta. Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku, kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan. Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan perbuatan terkutuk ini padaku.
Aku selalu memperlakukannya dengan penuh cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah, setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme setiap kali kami bercinta. Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini. Aku pikir aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu. Saat aku kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya.
lubang yang sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku. “Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi *******!!” Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya. “Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?” “Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang.” Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke hatiku, merobeknya menjadi berkeping- keping seiring pinggul istriku bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum pernah kulihat darinya.
Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur! “Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?” “Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!” Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka, atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya melihat. Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya lebih dari seorang pria yang tega.
Aku akan melakukan sesuatu daripada hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan mereka dengan hati yang hancur berkeping- keping. Nafsu istriku b egitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua.
Kusaksikan batang penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya. “Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!” Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri mengintip dari balik pintu.
Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi. Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat. Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku. Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang paling keras.
Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul 7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa disebut rumah kami sekarang. Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku. “Ada yang salah, sayang?” tanyanya. “Nggak, hanya capai saja!” Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa pun yang terjadi hari ini.
Kuselesaikan makan malamku dan beranjak untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak terjadi.
Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus akan batang penis sedang memuaskan lelaki ******* yang bernama Budi. Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan merenung. ***** Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah.
Kembali kulihat mobil Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi. Dengan marah kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tak ada satu pun kata- kata yang ingin kudengar dari mulutnya.
Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan.“Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?” “Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja, kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari itu dan Budi memberinya.” “Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!” Dia memandang tajam ke arahku. “Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki.
Seorang lelaki akan membunuh pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak melakukan apa-apa. Kamu pecundang!” “Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu.” “Persetan dengan kamu!” dia meneriakiku, lalu menelepon Budi. “Budi, jemput aku, sekarang juga!” dan membanting teleponnya. Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki ******* ini datang tak lama berselang

Cerita Sex : Tak Berdaya


Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasa-biasa saja. Namun aku berkacamata dan tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tetapi entah kenapa aku banyak disukai pria. Bahkan ada yang terang-terangan mengajakku berkencan. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua teman-temanku yang laki-laki mengejek dan berkata bahwa aku Gay.

Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalan-jalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tetapi entah kenapa, hari itu aku memakai baju olah raga, bahkan memakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orang-orang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalan-jalan menghirup udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah, dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orang-orang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anak-anak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang pria yang langsung duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup tampan wajahnya dan bertubuh atletis.
“Jalan-jalan yuk..!” ajaknya tiba-tiba sambil bangkit berdiri.

“Kemana..?” tanyaku sambil mengikutinya berdiri.
“Kemana saja, dari pada bengong di sini..” sahutnya.
Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya, dan pria itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu, dan aku juga belum mengetahui namanya.
“Eh, nama kamu siapa..?” tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.

“Sendy Wiratama..” sahutku.
“Akh.., kayak nama perempuan..” celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
“Kalau aku sih biasa dipanggil uwak..” katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
“Nama kamu bagus..,” aku memuji hanya sekedar berbasa-basi saja.
“Eh, boleh nggak aku panggil kamu Dik Sendy..? Soalnya kamu pasti lebih muda dari aku..” katanya mengusulkan.
Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang sedang lapar. Sambil makan Uwak banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Uwak memang pandai membuat suasana jadi akrab.Selesai makan bubur ayam, aku dan pria itu kembali berjalan-jalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Uwak yang mengajak pulang lebih dulu.
“Mobilku di parkir disana..” katanya sambil menunjuk deretan mobil-mobil yang cukup banyak terparkir.
“Kamu bawa mobil..?” tanyaku heran.
“Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum..” katanya beralasan,”Kamu sendiri..?” sambungnya.
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
“Ikut aku yuk..!” ajaknya langsung.
Belum juga aku menjawab, Uwak sudah menarik tanganku dan menggandengku menuju ke mobilnya.
Sebuah mobil Starlet warna hitam ter-paintbrush dengan indah dan tampaknya masih cukup baru. Uwak malah memintaku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Uwak langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan pria itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan Perak, sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Uwak menahan dan memaksaku untuk singgah.
“Ayo..” katanya sambil menarik tanganku.
Uwak memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya, bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa teman yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
“Tunggu sebentar ya..!” kata Uwak setelah membawaku ke dalam sebuah kamar, dan aku yakin kalau ini pasti kamar Uwak.
Sementara pria itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tetapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tetapi bersama empat orang temannya yang sebaya dengannya. Dan pria itu memiliki wajah yang lumayan tampan dan bertubuh kekar. Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benar-benar terkejut, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tiba-tiba sekali, sehingga aku tidak sempat lagi menyadari.
“Aku dulu.., aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini..” kata Uwak tiba-tiba sambil melepaskan bajunya.
Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Uwak bukan hanya menanggalkan bajunya, tetapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar-debar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Uwak mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali. Baru kali ini aku melihat dada yang begitu besar dan padat. Uwak mendekatiku, tetapi keempat pria lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
“Eh, apa-apaan ini? Apa mau kalian..?” aku membentak kaget.
Tetapi tidak ada yang menjawab. Uwak sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tetapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga telentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Uwak saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tetapi keempat pria mengonani penisku. Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan jari-jari tangan Uwak menyambar dan langsung meremas-remas bagian batang penisku.
Seketika itu juga batang penisku tiba-tiba menggeliat-geliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku dikocok-kocok dengan bergairah oleh Uwak. Aku hanya dapat merasakan seluruh batangan penisku berdenyut-denyut nikmat. Aku benar-benar kewalahan dikeroyok lima orang pria yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tetapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tetapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpi-mimpiku. Aku benar-benar tidak berdaya ketika anusku serta mulutku dimasukkan oleh benda tumpul. Saat itu juga aku langsung menyadari kalau mereka Homo.
Sementara itu Uwak menyodomiku dengan gairah yang sangat menggebu-gebu. Anusku terasa tercabik-cabik oleh benda yang sangat besar dan tumpul. Dan salah satu dari teman Uwak memasukkan penisnya ke dalam mulutku, sehingga aku tersedak oleh benda itu. Beberapa detik kemudian aku merasakan sperma Uwak menyemprot ke dalam lubang pantatku, sehingga tubuhku merasa ngilu dan mengejang. Lalu mereka bergantian menyodomiku dan memulai kembali menggenggam batang penisku erat-erat dengan genggaman tangannya. Dengan cepatnya teman Uwak menggenjot kembali lubang anusku. Aku merasakan bagaikan tertusuk-tusuk.
Tidak lebih dari dua jam Uwak menyodomiku lagi, dan tiba-tiba dia menjerit dengan tertahan dan teman Uwak tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku dapat merasakan semprotan spermanya. Setelah itu teman Uwak yang lain menggenjot kembali lubang pantatku. Setelah mereka berlima baru saja mendapatkan orgasme, mereka menggelimpang di sebelah tubuhku, setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya. Sementara itu aku hanya dapat merenung tanpa dapat berbuat apa-apa. Bagaimana mungkin aku dapat melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini..? Aku hanya dapat berharap mereka cepat-cepat melepaskanku, sehingga aku dapat segera pulang dan melupakan semuanya.

Cerita Sex : Sang Pengintip


Pada saat itu saya mempunyai teman akrab yang bernama Deni. Saya dan dia sama–sama sekolah di sekolah yang sama, hanya berbeda kelas, dia di kelas II-E, sedangkan saya di kelas II-F, tetapi kami berteman. Deni adalah seorang anak yang berkecukupan dan bisa dibilang kaya. Deni mempunyai dua rumah, rumah yang satu dipakai oleh kedua orang tuanya, sedangkan rumah yang satunya lagi oleh orang tuanya dikontrakkan ataupun dikoskan kepada para pegawai atau mahasiswa, dan kebetulan sekali Deni diam di rumah yang dikontrakkan tadi. Dengan alasan biar tidak susah dan jauh dari sekolah dan ingin belajar hidup sendiri, maka Deni diperbolehkan tinggal di rumah yang satunya itu.

Memang kebutuhan hidup Deni selalu dipenuhi oleh orang tuanya, dimana kedua orang tuanya bekerja dan Deni mempunyai 2 adik, tetapi masih kecil–kecil Di rumah Deni yang dikoskan tersebut, dari sekian banyak orang yang tinggal, ada seorang wanita yang bernama Eka.

Sebut saja Mbak Eka, Mbak Eka tersebut mempunyai bentuk tubuh yang aduhai, dengan ciri-ciri dia mempunyai tinggi sekitar 165 cm dengan badan ideal dan wajah imut–imut, kulit putih, pokoknya cantik dan rambut hitam panjang sebahu. Mbak Eka tersebut sudah keluar sekolah SMA telah 2 tahun dan pada waktu itu Mbak Eka bekerja di perusahaan swasta yang masuk kerjanya selalu kebagian masuk siang atau biasa disebut shift dua.

Deni dan saya sendiri suka pulang sekolah siang hari, kira–kira pukul 13:30 siang, karena saya sekolah pagi. Setiap pulang sekolah Deni selalu pulang ke rumah. Yang ada di rumah hanyalah tersisa Mbak Eka saja, sebab yang lainnya bekerja berangkat pagi dan baru pulang sore hari. Setiap sehabis pulang sekolah, Deni sering sekali dan bahkan hampir tiap hari mengintip Mbak Eka yang sedang mandi untuk pergi ke kantor.

Kamar mandi di rumah Deni hanya satu, dan Deni tidur di kamar atas, sedangkan kamar mandi tersebut ada celah yang menembus dari atas. Kata si Deni biar cahaya matahari masuk ke kamar mandi untuk mengirit uang. Deni mengintip Mbak Eka yang imut–imut dan berbody mulus itu. Mbak Eka pun mempunyai payudara yang tidak kalah dari model–model majalah top Idonesia dan mempunyai bulu–bulu yang seksi di sekitar alat kelaminnya.

Pada saat mandi Mbak Eka sering sekali selalu seperti meraba–raba payudaranya sendiri, dan tidak jarang juga Mbak Eka suka seperti menggosok–gosokkan tangannya ke alat kelaminnya. Pernah juga Mbak Eka sepertinya memasukkan tangannya sendiri ke dalam alat kelaminnya atau goa hiro-nya itu dengan mendesah seperti kesakitan dan kenikmatan, “Eeh.. ehh.. uuhh.. uuhh.. iihh.. ahh..”
Karena Deni sering sekali mengintip Mbak Eka mandi pada siang hari untuk pergi ke kantor, Deni menjadi terobsesi untuk menyetubuhi Mbak Eka. Deni pun setelah mengintip Mbak Eka mandi, dia sering sekali langsung melakukan kocokan terhadap alat kelaminnya (loco–loco), karena Deni terangsang oleh bentuk tubuh sensual milik Mbak Eka. Karena Deni sering melakukan hal tersebut, akhirnya Deni pun meminta foto-nya Mbak Eka dengan alasan buat kenang–kenangan. Mbak Eka pun memberikannya tanpa curiga sedikit pun. Rasa nafsu birahinya Deni pun semakin meningkat, sebab Deni melakukan onani terhadap alat kelaminnya sambil memandangi foto Mbak Eka. Hampir tiap hari Deni setelah pulang sekolah selalu melakukan aktifitasnya seperti itu. Hubungan Deni dan Mbak Eka memang dekat, karena Mbak Eka pun kepada Deni sudah menganggap seperti adik sendiri, sedangkan Deni ingin sekali menjadi pacar Mbak Eka, apalagi berhubungan badan dengannya, itulah impian Deni.
Mbak Eka memang selalu hobby nonton film yang semi porno, seperti film remaja barat. Tidak jarang juga menonton bersama Deni di ruang tengah tamu. Bila ada film baru, Deni selalu membawa teman–teman kami, khususnya cowok dan kalau cewek sulit diajaknya, bahkan banyak yang bilang film yang kami tonton itu jorok.
Hingga suatu hari, Mbak Eka kebetulan libur dan Deni setelah habis pulang sekolah langsung bertanya kepada Mbak Eka, “Mbak kok belum mandi..? Enggak masuk kantor yah Mbak..?”
Dengan nada semangat Mbak Eka pun menjawab, “Enggak Den, kan Mbak hari ini libur Deni..”
Pada waktu itu munculah ide gila dibenak Deni. Deni langsung pergi ke sebuah rental VCD yang letaknya tidak jauh dari rumah Deni. Waktu itu Deni sangat beruntung, Deni mendapatkan kaset vCD tersebut, dan film yang dipinjam Deni bukanlah film cerita tentang kehidupan remaja yang selalu dipinjam dan ditonton oleh kami. Film yang dipinjam Deni pada waktu itu film luar yang memang sebuah film yang bukanlah film semi, melainkan film vulgar atau blue film ataupun bisa dibilang film porno.
Setelah dari tempat penyewaan VCD, Deni segera pulang dengan perasaan sudah tidak sabar ingin menonton film tersebut bersama–sama Mbak Eka.
Sesudah sampai, Mbak Eka bertanya pada Deni, “Deni habis dari mana, kok kayaknya cape Den..?”
Deni langsung menjawab dengan nafas kelelahan, “Ohh.. oh.., i.. ini Mbak, habis pinjam film, Mbak mau nonton enggak..?” dengan hati yang berharap supaya Mbak Eka pun ikut menonton.
Dan Mbak Eka pun menjawab, “Emangnya film apaan tuh Den..?”
“Oh.., ini filmnya pasti deh okey, Mbak pokoknya pasti ingin nonton deh..!”
Mbak Eka pun akhirnya ingin tau juga apa film tersebut, “Oke deh Den, tapi Mbak Eka beres–beres dulu yach Den..!”
“Iyah deh Mbak, Deni tunggu di atas..”
Memang di kamar Mbak Eka tidak ada TV dan kebetulan di kamar Deni ada TV.
Setelah menonton Mbak Eka sangat terkejut melihat film tersebut.
“Den kok ini film-nya full gar amat, dan Kamu harusnya enggak nonton yang ginian Den..?”
“Ah Embak.., kan Deni udah gede Mbak, masa harus nonton film Doraemon melulu, bosankan Mbak.. lagian biar tidak jenuh.”
Mbak Eka pada waktu itu terlihat dirinya terangsang oleh adegan–adegan yang diperagakan di film tersebut, terlihat Mbak Eka saat menonton duduknya tidak mau diam dan sekali-kali Mbak Eka pun sepertinya menelan air ludahnya. Deni pun pada waktu itu sudah pasti batang kejantanannya sudah menegang, yang rasanya ingin juga melakukan adegan–adegan seperti di film tersebut, karena sang putri sebagai lawan mainnya sudah di depan mata dia.
Tapi setelah film kedua selesai, Mbak Eka langsung meminta ijin untuk pergi ke kamar tidurnya dan Deni pun membereskan kaset VCD tersebut. Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk ke kamar mandi, tetapi Deni pada saat itu tidak ingin lagi mengintip Mbak Eka, melainkan ingin sekali berhubungan tubuh bersama Mbak Eka.
Deni sambil menunggu Mbak Eka keluar dari kamar mandi, berpura-pura menonton TV di tengah rumah tersebut. Tidak lama kemudian terlihatlah Mbak Eka keluar dari kamar mandi yang hanya memakai handuk saja sehingga pada saat itu Deni pun semakin terangsang ingin sekali langsung menerkam Mbak Eka.
Mbak Eka pun sambil jalan menuju ke kamar tidurnya bertanya kepada Deni, “Deni Kamu mau mandi juga..?”
Deni langsung menjawab, “Ah enggak Mbak..!”
Tidak lama kemudian Mbak Eka masuk kamar, dan Deni pada saat itu langsung saja secara diam–diam ingin mengintip Mbak Eka. Hari itu adalah suatu keberuntungan bagi Deni, karena ternyata pintu kamar Mbak Eka tidak ditutup rapat. Pada waktu itu Deni yang tidak berpikir panjang langsung saja masuk ke dalam kamar Mbak Eka dan langsung menutup pintu Mbak Eka dan menguncinya. Mbak Eka sangat terkejut karena pada saat itu Mbak Eka sedang memakai CD-nya yang baru sampai ke pahanya.
“Deni.., Kamu apa–apaan Deni..? Kamu berani kurang ajar Den..?” kata Mbak Eka terkejut.
Tanpa dihiraukannya omongan Mbak Eka, Deni langsung menerkam Mbak Eka bagaikan harimau menerkam rusa. Langsung saja Mbak Eka berontak dan marah. Deni mendorong Mbak Eka ke kasur tidur dan langsung menutup mulut Mbak Eka agar bungkam seribu kata.
Deni pada saat itu memang sudah kemasukan setan, Deni langsung menyiumi bibir Mbak Eka sampai dengan payudara Mbak Eka sambil memegang kedua tangan Mbak Eka. Posisi mereka pada saat itu Deni di atas badan Mbak Eka yang hanya memakai CD sampai dengan pahanya. Mbak Eka pun berontak, sehingga Deni menyiumi bibir Mbak Eka tersebut merasa sulit. Setelah itu, Deni menyiumi bibir, leher dan sampai payudara Mbak Eka. Setelah ada 10 menit dengan gigitan kecil, akhirnya Mbak Eka sepertinya sudah pasrah akan tindakan Deni tersebut.
Karena terlihat di wajah Mbak Eka sudah pasrah dan tidak berontak lagi sambil meneteskan air mata, akhirnya Deni melepaskan bajunya dan celananya hingga Deni tidak memakai sehelai kain apa pun. Deni langsung saja melepaskan CD yang akan dipakai oleh Mbak Eka yang hanya sampai di pahanya. Secara sepontan Deni memegang kedua kaki Mbak Eka dan langsung menariknya sehingga alat kelamin Mbak Eka sudah di ujung pintu kenikmatan. Tanpa basa–basi Deni memasukkan batang kejantanannya yang sudah menegang dari tadi dengan bantuan tangannya, tetapi anehnya batang kejantanan Deni sulit sekali dimasukkan ke dalam liang keperawanan Mbak Eka, sehingga Deni berusaha secara paksa.
Akhirnya Deni dapat menembus tembok sempit liang kewanitaan Mbak Eka, sehingga Mbak Eka langsung menjerit kesakitan, “Ahh.. ahh.. aawww..” karena pada saat itu kesucian Mbak Eka sudah hilang oleh batang kejantanannya Deni.
Karena mendengar Mbak Eka menjerit, nafsu birahinya Deni semakin bertambah. Deni terus mengayun batang keperkasaannya ke depan, mundur-depan-mundur untuk menuju gerbang kenikmatan yang diharapkan Deni pada klimaksnya berhubungan seks. Sekitar 15 menit kemudian, Mbak Eka merasakan liang senggamanya sudah lecet, sehingga Mbak Eka ingin sekali melepaskan batang kejantanan Deni dari liang kewanitaannya. Tetapi Deni tidak melepaskannya, malahan menarik paha Mbak Eka agar tetap pada keadaannya. Hal ini mengakibatkan Mbak Eka terlihat lemas sekali dan tidak lagi berontak, karena memang sudah benar-benar lelah di 20 menit terakhir setelah perlakuan tidak senonoh yang dilakukan Deni terhadapnya. Tidak lama kemudian, batang kejantanan Deni pun terasa hangat, lecet, dan akhirnya terasa deyutan–deyutan seperti ingin mengeluarkan cairan. Dan akhirnya cairan penyumbur Deni pun menyempot ke dalam liang senggama milik Mbak Eka.
Karena deni melihat Mbak Eka sudah lemas, Deni pun segera mengambil tindakan langsung menggenjot kembali batang kemaluannya ke dalam dan keluar liang senggama Mbak Eka secara cepat. Dari mulai sempit hingga terasa liang senggama Mbak Eka semakin lebar. Memang kali ini tidak menyempit lagi, laju jalannya batang kemaluan Deni tidak terhimpit lagi dan terasa saat itu pula terlihat adanya cairan yang dikeluarkan dari liang senggama Mbak Eka. Pemandangan ini membuat Deni bertambah semangat.
Mbak Eka pada saat kelelahan hanya bisa mengucapkan, “Ahh.. ahh.. iih.. uuhh.. aaw.. uuh.. iihh.. eehh..” saja.
Dan deni tidak berkata apa–apa karena terlalu nikmatnya perasaan yang dapat Deni rasakan saat itu.
Hingga ada 1 jam berlanjut, Deni akhirnya melepaskan batang kejantanannya dari dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Terlihat cairan mani yang bercampur antara yang dikeluarkan oleh batang keperkasaan Deni dengan air mani yang dikeluarkan oleh Mbak Eka. Mbak Eka hanya tergeletak setelah Deni tidak lagi menggagahinya. Mbak Eka terhempas ke dalam penderitaan birahi dengan tubuh tidak tutupi apa–apa dan matanya sayu meneteskan air mata. Deni karena kelelahan juga tergeletak di samping Mbak Eka dan menikmati keberhasilan dirinya yang telah mencapai kenikmatan dalam berhubungan badan yang selalu diinginkannya.
Setelah beberapa lama, Deni dan Mbak Eka tergeletak di kasur. Deni segera bangun dan langsung menerkam Mbak Eka kedua kalinya dengan memeras payudara Mbak Eka, sehingga Mbak Eka kembali mengucapkan desahannya.
“Ahh.. ahh.. Den jangan.. diterusin Denn.. jangann.. Denn..!”
Deni tidak menghiraukan ucapan Mbak Eka tetapi justru langsung Deni meraba–raba dan sekali-kali memasukkan tangannya ke dalam liang kewanitaan Mbak Eka. Mbak Eka menjerit kesakitan karena liang senggamanya seperti dirobek–robek oleh tangan nakal Deni.
“Aaawww.. awww.. iihh.. uuhh.. aauuw..!”
Seteleh itu keluarlah cairan yang hangat dari liang senggama Mbak Eka. Deni langsung menjilati cairan tersebut dari liang kewanitaan yang sudah banjir milik Mbak Eka. Mbak Eka pun anehnya tidak kesakitan, tetapi justru kegelian.
“Den.. Den.. aduh.. geli.. Den.. geli.. Den..!”
Karena batang keperkasaan Deni masih sangat tegang tetapi Deni juga melihat Mbak Eka sudah benar–benar kelelahan. Akibatnya, Deni langsung mengocok (mengonani) batang kejantanannya dengan tangannya dengan frekuensi yang sangat cepat, sehingga Deni ingin mengeluarkan air maninya. Tanpa memberi aba-aba, Deni langsung menyodorkan kemaluabnnya tepat di mulut Mbak Eka. Tidak lama kemudian air mani menyempot ke mulut Mbak Eka dan langsung Deni menyusut-nyusutkan batang kejantanannya ke mulut Mbak Eka yang masih tergeletak kelelahan di kasur.
Deni langsung mengambil tangan Mbak Eka dengan bantuan tangannya sendiri untuk memegang batang keperkasaannya yang sudah loyo. Deni menyuruh Mbak Eka untuk memegang dengan kepalan yang keras dengan bantuan tangan Deni dan langsung mengayunkan keluar ke dalam hingga Deni merasa puas pada saat itu.
Setelah kejadian tersebut, hubungan Deni dan Mbak Eka menjadi renggang. Dan beberapa minggu sesudah itu, akhirnya Mbak Eka pindah kontarkan. Tidak lagi di rumah Deni. Dan akhirnya Deni sangat kehilangan Mbak Eka karena memang secara diam–diam Deni pun mencintai Mbak Eka.
“Mbak Eka-ku sayang Mbak Eka-ku malang..” ucap Deni dengan menyesal.

Cerita Sex: GaraGara Sunat


Sebut saja namaku Bob, usiaku 24 tahun. Aku adalah anak dari seorang pengusaha Indonesia yg keadaan ekonominya cukup berada sehingga, tdk seperti orang kebanyakan, aku cukup beruntung untuk bisa berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Kini kuliahku telah selesai dan aku memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Ok, kita sudahi saja basa-basinya. ini berawal ketika aku menjalin kasih dengan seorang cewek Indonesia, panggil saja Lia yg kebetulan dulu kuliah ditempat yg sama denganku. Wait a minute, mendengar hal ini mungkin ada yg bertanya-tanya, kok nggak sekalian cari jodoh orang bule saja? Sekalian perbaikan keturunan.

Hehehehehe.. yup anda tdk salah baca, its HEHEHE, aku hanya tertawa saja kalau mendengar perkataan semacam itu, karena soal cinta kan memang tdk bisa diatur. Lagipula kedua orangtuaku memang menginginkan putra tunggal mereka ini kelak berjodoh dengan sesama orang Indonesia saja, biar pure Indonesia katanya. Eits, bukan berarti aku dijodohkan lho, memang kebetulan ketemunya (dan sregnya) sama wanita asli Indonesia.

Lagian, orang Indonesia kan nggak jelek-jelek amat, jadi mengapa keturunannya harus diperbaiki segala? Not to mention nggak ada montir di dunia ini yg bisa memperbaiki keturunan manusia, ya kan? Anyways, ini cuma pendapatku saja, so buat yg nggak setuju ya bebas-bebas saja, ok! Peace! Hehehe.. O ya, Lia berwajah sangat imut (menurutku, lagipula kecantikan itu relatif, betul ngga?), tingginya 162cm dengan ukuran payudara 34c.

Singkat cerita, aku dan Lia sudah bertunangan dan kurang lebih dua bulan lagi akan segera memasuki jenjang hubungan yg paling serius untuk mengikat janji suci dihadapan Tuhan dan kemudian menuju perkelaminan, eh… pelaminan. Nah, karena hubungan kami berdua sudah sangat serius dan kalau tdk ada aral melintang, batu menghadang dan badai menerjang, aku dan Lia sudah dipastikan akan menikah.

Bicara soal angka dan peluang, kemungkinan kami akan menikah adalah 99,9 persen. Yg 0,1 persen sisanya hanya akan terjadi kalau tiba-tiba dihari pernikahanku nanti muncul seorang wanita hamil yg menuntut pertanggungjawaban dariku untuk menikahinya, which is impossible karena aku memang belum pernah bercinta dengan seorang wanitapun, termasuk si Lia.

Karena itu, aku jadi ngebet sekali untuk bisa cepat-cepat melepas keperjakaanku ini dan ingin segera bercinta dengan kekasihku yg ayu itu karena toh kami sudah hampir menikah. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Lia dan kami terlibat dalam perdebatan kecil, isinya soal aku yg tdk sabaran dan ini-itu.

(Lagi-lagi) Singkat cerita, aku agaknya telah berhasil meyakinkan si Lia untuk berhubungan badan sebelum tanggal pernikahan tiba, aku berargumen jika kami berdua melakukannya setelah menikah, nanti akan sama dengan orang-orang lainnya, lagipula kami akan tahu bagaimana sensasinya jika melakukannya sebelum waktunya dan nantinya bisa dibandingkan lagi ketika melakukannya setelah menikah. Terdengar gila, tapi karena berhasil membujuknya, itu semua menjadi tdk masalah.
Kami berdua memutuskan untuk melakukannya besok sore di sebuah hotel di daerah Jakarta Selatan. Wah, membayangkan apa yg akan terjadi esok, aku jadi tdk sabar dan tdk bisa tidur, walaupun setelah dikocok jadi bisa tidur, hehehe. Keesokan harinya, aku menjemput Lia yg sudah mendapat ijin dari ortunya untuk ngedate denganku. Ya iyalah, kalo ijinnya ke ortu mau ML di hotel, mana mungkin dikasih. Kemudian, kami segera meluncur menuju hotel MXXXXXXX dan langsung check in. Supaya tdk dicurigai, aku check in sendiri, beberapa menit kemudian barulah si Lia menyusul menuju kamar hotel yg sudah kupesan sebelumnya setelah kukabari via sms.
Di dalam kamar hotel, jantungku dagdigdug tdk karuan karena belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Untuk mencairkan ketegangan, kami berdua duduk2 terlebih dahulu sembari mengobrol ngalor ngidul. Lumayan lama juga, kira-kira lebih dari setengah jam kami ngobrol. Baru setelah itu, aku memulai ‘gerilya’ dengan duduk semakin merapat dan merangkul pundaknya. Aku berbisik I love you ditelinganya agar dia rileks.
Kemudian kami saling berpandangan, dan entah siapa yg memulai, kami mulai berciuman. Bibir mungilnya kulumat dan kuhisap-hisap. Perlahan, aku memasukkan dan kemudian memainkan lidahku didalam mulutnya. Lia tampak sangat menikmati hal ini, itu terlihat dari kedua matanya yg dipejamkan dan ritme nafasnya yg mulai berubah. Posisi tangan kiriku kupindahkan, dari yg semula merangkul erat pundak Lia berpindah ke pinggangnya yg ramping.
Sementara tangan kananku kugerakkan merayapi punggung Lia, yg masih berbalut T-shirt ketat warna cokelat muda, dengan gerakan pelahan menuju keatas kearah belakang lehernya yg kemudian kubelai lembut. Hanya desahan perlahan yg terlontar dari bibirnya. Mendapat ‘sinyal’ ok, aku melanjutkan aksiku dengan menyusupkan tangan kiriku dibalik T-shirtnya.
Perlahan, jemariku menyentuh kulit perutnya yg kencang, lalu naik keatas lagi, dan lagi, dan lagi, hingga sampai diatas gumpalan dadanya yg kenyal dan masih terbungkus bra berenda. Kuremas pelan-pelan payudara sebelah kiri Lia sambil terus berciuman dan tangan kananku kumasukkan dibalik T-shirtnya sehingga menyentuh langsung punggungnya, dan tangan kananku terus kugerakkan naik hingga menyentuh pengait bra si Lia yg kemudian tanpa babibu langsung aku buka.
Dalam sekejap, bra tersebut terjun bebas ke lantai keramik hotel yg berwarna putih bersih, sehingga kini tanganku bisa langsung menjamah payudaranya tanpa ada yg menghalangi. Dengan jari telunjuk dan jempol tangan kiriku, kupilin-pilin puting payudara kiri Lia yg kini mengeluarkan desahan-desahan karena bibirnya sudah lepas dari ciumanku.
“Nghhhh… Bob.. aa” Desah si Lia. Tanpa buang waktu, segera kulucuti T-shirtnya sehingga pemandangan indah terpampang didepan mataku yg setengah melotot, payudaranya Lia sekal dan montok sekali dengan puting yg berwarna kemerahan.
Juniorku yg tadi sudah setengah mengeras kini semakin mengeras seolah hendak meronta untuk keluar dari balik celana jeans dan juga celana dalamku.
Lia yg sudah setengah telanjang kurebahkan di atas sping bed. Lalu, aku buka resleting rok jeansnya dan segera kulorot sehingga terlihat celana dalamnya yg berwarna pink dan berenda, samar-samar terlihat rambut kemaluannya karena lapisan celana dalam itu memang tdk terlalu tebal.
Tdk menunggu lama, segera kulepas celana dalam itu dan terlihat pemandangan yg wow dihadapanku sehinga aku hampir-hampir tdk berkedip dibuatnya. Tampak belahan memek yg menggoda dengan dihiasi bulu-bulu kemaluan yg tdk terlalu lebat. Aku tdk tahan lagi, segera kujamah memek itu. Kusibakkan kedua bibirnya kesamping shingga kelihatan bagian dalam memek Lia yg berwarna merah muda. Tanpa menunggu lama, aku langsung menusukkan lidahku kedalam liang itu, kujilat-jilat dan kumainkan lidahku didalam. Nafas Lia semakin memburu,
“Aaah, Bob.. ka.. mu ngap.. pain, enghhh..!!” Tdk kuhiraukan desahan itu dan aku terus saja menjilat-jilat memeknya yg mulai dipenuhi lendir tanda Lia sudah sangat terangsang.
Kucabut lidahku dan sasaran berikutnya adalah klitorisnya. Segera kukulum dan kuhisap klitorisnya sembari terkadang kujilat-jilat permukaannya. Desahan Lia kian menjadi dan tdk seberapa lama kemudian ia mencapai orgasme,
“aaaach.. aahh!!” dengan diiringi lenguhan panjang tubuhnya menggelinjang hebat dan cairan kenikmatan mengalir deras keluar dari memeknya.
Aku langsung menyeruput habis cairan itu. Kemudian aku beranjak berdiri, kulihat Lia masih rebahan dengan mata setengah terpejam dan pandangan yg mupeng, woow gile.. terlihat tambah cakep aja ni anak. Lalu aku melepas kaosku dan celana jeansku, kemudian langsung kuterkam si Lia yg masih terengah-engah. Tanpa ampun, langsung kuemut puting payudaranya yg sebelah kanan, sambil tangan kiriku meremas dan memainkan payudara kiri Lia.
“Aaahh, mmmmhh, terus Bob… ohh!!” Desahnya.
Aku semakin asyik saja ‘menyusu’ di payudara yg montok tersebut. Aku sudah tdk tahan lagi, ingin segera menikmati ‘main course’ alias ‘hidangan utama’ berupa ML saus tiram, hmmm. Segera aku berdiri dan melepas kain terakhir yg menutup tubuh telanjangku yaitu celana dalam warna biru tua merek BXXXX. Begitu celana dalam itu terlepas, juniorku yg dari tadi tersiksa langsung berdiri mengacung menghirup udara bebas. Tdk tampak ada kepala k0ntol karena memang punyaku uncut (belum disunat).
Buat yg seumuranku tentu tahu kalau dulu, waktu masih anak-anak, yg namanya sunat tdk diharuskan (yg diharuskan hanya agama tertentu). Namun belakangan dunia medis merekomendasikannya, tapi aku belum juga memutuskan untuk melakukannya. Sebenarnya, Lia sudah kuberi tahu tentang hal ini sekitar setengah tahun yg lalu ketika kami baru pulang ke Indonesia dan kami berdua sedang memikirkan rencana pernikahan. Intinya dia keberatan dengan kondisi tersebut dan memintaku untuk disunat saja.
Tapi, yah.. terus terang aku malu apalagi sekarang sudah di tanah air, nanti apa kata dokternya kalau tahu sudah gede kok belum disunat, bla bla bla, namun yg pasti aku akan lebih malu lagi kepada pasien lainnya yg akan disunat. Dalam bayanganku, tentu semuanya masih anak-anak dan pasti hanya aku sendiri yg paling tua.. aargh tdk! Aku tdk sanggup melakukan itu, jadi ya akhinya aku membohonginya dan mengatakan aku sudah disunat sekitar tiga bulan yg lalu.
O ya, kembali lagi ke ‘hidangan utama’, aku berharap agar Lia tdk lagi keberatan dengan hal ini. Apalagi dia sedang horny, dimana seharusnya akal sehat tdk terlalu bermain, sehingga tanpa sadar dia akan mau ML denganku. Segera aku merangsek ke arah Lia untuk lekas-lekas menancapkan pusakaku ini kedalam liang memeknya yg sudah basah itu. Tapi.. yg kutakutkan terjadi, Lia menahan tubuhku dan mendorong perlahan sembari menutupi tubuhnya dengan selimut. Sirna sudah wajah mupeng yg kulihat tadi berganti ekspresi kecewa.
“Bob! Aku kan sudah bilang dulu kalau aku nggak mau melakukannya denganmu kalau kamu belum disunat, you have to be circumcised first!” Teriaknya.
Waduh, batinku, gimana kalo penghuni kamar sebelah mendengar? Bakal ketahuan kalo aku belum sunat.. aaargh. Tapi yg lebih dari itu, aku memang merasa bahwa aku sudah bersalah kepada Lia. Juniorku pun tdk lagi tegang, namun mengendur dan semakin mengendur.
“Tapi Ne, apa kamu nggak ngerti? Aku kan malu. Apalagi sunatnya di Indonesia, the culture here is way different. Aku akan kelihatan aneh.. bahkan sangat aneh.” Jawabku.
“Aku ngerti, aku bisa mengerti kalau kamu malu. Tapi… kamu sudah bohong sama aku Bob.” Kata Lia lirih, airmata mulai membasahi pipinya.
Waduh, aku benar-benar merasa sangat bersalah. Aku mencoba menghiburnya, namun kali ini menjadi lebih susah dari biasanya.
“Ok, aku akan maafin kamu, but you have to promise. Kamu akan bener-bener sunat kali ini!” Kata Lia.
“Baiklah, aku akan sunat, minggu depan, ok?” Jawabku.
“No! Sekarang, hari ini atau aku akan pikir-pikir lagi soal rencana pernikahan kita.” Jawab Lia tegas.
Akhirnya aku mengiyakan permintaannya, daripada tdk jadi menikah. Wah, jangan deh. Lebih baik menahan malu sebentar. Kami berdua kembali berpakaian dan Lia kuminta untuk cuci muka agar tdk terlihat bawa dia habis menangis. Kan gawat kalau ketahuan sama calon mertua.
“Kamu kan takut disunat, jadi aku akan menemani kamu.” Kata Lia.
Tapi aku menampik tawarannya karena, dia tampak shock dan lelah. Jelas bahwa dia perlu istirahat. Jadilah aku mengantarnya pulang. Ketika sampai di depan rumahnya dia bertanya.
“Tapi bagaimana aku tahu kalau kamu bener-bener sunat hari ini?” Aku menjawab
“besok kan bisa kamu lihat sendiri, pasti akan ketahuan kalau aku bohong lagi.” Lia menyetujuinya dan aku pun berangkat sendiri mencari dokter yg melayani jasa penyunatan.
Setelah berputar putar keliling kota. Akhirnya kutemukan juga tempat praktek sunat. Hati-hati aku masuk kedalam dan, terjadilah yg kutakutkan. Terlihat banyak anak kecil yg antre untuk disunat. Aargh.. tidaak. Rasa malu kembali mengalahkan logika. Sehingga aku pun ngacir pergi dari tempat itu dan bertekad untuk mencari tempat lain saja. Namun keadaan semakin sulit karena kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.00. Waduh, bisa batal ini, dan Lia pasti marah lagi padaku besok, kenapa tadi aku tdk sunat saja ditempat yg banyak anak kecil itu, kataku dalam hati. Jam menunjukkan pukul 19.30 aku melihat papan nama sebuah klinik yg melayani penyunatan.
Kali ini aku sudah bertekad untuk tdk akan lari apapun yg terjadi, ini demi rasa sayangku pada Lia, aku tdk mau mengecewakannya lagi. Dengan jantung berdegup kencang, kudorong pintu kaca depan klinik dan.. thank god, tdkada orang. Hanya ada seorang perawat, yg menurutku lumayan cantik, beranjak menyambutku dan menanyakan keperluanku dengan ramah. Aku menjawab
“Emm, benar disini bisa sunat suster?”
“Oh betul sekali bapak. Nah, dimana anaknya yg mau disunat pak?” Tanya suster itu.
Waduh, sialan, pertanyaan yg aku sangat tdk suka. Terlebih lagi untuk menjelaskan.
“Engg, sebenarnya…. sebenarnya..” Aku merasa tdk sanggup mengucapkannya, ingin rasanya lari lagi namun bayangan Lia yg menangis tiba-tiba terlintas di benakku sehingga aku memutuskan untuk menjawabnya.
Ah terserah sajalah kata orang, batinku.
“Sebenarnya saya yg mau sunat sus..” There, selesai sudah, aku sudah berhasil mengatakannya. Rasanya seperti beban 100kg sudah terangkat dari pundakku.
Suster itu agak terkejut mendengarnya, yg membuatku lega, dia tdk menertawakanku seperti bayanganku semula. Tdk lama kemudian dia masuk kedalam untuk menemui dokternya, lalu kembali lagi kedepan menemuiku dan berkata
“Baik pak, dokternya sudah siap, silahkan masuk.”
Akupun masuk kedalam ruang praktek dan.. aku kembali terkejut karena dokternya seorang wanita. Wah, masak aku mesti buka-bukaan didepan cewek selain Lia. Tetapi pikiran itu semakin memudar melihat sosok dokter itu yg cantik, sangat cantik bahkan. Kalau kutaksir kira-kira umurnya baru 23 mungkin 24, pastilah baru lulus dan buka praktek batinku, ukuran dadanya… tdk terlalu kelihatan karena ia memakai jubah khas dokter yg putih.
“Eee, dokter yg nanti……” Kata-kataku terputus.
“Ya betul mas, saya yg akan menyunat anda.” Katanya sambil tersenyum ramah.
Kemudian dokter itu memintaku untuk melepas celana berikut celana dalamku. Wah, aku degdegan juga karena harus mengekspos bagian pribadiku dihadapan lawan jenis yg tdk kukenal. Perlahan tapi pasti, celana jeansku beserta celana dalamku sudah terlepas sehingga kemaluanku kini gandul-gandul dihadapan dokter tersebut. Dokter itu sendiri tdk terlalu memperhatikan karena sibuk menyiapkan peralatannya. Baru kemudian ia memandang k0ntolku ini. Entah apa yg ada dibenaknya karena kurasa, biasanya dia menyunat anak-anak, sekarang dia dihadapkan pada k0ntol pria dewasa. seksigo
Dokter wanita itu memintaku duduk di atas meja periksa dan kemudian dia memakai sarung tangan lateks. Barulah kemudian kedua tangan dokter itu menuju ke arah alat kelaminku. Waduh, aku kembali dagdigdug. Kemaluanku ini kan bukan punyanya anak kecil. So, kalau dipegang-pegang, apalagi oleh lawan jenis, pasti bakalan bangkit dari tidurnya.
Benar saja, sewaktu dokter itu memegang batang k0ntolku, si junior langsung bangun dan mengembang dengan cepat menuju ukuran maksimalnya, 18cm. dokter itu terlihat terkejut sekali, entah itu terkejut karena adikku tiba-tiba bangun, atau terkejut karena ukuran adikku yg lumayan besar.
“Eeh, maaf ya dok, ini… spontan soalnya.” Kataku dengan senyum yg kecut.
“Oo, ee. nggak apa-apa kok.” Dokter itu sepertinya juga salah tingkah, mukanya memerah.
Melihat itu, pikiran jorokku mulai bermain. Bagaimana kalau dokter cantik ini kusuruh melakukan handjob. Tentu ia kaget waktu tadi tahu pasiennya adalah pria dewasa. Nah, kalau kubilang bahwa aku tdk tahu cara mengecilkan kembali k0ntolku ini kemungkinan ia akan percaya, apalagi hingga sebesar ini aku belum disunat.
“Mmmm, tapi saya tdk bisa mengkhitan kalau sedang…. begini.” Kata dokter itu padaku sambil sesekali memandang k0ntol tegangku.
“Lebih baik mas.. ee.. keluarkan dulu di kamar mandi baru kita lanjutkan.” Tambah dokter itu lagi.
Akupun mulai aksi pura-pura bego,
“keluarkan? Maksudnya apa dok? Saya kan lagi nggak kebelet pipis.” Jawabku dengan memasang tampang yg sebego mungkin.
“Ee.. bukan pipis maksud saya. Maksudnya mas.. ee.. masturbasi dulu.” Jawab dokter itu gugup.
Nah, umpanku mulai kena, batinku.
“Mas.. apa dok, saya nggak ngerti. Setahu saya kalau lagi begini ya didiamkan aja, ntar juga kecil lagi. Kalau pagi-pagi bangun juga gitu dok, saya diemin aja.” Jawabku bego dengan k0ntol yg tetap mengacung.
“Memang caranya bagaimana dok?” Pancingku.
“Ee.. ya, mas .. ngg.. kocok itunya, nanti kalau sudah keluar, pasti mengecil.” Jawab dokter itu dengan muka yg kian memerah.
Hatiku semakin girang, pasti ia percaya kalau aku tdk tahu apa-apa tentang ini.
“Bagaimana dok? Aduhh, saya nggak ngerti. Atau, dokter aja deh yg keluarkan. Saya takut soalnya saya bener-bener nggak ngerti soal ini.” Tambahku.
Dokter itu tampak terperanjat dengan jawaban polosku tadi. Namun sepertinya ia kehabisan akal untuk mengajariku cara masturbasi, dan ia juga tampak tdk ingin berlama-lama dengan pasien yg satu ini. Akhirnya dokter itu setuju untuk melakukan handjob. Hehehe, berhasil!! Batinku.
Pertama-tama, dokter itu menggenggam batang k0ntolku dengan tangan kirinya yg masih terbungkus sarung tangan lateks. Kemudian ia mulai menggerakkan tangannya naik-turun. Ohh, gila, rasanya enak sekali. Apalagi kemudian dokter itu memainkan kedua buah zakarku dengan tangan kanannya yg, tentunya, juga masih bersarung tangan. Lalu, tangan kanannya digunakan untuk merangsang bagian sensitif k0ntol pria, yaitu daerah dibawah kepala k0ntol. Ahh, rasanya semakin nikmat, aku terkadang sampai memejamkan mataku untuk menikmati sensasinya.
Tdk seberapa lama, cairan pelumas (cairan yg keluar jika pria terangsang) mulai menetes dari lubang kencingku. Dokter itu menadahinya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya yg mendapat giliran mengocok batang k0ntolku. Setelah seluruh cairan pelumas keluar. Tangan kanannya behenti mengocok k0ntolku dan tangan kirinya yg ada tetesan cairan tadi dipakai untuk mengocok batang k0ntolku. Woow, sensasinya bebeda karena lebih licin rasanya.
Nafasku mulai memburu, perjalanan menuju puncak sudah mencapai tengahnya. Dokter itu tdk mengurangi ritme kocokannya melainkan malah mempercepatnya, aah rasanya enak sekali apalagi karena ada cairan tadi. 5 menit kemudian aku sudah tdk tahan lagi, sedikit lagi sudah mencapai orgasme.
“Aaaaaaa.. aaa.” pekikku. Dan sedetik kemudian
“Aaahh… hhh… hhh.” Muntahlah spermaku ke lantai tempat praktek itu, sebagian mengenai pakaian dokter itu.
Lega dan senang sekali rasanya, apalagi karena dokter cantik ini bersedia memberiku handjob, hehehe. Singkat cerita, akhirnya aku disunat juga, entah memakai metode apa, dan dokter itu bilang bahwa lukanya akan sembuh dalam waktu dua minggu. Sebelum pergi, aku menanyakan nama dokter itu, ternyata namanya Ika. Ternyata lagi, aku salah mengira, umurnya ternyata 27. Heh, dua tahun lebih tua dariku, tapi kok kelihatannya masih sangat muda, pastilah ia pandai merawat kecantikannya. Aku juga bertanya apakah aku bisa datang kembali ke klinik itu untuk memeriksakan juniorku dua minggu lagi.
Dalam waktu dua minggu itu pula aku berencana agar bisa melakukan yg lebih. I mean, dokter ini sudah mau handjob, bagaimana kalau aku bisa mendapatkan yg lebih dari itu. Dalam dua minggu itu pula, aku menolak ajakan Lia untuk melanjutkan ‘hidangan utama’ yg belum sempat dinikmati di hotel dulu. Aku bilang kepadanya bahwa penyembuhannya makan waktu satu bulan setengah dan bahwa sebaiknya kami melakukannya setelah menikah saja. Untung si Lia mau mengerti dan tdk ngambek lagi.
(Lagi lagi lagi) singkat cerita, dua minggu telah berlalu. Aku menunggu lagi satu hari untuk memastikan bahwa juniorku ini sudah siap tempur. Hari yg ditunggu tibalah juga, aku berangkat kembali ke klinik itu pada jam yg serupa dengan terakhir kali aku ke sana. Harapanku, tdk ada pasien yg mengantre. Dan… betul juga, hanya ada satu orang pasien anak-anak dan bapaknya yg baru saja pergi meninggalkan klinik itu.
Aku menemui suster yg jaga.
“E… bisa saya bertemu dengan dokter Ika? Saya sudah bikin janji dua mingu yg lalu.” Tanyaku.
Suster itu kemudian menuju ke ruang praktek dan tdk seberapa lama kemudian kembali dan mempersilakanku masuk. Aku akhirnya masuk kedalam ruang praktek. Dokter Ika menanyakan apakah ada keluhan pada kemaluanku. Aku menjawab bahwa tdk ada keluhan dan tdk terasa sakit. Dokter Ika kemudian menyatakan bahwa aku sudah sepenuhnya sembuh.
“Ehh, tapi dok. Begini.. Saya, dalam waktu dekat ini akan menikah. Engg, saya kan tdk tahu apakah anu saya akan normal saja pas malam pertama.” Pertanyaan yg ngarang dan ngaco.
“Begini saja mas, mas coba saja masturbasi dulu, kalau tdk sakit kemungkinan tdk akan sakit waktu dipakai berhubungan badan.” Jawab dokter Ika dengan wajah yg sedikit memerah.
Mungkin karena mengingat yg tejadi dua minggu yg lalu. Aku kembali mencari akal agar dia mau kuajak yg tdk-tdk.
“Mmm, saya masih takut dokter, bagaimana kalau nanti lukanya kambuh. Aduuuh, saya takut.” Jawabku beralasan.
“Emm.. gimana kalau dokter aja yg….” Tambahku. Ika hanya terdiam.
Aku tdk ingin ia menjawab tdk sesuai keinginanku, jadi aku langsung berjalan menuju meja periksa dan melepas bawahanku sehingga bagian bawah tubuhku kini sudah tanpa sehelai benangpun. Sesuai dugaanku, Ika terpaksa harus menuruti kemauanku. Iapun menuju meja periksa dan kemudian langsung menggenggam batang k0ntolku, tapi kali ini tanpa sarung tangan, wow. Menerima sentuhan dari tangan wanita, kontan k0ntolku mengeliat dan bangun dari tidurnya.
Dokter Ika kemudian tampak tertegun, memang, setelah disunat juniorku tampak lebih garang. Ika kemudian memeriksa bagian leher k0ntol dan menyentuh-nyentuh disekeliling diameternya untuk memastikan bahwa aku tdk merasakan sakit. Kemudian ia mulai mengocok k0ntolku. Ahh, memang enak sekali kalau disentuh oleh lawan jenis. Kocokan tangannya mulai dipercepat, pasti tujuannya supaya aku cepat keluar dan cepat pergi dari sini. Aku tahu itu, tapi aku tdk akan membiarkannya terjadi.
Saat ini posisiku duduk diatas meja periksa sementara Ika duduk di kursi yg dihadapkan ke meja periksa itu sehingga posisinya agak lebih rendah dariku. Akupun menggerakkan tanganku menuju payudaranya yg terbalut jubah dokter dan kemeja hitam. Tanpa basa basi, kuremas kedua payudaranya. Ikapun terkejut dan melepaskan genggaman tangannya dari k0ntolku. Kemudian kedua tangannya disilangkan diatas dadanya.
“Mas, apa-apaan sih.. emph!” Sebelum banyak berkata-kata, kulumat dan kuhisap-hisap mulutnya.
Kedua tangan Ika mencoba mendorongku, tapi tdk cukup kuat untuk melakukannya. Dengan tangan kiriku, kuremas sebelah payudaranya. Sementara tangan kananku, meremas-remas bongkahan pantatnya dari luar rok kain berwarna hitam yg dikenakan Ika.
“Emmm… mmmhhh.” Hanya itu yg terlontar keluar dari bibir Ika yg sedang kucium dengan ganas.
Perlahan kucoba memasukkan lidahku kedalam mulutnya dan bermain-main dengan lidahnya, mungkin karenasudah terangsang, Ika membalas pemainan lidahku, lidahnya juga dimasukkan kedalam mulutku dan akupun langsung menghisap-hisapnya. Jemari tanganku mulai bergerak lincah membuka satu demi satu kancing kemeja Ika. Dan, aku tdk measakan penolakan darinya, berarti keadaan sudah benar-benar aman nih, hehehe. Akupun melepaskan ciumanku dan Ika tampak terengah-engah.
Setelah kubuka semua kancing kemejanya segera kulepas kemeja dan jubah dokternya, kemudian menyusul bra putih yg dikenakannya. Wow, ternyata payudara dokter ini cukup sekal, kira-kira seukuran dengan punya Lia. Kedua payudara Ika juga terlihat masih tegak dan menantang. Tanpa buang-buang waktu, aku langsung mengulum sebelah puting susu Ika sementara yg satunya lagi aku mainkan dengan tanganku.
“Ahh, ssshh.. mmmhh.” Desah Ika.
Tangan kananku yg bebas begerilya kebelakang dan bergerak kebawah, melepas pengait dan resleting rok Ika. Begitu sudah terbuka, rok hitam itupun meluncur bebas kebawah. Tangan kanankupun leluasa meremas-remas pantat Ika yg terbungkus celana dalam warna putih. Perlahan jemari tanganku kususupkan ke kemaluannya yg ternyata sudah basah.
Ok, tdk perlu menunggu lagi, segera kuturunkan celana dalam itu sehingga Ika kini benar-benar telanjang bulat. Segera kuangkat tubuhnya dan kubaringkan diatas meja periksa. Aku membuka kaosku sehingga kini aku dan Ika sama-sama telanjang bulat. Kukangkangkan kakinya lalu segera kuarahkan batang k0ntolku yg sudah tegang sekali menuju liang memeknya. Kugesek-gesekkan terlebih dahulu di permukaan memeknya. Lalu, bless, batang k0ntolku melesak dalam di memek Ika.
“Aaa… masss.. pe.. lan.” Desah Ika. Kudiamkan terlebih dahulu k0ntolku.
Setelah beberapa saat, barulah kugerakkan maju mundur diiringi dengan desahan Ika, si dokter cantik itu. Plok, plok! Suara pahaku yg bertemu dengan pangkal paha Ika. Sambil bersenggama, tanganku meremas-remas payudaranya dan terkadang memilin-milin putingnya, sementara bibirku berulang kali menciumi bibir, pipi dan leher Ika. Sepuluh menit berselang, nafas Ika semakin memburu dan tdk lama kemudian,
“Aa.. ahhh… aaahhh!” Ika mencapai orgasme.
Kedua matanya dipejamkan. Keringat deras membasahi tubuhnya. Kudiamkan sejenak dan kubiarkan Ika menikmati orgasmenya. Lalu kubalikkan badannya dan kumasukkan lagi k0ntolku dalam posisi doggy style. Kusodokkan k0ntolku pelahan, namun kian lama kian cepat.
“Ahhh, mass… ahh.. ach.. enak mass!!” Racau Ika. Sekitar 15 menit kami bercinta dalam posisi ini, Ika kembali orgasme.
“Achh.. mass.. aku keluar, ahh, aaaaaa!” Kubalikkan lagi badannya dan kupompa terus karena aku juga merasakan gelombang orgasme kian mendekat. Kupacu dan kupecepat sodokanku dan
“aaa.. aku mau kel.. luar.” Aku hendak mencabut k0ntolku untuk memuntahkan sperma diatas perutnya, namun kedua kaki Ika tiba tiba dilingkarkan disekeliling pinggangku dan
“Ahh… hhh.. hhh!” Semburan demi semburan sperma masuk kedalam rahim Ika.
Aku merasakan suasana ini sangat intim. Kudiamkan k0ntolku didalam memek Ika selama beberapa saat dan kupagut bibirnya lalu kubisikkan thank you di telinganya. Ika hanya tersenyum manis. Sangat manis. Sunguh hari yg sangat indah dan akan selalu kukenang.